
Huekkkk....huekkkk.....huekkk....
Byurrr.....
Ardan mengeluarkan semua isi dalam perutnya hingga mulutnya terasa sangat pahit karena asam lambungnya juga ikut naik.
Dua minggu sejak surat cerainya tiba, Ardan tak lagi memiliki nafsu makan hingga berat badannya turun secara drastis.
Badannya yang dulu berisi secara perlahan mulai terlihat kurus dan wajahnya juga sangat kusut dengan jambang serta kumis yang dibiarkan tumbuh tak beraturan.
Kedua matanya pun terlihat cekung kehitaman akibat kurang tidur. Ardan benar - benar tak memperhatikan penampilannya karena dia sibuk menyesali diri.
Setelah perutnya sudah tak kembali bergejolak, Ardapun bergegas keluar untuk berganti pakaian dan bersiap – siap pergi kekantor.
Bik Mina hanya menatap sedih kepergian majikannya ini yang sudah hampir satu bulan tak pernah lagi sarapan sehingga diapun tak lagi menyiapkan makan pagi untuk majikannya itu.
“ Semoga tuan muda kuat menghadapi semua cobaan ini....”
“ Jika melihatnya rapuh setelah kepergian non Azkia, bibik rasanya tak tega.....”, batin bik Mina sedih.
Setelah Ardan pergi, bik Mina langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Melati.
Sebuah kegiatan rutin yang sekarang dijalaninya, menjadi mata dan telingga nyonya besarnya itu karena Melati tak bisa setiap hari memantau atau datang kerumah Ardan.
Melati yang mendapat laporan jika Ardan kembali melewatkan sarapan hanya bisa mendesah kasar, dan hal itu tentu saja mengusik Faisal yang sedang menikmati sarapan disampingnya.
“ Kenapa lagi si Ardan bun....”, tanya Faisal penasaran.
“ Semakin hari kondisinya semakin buruk yah....”
“ Dulu, waktu meninggalnya Ardi kondisi Ardan tak separah ini.... ”
“ Begitu juga waktu dia dicampakkan oleh Meysa....”
“ Bunda tak tahu lagi harus berbuat apa agar Ardan bisa kembali ceria seperti semula....”, ucap Melati mengadu.
“ Kita hanya bisa berada disampingnya memberi support dan selalu mendoakannya semoga secepatnya dia bisa ikhlas menerima semua cobaan yang datang dalam hidupnya....”
“ Hanya itu yang bisa kita lakukan sebagai orang tua....”, ucap Faisal sambil merangkul bahu istrinya dengan hangat.
Digedung perkantoran Bimantara Group, Robby yang melihat Ardan bolak - balik kewastafel dan memuntahkan seluruh isi perutnya merasa cemas.
Apalagi kini wajah Ardan pucat pasi hingga diapun berinisiatif untuk membawa Ardan kedokter mengingat jika beberapa hari terakhir bosnya itu memforsir tubuhnya untuk bekerja sehingga lupa makan dan beristirahat.
“ Tidak ada masalah serius hanya kecapekan dan stress serta pola makan yang tidak teratur membuat asam lambungnya naik..... ”, ucap dokter menjelaskan.
Setelah menebus resep yang diberikan dokter, keduanya segera kembali kekantor karena masih banyak pekerjaan yang menanti mereka.
Kondisi Ardan sedikit membaik setelah meminum obat dan beristirahat sejenak dikantor membuat Robby sedikit lega.
__ADS_1
Meski beberapa pekerjaan Ardan harus dia tanggani setidaknya dengan Ardan bisa makan dan tidur itu sudah membuat rasa cemas dalam hatinya mulai berkurang.
Tak terasa sudah satu minggu sejak Ardan pergi kedokter rasa mual yang sebelumnya sempat hilang kini kembali hadir dan semakin bertambah parah terutama pada pagi hari.
Bukan hanya merasa mual diwaktu – waktu tertetntu, indera penciuman Ardan pun semakin sensitive.
Bau menyengat sedikit saja membuat perutnya langsung bergejolak hebat sehingga dia sekarang selalu menggunakan masker dan sedia minyak angin untuk menghalau rasa mual yang kadang datang diwaktu tidak tepat.
“ Kenapa kamu bau sekali...”, protes Ardan tajam.
Diapun buru – buru berlari kearah wastafel untuk memuntahkan seluruh isi perutnya setelah mencium aroma yang keluar dari tubuh Robby.
“ Ini wangi dan segar....”
“ Aku baru saja berganti pakaian beberapa menit yang lalu....”, guman Robby sambil mencium lengan bajunya berulang kali.
Vina yang kebetulan berada didalam ruangan bersama Robby juga turut membenarkan jika pakaian yang Robby kenakan sangat wangi dan segar.
“ Ini bau pelembut pakaian pak....”
