
Disebuah gudang tua diperbatasan ibukota, anak buah Ardan yang telah berhasil menculik wanita yang menjadi targetnya beserta komplotannya sedang menunggu kedatangan bos besar mereka.
Begitu sebuah mobil mewah berwarna hitam datang mendekat, ketua kelompok tersebut langsung berjalan mendekat.
“ Target dan ketiga anak buahnya yang masih hidup berhasil kami amankan didalam bos…”, ucap Smith melaporkan.
Smith adalah ketua dari Black Hole, sebuah organisasi bawah tanah yang selama ini dikembangkan dan didanai oleh Ardan.
Tak ada yang tahu mengenai organisasi ini karena Ardan tak langsung turun serta didalamnya, bahkan Faisal dan Robby yang selama ini selalu berada didekatnya juga tak mengetahuinya.
“ Hanya tiga ?....”, tanya Ardan tajam.
“ Sepertinya komplotan mereka sedang mengawal bos mereka yang saat ini sedang melakukan transaksi besar disebuah kapal pesiar….”
“ Dan hanya ada dua puluh orang yang menjaga target….”
“ Tiga orang yang kami bawa adalah pengawal yang masih hidup, sedangkan sisanya meninggal ditempat waktu kami menyerang….”, ucap Smith menjelaskan.
Ardan hanya menganggukkan kepalanya sekali dan langsung masuk kedalam bersama Smith dan beberapa anak buahnya.
Meysa yang masih belum sadarkan diri akibat obat bius yang dihirupnya perlahan membuka mata waktu tubuhnya terasa menggigil setelah ada seseorang yang mengguyur badannya dengan air dingin.
“ Ban-banjir….”
“ Kebanjiran….”, teriak Meysa gelagapan karena beberapa air masuk kedalam mulutnya.
Kedua mata Meysa langsung terbuka sempurna begitu udara dingin menyergap tubuhnya yang telah basah kuyup semakin menyerangnya.
Belum juga keterkejutannya hilang karena terbangun dengan pakaiaan basah dengan suhu AC yang sangat rendah kini Meysa dibuat kembali terkejut karena dia bukan berada didalam kamarnya melainkan disebuah ruangan minim cahaya.
Bau apek dan bau lumut yang ada ditembok yang lembab mulai menyeruak masuk kedalam indera penciumannya hingga membuatnya memercingkan hidung karena tak bisa menutupnya dengan kedua tangan yang terikat dibelakang tubuhnya.
“ Siapa kalian….”
“ Berani sekali kalian menculikku….”, ucap Meysa nyalang.
Tak ada yang membuka suara membuat Meysa semakin berang. Diapun kembali berteriak lantang hingga suaranya menggema diseluruh ruangan.
“ Hahahaaaa…..”
“ Besar juga nyalimu membuatku semakin ingin cepat – cepat bermain denganmu….”, ucap Ardan sambil tertawa keras begitu tiba dan melihat Meysa memarahi anak buahnya.
Meysa terbelalak melihat Ardan ada dihadapannya. Lelaki yang sudah dia bohongi berulang kali demi memuluskan ambisinya menguasai harta keluarga Bimantara.
“ Kenapa melotot seperti itu sayang….”
“ Kamu terlihat sangat cantik jika terkejut seperti ini….”, ucap Ardan dengan nada menggoda.
Meysa yang dicengkeram dagunya hanya bisa mendesis menahan rasa sakit karena kuku jari Ardan menancap kuat dikulit wajahnya.
PLAKKK…..
PLAKKK…..
PLAKKK…..
PLAKKK…..
Meysa hanya terdiam menahan semua rasa sakit ketika Ardan menamparnya berulangkali hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
“ Menjeritlah sayang….”
__ADS_1
“ Aku ingin mendengar suara jerit indahmu….”, ucap Ardan tersenyum licik.
Meysa tetap bungkam tak menanggapi ucapan Ardan. Selama dia menjalin hubungan dengan Ardan, wanita itu sangat tahu jika lelaki yang ada dihadapannya itu adalah seorang psikopat gila.
Jika dia menjerit kesakitan maka Ardan akan semakin bernafsu untuk menyiksanya lebih keras lagi, maka dari itu Meysa memilih untuk diam menahan rasa sakit didalam hati.
DUGHHH….
DUGHHH….
DUGHHH….
Melihat wanita didepannya tetap tak bersuara Ardan pun langsung menendang perut Meysa hingga wanita tersebut tersungkur dilantai dan dilanjutkan dengan tendangan bertubi – tubi ditubuhnya.
Meski tubuhnya sudah babak belur, namun tak sedikit pun Meysa merintih kesakitan ataupun sekedar mengeluarkan suara.
Dia bahkan menggigit kuat – kuat bibirnya hingga berdarah agar jangan sampai mengeluarkan suara rintihan yang bisa membuat Ardan bahagia.
Melihat Meysa masih saja tak bergeming, Ardan yang melihat mantan kekasihnya itu menggigit mulutnya segera mengambil rokok yang masih dihisap anak buahnya dan langsung ditempelkan dibibir Meysa beberapa kali hingga bau daging terbakarpun mulai tercium sesaat.
Merasakan benda panas menyentuh bibirnya yang berdarah sontak Meysa menjerit kesakitan seakan bibirnya terbakar oleh api.
HAHAHAAAAAA......
Ardan tertawa terbahak – bahak melihat Meysa pada akhirnya menjerit kesakitan akibat perbuatannya.
