
Pagi hari yang cerah dan kicauan burung diatas pohon mangga membuat hati Azkia semakin berwarna seiring dengan senyum yang terus merekah diwajahnya.
Setelah mematut didepan cermin beberapa kali, Azkiapun segera turun dan mulai menjalankan mobilnya menuju pengadilan agama.
" Dasar keras kepala....", desah Azkia pelan.
Jacob yang ditolak keingginannya untuk pergi bersama dengan Azkia terpaksa membuntuti mobil gadis itu dari blekang untuk memastikan tidak terjadi hal buruk selama perjalanan.
Dia sangat tahu bagaimana temperamen Ardan dan karena tak ingin kecolongan maka diapun mengawal keberangkatan Azkia meski sudah ada satu mobil yang juga mengawal Azkia selama dalam perjalanan.
“ Kamu terlalu khawatir Jacob….”
“ Padahal, sudah ada satu mobil pengawal yang menjagaku….”
“ Selain itu juga ada pengawal dari Sindy serta ayah Faisal yang menjagaku dari jauh….”
“ Disampingku juga ada Shanaz dan Shanum yang setia mendampingiku….”
“ Jadi tak mungkin ada yang bisa mencelakaiku dengan pengawalan seketat ini….”, ucap Azkia sambil menghempaskan bahunya secara kasar karena tak mengira jika Jacob akan seprotektiv itu terhadapnya.
“ Dikediamanmu juga banyak yang berjaga….”
“ Tapi nyatanya penjahat itu masih bisa menerobos masuk dan hampir saja melukaimu….”, ucap Jacob membantah.
Azkia yang tak ingin berdebat terlalu jauh dengan Jacob pada akhirnya hanya bisa mengalah dan membiarkan lelaki itu melakukan apa yang dipikirnya baik untuknya.
Ardan yang baru saja tiba diparkiran, dadanya langsung berdenyut nyeri waktu melihat senyum lepas yang diberikan oleh istrinya kepada Jacob.
Robby hanya bisa mendesah kasar tak berkomentar apapun karena sejak awal semua adalah kesalahan Ardan sehingga dia harus mengantarkan bos sekaligus sahabatnya itu dipengadilan agama seperti sekarang.
Begitu ketiga orang yang membuat perasaan Ardan memburuk telah menghilang dibalik tembok, Ardan dan Robby segera melangkah masuk karena Robert sudah menunggu mereka didalam gedung.
Mediasi yang dilakukan hari ini berjalan sangat alot karena pihak Ardan terus menyanggah semua bukti yang diberikan oleh sang istri melalui kuasa hukumnya dan tetap kekeh tak ingin berpisah.
Bahkan kehadiran anak buah Meysa sebagai bukti jika dia tak memiliki keterkaitan apapun atas penyerangan yang terjadi malam itu tetap tak mengoyahkan keputusan Azkia untuk berpisah dari suami gilanya itu.
Kehadiran Jacob yang juga turut membela Azkia membuat amarah didalam hati Ardan semakin membara.
Selain tak ingin kehilangan istrinya, Ardanpun tak ingin kalah dari musuh abadinya itu apalagi dia tahu jika Jacob saat ini sudah mengincar Azkia dan ingin memilikinya begitu surat cerai mereka keluar.
“ Baiklah….”
“ Karena sidang mediasi hari ini sama sekali tak bisa mendapatkan titik tengah maka gugatan ibu Azkia akan dilanjutkan dalam persidangan yang akan digelar satu minggu lagi….”, ucap hakim menutup sidang mediasi hari ini.
__ADS_1
Ardan yang sangat kecewa dan marah meninggalkan ruang sidang tanpa sedikitpun menoleh kepada istrinya yang juga hanya menanggapi kepergiannya dengan datar.
“ Aku masih ada urusan….”
“ Kamu balik kekantor naik taxi saja….”, ucap Ardan sebelum masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan kencang dijalan raya.
Robby hanya bisa mendesah pasrah ditinggalkan begitu saja sendirian ditempat parkir seperti seseorang yang baru saja dicampakkan.
Untungnya Robert akan bertemu klien yang memiliki jalan searah dengan kantornya sehingga Robby pun nebeng kepada pengacara tersebut.
Di tempat penyekapan Meysa, Ardan kembali menyiksa mantan kekasihnya itu dengan membabi buta untuk meluapkan rasa kecewa dan amarahnya terhadap Azkia.
Bukan hanya mencambuk tubuh Meysa yang sudah penuh dengan luka, Ardan bahkan juga menyayat kulit wajah dan tangan wanita itu dengan belati yang dibawanya.
