AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 25


__ADS_3

Hujan gerimis mewarnai kepulangan jenazah Ronan dari rumah sakit. Didalam ambulan Azkia terus menangis tersedu – sedu sambil memegang tubuh yang sudah dingin tersebut dengan kuat.


Ardan yang berada didalam ambulan bersama Azkia menatap istrinya tersebut dengan perasaan sangat cemas, takut Azkia kembali pingsan lagi.


Seluruh perasaan bersalah dan rasa sakit berlomba – lomba menusuk hatinya tanpa ampun hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk bernafas.


Ingin rasanya Ardan memeluk tubuh lemah istrinya tersebut, namun jarak yang dibuat oleh Azkia membuatnya mengurungkan niatnya tersebut.


Sementara itu dikediaman Ronan, mang Ujang langsung menyiapkan semuanya bersama warga sekitar yang kebetulan sedang bersamanya begitu istrinya mengabarkan jika majikannya tersebut telah meninggal dunia.


Begitu ambulan tiba dirumah duka, mang Ujang langsung mengambil jenazah untuk segera disucikan sebelum disholatkan dan dimakamkan.


Sebagai besan dan menantu, Faisal dan Ardan membantu membersihkan jenazah Ronan bersama salah satu ustad yang membantu mensucikan tubuh Ronan untuk terakhir kalinya.


“ Allahhu akbar….”


“ Tubuhnya sangat bersih dan wangi serta terlihat segar tak tampak seperti seorang yang sedang sakit…..”, ucap ustad yang memandikan tubuh Ronan penuh syukur


Ronan adalah pribadi yang santun dan ringan tangan. Dia tak akan segan membantu siapapun yang sedang kesusahan tanpa melihat siapa dia dan tak mengharapkan pamrih apapun.


Setelah selesai dimandikan dan disholatkan, jenazah segera disemayamkan di pemakaman umum yang tak jauh dari rumah.


“ Alhamdulillah….”


“ Papa bisa bersanding kembali dengan mama….”, ucap Azkia bahagia.


Ronan memang sudah membeli tanah disamping makam sang istri agar raganya tersebut bisa disemayamkan berdampingan dengan wanita yang sangat dicintainya jika meninggal nanti.


Azkia menatap nanar gundukan tanah yang banyak ditaburi bunga segar tersebut dengan perasaan hampa dan kosong.


Dibawah sana, papanya telah tidur dalam keabadian tanpa rasa sakit  dan sebentar lagi akan bertemu dengan mamanya.


Air mata Azkia tampak sudah mengering sehingga tak bisa keluar lagi, namun goresan luka dan kepedihan masih terlihat jelas disorot matanya.


Proses pemakaman papanya berlangsung cepat dan lancar tanpa kendala apapun membuat Azkia merasa sangat lega.


“ Azkia tak sendirian….”


“ Azkia masih punya bunda dan ayah yang akan selalu menjadi orang tua Azkia….”


“ Jadi, Azkia jangan pernah merasa sendiri…..”, ucap Melati sambil merangkul bahu menantunya dengan hangat.


“ Terimakasih karena bunda selalu ada buat Azkia….”, ucap Azkia tulus.


Meski jiwa lain Azkia ini tegas dan sedikit bar – bar, tapi dia juga baik dan lembut terhadap orang – orang yang baik terhadapnya.


Namun dia bisa menjadi kasar dan sangat menakutkan jika berhadapan dengan orang – orang yang berusaha untuk menyakitinya.


Untuk itulah jiwa lain Azkia ini hadir karena dia sudah tak memiliki siapa – siapa lagi sebagai tempatnya bersandar kecuali dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah sampai rumah, Melati terus berada disamping Azkia menemui tamu yang terus berdatangan tanpa henti untuk mengucapkan bela sungkawa.


“ Istirahat dulu….”


“ Ayo bunda suapin….”, ucap Melati lembut.


Dengan sabar dia menyuapi menantu yang sangat disayanginya itu. Sejak awal, Melati memang sudah menganggap Azkia sebagai anak perempuannya sendiri.


Hatinya ikut merasakan sakit waktu dia melihat Azkia dalam kondisi drop seperti saat ini akibat perbuatan anak kandungnya, Ardan.


Melihat Azkia yang lemah dan rapuh, rasa ingin melindungi gadis itu tampak jelas dikedua mata wanita paruh baya tersebut.


Azkia yang berencana untuk tetap tinggal dirumahnya hingga selamatan empat puluh hari meninggalnya sang papa selesai diadakan disambut hangat oleh Melati yang juga ikut menginap dirumahnya..


Melati yang tak tega meninggalkan Azkia seorang diri karena takut psikis menantunya tersebut semakin down memutuskan untuk tinggal dirumah menantunya tersebut hingga seluruh proses peringatan kematian besannya tersebut selesai.


