AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 82


__ADS_3

Malam harinya, Tracy mengajak keluarganya untuk makan malam dibalkon kamar Azkia karena wanita muda itu tak diijinkan untuk bergerak terlalu banyak.


Hal tersebut mereka lakukan agar Azkia tak merasa bosan dan tertekan. Entah apa yang menjadi beban wanita itu hingga mengalami stress sampai mengalami pendarahan seperti yang terjadi kemarin pagi.


Sindy dan Tracy yang tak mendapatkan informasi apapun tak lagi mencoba untuk mengorek informasi yang ada agar Azkia tak merasa tertekan.


“ Bagaimana....”


“ Apa sudah ada perkembangan....”, tanya Watson tajam.


Kedua lelaki itu tampak berbicara sedikit menjauh dari Azkia agar percakapan mereka tidak terdengar.


“ Mereka tampaknya telah mempersiapkan semuanya dengan baik....”


“ Mobil yang digunakan adalah mobil yang baru saja mereka beli kemarin sehingga surat – surat yang ada pun masih menggunakan nama pemilik sebelumnya....”


“ Tapi jika melihat hasil rekaman cctv rumah sakit, satu diantara lelaki misterius tersebut seperti mantan suami Azkia....”


“ Aku akan semakin memperketat penjagaan karena aku yakin dia pasti akan memantau kediaman ini untuk mencari informasi mengenai mantan istri dan calon anaknya....”, ucap Louis menjelaskan.


Melihat senyum tulus yang tercetak diwajah Azkia membuat Watson bertekad untuk mempertahankan itu semua meski dia harus turun tangan untuk menyingkirkan mantan suami wanita itu dengan kedua tangannya sendiri.


“ Apa kamu sudah benar – benar yakin untuk menikahi Azkia....”, tanya Watson dengan penuh selidik.


“ Elisabeth memang masih ada dalam hatiku dan tak bisa dihapus begitu saja karena dia merupakan mommy Imelda dan cinta pertamaku....”


“ Sedangkan Azkia, dia adalah wanita yang bisa memberi warna dan kehangatan dalam hatiku setelah membeku cukup lama akibat kehilangan Elisabeth....”


“ Mereka berdua menempati hatiku tapi memiliki porsi yang berbeda....”, ucap Louis dengan tatapan jauh kedepan.


“ Aku juga tak tahu sejak kapan rasa cinta ini mulai tumbuh....”


“ Setiap hari rasa possesif dan protektif yang kumiliki terhadap Azkia semakin besar....”, ucapnya menambahkan.


Watson yang melihat kesungguhan dalam mata putra sulungnya itu membuat senyum tipis diwajanya langsung terbit.


“ Lakukan secara perlahan....”


“ Jangan sampai sikap possesif dan protektifmu yang berlebihan itu justru membuatnya takut....”


“ Ingatlah, masih ada Jacob yang hingga kini masih mengharapkan Azkia meski sepupumu itu sudah ditolak berulang kali.....”, ucap Watson mengingatkan.


“ Jangan samakan aku dengan bocah tengil itu...”


“ Aku punya cara sendiri untuk mendapatkan hati Azkia....”, ucapnya menyeringai licik.


Melihat interaksi antara Imelda  dan Azkia dapat Watson simpulkan jika putra sulungnya itu pasti akan menggunakan putrinya itu untuk meluluhkan hati Azkia.


“ Darimana dia mendapatkan sifat licik seperti itu....”, desah Watson dalam hati.


Watson tak menyadari jika sebagian besar sifat Louis adalah turunan darinya, termasuk sifat possesif dan protektif terhadap orang – orang yang sangat dia sayangi.


Menyadari jika malam semakin larut semua orang pun beranjak dari kamar Azkia dan hanya menyisakan wanita itu bersama Imelda yang ingin menemaninya tidur malam ini.


Tak lupa, sambil bergelung selimut kedua perempuan beda usia ini saling bertukar cerita sebelum tidur.


