AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 84


__ADS_3

Waktu cepat berlalu, tak terasa tinggal satu minggu lagi Azkia akan melahirkan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.


Malam ini, Louis dan Imelda menemai Azkia kontrol kedokter kandungan sebelum dia melakukan operasi cesar untuk melihat perkembangan janin terbaru sebelum melakukan operasi cesar.


Ketiganya turun dari mobil sambil bergandengan tangan memasuki loby rumah sakit dengan wajah ceria.


Mereka tak menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata elang terus mengintai pergerakan mereka dengan intens.


Sambil menunggu antrian masuk, Louis beberapa kali membenarkan posisi duduk Azkia agar wanita itu merasa nyaman.


Begitu juga Imelda yang beberapa kali terlihat mengusap perut Azkia yang sudah membuncit besar ketika wanita yang sudah dianggap mommynya itu meringis kesakitan sambil berceloteh riang.


Semua orang pasti menyangka jika mereka adalah sebuah keluarga kecil  dengan satu orang anak perempuan yang sedang menunggu kelahiran adiknya.


Interaksi ketiganya membuat banyak pasang mata merasa iri. Bahkan dibalik topi dan masker yang menutupi wajahnya ada sepasang mata yang menatap ketiganya dengan senduh.


“ Seharusnya aku yang berada diposisi itu.....”


“ Bukan dia.....”, batinnya sedih.


Ardan langsung pergi begitu Louis menyadari kehadirannya dan menyamarkan keberadaannya diantara para pengunjung yang lumayan banyak malam ini.


Louis yang menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya segera mengedarkan pandangannya menyusuri area dan segera mengistruksikan anak buahnya untuk bersiaga.


“ Ada apa ?.....”, tanya Azkia curiga.


Azkia mengikuti arah pandang mata Louis, tapi dia sama seklia tak mendapatkan apapun hingga kedua alisnya bertaut dengan wajah heran.


“ Tidak ada....”


“ Hanya saja aku merasa jika malam  ini sedikit lebih ramai dari pada biasanya....”, jawab Louis beralibi.


Tak ingin membuat Azkia merasa khawatir, Louis pun segera merubah ekpresinya wajahnya dengan cepat.


Tatapan dingin yang tadi sempat hadir diwajahnya kini berganti dengan tatapan hangat dan penuh cinta.


Siapa saja yang menatap kedua mata Louis yang teduh dan hangat seperti sekarang pasti akan langsung jatuh cinta kepadanya.


Azkia saja masih dibuat baper oleh tatapan Louis yang seperti itu meski ini bukanlah pertama kali dia mendapatkannya.


Tatapan keduanya seakan terkunci dan waktu seolah berhenti sesaat hingga suara nyaring perawat membuyarkan semuanya.


“ Nyonya Azkia Hafsah.....”, teriak suster lantang.


Begitu namanya dipanggil Azkia segera bangkit dari tempat duduknya dibantu oleh Louis, sementara Imelda membantu membawakan tas mommy nya tersebut.


Begitu berada didalam ruangan, Azkiapun segera berbaring diatas ranjang untuk diperiksa sementara Imelda dan daddynya duduk dikursi sambil melihat hasil usg yang ditayangkan dilayar besar dihadapan mereka.


“ Kondisi bayinya sehat dan sudah berada diposisi semestinya jadi kita bisa melakukan operasi tiga hari lagi sesuai dengan jadwal yang ada.....”


“ Nyonya bisa masuk rumah sakit kamis malam agar jumat pagi kita bisa langsung melakukan operasi cesar....”, ucap sang dokter menjelaskan.


Ketiganya tampak bahagia mendengar jika sebentar lagi malaikat kecil yang sangat dinantikan semua orang akan hadir kedunia.


Ketika keluar ruangan, Azkia yang merasa kandung kemihnya terasa penuh segera mengajak Imelda untuk pergi ketoilet.


“ Aku akan ke toilet sebentar bersama Imelda....”


“ Kamu bisa ambil obat selagi menunggu kami.....”, ucap Azkia berpamitan.


