
Pagi yang terik membuat semua orang yang masih berada dijalan bergegas mengayunkan langkah kakinya lebih cepat agar segera sampai ketempat tujuan.
Ardan yang berdiri didepan jendela kaca ruang kerja Martin menatap semua kesibukan dijalan raya mulai tersenyum sinis begitu dia melihat mobil Martin memasuki pelataran gedung Century.
Setelah menyerahkan beberapa berkas kepada sekretarisnya, Martin pun langsung melangkah menuju ruang kerjanya sementara Gabrielle berjalan menuju pantry untuk membuatkan minuman buat Martin dan tamunya.
Begitu masuk, dapat Martin lihat seseorang sedang berdiri membelakanginya memandang kearah luar jendela kaca yang menampilkan kesibukan warga ibukota pagi ini.
Menyadari ada yang datang, badan tegap tersebut perlahan memutar dan kedua mata Ardan langsung bertemu dengan mata elang milik Martin yang tajam.
Sesaat mereka terdiam dan saling berpandangan sengit. Ardan dan Martin yang berpandangan akan tetapi Gabrielle yang baru saja masuk kedalam ruangan malah yang merasa panik.
Gabrielle sedikit berdehem untuk mencairkan ketegangan yang ada sambil memberitahu Martin akan jadwalnya hari ini.
“ Bapak hanya memiliki waktu tiga puluh lima menit untuk berbicara dengan pak Ardan sebelum pergi kepengadilan…..”, ucap Gabrielle membacakan schedule Martin selanjutnya.
“ Tenang saja….”
“ Saya hanya perlu waktu lima menit untuk berbicara dengan anda….”, ucap Ardan tajam.
“ Baik, silahkan duduk….”, Martinpun mempersilahkan Ardan untuk duduk dikursi tamu yang ada didalam ruangannya.
“ Saya tidak akan bertele – tele dan langsung pada maksud serta tujuan saya datang kesini….”
“ Cabut gugatan cerai yang dimasukkan oelh istri saya kepengadilan agama sekarang juga….”, ucap Ardan tegas.
Mendengar ucapan Ardan, Martin hanya tersenyum tipis menanggapi sikap arogansi lelaki tak tahu malu tersebut.
“ Dengan berat hati saya tidak bisa mengabulkan keingginan bapak karena yang berhak memerintahkan saya untuk mencabut gugatan tersebut hanyalah nyonya Azkia Hafsah….”, ucap Martin tak kalah tegasnya dengan Ardan.
Ardan terlihat mengertakkan giginya tak suka dengan ucapan yang Martin berikan kepadanya seakan pengacara itu sedang mengejeknya dalam hati.
“ Kamu bisa mengisinya dengan angka yang kamu mau….”, ucap Ardan sambil menyodorkan selembar cek kosong yang telah dia tandatangani.
Melihat Ardan sudah mulai bereaksi, Martin yang sudah hafal dengan tingkah laku konglomerat seperti Ardan hanya tersenyum sinis.
“ Maaf jika Anda tersinggung dengan ucapan saya….”
“ Saya hanya membantu nyonya Azkia mendapatkan keadilan….”
__ADS_1
“ Anda seharusnya bersyukur karena nyonya Azkia hanya menuntut perceraian tanpa meminta apapun kepada Anda….”
“ Nyonya Azkia bahkan tidak menuntut Anda atas semua tindak kekerasan yang Anda lakukan selama menjalani rumah tangga bersama dengannya.….”, ucap Martin sambil menyerahkan kembali cek kosong tersebut kehadapan Ardan dengan penuh penekanan.
Ardan yang sudah menduga jika Martin akan melakukan hal tersebut masih sedikit terkejut karena lelaki itu masih menjunjung tinggi profesinya dari tindak suap dan kecurangan yang sering terjadi dipengadilan.
“ Kekerasan dalam rumah tangga….”
“ Apa anda memiliki buktinya….”, ucap Ardan meremehkan.
“ Tentu saja….”
“ Saya tak akan berbicara tanpa adanya bukti dan fakta yang ada…”
“ Mungkin perlu anda ketahui jika saya berbeda dengan pengacara yang biasanya sering berbicara berdasarkan asumsi belaka tanpa disertai fakta yang ada….”, sindir Martin secara halus.
“ Lalu, bukti apa yang anda miliki….”, tanya Ardan dengan tatapan menyelidik.
“ Semuanya bisa anda lihat pada saat persidangan nanti….”, ucap Martin santai sambil mengangkat satu kakinya yang disilangkan dengan kaki yang lainnya dan tersenyum tipis.
Melihat Ardan sudah emosi akan perkataan yang diucapkannya, demi sopan santun yang ada Martin pun menawarkan minuman untuk tamunya.
Selama ini Ardan sering menyewa pengacara yang bisa meloloskan apapun sesuai keingginannya meski dia harus memberikan suap kepada beberapa orang untuk memberi kesaksian palsu asal itu menguntungkan baginya diapun menghalalkan semua cara.
