AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 38


__ADS_3

Satu titik nila akan menghancurkan susu sebelangga. Begitu juga kebohongan, sekecil apapun itu akan merusak kepercayaan yang diberikan oleh seseorang kepada kita.


Apalagi jika kebohongan tersebut dilakukan secara terus menerus tentunya bukan hanya kepercayaan saja yang hilang namun semua rasa yang ada akan luntur seketika.


Itulah yang Ardan rasakan saat ini kepada Meysa. Bukan hanya kebohongan saja yang membuat Ardan muak dan marah tapi kelicikan wanita itulah yang membuatnya tak bisa menahan emosi yang ada.


Meysa begitu pandai memanfaatkan kesempatan yang ada. Hilangnya ingatan dalam diri Ardan membuat wanita licik itu memnfaatkannya untuk kembali membohongi dan menipunya.


Membuatnya menjadi lelaki bodoh yang sangat menyedihkan karena berkali – kali jatuh kedalam lubang yang sama.


Sementara itu, Meysa yang baru pertama kalinya mendapatkan amarah dan tatapan membunuh dari Ardan merasa sangat ketakutan.


Tak pernah Meysa bayangkan jika dia akan mendapat perlakuan kasar seperti ini dari Ardan yang selama ini sangat mencintainya.


“ Tidak….”


“ Aku tak boleh menyerah sekarang….”


“ Aku harus memohon dan meminta maaf agar hatinya luluh….”


“ Benar….”


“ Aku harus melakukan itu sekarang…..”, batin Meysa bermonolog.


Meysa yang memiliki otak licik sejak kecil pada akhirnya memasang tampang penuh penyesalan dengan harapan actingnya kali ini akan berhasil meluluhkan hati Ardan.


“ Maaf….”


“ Maafkan aku Ardan….”


“ Aku tak ada niat untuk membohongimu….”


“ Aku terpaksa melakukan semua ini karena aku sangat mencintaimu….”


“ Aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu lagi….”, ucap Meysa berderai air mata.


“ Dengan berbohong dan menodai kepercayaanku !!!….”,  Ardan mengucapkan kata demi kata dengan penuh penekanan.


Meysa menggelengkan kepalanya dengan keras sambil terus bercucuran airmata menahan rasa takut dan rasa sakit akibat cengkeram kuat Ardan di kedua pipinya.


“ Maaf….”


“ Tolong maafkan aku….”


“ Aku melakukan semua itu karena aku terlalu mencintaimu….”, ucap Meysa sesenggukan.


Ardan tertawa keras, mentertawakan kebodohannya yang sempat tertipu dengan air mata buaya yang dikeluarkan Meysa dihadapannya berkali - kali.


“ CINTA !!!....”


“ MASIH BERANI KAMU MENGATAKAN CINTA SETELAH MENGKHIANATIKU SEPERTI ITU !!!!….”


“ B*****T !!!!....”, Ardan menghempaskan wajah Meysa dengan kasar setelah membentaknya.


Meysa tersentak mendengar bentakan Ardan kepadanya. Selama ini tak ada yang pernah membentaknya sekalipun dia melakukan kesalahan yang fatal.


Wanita yang selama ini selalu dimanja oleh kedua orang tuanya tentunya merasa sakit hati dan marah begitu Adan membentaknya dengan kasar karena selama hidupnya tak ada seorang pun berani melakukan hal seperti itu kepadanya.


“ Jangan pernah membentakku karena kamu sama sekali tak berhak !!!.....”, ucap Meysa dengan nada tinggi.


Meysa memekik tertahan saat Ardan tiba – tiba saja mencekik lehernya dengan kencang hingga membuat tangisnya terhenti karena kehabisan nafas.

__ADS_1


“ Lep – paskan…..”


“ Sa – kit…..”, ucap Meysa terbata.


Ardan tak menghiraukan rintihan dan tangisan Meysa karena hatinya sudah tertutup oleh amarah akibat kebohongan yang terus menerus dilakukan oleh wanita itu.


Brakkk…..


Tiba – tiba pintu terbuka dengan kasar dan Robby berlari masuk kedalam sebelum Meysa celaka akibat perbuatan Ardan.


“ Lepaskan Meysa….”


“ ARDAN !!!…..”, teriak Robby sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan sahabatnya itu dari leher Meysa.


Melihat Ardan malah semakin menguatkan cekikan dileher Meysa serta mendorong tubuhnya dengan satu tangannya yang bebas hingga terduduk dilantai membuat Robby memutar otaknya dengan keras untuk menghentikan aksi gila Ardan.


“ Kematian terlalu mudah untuknya….”


“ Ayolah….”


“ Itu tak sebanding dengan semua kebohongan yang dia lakukan hingga kamu gelap mata dan menyiksa orang yang salah….”, ucap Robby provokativ.


Benar saja, setelah mendengar semua ucapan Robby perlahan Ardanpun melepaskan cengkeraman tangannya dileher Meysa dan menghempaskan tubuh wanita itu dengan kasar hingga tersungkur dilantai.


“ Argggg…..”, teriak Ardan penuh emosi.


Ardan keluar dari dalam ruangan sambil mengacak – acak rambutnya frustasi. Entah apa yang akan dia lakukan nanti terhadap Meysa, yang jelas Ardan tak akan melepaskannya begitu saja.


Meysa yang tersungkur dilantai hanya bisa menatap sedih kepergian Ardan dengan nafas tersenggal – senggal.


Tanpa ada keingginan untuk membantu Meysa, Robbypun melesat keluar untuk menyusul Ardan agar tak kembali membuat kekacauan dengan emosinya yang masih tinggi itu diluar sana.


