AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 51


__ADS_3

Malam semakin larut, Hilman dan Windy masih belum juga bisa memejamkan kedua matanya setelah teror yang dialaminya beberapa hari terakhir ini.


Setelah kasus bangun tidur penuh darah, sejak malam itu Hilman dan istrinya tak bisa lagi tertidur nyenyak.


Teror terus berdatangan sejak hari itu, entah berupa surat kaleng ataupun berupa penampakan wanita yang wajahnya mirip dengan Lisa, adik tirinya yang meninggal karena ulah dirinya dan sang istri.


Belum lagi kasus yang menjeratnya akibat salah langkah yang diambil sehingga AH Group  bisa membalikkan keadaan sehingga sekarang perusahaannya yang berada diambang kehancuran.


Bukan hanya saham perusahaan saja yang turun akan tetapi banyak klien yang tiba – tiba mundur tanpa dia tahu alasan yang jelas kenapa mereka membatalkan kerja sama ditengah jalan.


Ditengah kepalanya yang pusing tiba – tiba sekelebat bayangan putih tertangkap indera penglihatan sepasang suami istri ini diiringi dengan suara kaleng terjatuh dibalkon.


“ Serahkan dirimu dan akui semua kejahatanmu jika tak ingin kuseret ke alam baka sekarang juga !!!….”, bunyi ancaman yang kembali diterima Hilman dengan menggunakan darah dalam tulisannya.


Hilman tampak mengedarkan pandangannya keseluruh area, namun sosok putih yang baru saja dilihatnya sudah menghilang seolah tertiup angin begitu saja.


Sambil mengusap – usap kedua bahunya yang terasa sangat dingin, Hilman segera mengajak Windy masuk karena wajah istrinya itu sudah pucat pasi akibat ketakutan.


“ Apa papi yakin sudah menghilangkan semua orang yang terlibat dalam kasus Lisa….”, tanya Windy cemas.


“ Sudah mi….”


“ Bahkan papi sendiri yang membereskan mereka….”, ucap Hilman penuh keyakinan.


“ Lalu, ulah siapa ini jika semua saksi sudah papi bereskan….”, ucap Windy ketakutan.


Sebenarnya bukan hanya Windy yang merasa khawatir, namun Hilman juga. Tapi dia berusaha tak menampilkan hal tersebut dihadapan istrinya agar wanita tersebut tak semakin khawatir.


Apalagi  perusahaan yang didapatkannya dengan susah payah tersebut saat ini  kondisinya sangat buruk dan hampir gulung tikar membuat pikiran Hilman menajdi tak tenang.


Belum lagi keberadaan Meysa yang sudah menghilang lebih dari seminggu tanpa kabar juga membebani pikiran Hilman saat ini.


Hingga ayam kokok berbunyi pasangan suami istri ini masih belum bisa memejamkan mata membuat lingkaran dikedua mata mereka semakin lebar.


Dengan langkah gontai Hilman pun berjalan menuju kamar mandi sementara sang istri terlihat mulai menutup mata karena mengangtuk.


Windy masih bisa beristirahat saat matahari sudah mulai muncul sehingga kondisi tubuhnya tak selemah Hilman yang terpaksa bergadang selama beberapa hari dan masih harus membereskan banyak urusan dikantor.


Bukan hanya tak bisa beristirahat, untuk makan siang saja kadang Hilman tak sempat saking banyaknya kekacauan yang tiba – tiba saja muncul secara bersamaan hingga membuatnya sibuk.

__ADS_1


Apalagi proyek utamanya yang didanai oleh Bimantara Group terancam gagal karena Ardan membekukan dana yang sudah sempat digelontorkan dalam proyek setelah penarikan tak wajar yang dilakukannya.


Awalnya Hilman tak merasa risau karena mengira jika putri sulungnya mampu memegang kendali Ardan sehingga diapun terbuai dan langsung mencairkan dana dalam jumlah besar untuk menutup utang luar negerinya agar tak semakin bertambah banyak.


Langkah yang terlalu terburu – buru dan gegabah tersebut membuat semuanya hancur berantakan.


Apalagi ada indikasi jika Bimantara Group akan melaporkannya ke pihak berwenanng jika sampai hasil auditnya terbukti dia menggunakan dana tersebut tidak pada tempatnya.


Sementara itu Azkia yang sudah kembali aktiv bekerja dikantornya tak mengetahui kabar mengenai kedatangan sang suami yang sedang menunggunya diloby kantornya karena Ardan tak menghubunginya.


Hari ini Ardan sengaja datang  kekantor AH Group tanpa pemberitahuan untuk memberi surprise kepada istrinya.