Hal ini lah yang dulu sering Ronan lakukan terhadapnya hingga Azkia tak terlalu merasa kehilangan sosok mama dalam pertumbuhannya.


Selain bisa mendekatkan diri secara emosional, bercerita masalah sehari – hari sebelum tidur juga bisa dijadikan alternative bagi anak agar terbiasa untuk terbuka terhadap kita.

__ADS_1


Terutama Imelda yang sebentar lagi akan mengalami masa puber. Gadis seusianya ini sangat rentan untuk mendapatkan pengaruh buruk dari luar.


Azkia yang sudah menganggap jika gadis kecil itu adiknya sendiri pun berusaha untuk membuat Imelda tak merasa kesepian dengan menjadi lawan bicaranya.


Meski apa yang mereka obrolkan terlihat sepele, tapi Imelda merasa sangat senang karena Azkia bisa mengimbangi pola pemikirannya sebagai gadis yang beranjak dewasa.


Dengkuran halus yang keluar dari mulut munggil Imelda membuat Azkia tersenyum bahagia dan merapikan selimut gadis kecil itu hingga menutupi seluruh tubuhnya dengan menyisakan bagian kepala yang terbuka.


Azkia sendiri sedikit takut untuk menutup mata karena dia tak ingin kembali bermimpi mengenai Ardan dimana terakhir yang dialaminya cukup membuatnya ketakutan.


Ceklek....


Suara pintu kamar yang dibuka membuat Azkia langsung bangkit dari dan menyalakan lampu tidur dinakas samping ranjangnya.


“ Maaf jika aku membangunkanmu....”, ucap Louis pelan.


“ Tak apa....”


“ Aku juga masih belum bisa tidur....”, jawab Azkia tak kalah pelan.


Melihat Azkia hendak turun dari ranjang, Louis pun bergegas menghampiri dan langsung membantu menuntun Azkia yang tubuhnya terlihat masih sangat lemas itu.


Keduanya duduk agak jauh dari ranjang, tepatnya diatas sofa tunggal yang menghadap jendela kaca yang lumayan luas sehingga bisa menatap langit bertabur bintang dengan bebas.


“ Bagaimana ini....”


“ Kenapa keingginan ini muncul lagi.....”, batin Azkia risau.


Sebenarnya, sudah dua hari ini ketika sedang bersama Louis entah kenapa Azkia ingin memeluk tubuh lelaki itu dengan erat.


“ Apakah ini bawaan bayi....”


Sebelumnya, Azkia pernah mendengar ada wanita hamil yang ngidam ingin mengelus – elus kepala orang botak dan berbagai ngidam aneh lainnya.


Azkia yang selama ini tak pernah mengalami ngidam yang aneh – aneh tentu saja merasa tak enak hati jika harus memenuhi keingginannya saat ini.


Semakin Azkia mencium aroma tubuh Louis semakin membuat tubuhnya tanpa sadar mulai bergerak mendekat membuat daddy Imelda menautkan kedua alisnya merasa heran.


“ Kenapa....”


“ Apa tubuhku bau....”, tanya Louis binggung.


Azkia yang mendapat pertanyaan tersebut tentu saja sangat terkejut karena dirinya tanpa sadar mulai mengendus – endus tubuh Louis meski tak sampai menyentuhnya.


“ Bu-bukan seperti itu....”


“ it-itu....”, ucap Azkia gugup.


Melihat Louis masih menatapnya penasaran, Azkia yang sedikit malupun pada akhirnya mengutarakan keingginannya.


“ Kenapa tak bilang dari tadi....”


“ Sini....”, ucap Louis langsung membawa tubuh munggil Azkia dalam dekapannya.


“ Maaf....”


“ Mungkin kamu menganggapku aneh....”


“ Tapi entah kenapa aku tak bisa menahannya....”, ucap Azkia dengan wajah memerah.

__ADS_1


Louis yang melihat telingga Azkia memerah hanya bisa terkekeh pelan. Meski tak bisa melihat wajah Azkia, tapi dia sangat yakin jika wajah Azkia pasti saat ini sudah sangat merah seperti kepiting rebus akibat merasa malu.