Ardan yang biasanya tenang dalam menghadapi lawan- lawannya kali ini emosinya begitu mudah terpancing hanya dengan kata – kata singkat penuh makna dari Martin.
Melihat jika Martin tampaknya tak akan memenuhi keingginannya maka Ardan pun pamit undur diri dan akan memikirkan cara yang lain agar perceraian tersebut tak akan terjadi.
Martin yang melihat Ardan pergi dengan penuh amarah merasa sangat puas. Dia merasa jika Ardan pantas untuk menerima semua konsekuensi atas perbuatannya itu.
Meski Azkia tak menuntut apapun secara materi namun Martin masih berupaya membujuk agar Azkia mau menuntut suaminya tersebut kedalam tindak pidana karena kekerasan seksual yang dilakukannya sudah tak manusiawi lagi.
Begitu tiba di kantor, pengacara yang dipanggil Robby sudah datang. Diapun mulai mempelajari berkas yang disodorkan kliennya tersebut sebelum keduanya bertarung dipengadilan.
“ Diawal akan ada sesi mediasi yang harus dihadiri oleh kedua belah pihak….”
“ Disana kita bisa coba untuk mendiskusikan semuanya agar istri anda bersedia mencabut gugatannya dan rujuk kembali dengan anda….”, ucap Robert menjelaskan.
Mendengar hal itu Ardan merasakan secercah harapan, meski hanya sedikit tapi setidaknya dia bisa mencobanya daripada tidak sama sekali.
__ADS_1
“ Sebelum surat panggilan dari pengadilan agama datang sebaiknya anda berusaha untuk bersikap baik kepada istri anda…”
“ Karena progress hubungan anda dengan istri anda tentunya akan cukup berpengaruh dalam proses mediasi nantinya…..”, ucap Robert menambahkan.
Bukan tanpa sebab Robert memberikan saran seperti itu kepada Ardan karena dia sendiri merasa jika proses perceraian tersebut sangat berat untuk dimenangkan oleh Ardan mengingat banyaknya bukti baik dalam bentuk digital maupun fisik Azkia melalui visum.
Ditambah lagi perselingkuhan yang dilakukan oleh Ardan didalam kediaman mereka semakin mempersulit kliennya untuk menang.
Setelah mendengar cerita singkat dari Robby, Robert segera melakukan investigasi secara mandiri atas kasus yang diterimanya tersebut.
Pada awalnya dia sangat terkejut karena tak menyangka jika seorang Ardan Bimantara akan melakukan hal sekeji itu terhadap sang istri mengingat bagaimana baiknya image lelaki itu dimata publik.
Bukti digital mungkin masih bisa dibantah tapi bukti fisik yang ada ditubuh Azkia tidak bisa terbantahkan lagi.
Bahkan hubungan Ardan dengan selingkuhannya yang sempat viral didunia maya juga nantinya akan menjadi factor yang memberatkannya selama proses persidangan berlangsung.
Apalagi tidak ada anak diantara keduanya serta sang istri yang hanya menuntut perceraian tanpa meminta harta gono – gini dan hal lainnya membuat kemungkinan hakim untuk mengabulkan gugatan cerai yang dilayangkan oleh Azkia sangat tinggi.
Setelah memberi penjelasan Robert pun pamit undur diri karena siang ini dia ada jadwal dipengadilan untuk menanggani kasus kliennya yang lain.
“ Berapa persen keberhasilannya….”, tanya Robby penasaran.
“ Hanya sepuluh persen….”, ucap Robert pesimis.
Robby sudah mengira jika harapan sahabat sekaligus bosnya itu untuk kembali rujuk dengan istrinya sangatlah kecil mengingat segala macam perbuatan dan perkataan buruk Ardan terhadap sang istri yang sangat sulit untuk dimaafkan.
“ Sekecil itu ya peluangnya….”, ucap Ardan yang tiba – tiba sudah ada disamping Robby dengan suara lemah.
“ Kurasa, satu – satunya cara adalah meminta maaf secara tulus terhadap istrimu atas semua perlakuan buruk yang kamu berikan selama ini….”
“ Mulai sekarang, bersikap lembutlah kepada Azkia….”
“ Sekeras – kerasnya batu jika terus diterjang ombak maka akan runtuh juga….”
“ Begitu juga dengan hati manusia….”
“ Jika kamu tulus meminta maaf dan berjanji untuk berubah aku yakin cepat atau lambat Azkia pasti akan memaafkanmu….”, ucap Robby menasehati.
Ardan membenarkan ucapan Robby, tapi dia sangat kesulitan untuk mendapatkan kesempatan menunjukkan perubahannya tersebut kepada Azkia.
__ADS_1
Terlebih lagi terakhir bertemu dia kembali berbuat kasar terhadap sang istri dan memaksanya degan kasar untuk berhubungan intim meski dia tahu jika Azkia mungkin masih trauma dengan kekerasan seksual yang selama ini menimpahnya.