AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 98


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, Ardan yang melakukan terapi demi bisa berjalan kembali sempat mengalami fase putus asa dengan pengobatan dan perawatan yang dijalani.


Ardan merasa lelah setiap kali menjalani pengobatan yang menyakitkan tanpa menuai hasil yang signifikan.


Kedua kakinya masih belum bisa digerakkan meski sekarang dia sudah bisa merasakan jika sendi – sendi ototnya mulai berfungsi setiap kali dia melakukan terapi.


Sudah banyak biaya yang dikeluarkan oleh kedua orang tua Ardan demi bisa mengembalikan agar kaki anak semata wayang nya kembali seperti semula.


Mendatangkan dokter dari luar serta bahan – bahan obat yang di gunakan untuk berendam yang tergolong langkah hingga membuat Faisal harus merogoh kocek dalam – dalam setiap kali obat Ardan habis.


Selain membutuhkan biaya yang besar, pengobatan dan terapi yang dijalankan oleh Ardan sangat menyakitkan hingga membuat Ardan sempat berpikir untuk menyerah jika saja dia tak ingat akan sosok Askara.


Bayi munggil itulah yang selalu membuat Ardan kembali semangat untuk terus menjalani pengobatannya.


Kadangkala, Ardan melakukan video call dengan Askara menggunakan ponsel Tracy karena Azkia sama sekali tak memberikan mantan suaminya itu akses untuk berkomunikasi dengannya.


Seandainya Ardan ingin berkomunikasi dengan Azkia dia harus melakukannya  melalui Tracy sebagai perantara.


Meski sempat merasa kecewa akan sikap Azkia, tapi mengingat jika mantan istrinya itu tak membatasi dirinya untuk berkomunikasi dengan sang anak maka Ardan pun tak lagi mempermasalahkan hal tersebut.


“ Askara, tunggu papa ya sayang....”


“ Papa akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa berjalan agar bisa menemui dan bermain bersama Askara....”, ucap Ardan didepan foto anaknya yang dia pajang di tembok tempat dia melakukan terapi setiap harinya.


Setiap kali melihat senyum ceria Askara, Ardan akan kembali bersemangat dan itu sangat membantu dalam proses penyembuhannya.


Sementara itu dibagian bumi yang lain saat ini Azkia sedang disibukkan dengan persiapan pernikahannya yang akan dilaksanakan dua bulan dari sekarang.


Maka dari itu diapun meluangkan sedikit waktu untuk melakukan sesi pemotretan preweding dan mengepas pakaian yang akan dia kenakan dalam acara pernikahannya nanti.


“ Sebenarnya tak perlu sampai harus seperti ini....”


“ Lagian ini juga bukan pernikahan pertama bagiku maupun bagimu....”


“ Kita bisa melakukan semuanya secara lebih sederhana lagi.....”, ucap Azkia protes.

__ADS_1


Azkia yang sudah mulai aktiv diperusahaan bersama Sindy sedikit kerepotan mengurusi semua pernak – pernik pernikahannya.


Sebenarnya ini bukan pertama kali dirinya melayangkan protes tapi tampaknya Louis sama sekali tak menanggapi keberatan yang dilayangkan Azkia kepadanya.


“ Aku hanya ingin pernikahan ini akan menjadi pernikahan terakhir bagi kita berdua yang bisa kenang hingga akhir hayat....”


“ Jadi aku ingin membuat semuanya seperfect mungkin sehingga memiliki kesan yang dalam....”, jawab Louis tak ingin dibantah lagi


Melihat jika Louis dalam mode tak bisa terbantahkan lagi, Azkia pun hanya bisa menghembuskan nafas secara perlahan dengan wajah pasrah.


“ Sudah, jangan didebat lagi....”


“ Percuma saja, hal itu hanya akan membuang tenagamu dengan sia - sia....”


“ Lebih baik nikmati saja semua yang diberikan kak Louis kepadamu....”, ucap Sindy sambil menepuk pundak Azkia beberapa kali.


Meski sudah dibantu oleh pihak wedding organizer tapi Azkia tetap harus turun tangan dalam beberapa hal karena Louis benar – benar ingin semuanya sesuai dengan calon istrinya tersebut meski Azkia sudah memasrahkan semuanya kepada pihak WO.


Imelda dan Asai disini yang terlihat sangat antusias. Kakak beradik itu seakan tak ada lelahnya menemani sang nenek dan dirinya untuk mempersiapkan pernak – pernik pernikahan kedua orang tuanya.


