
Dibawah guyuran air shower perasaan Jacob tak tenang. Tiba – tiba wajah Azkia terus muncul dikepalanya seperti sebuah pertanda jika ada hal buruk terjadi pada gadis itu.
“ Kenapa aku terus kepikiran Azkia ya…..”, batin Jacob galau.
Karena cemas, Jacob pun segera mempercepat ritual mandinya agar bisa segera menghubungi Azkia supaya hatinya bisa sedikit lebih tenang.
Begitu Jacob keluar dari dalam kamar mandi, ponselnya berdering sangat nyaring membuat lelaki itu langsung berjalan cepat menuju nakas yang ada disamping tempat tidurnya.
Rahang Jacob langsung mengeras waktu mendengar kabar jika Azkia diculik dan anak buahnya kehilangan jejak.
Untung saja Jacob sempat memasang alat pelacak dibandul kalung Azkia tadi siang karena khawatir gadis itu terkena masalah setelah berkas Hilman dinaikkan ke meja hijau.
Tak ingin membuang waktu lagi, Jacobpun segera melacak keberadaan lokasi Azkia dari alat pelacak yang dipasangnya dan disambungkan ke ponselnya.
“ Ketemu….”, ucap Jacob lega.
Diapun segera mengabari anak buahnya agar segera meluncur kesebuah rumah kosong dipinggiran ibukota yang diduga sebagai tempat untuk menyekap Azkia saat ini.
“ Jangan bertindak sebelum bantuan datang….”
“ Awasi saja tempat itu ….”
“ Jika ada hal baru, cepat hubungi aku….”, ucap Jacob tajam.
Anak buahnya yang disuruh mengawasi Azkia dari kejauhan tersebut langsung meluncur ketempat yang diberikan oleh bosnya menggunakan motor agar cepat sampai.
Masih bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk kecil untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, Jacob pun segera menelpon markas dan menyuruh mereka untuk melakukan penyelamatan terhadap Azkia.
“ Sisakan dua sampai tiga orang dan bawa kemarkas hidup – hidup….”
“ Yang lainnya, bereskan….”, perintah Jacob tegas.
Setelah mengarahkan anak buahnya, Jacob pun bergegas berganti pakaian dan langsung meluncur ketempat dimana Azkia disekap.
“ Jika Niel sampai bisa kehilangan jejak berarti kelompok yang menculik Azkia ini tampaknya bukan sembarang orang….”, guman Jacob sambil memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu ditempat lain, Ardan terlihat sangat cemas sambil menatap layar monitor yang ada dihadapanya bersama Robby dan salah satu teman hackernya.
“ Bagaimana ?.....”, tanya Ardan untuk kesekian kalinya.
Gelengan kepala yang diberikan lelaki yang berada didepan monitor sudah menjadi jawaban bagi Ardan yang langsung meremas – remas rambutnya dengan kasar karena frustasi.
“ Dimana kamu Azkia…..”, guman Ardan panik.
Ardan berjalan mondar – mandir dibelakang Robby sambil menatap layar ponselnya yang masih berwarna hitam.
“ Sial !!!.....”
“ Kenapa mereka semua masih belum menghubungiku….”, batin Ardan resah.
Robby yang sejak tadi berada dibelakang Tobby, temannya tampak menatap intesn tiga layar monitor yang ada dihadapannya sementara temannya masih sibuk menggetikkan dan mencoba membobol beberapa cctv sepanjang jalan yang dicurigai dilalui penculik yang membawa Azkia.
__ADS_1
“ By….”
“ Lihat….”
“ Ada panggilan masuk keponsel Hilman…..”, teriak Robby antusias waktu dia melihat ada panggilan masuk kedalam ponsel Hilman yang telah mereka sabotase.
Tobby pun segera mengetik sebuah kode agar mereka juga bisa mendengarkan dan melihat sambungan video yang Hilman lakukan saat ini.
Kedua mata Ardan melotot dengan rahang mengeras menahan amarah waktu penculik itu memperlihatkan tubuh istrinya tergeletak dilantai dengan beberapa luka memar dan berdarah dibeberapa bagian wajah Azkia dengan kedua tangan dan kaki terikat.
“ Brengsekkk !!!.....”
“ Beraninya mereka menyentuh istriku !!!....”, teriak Ardan penuh amarah.
“ Cepat cari dimana titik lokasi si penelpon….”, perintah Ardan lantang.
Dari obrolan yang mereka dengar, orang yang menculik Azkia meminta sisa pembayaran jika ingin melenyapkan gadis yang mereka tangkap tersebut karena tak mau kembali tertipu oleh Hilman yang sering mangkir untuk membayar sisa pekerjaan yang telah mereka lakukan.
“ Blokir semua kartu perbankan yang Himan miliki sekarang !!!....”, perintah Ardan tegas.
Tobby pun kembali mengetikkan angka – angka dan huruf dilayar monitor disebelah kirinya untuk bisa mendapatkan akses perbankan dan membobolnya.