Melalui sorot matanya Louis memerintahkan dua anak buah yang mengawal mereka malam ini untuk menemani Azkia dan Imelda pergi ketoilet sementara dirinya akan mengambil obat dan membayar biaya perawatan didepan.


Setelah keluar dari toilet sambil bergandengan tangan dengan Imelda tiba – tiba kedua mata Azkia terbelalak dengan tubuh bergetar ketakutan waktu melihat sosok yang tak asing berdiri menatapnya dalam kegelapan.

__ADS_1


Mimpi buruk yang beberapa waktu ini sudah lenyap seiring kehadiran Louis kembali menari dalam benaknya, membuat tubuhnya tanpa sadar mengigil ketakutan hingga lututnya terasa sangat lemas sebelum pandangannya berlahan mulai menggelap.


“ Mommy....”


“ Bangun mommy.....”


“ Bangun.....”


“ hikss.....”


“ Jangan tinggalin Imelda sendirian mommy.....”


“ Kumohon.....”


“ Bangunlah mommy......”, ucapnya terisak.


Setelah menguncang tubuh Azkia beberapa kali namun tak mendapat respon membuat Imelda mulai menangis histeris.


Sang bodyguard yang mengawal keduanya segera membopong tubuh Azkia yang telah tak sadarkan menuju UGD.


Sementara temannya  sedang mengendong Imelda yang saat ini terus menanggis ketakutan melihat Azkia pingsan tadi.


Louis yang sedang antri menunggu obat tak sengaja menangkap sosok dua pengawalnya sedang berlari sambil mengendong Azkia dan Imelda menuju UGD.


Dengan wajah panik diapun langsung berlari menyusul dua pengawalnya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Azkia pingsan.


“ Apa yang sebenarnya terjadi ?....”, tanya Louis tajam.


" Saya tidak tahu apa penyebab nona tiba - tiba pingsan...."


" Hanya saja ada pergerakan mencurigakan disekitar nona tadi....."


“ Dan saya sudah menginstruksikan yang lain untuk mengejarnya....”, ucap salah satu bodyguard melaporkan.


“ Siapa.....”, tanya Louis dengan tatapan curiga.


Diapun segera menceritakan apa yang terjadi tadi tadi didepan toilet ketika keduanya sudah keluar dan hendak kembali kedepan.


Meski dia tak tahu apa penyebab pastinya Azkia pingsan, tapi saat dia mendengar pergerakan daun pohon dari lokasi tak jauh ditempat Azkia berdiri dan ada sekelebat bayangan hitam berlari menajuh.


Karena tak mungkin meninggalkan Azkia dan Imelda ditoilet maka diapun menghubungi rekannya untuk melakukan pengejaran sementara dirinya segera membawa keduanya menuju UGD agar segera mendapatkan penangganan.


Mendengar hal itu, Louispun langsung menghubungi anak buahnya yang berada diluar rumah sakit untuk berjaga karena tak mungkin membawa semuanya masuk kedalam.


“ Bagaimana ?....”, tanya Louis tajam dari balik telepon.


“ Target lolos bos....”


“ Tapi kami masih melakukan penyisiran untuk mencari sosok yang mencurigakan tersebut....”, ucapnya melaporkan.


“ Temukan dia malam ini juga....”


“ Aku tak mau mendengar kata gagal lagi....”, ucapnya tajam.


Anak buah Louis pun kembali menyebar dan berusaha untuk menyisir rumah sakit karena yakin jika lelaki yang mereka curigai masih ada di kawasan rumah sakit.


Sementara itu, Ardan saat ini sedang bersembunyi disebuah ruangan yang berada diujung koridor.


“ Kenapa hawanya sangat dingin seperti ini....”, batin Ardan sambil menggosok kedua tangannya untuk menciptakan kehangatan.


Ardan mendekatkan daun telingganya dipintu dan dia masih bisa mendengar jika diluar banyak suara kaki sepatu berlalu – lalang hingga tiba – tiba sudut matanya menangkap sesuatu yang ganjil dalam ruangan.


Ketika menoleh kebelakang, dapat Ardan lihat jika banyak brankar berisi pasien dengan tubuh tertutup selimut putih disekujur tubuhnya.