“ Tidak apa....”


“ Bukankah ini keingginan bayimu....”


“ Aku tak akan marah asal kamu tak minta peluk lelaki lain saja....”, ucap Louis sambil mengusap kepala Azkia dengan lembut.


“ Kenapa ?....”, tanya Azkia polos.


“ Jika lelaki yang ingin kamu peluk itu memiliki istri bukankah itu bisa menimbulkan pertengkaran diantara mereka karena tak selamanya ada wanita yang rela suaminya dipeluk wanita lain, meski itu karena ngidam.....”, Louis berupaya memberikan jawaban yang masuk akal untuk menutupi rasa cemburu dalam hatinya.


Tak ingin Azkia merasa takut maka Louis pun tak bisa menunjukkan secara terang – terangan sikap possesifnya.


Azkia yang merasa jika jawaban Louis tadi benar adanya hanya bisa menganggukkan kepala sebagai tanda dia paham apa yang lelaki itu ucapkan.


Setelah itu keduanya terdiam cukup lama. Azkia sibuk menghirup aroma tubuh Louis yang entah kenapa membuatnya merasa tenang sedangkan Louis sibuk membayangkan jika dirinya bisa setiap malam memeluk Azkia seperti ini hingga wanita itu terlelap.


Deg deg deg....


Azkia yang bergerak – gerak mencari posisi yang nyaman nyatanya membuat sesuatu dalam diri Louis mulai terbangun.


Meski sudah pernah menikah, tapi karena Azkia tak pernah menjalani pacaran atau hal berbau romantis selama pernikahannya dengan Ardan tak sadar jika saat ini Louis sedang gelisah akibat perbuatannya.


“ Kenapa jantungmu berdebar kencang....”


“ Apa kamu sakit....”, tanya Azkia sambil mendongakkan wajahnya dengan tatapan khawatir.


“ Oh ini...”


“ Tadi aku habis minum kopi....”


“ Mungkin hari ini sudah kebanyakan jadi jantungkku berdebar cepat....”, jawab Louis beralibi.


Melihat Azkia percaya dengan alibinya, Louis merasa tenang. Dan diapun tersenyum bahagia ketika Azkia mengomelinya untuk menjaga kesehatan tubuhnya.


“ Jika sudah malam, usahakan jangan minum kopi lagi....”


“ Itu tak baik bagi kesehatanmu....”


“ Lagian jika malam begini kamu minum kopi akan membuatmu susah untuk tidur sehingga esok pagi badan menjadi tidak fresh guna menjalani aktivitas harianmu yang sangat padat itu....”, omel Azkia.


“ Iya, aku janji mulai malam ini aku tak akan lagi meminum kopi malam – malam lagi....”


" Dan akan menggantinya dengan susu....", tentu saja kata terakhir hanya bisa  Louis ucapkan dalam hati.


Azkia yang merasa jika detak jantung Louis sudah tak sekencang tadi merasa sedikit lega.


Diapun kembali membaringkan kepalanya didada bidang Louis hingga tanpa sadar kedua matanya mulai tertutup rapat.


“ Aku harap, aku bisa setiap hari membuatmu terlelap dalam pelukanku seperti ini....”, batin Louis bahagia.


Dengan hati – hati, Louis membaringkan tubuh Azkia diatas ranjang dan menyelimuti tubuhnya.


Sebelum keluar dia menyempatkan diri untuk mengecup kening dan kedua pipi wanita yang sudah dia klaim sebagai calon istrinya dimasa depan itu dengan penuh cinta.


“ Selamat tidur sayang....”


“ Semoga malam ini kamu bermimpi indah..... ”, bisiknya lembut.

__ADS_1


Tak lupa Louis juga mengecup perut buncit Azkia dan memberi ucapan selamat malam kepada calon anak tirinya itu dan juga kepada putrinya Imelda sebelum dia melangkah keluar kamar.


__ADS_2