Dia sangat menikmati pemandangan wanita yang telah membuat kakak kembarnya meninggal dan membohongi serta menghasutnya hingga dia menyiksa wanita tak bersalah dalam pernikahannya.
“ Kenapa….”
“ Kenapa kau lakukan hal keji ini kepadaku Ardan….”
“ Apa salahku…..”,ucap Meysa mengiba.
“ Baiklah….”
“ Aku akan memberitahumu setelah aku puas menyiksamu….”, ucap Ardan terkekeh.
Tubuh Meysa langsung menggigil mendengar tawa dan tatapan tajam Ardan yang sudah seperti malaikat pencabut nyawa.
“ Bawakan cambuk kulitku….”, perintah Ardan tajam.
Meysa menggeleng – gelengkan kepalanya waktu mendengar Ardan mengambil cambuk kulit kesayangannya itu.
Diapun kembali mengingat bagaimana pergumulan panas yang mereka lakukan dulu dimana dalam setiap melakukan penyatuan Ardan selalu mencambuknya dengan sangat kuat hingga meninggalkan banyak bekas luka ditubuhnya.
Meski sekarang bekas luka tersebut sudah hilang, namun trauma yang dialami oleh Meysa tampaknya tak berkurang sedikitpun.
Dulu, Meysa menahan semua rasa sakit yang ada karena besarnya ambisi dirinya untuk bisa masuk kedalam keluarga Bimantara.
Untuk menghindari berhubungan intim dengan Ardan terlalu sering, Meysa kerap mencampurkan obat tidur dalam minuman lelaki itu hingga pada akhirnya aktivitas tersebut jarang dilakukannya setidaknya dia tetap aman hingga luka ditubuhnya mengering.
Ctasss….
Ctasss….
Suara cambuk kulit bersentuhan dengan lantai membuat tubuh Meysa semakin menggigil ketakutan.
Ardan yang melihat wajah Meysa pucat pasi tertawa terbahak – bahak seolah pemandangan dihadapannya itu adalah film komedi yang menghiburnya.
“ Ahhh….”
__ADS_1
“ Sudah lama sekali cambuk ini tak menyentuh tubuhmu….”
“ Dulu kupikir, kamu adalah satu – satunya wanita yang mendapat kehormatan untuk bersentuhan dengannya….”
“ Tapi sayangnya, akibat kelicikanmu dia terpaksa menyentuh wanita yang tak seharusnya aku sentuh….”, ucap Ardan murka.
Meysa terus saja menggeleng – gelengkan kepalanya dengan wajah ketakutan sambil berusaha untuk menyeret tubuhnya mundur, menjauh dari Ardan.
Sayangnya, Meysa yang tangan dan kakinya telah terikat dan hanya bisa bergerak seperti ular dilantai pada akhirnya tak bisa lagi menghindar begitu cambuk tersebut mulai melayang.
Ctassss….
“ Arghhhh……”, teriak Meysa kesakitan.
Ctassss….
Ctassss….
Ctassss….
Tubuh Meysa berguling – guling dilantai seiring dengan gerakan cambuk yang sekarang sudah hampir mengenai seluruh tubuhnya hingga darah segar membasahi pakainnya yang mulai terkoyak.
Meysa yang dicambuk puluhan kali pada akhirnya karena tak kuasa menahan rasa sakit diapun jatuh pingsan.
Ardan yang masih tak puas menyiksanya malam ini segera menyuruh anak buahnya untuk mengguyur tubuh Meysa agar wanita itu cepat sadar.
Byurrr….
Satu guyuran tak membuat Meysa terbangun membuat anak buah Ardan langsung menampar wanita itu dengan kasar berulang kali hingga wajahnya bengkak.
“ Eughhh…..”, desis Meysa melenguh.
Melihat Meysa sudah sadarkan diri, Ardan segera meminta anak buahnya untuk kembali mengguyur wanita itu dengan air.
Tapi kali ini yang diguyurkan ketubuh Meysa bukanlah air biasa melainkan air yang sudah diberi garam.
Bisa dibayangkan betapa perihnya kulit tubuh Meysa ketika air garam itu menyentuh kulitnya yang penuh luka.
“ Dasar iblis kau Ardan !!!....”, desis Meysa penuh kebencian.
“ Jika aku iblis lalu kamu apa….”, ucap Ardan dengan tatapan tajam membunuh.
“ Kamu pasti bangga karena telah menipuku berulang kali tanpa sedikitpun aku sadari….”
“ Bahkan karena ambisimu aku akhirnya menyiksa gadis tak bersalah akibat hasutanmu….”, ucap Ardan penuh penekanan.
“ Bukan aku yang salah….”
“ Kamulah yang terlalu bodoh Ardan….”
“ Dan untuk Azkia, dia memang patut mati karena gadis itu telah mengambil semua yang kuingginkan selama ini….”, ucap Meysa penuh kepuasan.
PLAKKK….
“ Jangan pernah ucapkan nama istriku dengan mulut kotormu itu !!!....”, hardik Ardan penuh amarah.
Hahahahaaaaa….
“ Istri katamu….”
“ Aku jamin, Azkia selamanya tak akan pernah memaafkanmu….”
__ADS_1
“ Jadi teruslah bermimpi untuk bisa mendapatkannya karena kamu tak akan pernah bisa mengapai hatinya lagi….”, ucap Meysa tersenyum puas waktu dia melihat ada sorot kesedihan yang dalam dikedua mata Ardan.