AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 41


__ADS_3

Tes….tes….tes….


Bunyi tetesan air dan aroma kayu lapuk serta lumut yang biasa terdapat di dinding yang lembab perlahan menganggu indera menciuman dan pendengaran Azkia.


Samar – samar rasa dingin mulai terasa seiring rasa sakit disekujur tubuhnya ketika Azkia hendak bergerak.


Azkia yang masih mengumpulkan semua ingatannya terlihat kesusahan bergerak karena kedua tangan dan kakinya terikat sehingga dia hanya bisa membuat tubuhnya terlentang.


“ Dimana ini ?....”


“ Apa ini tempat yang mereka gunakan untuk menyekapku ?....”, batin Azkia bermonolog.


Setelah retina matanya bisa menyesuaikan cahaya yang masuk, diapun mulai mengamati keadaan sekitarnya yang minim penerangan itu dengan seksama.


“ Jika dilihat – lihat ini seperti gudang tua….”


" Siapa sebenarnya yang ingin melenyapkanku hingga membawaku ketempat seperti ini....."


" Apakah Hilman ?....."


" Atau Meysa ?......", batin Azkia penuh tanda tanya  sambil berusaha untuk bangkit namun gagal.


Azkia yang tak bisa duduk tanpa sengaja melihat jika tak jauh dari tempatnya tergeletak ada tiang dengan paku bagian belakangnya yang runcing tersembul keluar.


Sambil merangkak seperti ular, Azkia berusaha untuk mengapai tiang tersebut tanpa memperdulikan tangannya yang perih akibat luka gesekan yang didapatkannya kembali berdarah.


Ketika sudah dekat, Azkia sedikit mengangkat tangannya  keatas dan  berusaha untuk menggesek – gesekkan tali yang digunakan untuk mengikat tangannya keujung belakang paku.


“ Auwww….”, teriak Azkia kesakitan waktu ujung paku tak mengenai tali yang mengikatnya melainkan menancap kekulitnya.


Untung saja mulutnya dilakban sehingga teriakannya barusan tak sampai terdengar keluar. Azkia kembali berusaha untuk menyentuh ujung paku secara perlahan.


Setelah dipastikan ujung paku menyentuh tali yang mengikat kedua tangannya diapun mulai menggerakannya naik turun agar tali bisa terputus.


Cukup lama Azkia melakukan hal itu, meski beberapa kali ujung paku menyentuh kulitnya namun hal itu tak mematahkan semangatnya hingga pada akhirnya sebagian tali sudah mulai terputus.


Begitu tali terputus, Azkia yang sudah bisa duduk dan hendak melepaskan ikatan dikakinya harus kembali pura – pura tergeletak diatas lantai pada posisinya semula setelah mendengar derap langkah kaki seseorang yang berjalan mendekati tempatnya berada.


Ceklekkk….


Azkia berusaha menormalkan detak jantungnya yang mulai berdetak cepat agar para penculik tersebut tak mencurigainya.


Salah satu penculik datang mendekat dan beberapa kali menepuk pipinya dengan kasar namun sebisa mungkin Azkia tetap menutup rapat – rapat kedua matanya dan berusaha tenang.


“ Bagaimana ?....”, tanya salah satu penculik yang ada didekat pintu.


“ Masih pingsan….”, jawab salah satu penculik yang ada disampingku.

__ADS_1


“ Kenapa pingsan bisa selama itu….”


“ Jangan – jangan gadis itu sudah mati…”, ucap temannya lagi.


“ Masih hidup kok….”


“ Masih ada nafasnya….”, ucapnya sambil berjalan keluar bersama temannya.


Begitu pintu suara kembali terkunci terdengar dan langkah kaki para penculik mulai menjauh, Azkiapun berusaha untuk bangun dan membuka tali yang mengikat kakinya.


Srakkk…..


Azkia menarik lakban yang menutup mulutnya dengan kasar dan membuangnya kesegala arah sambil berusaha untuk bangun.


“ Kenapa sama sekali tak ada jendela disini….”, guman Azkia pelan.


Azkia langsung mengambil sebatang besi yang tergeletak diujung sebagai senjata untuk memukul musuh ketika nanti ada yang masuk mengecek keadaannya.


Sementara itu Jacob yang sudah berada dilokasi penyekapan Azkia terlihat sedang berdiskusi dengan anak buahnya dibalik semak belukar yang berada tak jauh dari rumah bobrok tempat Azkia disekap.


“ Bagaimana ?....”, tanya Jacob dengan tatapan penuh selidik.


“ Sepertinya nona Azkia disekap disalah satu kamar yang dijaga dua orang penjaga diluar kamarnya, sementara yang lainnya tampak menyebar keseluruh penjuru rumah….”.