Sesuai saran dokter, Melati tak diperbolehkan membiarkan Azkia sendirian setelah trauma yang diciptakan putranya kepada menantunya itu.


“ Bunda akan menginap bersama Azkia dirumah ini biar Azkia tak merasa sendirian….”, hibur Melati sambil terus menyuapi Azkia dengan nasi.


“ Nggak usah bun….”


“ Azkia sudah merasa baik – baik saja….”


“ Lagian disini masih ada bik Surti dan mang Ujang yang menemani…..”, tolak Azkia secara halus.


“ Jadi, kamu nggak boleh bersikap seolah – olah semuanya baik – baik saja….”


“ Menangislah jika ingin menangis agar beban dihatimu menghilang....”, ucap Melati bijak.


Karena kuat dan teguhnya keingginan Melati untuk menemaninya tinggal dirumah selama masa berkabung, Azkia pun pada akhirnya menerima semua perhatian yang dianggapnya sedikit berlebihan itu.


Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, Azkia kembali menemui tamu yang masih terus berdatangan bersama Ardan.


Meski duduk bersebelahan selama menyambut tamu yang datang melayat kerumah duka tak sekalipun Azkia berbicara kepada Ardan.


Ardan memahami sikap dingin istrinya karena baru saja kehilangan satu – satunya anggota keluarga dan seseorang yang sangat berharga dihatinya.


Ketika semua tamu sudah pulang, Ardan menatap punggung Azkia yang bersandar pada pintu kamar papanya.


Azkia menatap kedalam ruangan dengan rasa sesak yang menyeruak dalam hatinya mengingat disofa itulah papanya biasa menghabiskan waktu untuk mengecek kembali semua pekerjaan yang dibawanya pulang sebelum matanya lelah dan harus beristirahat.


Semenjak mamanya meninggal, sang papa sering membawa pekerjaannya kerumah agar dia bisa pulang lebih awal dan menghabiskan waktu bersama putri tercintanya.


Sedangkan untuk sisa pekerjaan yang ada, dia kerjakan  malam hari setelah Azkia tertidur lelap agar esok hari  dia bisa langsung mengeksekusinya.


Cukup lama Azkia larut dalam ingatannya hingga kemudian bahu kecil Azkia bergerak pelan seiring dengan helaan nafasnya yang sangat dalam.


“ Rapuh….”

__ADS_1


“ Sakit….”


“ Terluka….”


Itulah yang bisa dideskripsikan oleh semua orang ketika melihat kondisi Azkia saat ini.


Dan Ardan melihat dengan jelas penderitaan istrinya tersebut membuat rasa bersalah didalam hatinya semakin dalam.


Azkia yang hendak berjalan menuju kamarnya melihat kehadiran suaminya tak jauh dari tempatnya berdiri menatap datar Ardan.


“ Kamu pulang saja….”


“ Rumah ini tak mengharapkan kehadiranmu…..”, ucap Azkia tajam.


Deg….


Ardan kembali melihat tatapan penuh amarah dan kebencian yang dalam disorot mata istrinya. Padahal waktu memanggilnya ketika Ronan meminta bertemu dengannya, sorot mata istrinya sudah seperti biasa, teduh dan hangat.


“ Kenapa dia menjadi semakin dingin kepadaku….”, batin Ardan sedikit binggung.


Ardan sebenarnya ingin meminta maaf kepada Azkia, tapi karena tingginya ego yang dia miliki maka kata itu tak bisa terucap dari mulutnya.


“ Biar aku temani kamu disini…..”, ucap Ardan dibuat selembut mungkin.


Melihat Ardan berkata lembut terhadapnya, Azkia hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar sambil berdecak kesal.


“ Tak ada siapa – siapa disini….”


“ Jadi nggak usah berpura – pura baik padaku…..”, semprot Azkia kasar.


“ Aku tahu tak ada siapa – siapa disini selain kita berdua….”, ucap Ardan menjawab.


Ardan yang merasa bersalah ingin bersikap baik terhadap dan menyangka Azkia akan senang dengan hal itu.


Tapi siapa sangka, bukannya sesuai harapan, Azkia malah semakin dingin dan jutek terhadapnya.


“ Apa salah jika seorang suami berkata lembut terhadap istrinya ?...”, ucap Ardan berusaha mencairkan ketegangan yang ada.


“ Jelas salah….”


“ Karena kita tidak seperti itu….”


" Kita hanyalah sepasang suami istri diatas kertas....."


“ Dan sekarang, karena papa sudah meninggal dunia maka sebaiknya kita hentikan semua sandiwara penuh kepalsuan ini….”


“ Mari kita bercerai…..”, ucap Azkia nyalang.


Ardan cukup terkejut dengan kata yang terakhir Azkia ucapkan. Satu kata yang membuat nyalinya menciut seketika dan gelenyar ketakutan mulai hadir dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2