“ Semua kartu perbankan Hilman sudah terblokir….”
“ Tampaknya ada yang bergerak selangkah didepan kita yang juga mentargetkan lelaki licik itu….”, ucap Tobby menjelaskan.
Begitu wajah si penculik terlihat jelas dilayar monitor, tiba – tiba kepala Ardan terasa sangat sakit seperti ada batu besar yang sedang menghantamnya berulang kali.
“ Kamu kenapa ?.....”, tanya Robby khawatir.
“ Arghhh……”, teriak Adan kesakitan.
Tobbypun segera menyimpan gambar wajah penculik yang sempat tertangkap dalam sambungan video tersebut meski hanya sekilas.
Ardan yang masih memegangi kepalanya sambil menutup mata mulai mengingat akan sosok yang baru saja dilihatnya itu.
FLASH BACK ON
Seperti biasa, jika sedang senggang Ardan akan mampir kekantor untuk menemui kakak kembarnya sambil membawakan seporsi makan siang kesukaan Ardi.
Sekretaris Ardi tersenyum lembut dan mempersilahkan Ardan masuk kedalam ruangan sang bos dengan sopan.
Dua alis Ardan tertaut sempurna menatap Ardi yang tampak serius melihat layar laptop yang ada dihadapannya hingga tak menyadari kehadirannya yang kini sudah ada disampingnya.
“ Serius amat….”
“ Lihat apa sih kak….”, ucap Ardan sambil menepuk pelan bahu Ardi.
“ Enggg….”
“ Nggak ada apa – apa kok….”, ucap Ardi gugup.
__ADS_1
“ Itu foto siapa ?....”, tanya Ardan penasaran.
“ Menurut informasi yang kudapat, dia adalah salah satu anggota pembunuh bayaran terkenal sadis dengan nama Black Ghost….”, ucap Ardi menjelaskan.
“ Pembunuh bayaran ?.....”
“ Lalu, ada hubungan apa orang itu dengan kakak…..”, tanya Ardan sambil mengkerutkan keningnya cukup dalam dengan tatapan mata menyelidik.
Ardi hanya mengangkat bahunya acuh membuat Ardan yang tak puas dengan jawaban yang diberikan oleh kakak kembarnya itu.
Diapun langsung memberondong Ardi dengan berbagai macam pertanyaan hingga lelaki itu merasa jengah dan pada akhirnya mau menceritakan semuanya.
“ Aku juga tak tau apa yang sedang dicari atau diincarnya…”
“ Yang jelas, sudah tiga hari ini dia mengikutiku….”
“ Yang aku heran, dia tak melakukan tindakan apapun dan hanya mengawasiku dari jauh….”
“ Anak buahku juga tak bisa menangkapnya….”
“ Pergerakan lelaki itu sangat cepat dan gesit…..”, Ardi pun menceritakan apa saja yang terjadi tiga hari terakhir ini.
Mendengar cerita sang kakak, Ardan hanya bisa terdiam sambil memikirkan kira – kira siapa orang yang menginginkan nyawa kakak kembarnya itu.
“ Apakah ayah tahu mengenai hal ini ?.....”, tanya Ardan penasaran.
“ Tidak….”
“ Karena dia sama sekali tak menyentuhku maka akupun tak perlu memberitahu ayah karena tak ingin membuatnya khawatir…..”, ucap Ardi sambil menyendokkan makanan yang dibawa oleh adik kembarnya itu kedalam mulutnya.
“ Meski begitu, kakak tetap harus waspada…”
“ Siapa tahu dia hanya menunggu waktu saja….”, ucap Ardan khawatir.
“ Tenang saja untuk masalah itu…”
“ Sejak aku memastikan bahwa lelaki itu memang sedang mengawasiku aku sudah menambah pengawal yang menjagaku….”, ucap Ardi santai.
“ Ck, kau ini….”, Ardan berdecak kesal karena kakak kembarnya itu selalu menyepelekan semua hal padahal kali ini berkaitan dengan nyawanya.
“ Hey, tenanglah….”
“ Hidup mati seseorang itu sudah ada yang mengatur….”
“ Jika aku belum waktunya mati maka aku tak akan mati….”
“ Tapi, jika aku sudah waktunya mati maka diam pun aku akan tetap kehilangan nyawa….”
“ Jadi, bersantailah sedikit…..”, ucap Ardi sambil menepuk pundak Ardan beberapa kali sambil tersenyum.
FLASH BACK OFF
__ADS_1
Sakit kepala di kepala Ardan menghilang seiring semua ingatan percakapannya dengan Ardi juga menghilang.
“ Kali ini aku akan mencari tahu dari lelaki itu karena aku masih sangat yakin jika kecelakaan yang merenggut nyawa Ardi bukanlah kecelakaan biasa meski tak ada satupun bukti yang mengarah kesana….”, batin Ardan bermonolog.