
Pepatah mengatakan, apa yang kamu tabur itu nantinya akan yang kamu tuai. Hal ini berlaku pada kehidupan kita sehari - hari.
Saat ini semua orang tampaknya telah menuai hasil yang mereka tabur selama ini. Perbuatan baik yang mereka lakukan dimasa depan akan mendapat balasan setimpal.
Begitu juga dengan semua perbuatan dan perilaku buruk yang kita lakukan akan menuai hasil yang sama dimasa depan.
Ardan yang selama ini selalu berbuat keji pada akhirnya harus hidup dalam penyesalan yang terus menggerogoti jiwa dan raganya.
Begitu juga dengan Hilman dan Meysa yang pada akhir hidupnya berakhir dengan sangat mengenaskan.
Meysa yang selama ini disekap oleh Ardan terus berupaya melakukan percobaan bunuh diri hingga membuat Ardan yang kondisi mentalnya sedang tak stabil menyiksanya dengan sangat kejam hingga wanita itu meregang nyawa ditangannya dalam keadaan mengenaskan.
Tubuh Meysa yang tercabik – cabik akibat lecutan cambuknya dibuang begitu saja dikolam buaya peliharaannya untuk menghilangkan jejak.
Nasib tragis tersebut bukan hanya dialami oleh Meysa, tapi juga dialami oleh kedua orang tuanya.
Hilman yang mendapatkan hukuman seumur hidup sering mengalami perselisihan dengan narapidana lainnya sehingga dia pada akhirnya meregang nyawa setelah ditikam berkali – kali oleh narapidana yang lainnya dalam sebuah perkelahian antar narapidana.
Sementara Windy yang berada rumah sakit jiwa meninggal setelah jatuh dari atap gedung rumah sakit sewaktu mencoba melarikan diri hingga kepalanya hancur mengenai jalanan aspal di halaman depan rumah sakit.
Kabar tersebut tentunya membuat Azkia yang berada dibelahan bumi yang lain merasa sedih.
Bagaimanapun, semua orang tersebut pernah berada dalam kehidupannya meski mereka banyak melakukan hal keji terhadapnya.
Azkia sangat bersyukur selame hidupnya, Ronan selalu mengajarkan kepada putrinya untuk selalu berbuat baik kepada siapapun tanpa meminta imbalan.
Dan sekarang Azkia telah menuai hasil dari semua kebaikan yang pernah dilakukannya dimasa lalu.
Meski sempat mengalami badai kehidupan yang dasyat, setidaknya sekarang sudah ada pelangi dalam hidup Azkia.
Dilain tempat, tepatnya disebuah rumah mewah terlihat sepasang suami istri sedang mendiskusikan suatu hal dengan wajah serius.
“ Lalu bagaimana yah....”
“ Apa yang bisa kita lakukan sekarang....”, tanya Melati gelisah.
“ Tidak ada cara lain bun....”
“ Ayah harus mencari patner bisnis dari benua tersebut sehingga kedatangan kita disana bisa tersamarkan....”
“ Akan sangat riskan bagi kita pergi kesana sekarang tanpa ada unsur bisnis....”
“ Keluarga Watson akan curiga.....”
“ Dan jika Azkia kembali disembunyikan maka kesempatan kita untuk menemukannya kembali akan sangat kecil.....”, Faisal mencoba mengutarakan fakta yang ada agar istrinya tak bertindak gegabah.
Dan hal ini juga tak bisa diketahui oleh Ardan mengingat saat ini emosi putranya itu masih dalam kondisi tidak stabil.
Takutnya bukan hanya tak bisa berjumpa dengan Azkia, Ardan malah akan menjadi korban keganasan keluarga Watson.
Mengingat jika mereka pasti sudah mengetahui dengan jelas permasalahan yang sedang dihadapai Azkia dimasa lampau hingga melindunginya sedemikian rupa.
“ Tapi kita harus bertindak cepat yah....”
__ADS_1
“ Jika bunda tak salah tebak, seharusnya dua bulan lagi Azkia sudah akan melahirkan....”
“ Jika bisa, kita berada disampingnya ketika cucu kita terlahir nanti....”, ucap Melati penuh harap.
Bukan hanya Melati yang berharap bisa mendampingi kelahiran cucu pertama keluarga Bimantara, tapi Faisal juga.
Kembali lagi, mengingat jika hal ini tak bisa dilakukan secara gegabah maka Faisal pun berusaha untuk membujuk istrinya agar lebih sadar lagi.
Tak ingin membuang banyak waktu, Faisal pun mulai menghubungi rekan – rekan dan koleganya yang berada tak jauh dari benua dimana Azkia diperkirakan ada saat ini.
Rencananya, dia akan nebeng nama untuk proyek yang mereka kerjakan disana agar bisa masuk ke negara tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan.
Faisal dan Melati tampaknya harus lebih bersabar lagi karena semua orang yang sudah mereka hubungi tak memiliki proyek dinegara yang Faisal kehendaki.
Sementara itu, Robby beberapakali hampir keceplosan bicara kepada Ardan mengenai keberadaan mantan istri sahabat sekaligus bosnya itu.
Jika saja Robby tak sengaja melihat foto Azkia diambil salah satu rekannya ketika sedang berliburan kebenua tersebut untuk menghadiri pernikahan sepupunya mungkin sampai hari ini Robby tak akan bisa menemukan jejak keberadaan mantan istri bosnya itu.
Melihat tubuh Ardan semakin hari semakin kurus dan tak terawat, begitu juga dengan kondisi psikisnya yang terus menurun membuat Robby tak tega.