“ Kenapa pak Ardan sensitive seperti itu ya....”
“ Kaya orang lagi hamil saja.....”, celoteh Vina lirih.
Meski lirih, Ardan yang pendengarannya tajam bisa mendengar ucapan Vina.
Setelah membasuh mukanya dan mengkeringkannya, Ardapun langsung berjalan cepat menuju sekretarisnya itu berada.
Vina yang langsung ditanya seperti itu tentu saja gelagapan, apalagi sorot mata Ardan waktu bertanya sangat tak bersahabat membuat sekretarisnya itu hanya bisa menahan nafas dalam - dalam.
“ Eng....”
“ Tidak ada yang hamil pak....”
“ I – ini tadi cuma bilang kalau bapak akhir – akhir ini penciumannya sensitive seperti wanita yang sedang hamil saja.....”, ucap Vina gugup.
Dia meremas kedua tangannya yang sudah mulai dingin karena takut kena amukan Ardan akibat mulutnya yang tak bisa direm.
Ardan menautkan kedua alisnya sangat dalam, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sempat terlupakan.
“ Sudah berapa lama Azkia pergi ?....”, todong Ardan kepada Robby.
“ Nyo-nyonya....”
“ Sudah hampir dua bulan nyonya muda pergi dan sampai saat ini kami masih belum mendapatkan kabar apapun mengenai keberadaan nyonya Azkia pak...”, ucap Robby sedikit gelagapan.
Robby dan Vina hanya bisa terdiam melihat Ardan tiba – tiba termenung ditempat duduknya sambil mengkerutkan kening cukup dalam dan mengetuk - ngetukkan jemari tangannya diatas meja.
“ Apa mungkin dia hamil setelah malam itu ?.....”, batin Ardan curiga.
__ADS_1
Vina segera berlalu setelah Ardan menyuruhnya keluar sementara Robby masih berada didalam untuk dia interogasi.
“ Apakah mungkin jika Azkia sedang hamil....."
" Maka dari itu aku juga ikut merasa mual dan ngidam ?....”, tanya Ardan penasaran.
“ Itu mungkin saja pak.....”
“ Karena kakak ipar saya juga pernah mengalaminya ketika istrinya hamil anak kedua....”
“ Kalau tidak salah hal semacam itu disebut sebagai sindrom cauvade atau lebih dikenal dengan kehamilan simpatik.....”, ucap Robby menjelaskan.
“ Memang bapak tahu dari mana jika nyonya Azkia sedang hamil.....”
“ Atau jangan – jangan malam itu......”, ucapan Robby terhenti waktu Ardan tiba – tiba saja bangkit dari tempat duduknya sambil menyugar rambutnya dengan kasar.
“ Seperti yang kamu pikirkan....”
“ Aku melakukan semua itu agar Azkia mencabut gugatan cerai yang dilayangkannya....”
“ Tapi semuanya tak sesuai ekspetasiku....”
“ Dia sangat marah dan meninggalkan ukiran indah ditubuhku....”, ucap Ardan sambil meraup wajahnya dengan frustasi.
Belum juga keterkejutan Robby reda kini dia dibuat lebih terkejut lagi oleh ucapan Ardan yang mengatakan jika yang memberikan luka sayatan ditubuhnya adalah Azkia, bukan Jacob seperti dugaannya.
“ Tidak....”
“ Nyonya Azkia tak mungkin melakukan hal sekeji itu....”
“ Pasti pengawalnya yang melakukan hal itu....”, Robby berusaha menolak fakta yang Ardan ucapkan sambil menggeleng – gelengkan kepalanya dengan cepat.
Melihat Robby sangat syok, Ardan hanya bisa terkekeh pelan dan entah kenapa hatinya merasa terhibur akan hal itu.
“ Kamu tahukan jika aku mulai kebal dengan obat bius setelah Meysa mengganti obat yang kukonsumsi selama ini....”
“ Bahkan beberapa luka yang kudapatkan juga dijahit tanpa menggunakan bius karena obat tersebut sama sekali tak berpengaruh kepadaku.... ”
“ Hal itu juga sama pada waktu Azkia melakukan hal ini kepadaku....”, ucap Ardan kembali mengingat semua kenangan indah malam itu sambil tersenyum.
Tiba – tiba saja bulu kudu Robby berdiri tanpa diminta membuat lelaki itu menggigil tanpa sebab.
“ Stop.....”, ucap Ardan menghentikan pergerakan Robby yang hendak mendekat kerahnya.
“ Ganti bajumu....”
“ Aku mual mencium aromanya.....”
“ Atau kalau tidak kamu beli saja kemeja baru biar aku tak mual lagi....”, ucap Ardan menambahkan.
__ADS_1
Robby hanya bisa pasrah kembali mengganti kemejanya, padahal belum ada sepuluh menit dia memakainya.