
Ardan yang setengah harian ini mengikuti Sindy dari kejauhan bersama Alfonso tak menemukan petunjuk apapun.
Selain keluar untuk meninjau pembanggunan pabrik barunya, Sindy sama sekali tak keluar dari gedung berlantai tiga tersebut.
“ Apa kamu yakin putri bungsu Watson ini memiliki petunjuk mengenai keberadaan mantan istrimu....”, tanya Alfonso penasaran.
“ Tentu saja dan aku yakin jika sebenarnya Azkia tak sedang pergi keluar kota....”
“ Entah kenapa feelingku mengatakan jika dia masih ada didalam kota ini....”, ucap Ardan tajam.
Begitu melihat mobil Sindy keluar gedung, Ardan dan Alfonsopun mulai mengikutinya dari jauh karena takut wanita itu curiga jika sedang dibuntuti.
Setelah mampir kesebuah toko roti untuk membelikan titipan Azkia, Sindy segera melajukan mobilnya tanpa dia sadari ada dua pasang sedang memantaunya sedari tadi.
“ Rumah sakit.....”, batin Ardan cemas.
Perasaan Ardan langsung berubah tak karuan waktu melihat mobil yang dikendarai Sindy berbelok arah menuju sebuah rumah sakit besar dikota tersebut.
“ Bukankan itu menantu kedua keluarga Watson....”
“ Apa ada anggota keluarga mereka yang dirawat disini.....”, guman Alfonso curiga.
" Tidak...."
" Feelingku justru mengatakan jika Azkialah yang dirawat dirumah sakit ini....."
" Mengingat jika dia sedang hamil besar....."
" Oh Tuhan...."
" Semoga tidak terjadi hal buruk pada mantan istri dan calon anakku....", guman Ardan panik.
Setelah memakai topi dan masker Ardan serta Alfonso keluar dari dalam mobil membuntuti dua wanita yang terlihat sedang berjalan menuju lorong bangsal rawat inap VVIP.
Melihat jika penjagaan didepan pintu sedikit ketat, Alfonsopun segera menarik tangan Ardan agar lelaki itu berbelok kekanan ketika salah satu bodyguard menatap kearah mereka dengan pandangan curiga.
Untuk memastkan kecurigaan Ardan, Alfonsopun berusaha untuk mencari informasi mengenai siapa orang yang dirawat dalam kamar VVIP nomor 3 tersebut.
Ardan yang menemani Alfonso menuju meja informasi langsung membulatkan kedua matanya begitu dia mendengar nama Azkia Hafsah disebut.
“ Apa yang terjadi.....”
“ Bagaimana kondisi Azkia dan calon anakku sekarang...”, batin Ardan panik.
Alfonso yang mengetahui jika Ardan khawatir segera menariknya keluar sebelum lelaki itu nekat untuk menerjang masuk kedalam kamar yang dijaga oleh dua orang bodyguard diluar.
“ Apa yang kamu lakukan....”
“ Aku ingin melihat kondisi Azkia dan calon anakku sekarang....”, Ardan terlihat berontak waktu Alfonso menyeretnya keluar.
__ADS_1
***Brukkk..***.
Alfonso langsung membenturkan tubuh Ardan di mobil begitu mereka sudah berada diluar rumah sakit dengan geram.
“ Apa kamu tak lihat penjaga yang ada diluar ruangan....”, ucapnya sambil melotot tajam.
“ Mereka hanya dua orang dan aku yakin bisa melumpuhkan mereka sendiri....”, ucap Ardan menyepelekan.
“ Dasar bodoh !!!....”, umpat Alfonso geram.
Melihat Ardan tetap diam membisu dengan kedua mata bergerak cepat kesana kemari, Alfonso yang tak ingin kecolongan pun kembali memperingatkannya.
“ Yang didalam cuma dua....”
“ Tapi begitu kamu bergerak, satu kompi diluar langsung masuk....”, ucap Alfonso dengan nada tinggi.
Sementara itu, Louis yang hendak keluar untuk kembali kekantornya menghentikan langkah kakinya begitu salah seorang karyawan diruang informasi memanggilnya.
Kedua rahang Louis mengeras dengan kedua mata elangnya menatap tajam menyisir semua area untuk mencari keberadaan dua lelaki yang dianggap mencurigakan karena telah berupaya untuk mencari tahu informasi mengenai Azkia.
“ Ardan....”
“ Apa itu dia....”, batin Louis curiga.
Diapun segera menginstruksikan anak buahnya untuk mencari dua orang dengan cirri – cirri yang diberikan oleh petugas informasi rumah sakit sementara dirinya berjalan menuju ruangan dimana cctv rumah sakit dipantau.
Dari rekaman cctv dapat Louis ketahui jika dua lelaki itu tampaknya telah mengikuti Sindy hingga bisa sampai kerumah sakit dan mencari tahu keberadaan Azkia.