Ardan berencana untuk mengajak Azkia makan siang bersama agar hubungannya dengan sang istri bisa membaik sehingga Azkia mau mencabut gugatan cerai yang telah dilayangkannya.


Begitu tiba di loby AH Group, kehadiran tuan muda Bimantara ini tentu saja menarik perhatian banyak orang.


Tinggi, tampan, pintar, kaya serta memiliki sikap lembut dan baik hati tentunya membuat banyak perempuan merasa iri terhadap istri sang pewaris Bimantara tersebut karena dianggap sebagai wanita yang paling beruntung dimuka bumi bisa bersanding dengan Ardan.


Ardan memang selalu tampil mempesona, bahkan Azkia adalah salah satu wanita yang terjerat dalam pesona lelaki tersebut hingga memiliki impian untuk menikah dengannya.


Tapi begitu impiannya tercapai, ternyata semua yang ada dalam anggannya tersebut hanyalah semua imajinasi semu semata.


Azkia yang hendak keluar untuk meeting dengan kliennya bersama Jacob langsung berbalik arah dan berjalan memutar menuju pintu darurat yang berada jauh dibelakang begitu melihat Ardan sedang duduk di loby.


“ Kenapa dia ada disini….”


“ Membuat orang repot saja….”


" Jika tahu begini tadi aku suruh Jacob menjemputku saja.....", ucap Azkia menggerutu.


Azkia tak ingin bertemu lagi dengan suaminya itu karena dia tak mau membuang waktu dengan percuma untuk kembali berdebat dengan suaminya itu yang Azkia yakini kedatangan Ardan kali ini pasti ingin membahas mengenai gugatan cerai yang dia layangkan beberapa waktu yang lalu.


Dia rela berjalan memutari setengah gedung demi menghindar dari Ardan, lelaki yang paling dia benci dan tak ingin ditemuinya.


Baru setengah jalan, tiba – tiba ada yang memanggil namanya membuat langkah Azkia terhenti dan begitu menoleh, Azkia mengkerutkan keningnya cukup dalam melihat Jacob berlari menghampirinya.


“ Ayo, ikut aku….”, ucap Jacob yang langsung menarik tangan Azkia tanpa permisi.


Azkia sebenarnya ingin sekali bertanya bagaimana bisa Jacob selalu datang di setiap moment genting yang dihadapinya tapi dia urungkan mengingat saat ini bukanlah waktu yang tepat.

__ADS_1


“ Masuklah….”, ucap Jacob sambil membukakan pintu mobil.


Begitu mobil Jacob keluar dari parkiran, Azkia sedikit menundukkan kepalanya waktu Ardan tiba – tiba menatap kearah jalan raya.


“ Tenang saja….”


“ Kaca mobil ini gelap jadi Ardan tak mungkin bisa melihatmu….”, ucap Jacob yang langsung menancap gas hingga mobilpun bergerak cepat meninggalkan AH Group.


Azkia bisa bernafas lega ketika mobil yang dia naiki sudah berada dijalan raya jauh dari kantor AH Group.


Jika Azkia merasa lega, lain halnya dengan Ardan yang merasa gelisah karena istrinya tak kunjung keluar juga.


Bahkan sudah banyak karyawan yang mulai keluar untuk mencari makan siang karena memang sekarang waktunya mereka untuk beristirahat.


Ardan yang tak bisa langsung menyelonong masuk kedalam karena memang tak ada yang tahu jika dia adalah suami dari Azkia memilih untuk menemui resepsionis agar bisa bertemu dengan istrinya tersebut.


“ Apa bapak sudah ada janji….”, tanya sang resepsionis ramah.


“ Tidak….”


“ Beritahukan saja jika saya menunggu bu Azkia diloby kantor…..”, ucap Ardan tanpa bisa dibantah.


“ Baik….”


“ Mohon ditunggu sebentar ya pak, saya akan menghubungi sekretaris bu Azkia terlebih dahulu….”, ucapnya masih dengan senyum yang terus mengembang diwajahnya.


Ardan hanya terdiam sambil mengetukkan jarinya diatas meja menunggu sang resepsionis selesai menghubungi sekretaris istrinya.


“ Maaf pak….”


“ Bu Azkia sedang keluar bertemu dengan klien…”


“ Mungkin ada pesan….”


“ Nanti akan saya sampaikan ketika bu Azkia sudah kembali….”, ucapnya sambil menyodorkan kertas dan bolpoint kepada Ardan.


“ S***t !!!....”


“ Seharusnya aku memberi kabar dulu sebelum datang kesini….”, batin Ardan kesal.

__ADS_1


Diapun langsung berjalan menuju mobilnya dan melaju pergi dengan perasaan kesal sekaligus kecewa karena niatnya untuk memberikan supprise kepada sang istri gagal.


__ADS_2