
Dibawah langit malam nan gelap gulita karena minimnya penerangan yang ada, Azkia berdiri sendirian dibalkon kamarnya.
Rambutnya yang hitam panjang tergerai bebas dimainkan oleh angin. Matanya terpenjam sejenak, menikmati belaian angin malam di tubuhnya, dingin namun bisa membuatnya rileks.
Namun, ketenangan yang dirasakannya tak berlangsung lama akibat kedatangan tamu tak diundang yang tiba - tiba datang menyerangnya.
Sekelompok pria berpakaian serba hitam yang menutupi sebagian besar wajahnya dan hanya menyisakan dua bola mata yang menatapnya tajam langsung menyerangnya secara membabi buta.
Sethhh…..sethhh…bughhh…
Sethhh…..sethhh…bughhh…
Shanum dan Shanaz yang sempat terkecoh sebelumnya, berlari cepat menuju balkon untuk membantu Azkia yang sedikit kuwalahan menghadapi penyerangan yang diberikan oelh tamu tak diundang tersebut.
Seorang wanita yang memandang perkelahian tersebut dari mobil yang diparkir tak jauh dari kediaman Azkia merasa sangat geram.
“ Kenapa susah sekali membuat wanita s*****n itu celaka…..”, desis Meysa geram.
Meysa yang ikut bersama sang kekasih ke ibukota karena lelaki itu ada transaksi besar disana menggunakan kesempatan itu untuk membuat perhitungan dengan Azkia.
Setelah membius para bodyguard yang berjaga, sepuluh anak buah yang Meysa kerahkan langsung mengarah naik keatas balkon begitu target mereka terlihat didepan kamarnya.
Mereka tak menyangka jika gadis yang mereka serang ternyata bisa ilmu beladiri sehingga bisa mematahkan pergerakan mereka dengan mudah.
Ditambah lagi dengan dua orang wanita yang datang membantu membuat sepuluh orang anak buah Meysa yang sudah babak belur terpaksa lari tunggang langgang menyelamatkan diri.
“ Sudah….”
“ Biarkan mereka pergi….”, ucap Azkia menahan pergelangan tangan Shanum yang ingin mengejar musuh.
“ Tapi nona….”, ucapan Shanum terhenti waktu Azkia menggelengkan kepalanya perlahan.
“ Ini belum saatnya….”
“ Jika sudah tiba waktunya, kita bisa menghabisi semuanya hingga keakar – akarnya….”
“ Evakuasi para penjaga yang terkena bius dan gantikan dengan yang lain….”
“ Musuh sudah berani datang kesarang jadi kita harus lebih waspada lagi….”, ucap Azkia tajam.
Azkia sangat tahu jika yang mendalangi penyerangan malam ini adalah Meysa setelah dia mendapatkan kabar dari Jacob tadi siang jika sepupu tirinya itu akan datang keibukota karena kekasihnya memiliki transaksi besar disini.
Rencananya, Jacob dan Azkia akan melaporkan semua transaksi ilegal yang akan Vano dan Meysa lakukan kepada pihak berwajib agar mereka bisa ditangkap karena akibat ulah mereka masa depan anak bangsa terancam.
Ardan yang baru datang terlihat mengkerutkan keningnya cukup dalam melihat beberapa bodyguard membawa para penjaga yang masih pingsan kedalam ruang jaga.
“ Ada apa ?....”, tanya Ardan penuh selidik.
“ Ada sekelompok orang yang menyelinap masuk dan berusaha mencelakai nonya Azkia tuan…..”, ucap salah satu pengawal milik Faisal melaporkan.
“ Lalu, diaman istriku sekarang…..”, tanya Ardan panik.
“ Nonya ada dikamarnya bersama dua orang pengawalnya…..”, ucapnya menginformasikan.
Ardan langsung melesat naik keatas untuk masuk kedalam kamar istrinya dan melihat kondisi Azkia dengan wajah panik.
Dia meruntuki kebodohannya yang pergi keluar sejenak untuk menemui Robby dan meninggalkan istrinya yang baru saja sadar dari pingsannya.
Brakkk….
Ardan membuka pintu kamar Azkia dengan kasar dan langsung berlari memeluk tubuh istrinya yang sedang duduk ditepi ranjang dengan erat.
__ADS_1
“ Le-lep-pas-kan….”
“ Kau membuatku sesak nafas….”, ucap Azkia sambil memukul – mukul punggung Ardan agar melepaskan pelukannya.
“ Kau tidak apa – apa….”
“ Aku sangat khawatir terhadapmu….”, ucap Ardan panik.
Shanum dan Shanaz yang melihat Azkia sudah pucat bdengan nafas putus - putus berusaha menarik tubuh Ardan agar menjauh.
Bughhhh….
Ketiganya jatuh terduduk dilantai bersamaan dengan lepasnya pelukan Ardan di tubuh Azkia yang terlihat berusaha mengambil nafas sebanyak – banyaknya setelah lepas dari pelukan maut itu.
“ Kamu ingin membunuhku ya !!!....”, teriak Azkia dengan mata melotot penuh emosi.
“ Hey, kenapa kau menuduhku seperti itu….”
“ Aku sangat khawatir terhadapmu….”, jawab Ardan dengan tatapan penuh kecemasan.
“ Cih, Munafik….”, decih sinis Azkia.