Drttt....


Tracy segera mengangkat ponselnya dan mengarahkannya kepada Asai begitu melihat nama Ardan tertera dilayar.


“ pa...apa...”, celoteh Asai lucu.


Ardan langsung tersenyum lebar melihat putranya langsung menyapa begitu sambungan video masuk.


Keduanya tampak berkomuniasi dengan lancar meski Asai menanggapinya dengan bahasa bayi namun hal itu tak menjadi penghalang keduanya untuk bisa berkomunikasi.


Keduanya mengobrol dengan gembira hingga suara yang tak asing bagi Ardan membuat tubuh lelaki itu membeku seketika.


Meski tak melihat Azkia secara langsung tapi melalui obrolan yang dia dengar saat ini tampaknya mantan istrinya itu tengah mempersiapkan diri untuk pernikahan yang akan digelar satu bulan lagi tersebut.


Sudut hati Ardan merasa tercubit, terasa perih tapi dia berusaha untuk menahannya karena saat ini dia sedang berbicara dengan anaknya.

__ADS_1


Tracy yang tanpa sengaja melihat ekpresi Ardan ketika dirinya bersama Azkia berbicara langsung memberi kode kepada suster Tya untuk memutuskan sambungan telepon dengan alasan Askara harus beristirahat.


Ardan yang sebenarnya masih ingin berlama – lama bertemu dengan sang anak terpaksa mengakhiri teleponnya begitu pengasuhnya mengatakan jika Askara perlu tidur siang.


Seiring menghitamnya layar ponsel miliknya, Ardan terduduk lesu diatas ranjanganya dan tanpa disadari cairan bening mulai menetes dari matanya.


Ardan masih tak rela melihat Azkia bersanding dengan lelaki lain meski lelaki itu bisa memberi mantan istri dan anaknya kebahagiaan yang tak bisa dia berikan.


Egois memang, tapi itulah Ardan. Meski mereka tak bisa lagi bersama tapi dirinya juga tak ingin Azkia dimiliki oleh lelaki lain.


“ Kenapa rasanya sakit sekali....”, guman Ardan sambil mencengkeram dadanya.


Dia memang sudah mendapatkan undangan dari Jacob tapi saat itu dia hanya terkejut dan sedikit kecewa karena Azkia sama sekali tak memberinya kesempatan untuk kembali mengulang rumah tangga dengannya.


Tapi tadi ketika dia mendengar suara Azkia yang tampak bahagia mempersiapkan pesta pernikahannya hatinya langsung berdenyut nyeri, seakan ada ribuan pisau tajam yang langsung menghunus tepat dijantungnya membuatnya kesulitan bernafas untuk sesaat.


Cairan bening dari kedua mata Ardan semakin lama turun semakin derasnya. Ini sudah kesekian kalinya dia menangis karena Azkia.


Suatu hal yang pantang dia lakukan dahulu tapi sekarang sudah menjadi kebiasaan saat dia kembali mengenang wanita yang dicintainya tersebut.


Cinta yang datang terlambat dan diwaktu yang salah membuatnya lemah dan terluka parah seperti ini.


Melati selalu mengingatkan agar Ardan mengikhlaskan semuanya. Tapi hal tersebut sangat sulit untuk Ardan lakukan mengingat betapa dalamnya rasa cinta yang dia rasakan.


“ Sampai kapan aku harus mendapatkan karma yang menyakitkan seperti ini....”


“ Bukan hanya kehilangan semua hal yang berharga dalam hidupku tapi sekarang aku juga merasa jiwaku menjadi kosong....”


“ Oh Tuhan.....”


“ Rasanya aku sudah tak sanggup lagi menahan semua rasa sakit yang kau berikan untukku akibat perbuatanku dimasa lalu....”


“ Jika dengan kematian aku bisa membayar lunas semuanya, maka aku rela mati demi orang – orang yang aku sanyangi.....”, ucap Ardan sambil menanggis sesenggukan.


Melati yang sudah sering mendengar Ardan menangis seperti ini dimalam hari hanya bisa mengelus dadanya sambil menanggis dalam hati.

__ADS_1


Sebagai seorang ibu tentunya dia juga tak tega melihat anaknya menderita seperti ini meski ini adalah karma dari perbuatan buruknya dimasa lalu.


__ADS_2