AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 61


__ADS_3

Malam semakin larut, disaat semua orang sedang terlelap tidur Jacob masih berkelung dengan leptop dihadapnnya.


Setelah mendengar Azkia menghilamg bersama Shanaz, Jacobpun langsung melacak keberadaan gadis tersebut melalui alat pelacak yang terpasang dibandul kalung Azkia.


Untung saja Azkia tak pernah melepaskan sedikitpun kalung yang ada dilehernya tersebut sehingga Jacobpun bisa melacaknya dengan mudah.


Setelah melihat titik merah bergerak kearah puncak, Jacob segera menginstruksikan anak buahnya untuk segera merapat kesana.


Dia sangat berharap jika kali ini dia tak terlambat untuk menyelamatkan Azkia dari kekejian Ardan.


Melihat jika titik merah didalam ponselnya tersebut berlahan mulai menghilang setelah berbelok dihutan lindung yang berada dikaki bukit, Jacob semakin mempercepat laju mobilnya karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Azkia.


“ Brengsek !!!....”


“ Kemana lelaki gila itu membawa Azkia pergi !!!....”, ucap Jacob menggeram marah.


Untung saja jalan menuju kearah puncak malam ini tak begitu macet sehingga dia bisa memacu kendaraannya sangat kencang seiring dengan menghilangnya titik merah tersebut di sebuah hutan lindung disekitar kaki bukit.


Sementara itu disebuh vila mewah yang berada dibalik hutan lindung terlihat seorang gadis cantik terlihat meringgis kesakitan.


“ Arghhhh…..”


“ Sakit…..”, rintih Azkia.


Sambil memegangi kepalanya, Azkia mulai membuka kedua matanya yang masih terasa berat efek obat bius yang baru saja hilang.


“ Dimana aku ?....”


“ Apakah aku baru saja diculik ?....”


“ Tapi kenapa mereka menempatkanku dikamar mewah seperti ini…”


“ Oh, jangan – jangan mereka akan menjualku….”


" Apalagi aku sudah mengenakan pakaian haram ini....."


Azkia terus saja bermonolog sambil mengamati keadaan sekitarnya dengan seksama, mencari petunjuk keberadaannya saat ini.


Perlahan, kaki jenjangnya mulai melangkah turun dari atas ranjang dan matanya langsung takjub dengan kemewahan desain interior yang ada didalam kamar tersebut.


Tak ingin terlena dengan kemewahan kamar yang dia huni saat ini, diapun bergegas menuju kearah pintu kamar untuk keluar.


“ Sial….”


“ Terkunci rupanya….”, gumannya kesal.


Kakinya terus melangkah mencari jendela yang bisa dibuka namun hasilnya nihil.


Semua kaca jendela yang ada dalam kamar ini termasuk yang ada didalam kamar mandi adalah kaca tanam yang tak bisa dibuka.


Sambil mengacak – acak rambutnya frustasi, Azkia langsung mengarahkan pandangannya kearah pintu begitu mendengar handle pintu dibuka.


Ceklek....


“ Ardan…”, gumannya terkejut.


“ Kamu sudah sadar….”, ucap Ardan santai.

__ADS_1


“ Apa maksud semua ini….”


“ Jangan bilang kalau kamu yang menculikku…”, teriak Azkia penuh amarah.


Melihat Ardan tak menanggapi ucapannya dan malah bergerak maju membuat Azkia memundurkan langkahnya dengan sikap waspada.


“ Jangan mendekat….”


“ Aku bilang, jangan mendekat….”, ucap Azkia sambil mengangkat satu tangannya dengan lima jari menghadap ke Ardan.


Ardan hanya bisa menghembuskan nafas secara kasar mengetahui jika istrinya seakan jijik berdekatan dengannya.


Dia memang merencanakan penculikan ini karena Ardan sudah merasa frustasi setelah sidang mediasi untuk mempertahankan Azkia gagal.


Terserah orang mau mengatainya licik, kejam, bengis dan tak tahu malu karena hanya dengan cara inilah dia bisa berbicara berdua dengan sang istri tanpa penganggu dan berusaha untuk mempertahankannya.


“ Apa maksudmu Ardan….”


“ Kenapa kamu membawaku kesini….”


“ Aku tahu kamu sedang merencakan sesuatu….”


“ Jika itu untuk membuatku membatalkan gugatan cerai yang aku layangkan….”


“ Saranku, buang jauh – jauh pemikiranmu itu karena aku tetap pada pendirianku yang ingin bercerai darimu….”, teriak Azkia emosi.