Azkia sangat geram dengan wajah panik yang diperlihatkan oleh suaminya itu.
Jika saja selama pernikahan dirinya tak berakting bersama Ardan, mungkin Azkia akan percaya jika sang suami benar – benar mencemaskannya saat ini.
Prokkkk….. Prokkkk….. Prokkkk…..
“ Actingmu semakin hari semakin bagus saja… ”
“ Setelah serangan yang kau rencanakan gagal….”
“ Sekarang kau berusaha membunuhku dengan dalih khawatir terhadapku….”
“ Aku sudah tak percaya lagi dengan semua ucapanmu….”, ucap Azkia sambil tersenyum sinis.
Ardan tak terima jika kecemasan yang dirasakannya saat ini dianggap hanya sebuah acting belaka oleh Azkia.
Dia sendiri tak mengerti kenapa bisa sangat cemas dan panik ketika mendengar jika istrinya baru saja diserang sekelompok orang tak dikenal.
“ Kenapa kamu selalu meragukanku….”
“ Aku minta maaf jika dulu aku sering menyakitimu dan tak pernah memberikan perhatian kepadamu….”
“ Tapi apa yang kurasakan kali ini benar – benar tulus….”
“ Aku sangat mengkhawatirkanmu….”, ucap Ardan masih dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
“ Khawatir….”
“ Dengan cara memberiku pelukan maut hingga aku kehabisan nafas….”
“ Iya….”
“ Itu yang kamu anggap tulus….”, hardik Azkia dengan tajam.
“ Maaf jika pelukanmu membuatmu sesak….”
“ Aku hanya….”, belum tuntas Ardan berbicara Azkia sudah mengarahkan telapak tangannya ke depan wajah Ardan.
“ Cukup….”
__ADS_1
“ Aku tak mau dengar omong kosong darimu….”
“ Sekarang….”
“ Silahkan keluar dari dalam kamarku….”, ucap Azkia dengan nada datar dan dingin.
Ardan yang masih ingin menyanggah ucapan Azkia tak bisa berbuat apapun saat tubuhnya diseret paksa keluar kamar oleh Shanum dan Shanaz.
Brakkk…
Pintu kamar langsung ditutup dengan keras ketika Ardan hendak kembali masuk kedalam kamar istrinya.
Tringgg….
Beberapa pesan masuk kedalam ponsel Ardan yang berisi foto dan chat Azkia kepadanya.
Ardan langsung membelalakkan kedua matanya waktu melihat foto dirinya didepan sebuah mobil van hitam yang tadi sempat dia datangi ketika keluar.
“ Bilang kepada Meysa untuk tak lagi mengusikku karena sebentar lagi dia bebas menikah denganmu….”
“ Besok atau lusa surat panggilan dari pengadilan agama akan datang…”
“ Tenang saja, aku akan mempermudah jalannya perceraian kita sehingga kamu bisa meresmikan hubungan kalian secara agama dan negara secepatnya….”
“ Kali ini kalian masih ku ampuni….”
“ Tapi jika hal ini terjadi lagi, aku tak bisa menjanjikan jika nyawa kalian tak akan hilang ditanganku….”
Itulah pesan yang dikirim oleh Azkia melalui aplikasi chating berlogo hijau yang ada di ponsel Ardan.
“ Kamu salah paham….”
“ Aku sudah tak memiliki hubungan apapun dengan Meysa….”
“ Dan mengenai penyerangan malam ini…”
“ Aku benar – benar tak tahu….”
“ Aku akan membuktikannya kepadamu jika aku sama sekali tak terlibat dalam masalah ini….”, balas Ardan panik.
Azkia semakin geram waktu Ardan mengelak padahal sudah ada bukti yang jelas jika dia memiliki hubungan dengan pengendara van hitam yang tadi dihampirinya.
“ Dan untuk perceraian….”
“ Aku menolaknya….”
“ Sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikanmu karena selamanya kamu hanyalah milikku….”, balas Ardan penuh penekanan.
Azkia hanya membaca pesan dari Ardan tanpa sedikitpun niat untuk membalasnya.
Melihat pesannya telah dibaca tapi istrinya mengacuhkannya membuat Ardan sangat kesal.
“ Lihat dan tunggu saja….”
“ Aku akan menemukan pelakunya dan menyeretnya dihadapanmu agar kamu percaya jika aku tak terlibat dalam insiden malam ini….”, batin Ardan geram.
Dengan penuh amarah, Ardan segera masuk kedalam kamar tamu yang ditempatinya selama berada dikediaman Azkia dan menghubungi anak buahnya untuk mencari mobil van hitam yang tadi sempat dia curigai.
Tadi Ardan sempat turun dan mengecek mobil van hitam tersebut waktu hendak keluar menemui Robby karena merasa curiga.
Namun belum sempat memeriksa kedalam Robby keburu menghubunginya karena klien yang sedang menunggunya tak memiliki waktu banyak hingga diapun bergegas pergi.
__ADS_1
Tapi sayangnya, tindakannya tersebut tampaknya terekam kamera cctv yang ada didepan pintu gerbang kediaman Azkia hingga istrinya tersebut menyalahpahami tindakannya.
“ Aku benar – benar harus membuktikan semuanya sebelum masalahnya bertambah runyam….”, batin Ardan penuh tekad.