“ Aku akan membayar semuanya dulu….”, ucap Robby sambil menepuk bahu Ardan beberapa kali sebelum melangkah kekasir.


Meysa yang baru saja keluar dari ruangan melihat Ardan menunggu Robby membayar makanan yang bahkan belum ada yang mereka sentuh tersenyum samar.


Senyum Meysa semakin bertambah lebar waktu melihat Azkia berada tak jauh dari tempat Ardan berdiri bersama seorang wanita sedang berbicara santai sambil sesekali tertawa lepas.


“ Jika aku tak bisa membuat Ardan meninggalkan Azkia maka aku akan membuat Azkia yang akan meninggalkan Ardan…..”, batin Meysa penuh kemenangan.


Tak memperdulikan penampilannya yang kacau, Meysa segera berlari menghambur dalam pelukan Ardan yang tampak terkejut dengan kehadirannya.


“ Sayang….”


“ Kenapa kamu tega meninggalkanku sendirian dalam ruangan tadi…..”, ucap Meysa manja.


Suara Meysa yang cukup lantang membuat atensi para pengunjung teralihkan kepadanya, begitu juga Ardan yang langsung menatap wanita yang tiba – tiba menempel ketubuhnya dengan tajam.


Ardan sangat terkejut dengan kehadiran Meysa yang tiba - tiba datang dan memeluk tubuhnya dengan erat berusaha melepaskan diri.


Karena Meysa terus menempel seperti perangko, Ardan yang risihpun langsung menghempaskan tubuh Meysa dengan kuat sehingga terjerebab ke lantai.


“ Ahhhh….”


“ Sakit….”, ucap Meysa sambil memegangi perutnya.


Sontak aksi Meysa tersebut semakin menarik perhatian pengunjung restoran yang siang itu lumayan banyak karena bertepatan dengan jam makan siang.


“ Apakah itu darah ?.....”


“ Astaga, apakah wanita itu keguguran ?….”, ucapan spontan pengunjung yang melihat ada darah mengalir dari paha Meysa membuat mereka terlihat panik dan ketakutan.

__ADS_1


“ Itu bukannya tuan muda Bimantara….”


“ Apakah yang terjatuh itu istrinya….”


“ Kasian dia karena tampaknya wanita itu mengalami keguguran….”, ucap para pengunjung yang lainnya sambil mengarahkan ponselnya untuk merekam kejadian tersebut.


Sambil menunduk dan mengerang kesakitan, Meysa diam – diam tersenyum samar tanpa ada satupun yang menyadarinya.


“ Lihat saja Ardan….”


“ Bagaimana kamu bisa keluar dari situasi ini….”, batin Meysa senang.


Melihat sudah banyak orang yang mengerumuni keduanya, Ardan yang selama ini selalu menjaga imagenya didepan public terpaksa mengangkat tubuh Meysa untuk dia bawa kedalam mobil.


Begitu hendak keluar, tatapan Ardan bertemu dengan Azkia yang juga menatapnya dengan tatapan sinis seolah menjudge dia atas peristiwa yang baru saja terjadi.


Ardan seketika dilema waktu mengetahui jika istrinya berada dalam satu tempat dengannya. Karena masih banyak yang mengarahkan kamera terhadapnya maka Ardan tak memiliki pilihan lain selian membawa Meysa masuk kemobilnya dan akan menjelaskan kepada istrinya nanti sepulangnya dia bekerja.


“ B*****t kau Meysa !!!....”


“ Lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah keluar dari restoran ini terhadapmu !!!!.....”, batin Ardan penuh amarah.


Melihat kehebohan yang dibuat oelh Meysa, Robby pun buru – buru menyelesaikan pembayarannya dan langsung berlari menuju mobil setelah melihat Ardan mengendong Meysa dalam pelukannya.


“ Sial…”


“ Wanita itu terus saja menguji kesabaran Ardan….”, batin Robby kesal.


Begitu sampai dimobil, Ardan langsung menghempaskan tubuh Meysa dengan kasar kedalam jok hingga wanita itu memekik kesakitan.


“ Hentikan drama murahanmu !!!….”


“ Aku tak akan luluh dengan air mata buayamu itu !!!…..”, bentak Ardan dengan tatapan tajam.


Meysa pun berhenti menangis karena tak ingin membuat Ardan bertambah marah. Namun kegelisahan kembali menghantuinya ketika mobil yang membawanya pergi mulai memasuki halaman rumah sakit.


“ Ngapain kita kerumah sakit ?....”, tanyanya panik.


“ Tentu saja memerikasakanmu….”, ucap Ardan santai.


“ Tidak….”


“ Tidak perlu….”


“ Aku sudah baik – baik saja sekarang, jadi  bawa aku pulang saja….”, ucap Meysa panik.


“ Tidak….”


“ Kamu tetap akan diperiksa karena aku perlu surat keterangan dari dokter untuk menggelar konferensi pers memulihkan nama baikku yang baru saja kau rusak….”, ucap Ardan penuh penekanan.


Deg….


Meysa sama sekali tak menyangka jika tindakan spontan yang dibuatnya membawa permasalahan besar seperti ini.


“ Bagaiamana ini…”


“ Apa yang harus aku lakukan sekarang….”, batin Meysa panik.


Melihat sikap Ardan yang tenang justru semakin membuat Meysa semakin ketakutan karena dengan bersikap seperti ini biasanya mantan kekasihnya itu sudah memiliki rencana besar yang sangat mengerikan.


Saat ini Meysa hanya bisa pasrah waktu Ardan menyeretnya naik keatas brankar dan menyuruh dokter yang bertugas di UGD untuk memeriksanya.

__ADS_1


__ADS_2