Alfonso yang menyadari jika pergerakan mereka sudah terdeteksi segera menarik tangan Ardan masuk kedalam mobil dan berjalan cepat meninggalkan rumah sakit.
“ Sial !!!....”
“ Kita ketahuan !!!....”, teriak Alfonso sambil memukul stir mobilnya dengan geram.
Melihat jika pergerakan mereka dengan cepat dapat diketahui, Ardan pun mulai paham kenapa Alfonso terus berupaya untuk memperingatinya.
“ Ternyata Watson sangat kuat dan tak bisa kusepelekan begitu saja....”, batin Ardan bermonolog.
Untungnya Alfonso gesit membawa kabur mobilnya sehingga mereka bisa mengecoh dan kabur dari kejaran anak buah Louis.
Jika sudah begini maka Alfonso harus segera menganti mobilnya karena dia sangat yakin jika mobil yang dipakainya sekarang sudah ditandai.
“ Lihatlah....”
“ Begitu bertanya mereka sudah langsung mengetahuinya.....”, ucap Alfonso sambil menoleh kepada Ardan.
Alfonso sebenarnya tahu jika sangat riskan baginya untuk bertanya kepada bagian informasi mengenai ruangan Azkia.
Tapi semua itu dia lakukan agar Ardan bisa membuka matanya betapa cepatnya pergerakan orang – orang Watson sehingga lelaki itu bisa berpikir dua kali jika ingin bertindak.
__ADS_1
Louis yang curiga jika Ardan tak kembali kenegaranya segera memperingati sang adik jika dia sedang diikuti oleh seseorang yang dicurigai sebagai mantan suami Azkia.
Sindy sedikit terkejut mendengar hal tersebut, namun dia juga tak menyangkal karena sebenarnya dia sudah merasa curiga dengan mobil hitam yang berada tak jauh dibelakangnya sejak pagi tadi.
Tapi karena banyak hal yang dia pikirkan, maka Sindypun menghilangkan kecurigaannya sesaat dan ternyata itu malah membawa orang tersebut ketempat dimana Azkia berada.
“ Apakah kakak berencana untuk memindahkan Azkia sekarang.....”, bisik Sindy penuh kekhawatiran.
“ Tidak....”
“ Aku akan berbicara dengan dokter supaya Azkia bisa pulang siang ini juga....”, ucapnya tegas.
Setelah mengatakan hal tersebut, Louis pun segera menemui dokter yang merawat Azkia untuk membicarakan mengenai kepulangan wanita tersebut.
Sementara Sindy menyiapkan segala keperluan Azkia bersama Becca yang sudah dikirimi pesan olehnya tadi ketika sang kakak memutuskan untuk membawa pulang Azkia.
“ Kenapa barang – barangku dibereskan....”
“ Bukankah baru dua hari lagi aku diijinkan pulang....”, tanya Azkia sedikit binggung.
“ Tadi kak Louis bilang jika dokter sudah membolehkanmu pulang....”
“ Bukankah beristirahat dirumah lebih baik daripada disini.....”, ucap Sindy yang sangat tahu jika Azkia benci rumah sakit setelah ekmatian sang papa.
“ Benarkah....”, ucap Azkia antusias.
Azkia yang hendak turun untuk membantu membereskan barang – barangnya dicegah oleh Becca yang menyuruhnya untuk tetap diam ditempatnya.
“ Ingat....”
“ Kamu boleh pulang tapi tak boleh banyak bergerak dulu....”
“ Harus bedrest total.....”, ucap Becca dengan melotot tajam.
Jika sudah begitu, Azkia hanya bisa pasrah kembali menjadi putri pemalas yang kerjaannya hanya makan dan berbaring diatas ranjang seharian tanpa bisa melakukan apapun.
Karena kondisi Azkia sudah semakin baik, dokterpun mengijinkannya dibawa pulang dengan syarat wanita itu tak boleh turun dari atas ranjang hingga dua hari kedepan.
Selain dilarang untuk beraktivitas dokter juga memperingatkan kepada Louis agar Azkia tidak boleh terlalu stress karena hal itu mempengaruhi kehamilannya.
Louis yang paham dengan kekhawatiran sang dokter pun menyanggupi syarat yang diberikan dan segera menggurus semua administrasi Azkia.
“ Bagaiamana ?....”, tanya Louis tajam.
“ Mereka berhasil kabur....”
“ Tapi kami sudah bisa melacak siapa pemilik mobil tersebut dan tempat tinggalnya....”, ucap anak buahnya melaporkan.
“ Pantau dan kabari aku secepatnya....”, perintah Louis tegas.
__ADS_1
Mungkin hari ini Louis hampir saja kecolongan hingga Ardan bisa menemukan keberadaan Azkia.
Tapi sebentar lagi dia akan membuat Ardan meninggalkan negara ini selama – lamanya dan bisa dipastikan bahwa lelaki itu tak akan pernah bisa masuk lagi kenegara ini sampai kapanpun.