Melihat istrinya masih bersikukuh untuk tetap bercerai dengannya, Ardanpun berusaha untuk mengontrol emosinya dan membicarakan semuanya secara baik – baik.


“ Aku nggak punya rencana apa – apa…”


“ Tujuanku membawamu kesini adalah agar kita bisa berbicara berdua dari hati ke hati tanpa ada pihak lain yang menganggu….”


“ Untuk itu aku minta maaf sebesar – besarnya atas semua khilaf yang pernah aku lakukan dimasa lalu….”


“ Sekarang, mari kita cari solusinya bersama – sama….”


" Demi masa depan kita........", ucap Ardan berusaha membujuk.


“ Nggak…”


“ Nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi….”


“ Solusi dari permasalahan kita adalah perceraian….”, ucap Azkia bersikukuh dengan keputusannya.


“ Iya…”


“ Aku tahu kamu ingin sekali bercerai karena tak bisa memaafkan semua kesalahanku…”


“ Tapi, setidaknya kita bisa bicara baik – baik saat ini….”, ucap Ardan masih ngotot ingin mengubah pikiran sang istri hingga melupakan masalah perceraian sejenak.


“ Nggak….”


“ Sama sekali nggak ada yang perlu kita bicarakan lagi….”


“ Aku dan kamu sudah selesai…”


*“ **You and me *END….”, ucap Azkia penuh penekanan sambil menyilangkan kedua tangannya didepan tubuhnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Melihat pintu kamar terbuka dan Ardan sedikit lengah, Azkia yang berusaha untuk melarikan diri pada akhirnya harus kembali terbaring diatas ranjang setelah Ardan berhasil menangkap tubuh munggilnya dan membantingnya kasar diatas ranjang.


Sebenatrnya Ardan tak ingin bertindak berlebihan karena tujuannya membawa istrinya kesini agar keduanya bisa berbicara dengan tenang.


Tapi perilaku Azkia yang diluar prediksi membuat gejolak emosi dalam dirinya perlahan mulai keluar kepermukaan.


“ Azkia….”


“ Tenanglah….”


“ Kita bisa bicara baik – baik dan aku janji nggak akan menyakitimu lagi…..”, lirih Ardan selembut mungkin.


“ Munafik…”


“ Aku sama sekali nggak percaya dengan semua kata yang keluar dari mulutmu itu Ardan…”


“ Aku sudah tahu tujuanmu menculikku…”


“ Jika bukan untuk menyakitiku lalu untuk apa….”


“ Dasar manusia iblis tak punya hati….”, ucap Azkia berapi – api.


Ardan menggeleng – gelengkan kepalanya beberapa kali sambil berucap pelan “ Aku nggak akan menyakitimu lagi. Aku membawamu kesini murni untuk berbicara agar kita bisa memperbaiki pernikahan kita dan kembali bersama….”.


Melihat Azkia masih terus saja berontak dalam dekapannya, Ardan yang terus berupaya agar emosinya tak keluar kembali berusaha membujuk istrinya itu.


“ Aku janji akan menuruti semua keingginanmu….”


“ Apapun mau mu aku akan ikuti asalkan kita tidak bercerai….”, ucap Ardan mengiba.


“ Satu – satunya keingginanku adalah bercerai darimu Ardan….”, teriak Azkia memberontak.


“ Tapi, aku tak ingin berpisah darimu Azkia….”, ucap Ardan frustasi.


Tiba – tiba tubuh Ardan merosot dan lelaki itupun bersimpuh dikaki Azkia yang sedang duduk ditepi ranjang.


Sorot matanya senduh dan air mata membayang dikedua mata elang yang biasanya terlihat tajam namun kini terlihat sangat rapuh.


“ Aku benar – benar nggak mau pisah sama kamu Azkia….”


“ Aku nggak ingin bercerai….”


“ Tolong beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan ini sekali lagi…”


“ Bilang, kamu ingin aku melakukan apa….”


“ Apa yang harus aku lakukan agar kamu kembali mempercayaiku….”


“ Aku benar – benar tak sanggup jika harus berpisah darimu Azkia….”, ucap Ardan berderai air mata.


Kedua tangan Azkia mengepal dengan sorot mata memanas mendengar semua kata yang begitu ringannya keluar dari mulut suaminya itu.


“ Kamu akan melakukan apapun keingginanku….”, ucap Azkia tajam.


“ Benar….”


“ Apapun itu….”, ucap Ardan sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.

__ADS_1


“ Bunuh dirimu dihadapanku….”


“ Maka aku akan memaafkanmu….”, ucap Azkia lantang.


__ADS_2