Tapi jika dia mengingat bagaimana kejam dan berkuasanya keluarga Watson dibenua tersebut, dengan emosi Ardan yang tak stabil seperti sekarang lelaki itu justru akan menyetorkan nyawa dengan sia – sia jika berani datang sekarang tanpa persiapan yang matang..
“ Apa yang harus kulakukan sekarang....”
“ Dulu binggung mencari keberadaan nyonya Azkia....”
“ Setelah ketemu sekarang binggung tak bisa kesana untuk bertemu....”
“ Apa Ardan memang tidak ditakdirkan untuk Azkia.....”, batin Robby resah.
Robby yang menyadari jika dirinya akan diinterogasi merasa sedikit panik. Dia takut akan keceplosan sehingga membuka semuanya dihadapan Ardan saat ini.
Begitu sampai didalam ruang kerja Ardan, bosnya itu menyuruh duduk sambil menyodorkan segelas kopi panas yang baru saja dibuat sendiri oleh Ardan membuat hati Robby semakin merasa tidak enak.
“ Apa ada masalah....”
“ Kenapa aku lihat kamu sama sekali tak fokus sejak tadi....”, tegur Ardan dengan pandangan menyelidik.
“ Hanya ada sedikit masalah pribadi....”
“ Tapi, aku sudah memiliki solusinya sehingga tak akan mempengaruhi pekerjaan yang ada....”, ucap Robby beralibi.
“ Baguslah kalau begitu.....”, ucap Ardan sambil menyuruh Robby meminum kopinya.
Keduanya mulai berbincang – bincang ringgan hingga ketegangan yang dirasakan oleh Robby mulai menurun, Ardanpun langsung masuk kedalam inti pembicaraan yang sejak tadi ingin dilakukannya.
“ Bisa kamu jelaskan mengenai foto ini....”, ucap Ardan sambil melemparkan foto Azkia dihadapan Robby.
Melihat Robby sangat terkejut dengan kedua bola mata hampir keluar Ardan tak salah orang jika assistennya itulah yang memang pemilik foto tersebut.
“ Sampai kapan kamu ingin membohongiku.....”
“ Apa ayah dan bunda juga sudah tahu akan hal ini......”, cecar Ardan tajam.
__ADS_1
Melihat Robby hanya bisa terdiam dengan wajah pucat, Ardan yakin jika kedua orang tuanya sudah mengetahui keberadaan Azkia.
Hal itu tentu saja membuatnya sangat kecewa. Mereka mengetahui keberadaan mantan istrinya tapi sama sekali tak memberitahukan kepadanya.
Padahal semua orang tahu bagaimana upaya Ardan untuk mencari keberadaan Azkia hingga membuatnya menjadi frustasi seperti saat ini.
“ Apa kamu senang melihatku menjadi gila seperti ini !!!!....”
“ Kamu tahu tapi kamu diam !!!.....”
“ Jika saja aku tak menemukan foto ini !!!....”
“ Sampai kapan kamu dan semua orang akan membohongiku !!!....”, teriak Ardan penuh amarah.
Melihat Robby masih terdiam mematung, Ardan yang sudah tersulut emosipun meraih kerah bajunya hingga membuat sahabatnya itu hampir tercekik sebelum teriakan Faisal menghentikannya.
“ Lepaskan Ardan....”
“ Robby tak salah....”
“ Emosimu yang berapi – api inilah yang membuat kami menyembunyikan semua fakta yang ada darimu untuk melindungimu.....”, teriak Faisal lantang.
Untung saja Vina tadi menghubungi Faisal waktu Ardan menanyakan mengenai foto yang ditemukannya di depan meja sekretarisnya itu.
Vina yang memang pernah melihat foto pernikahan Ardan segera menghubungi Faisal dan memberitahukannya sehingga lelaki paruh baya tersebut langsung meluncur kekantor anaknya, takut Ardan kelepasan dan tak bisa mengontrol emosinya lagi.
Sesuai prediksi Faisal, begitu sampai dia mendengar jika putra semata wayangnya itu sedang meneriaki Robby didalam ruang kerjanya sehingga membuatnya segera bergegas masuk.
“ Untuk melindungiku.....”, ucap Ardan tertawa terbahak – bahak.
“ Apa kalian puas membuatku menjadi gila dan frustasi seperti ini....”
“ Ini yang kalian bilang untuk melindungiku !!!.....”, teriak Ardan denagn nada tinggi diakhir.
PLAKKK.....
“ Sadarlah !!!.....”
“ Jika kamu seperti ini terus maka selamanya kamu tak akan bisa melihat Azkia dan calon anakmu !!!....”, teriak Faisal murka.
Ardan yang pertama kali merasakan tamparan ayahnya menangis tersedu – sedu. Bukan karena sakit, tapi dia merasa segala ucapan yang ayahnya katakan itu benar adanya.
Jika dia masih memiliki emosi berapi – api seperti ini maka saat bertemu dengan Azkia, bukan kata maaf yang akan dia dapatkan melainkan pertengkaran semata.
Faisal yang melihat Ardan menangis dengan tubuh merosot kelantai langsung berjongkok dan memeluk anaknya dengan erat.
“ Ingat....”
“ Sebentar lagi kamu akan jadi ayah....”
“ Mulailah belajar mengendalikan emosimu agar kelak anakmu tak turut membencimu seperti yang Azkia rasakan terhadapmu....”, ucap Faisal tulus.
Ardanpun menangis sesenggukan dalam pelukan ayahnya. Tampaknya, penyesalan yang dia rasakan tak akan ada artinya jika pribadinya tak bisa berubah menjadi lebih baik.
__ADS_1
“ Benar kata ayah....”
“ Aku harus mulai memperbaiki diri sehingga bisa berdiri tegap dihadapan anakku nanti....”, batin Ardan tersadar.