__ADS_1


Dan itu tidak hanya satu, ada sekitar tiga dimana masing – masing pasien tersebut terdapat noda darah kering di ujung kaki mereka yang tak tertutup sempura.


“ Sialan....”


“ Aku terjebak dikamar mayat....”, gerutunya tak senang.


Ardan berjingkat dengan kedua mata melotot terkejut ketika tiba – tiba ada tangan salah satu mayat jatuh kesamping hingga membuat selimut yang menutupi wajahnya terbuka.


“ Brengsek....”


“ Bikin kaget aja.....”, decaknya kesal.


Dia menendang brankar salah satu mayat dengan wajah hancur tersebut dengan kesal sebelum dia keluar dari kamar mayat.


Pada saat dia menutup pintu dapat Ardan lihat jika selimut mayat yang brankarnya dia tendang tadi tiba – tiba terangkat dan menutupi wajah hancur tadi dengan sempurna.


Meski sedikit merinding tapi Ardan tak takut karena baginya para pengawal Louis yang bersenjata lebih menakutkan daripada hantu.


Ardan yang baru saja memanjat tembok belakang rumah sakit kepergok salah satu anak buah Louis hingga diapun segera mempercepat pergerakannya.


Dor...dor...dor....


Tiga tembakan berhasil Ardan hindari dan berhasil meloncat turun sebelum tubuhnya terkena peluru panas yang terus ditembakkan kepadanya.


Begitu kakinya menyentuh trotoar, Ardan segera berlari kencang karena sudah ada segerombolan anak buah Louis yang mengejarnya dibelakang.


“ Cepat masuk bodoh !!!.....”, umpat Alfonso sambil membukakan pintu mobil dengan geram.


Alfonso yang baru saja tiba ditempat persembunyian setelah menjemput Robby langsung kembali masuk kedalam mobilnya setelah mendapatkan kabar jika Ardan pergi untuk mencari keberadaan mantan istrinya tersebut.


Sesuai prediksi, Ardan kembali dikejar oleh anak buah Louis begitu lelaki itu ketahuan karena aksi nekatnya itu.


*“ S*t !!!.....”, maki Alfonso kesal.


Beberapa kali Alfonso hampir menabrak pengendara lain yang ada didepannya ketika menghindari kejaran anak buah Louis yang semakin lama semakin banyak.


“ Oh man.....”


“ Apalagi ini.....”, gumannya kesal.


Alfonso melihat ada dua mobil menyalipnya dari belakang dan langsung memblokir jalannya sehingga dia beberapa kali terpaksa menghidar hingga suara gesekan ban mobil dengan aspal terdengar nyaring ditelingga.


Aksi kejar – kejaran terus berlanjut dan tanpa sadar mobil Alfonso telah digiring untuk melalui jalur yang saat ini sedang dalam perbaikan.


*“ Oh s*t !!!.....”


“ Kita telah masuk jebakan mereka....”, Alfonso terus saja menggerutu dan mengumpat dengan kasar sepanjang perjalanan.


Melihat mobilnya mulai terkepung maka Alfonso pun segera membuka lubang didalam kap mobilnya dan mengeluarkan senjata laras panjang.


Robby segera menggantikan posisi Alfonso ketika lelaki itu mulai memasang peluru dalam senjatanya dan bergegas berdiri.


Dor...dor....dor....


Citttt......bruakk....


Tembakan Alfonso mengenai satu ban mobil yang mengejarnya membuat mereka menabrak pembatas jalan.


Tak patah semangat diapun terus melayangkan tembakan kearah belakang, sementara Ardan menembaki beberapa mobil yang datang dari arah depan.


Dalam posisi terkepung dan kalah jumlah pada akhirnya, Robby yang kehilangan keseimbangan setelah ban mobilnya tertembak membuat kendaraan yang mereka naiki berguling – guling di jalan beberapa kali sebelum pada akhirnya meledak.


Untungnya ketiga penumpang mobil berhasil  keluar sebelum mobil meledak dalam kondisi luka parah.

__ADS_1


__ADS_2