Jeritan tangis Meysa sama sekali tak membuat hati Ardan luluh, yang ada justru semakin membuat lelaki itu bersemangat untuk terus menyiksa wanita yang sudah tak berdaya tersebut.
“ Bunuh saja aku Ardan….”
“ Bunuh….”
“ Aku sudah tak kuat….”, tangis Meysa menyayat hati.
Ini sudah ketiga kalinya dia disadarkan setelah jatuh pingsan akibat tak kuasa menahan rasa sakit yang menderanya membuat Meysa sampai bersujud dikaki Ardan agar segera dibunuh saja.
“ Apa kamu bilang b***h….”
“ Itu terlalu mudah bagimu….”
“ Setidaknya kamu harus merasakan penderitaan yang sama dengan apa yang sudah istriku terima dariku dan pastinya penderitaan yang kamu alami tiga kali lebih sakit dari yang Azkia rasakan…..”, ucap Ardan lantang.
Ctasss….
Ctasss….
Ctasss….
Cambuk kulit tersebut kembali menyentuh korbannya yang sudah tak bisa bergerak lagi karena tak memiliki tenaga sama sekali untuk kesekian kalinya.
Baju Meysa yang sudah tercabik – cabik dan berwarna merah akibat genangan darah dilantai serta darah yang terus merembes dari tubuhnya sama sekali tak menghentikan kebiadaban Ardan yang sudah dibutakan oleh amarah.
Setelah dia merasa lega, barulah lelaki itu membebaskan wanita yang sempat mengisi hatinya itu beristirahat sejenak.
“ Obati lukanya dan jangan biarkan dia mati sampai ada perintah dariku….”, perintah Ardan tajam.
__ADS_1
Anak buahnya segera menyeret tubuh Mesya yang penuh luka kepinggir ruangan untuk diobati dan diganti pakaiannya dengan yang baru agar luka yang dideritanya tak sampai mengalami infeksi.
Sementara itu, Vano yang tak sadar jika Meysa menghilang saat ini sedang dalam pelarian karena transaksi besarnya dikapal pesiar telah gagal akibat kedatangan polisi yang langsung memburunya.
Sebagai buronan internasional, tentunya lelaki itu sangat licin hingga keberadaannya sudah hampir satu tahun tak bisa terendus oleh petugas.
Oleh karena itu, begitu para petugas mengetahui informasi keberadaannya mereka pun langsung memburunya agar lelaki itu tak sampai melarikan diri keluar negeri.
Ardan yang pakaian dan tubuhnya banyak darah memutuskan untuk pulang dan membersihkan diri.
Bik Mina yang melihat majikannya datang dengan pakaian penuh noda darah hanya bisa terdiam ketakutan.
Meski ini bukan yang pertama kalinya bik Mina melihat Ardan pulang bersimbah darah tapi entah kenapa hatinya masih saja merasa terkejut.
Bik Mina tak tahu siapa lagi yang Ardan bunuh atau siksa diluar sana selain istrinya yang merupakan salah satu korban yang dia lihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana kejamnya majikannya itu dalam menyiksa orang.
Meski sangat penasaran, tapi bik Mina memilih diam karena dia masih sayang nyawa dan keberlangsungan keluarganya.
“ Bunda habis dari sini bik….”, tanya Ardan penasaran.
“ Iya tuan….”
“ Nyonya baru saja datang kemari mengantarkan masakan untuk tuan muda….”
“ Apa mau saya hangatkan sekarang makanannya tuan….”, ucap bik Surti menawarkan.
" Tidak, nanti saja.....", jawab Ardan.
Begitu dia hendak pergi tanpa sengaja sudut matanya menatap benda pipih yang tak asing baginya diatas meja makan.
“ Ini ponsel bunda bik ?….”, tanya Ardan sambil meraih benda pipih tersebut dari atas meja makan.
" Benar tuan...."
" Itu ponsel nyonya yang ketinggalan...."
‘"Tadi saya sudah menghubungi pak Tono…”
“ Dia bilang akan balik kesini untuk mengambil ponsel nyonya setelah nyonya selesai berbelanja….”, ucap bik Mina menjelaskan.
“ Bilang ke pak Tono nggak usah balik kesini….”
“ Kebetulan habis ini aku mau pergi kerumah jadi biar sekalian ponsel bunda aku antar….”, ucap Ardan yang langsung naik menuju kamarnya.
__ADS_1
Bik Mina hanya bisa terdiam dan langsung menghubungi pak Tono agar lelaki itu tak perlu repot - repot putar balik kesini untuk mengambil ponsel Melati.
Sementara, Ardan yang baru saja mengetik sesuatu diponsel bundanya langsung tersenyum licik ketika Azkia mengirimkan balasan ok atas pesan yang dikirimnya atas nama Melati.