
Malam yang cerah dengan bulan bulat sempurna membuat hati Azkia yang seharian ini mellow menjadi lebih ceria.
Cepatnya perubahan emosi yang dialami Azkia sedikit banyak menganggu ketenangan bik Surti yang seharian ini terus bersama majikannya itu.
Setelah kejadian pagi tadi, bik Surti benar – benar tak membiarkan Azkia seorang diri. Setidaknya jika ada dirinya gadis itu ada teman untuk berbicara dan bertukar cerita.
Dari Azkia bik Surti baru mengetahui jika gadis itu sudah melayangkan gugatan cerai kepada suaminya dan saat ini dirinya sedang menunggu kabar dari pengadilan agama untuk sidang perdananya.
“ Apapun keputusan non Azkia, bibik akan selalu mendukung ….”
“ Lagipula, perceraian ini juga keingginan almarhum tuan Ronan sebelum beliau meninggal dunia….”, ucap bik Surti sedih.
“ Benar bik….”
“ Karena aku sudah tak kuat lagi menjalani pernikahan toxic ini sekaligus berusaha untuk memenuhi keingginan papa yang terakhir agar aku bercerai dengan Ardan….”, ucap Azkia sambil menatap jauh keatas langit, memandang bulan purnama yang menerangi langit malam ini.
“ Apakah non Azkia masih mencintai den Ardan…..”, tanya biks Surti was- was.
Melihat Azkia terdiam cukup lama membuat bik Surti merasa bersalah karena menanyakan hal yang sensitive seperti itu.
“ Maafkan bibik ya non….”
“ Bibik telah lancang bertanya hingga membuat non Azkia merasa tidak nyaman…”, ucap bik Surti penuh rasa bersaalah.
“ Tidak bik….”
“ Bibik sama sekali tidak salah…”
“ Aku tahu jika bibik sangat khawatir dengan kondisiku saat ini….”, ucap Azkia sambil mengenggam tangan keriput bik Surti dengan hangat.
“ Rasa cintaku terhadap Ardan sudah hilang seiring kepergian papa….”
“ Dan kali ini aku akan berusaha untuk benar – benar bahagia seperti keingginan papa….”
“ Satu keingginan sederhana tapi tak mampu aku penuhi hingga akhir hayatnya….”, ucap Azkia sedih
Keduanya pun saling berpelukan sambil berbicara dari hati kehati agar semua rasa sesak yang menganjal perlahan pergi.
Disebuah rumah mewah terlihat seorang lelaki pulang kerja dengan wajah letih.
Biasanya setelah pulang kerja ada seseorang yang setia menyambutnya dengan senyuman manis, meski saat itu kehadirannya tak dihiraukan oleh Ardan.
Tapi sekarang, setelah Azkia tak ada Ardan baru merindukan hal itu dan merasakan jika rumah mewahnya terasa sangat sepi dan sunyi.
Bahkan masakan yang dibuat oleh pembantunya sama sekali tak disentuhnya malam ini.
Entah kenapa, lidahnya yang sudah kecanduan masakan Azkia tak lagi bisa nikmat menyantap masakan orang lain meski sama persis bumbu dan bahan yang digunakan.
“ Tak disentuh lagi….”, tanya Melati penuh selidik.
__ADS_1
Bik Mina hanya menggeleng pelan dan langsung membereskan makanan yang baru saja dia hidangkan diatas meja makan untuk Ardian.
“ Sudah berapa lama dia seperti ini….”, tanya Melati penuh kecurigaan.
“ Sejak non Azkia pergi dari rumah….”
“ Tapi akhir – akhir ini lebih parah dari sebelumnya yang masih dimakan meski hanya satu sendok makan….”, ucap bik Mina menjelaskan.
Melati yang mendapat kabar jika Azkia sudah kembali kerumahnya setelah kasus penculikan yang menimpah dirinya dan tak membiarkan siapapun untuk masuk kedalam rumahnya termasuk dirinya membuatnya sangat cemas..
Bahkan Azkia juga menganti bodyguard yang semula merupakan milik suaminya dengan bodyguard milik temannya Jacob Wang.
Dari sini Melati merasa curiga jika hubungan anak dan menantunya itu sudah berada diujung tanduk dan untuk memastikan semuanya maka Melati malam ini berniat untuk menginap dirumah anaknya tersebut.
Tok…tok…tok…
“ Ar….”
“ Apa bunda boleh masuk…..”, ucap Melati meminta ijin
Ceklek….