“ Tadi ada satu mobil datang dan tak lama kemudian pergi lagi….”


“ Namun sampai sekarang masih belum kembali lagi….”, ucap Niel menjelaskan.


Dengan adanya lima belas orang berjaga diluar dan lima orang berada dalam rumah, dengan personil yang ada mereka yakin bisa mengatasi semuanya meski para penculik bersenjatakan api.


Dua orang yang bertugas untuk membawa kabur Azkia terlihat mulai berjalan mengendap – endap agar bisa masuk kedalam rumah sementara yang lainnya bersiap untuk menyerang para penjaga yang ada diluar rumah.


Satu lambaian tangan dari Jacob membuat semua orang pun mulai bergerak sesuai dengan tugas yang telah mereka dapatkan.


Bughhhh….


Bughhhh….


Bughhhh….


Dorrr….


Dorrr….


Dorrr….


Suara baku hantam dan tembakan diluar rumah membuat semua orang yang ada didalam rumah keluar dan hanya menyisakan satu orang untuk berjaga didepan pintu kamar tempat Azkia disekap.

__ADS_1


Dan hal itu tak disia – siakan dua orang anak buah Jacob yang berhasil menyelinap masuk untuk melumpuhkan penjaga tersebut.


Bughhhh….


Dorrr….


Dorrr….


Tembakan kedua yang dilayangkan membuat penjaga tersebut terbujur kaki tak bernyawa dilantai berismbah darah.


Azkia yang berada dibalik pintu semakin mengeratkan pegangannya pada besai yang ada ditangannya untuk memukul siapa saja yang masuk kedalam ruangan tempatnya berada.


Begitu handel pintu mulai bergerak, dengan jantung berdegub kencang Azkia pun berusaha untuk memukul lawannya.


Namun gerakan Azkia yang lemah langsung bisa dihentikam dengan mudah oleh kedua anak buah Jacob yang berhasil membuka pintu tempat Azkia disekap.


“ Kami anak buah tuan Jacob nona…”


“ Kami disini datang untuk menyelamatkan anda….”, ucap mereka sambil berusaha untuk menurunkan besi yang digenggam Azkia dengan erat.


Mendengar jika yang datang adalah anak buah Jacob, Azkia pun merasa sangat lega dan dia segera berjalan keluar bersama kedua orang yang datang untuk menyelamatkannya.


Begitu Azkia berhasil diamankan dibalik semak belukar, dari kejauhan terlihat ada dua mobil datang.


Melihat hal itu, Jacob yang tadi sedang berkelahi membantu anak buahnya langsung berlari menghampiri Azkia dan menarik tangannya untuk cepat pergi dari tempat tersebut..


“ Cepat ikut aku….”, ucap Jacob sambil menarik tangan Azkia sambil berlari dan sembunyi dibalik pohon besar, menghindari dua mobil yang baru saja datang.


Begitu Jacob sudah tiba didalam mobil yang disembunyikan dibalik semak rimbun tak jauh dari lokasi penyekapan, anak buah Jacob yang berhasil menghabisi para penculik dan membawa tiga sandera hidup segera pergi meninggalkan lokasi.


Sementara itu, dua mobil yang baru saja datang adalah mobil Ardan dan anak buahnya. Mereka hanya mendapati banyak mayat bergelimpangan sementara sang istri yang sedang dicarinya tak dapat dia temukan.


“ Apa yang terjadi ?....”, tanya Ardan penasaran.


“ Sepertinya baru saja terjadi pertempuran disini seperti yang tadi kita dengar dari kejauhan….”, ucap salah satu anak buah Ardan menjelaskan kondisi yang ada.


“ Mereka musuh atau kawan ?.....”


“ Lalu, dimana istriku….”, tanya Ardan panik.


Ardan tampak kacau karena tak berhasil menemukan Azkia diberbagai sudut ruangan, bahkan dua kamar yang ada juga sudah kosong.


“ Tuan muda, ini….”


“ Sepertinya nyonya muda berhasil kabur…..”, ucap salah satu anak buah Ardan melaporkan.


Ardan melihat tali yang tampak diputus paksa oleh benda tajam terlihat dari bentuknya yang tak beraturan dan ada darah yang melekat disana yang berhasil didapatkan anak buahnya disalah satu kamar yang diduga digunakan untuk menyekap Azkia.

__ADS_1


“ Kalau begitu, cari jejaknya dan temukan keberadaan istriku secepatnya….”, perintah Ardan tajam.


Anak buah Ardan pun langsung berpencar mencari jejak Azkia dan berusaha untuk menemukan nyonya mudanya tersebut yang diyakini masih berada disekitar tempat penyekapan berada.


__ADS_2