Melati langsung masuk begitu pintu kamar terbuka dan menatap Ardan yang wajahnya kusut seperti kain tak disetrika itu dengan perasaan khawatir.
“ Apa yang sebenarnya terjadi ?....”
Ardan menghela panjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Selanjutnya diapun menyugar rambutnya dengan raut wajah frustasi.
“ Sangat buruk bun….”
“ Hubunganku dengan Azkia rasanya sulit untuk selamatkan lagi…..”, ucap Ardan frustasi.
“ Apa maksudmu….”, tanya Melati tak mengerti.
Dengan berat hati Ardan pun menceritakan semuanya kepada Melati yang hanya bisa menanggapi kebodohan anaknya itu dengan geram.
Dia sama sekali tak menyangka jika Ardan akan sebodoh itu hingga melakukan kesalahan yang sama berulang kali.
“ Apa sebenarnya yang kamu pikirkan….”
“ Keledai yang terkenal bodoh saja tak pernah jatuh kedalam lubang yang sama kedua kalinya….”
“ Tapi kamu….”
“ Kenapa bisa kamu terus menerus melakukan kesalahan yang sama berulang kali…..”, ucap Melati mendesah pasrah.
Dia sama sekali tak habis pikir bagaimana caranya agar anaknya itu bisa sadar dan tak terus menerus membuat kesalahan yang justru membawanya kedalam jurang kegagalan.
“ Lalu….”
__ADS_1
“ Apa kamu sudah meminta maaf dengan tulus kepada Azkia…..”, tanya Melati dengan tatapan menyelidik.
Melihat Ardan menggelengkan kepalanya secara perlahan membuat Melati ingin rasanya memasukkan Ardan kembali kedalam perutnya dan tak akan pernah melahirkannya kedunia ini seandainya bisa.
Keduanya kemudian terdiam cukup lama bergulat dengan pikiran masing – masing hingga ucapan Ardan seperti petir dimalam hari.
“ Azkia menggugat cerai aku bun….”, ucap Ardan lemah.
“ Apa ?....”
“ Mengugat cerai ?....”, Melati berusaha mengulangi ucapan Ardan untuk memastikan jika dia tak salah dengar.
“ Azkia sudah melayangkan gugatan cerainya kepengadilan agama…..”
“ Dia menggunakan Martin Dholf sebagai kuasa hukumnya….”
“ Bunda tahu sendiri bagaimana sepak terjang pengacara itu…..”
“ Dan aku gagal untuk membujuknya….”
“ Aku benar – benar tak mau berpisah dengan Azkia bun….”, ucap Ardan sedih.
Meski masih syok tapi Melati berusaha untuk bisa memberi solusi terbaik untuk permasalahan serius yang sedang anaknya hadapi tersebut.
“ Tiga hari lagi adalah peringatan empat puluh hari kematian papa mertuamu….”
“ Bunda akan coba untuk membujuk Azkia agar diijinkan untuk tinggal disana setidaknya sehari sebelum acara berlangsug….”
“ Dan bunda harap dalam dua hari itu kamu bisa menggunakan kesempatan dengan sebaik – baiknya….”
“ Minta maaflah dengan tulus….”
“ Semarah – marahnya seseorang, jika kita meminta maaf dengan tulus ke mereka bunda yakin Azkia pasti akan luluh dan memaafkanmu….”, ucap Melati memberi solusi.
“ Tapi ingat….”
“ Jangan melakukan apapun hal yang bisa membuat Azkia teringat akan traumanya….”
“ Bersikaplah manis dan hargai dia sebagai wanita yang perlakukan dia sebagaimana suami memperlakukan istrinya…”
“ Bukan seperti semua hal yang kamu lakukan kepadanya selama ini….”, ucap Melati dengan nada tegas.
“ Terimakasih bun…..”, ucap Ardan sambil memeluk Melati dengan rasa haru.
“ Ardan janji kali ini Ardan tak akan melakukan tindakan bodoh yang membuat Azkia semakin membenci Ardan dan membulatkan tekad untuk berpisah dari Ardan….”, ucapnya berjanji.
Melati cukup senang, setidaknya anak lelakinya itu sudah menyadari kesalahannya dan berusaha untuk memperbaiki diri lagi.
Dan sekarang yang menjadi PR nya adalah bagaimana caranya dia membujuk Azkia agar bisa diijinkan kembali tinggal dikediamannya, meski hanya untuk beberapa hari saja.
__ADS_1