
Malam semakin larut tapi baik Tobby maupun anak buah Ardan masih belum memberi lelaki itu kabar mengenai keberadaan sang istri.
Ardan yang merasa sangat gerah segera melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket akibat keringat.
Setelah selesai, Ardan kemudian memeriksa beberapa berkas pekerjaannya yang sengaja dia bawa dari kantor sejenak sebelum dia kembali berkutat pada misi pencarian sang istri.
Banyaknya masalah yang menimpah Ardan akhir – akhir ini membuat lelaki itu tak bisa berkonsentrasi terhadap pekerjaannya.
Mungkin karena semua yang dijalaninya tak sepenuh hati, maka pekerjaan yang ada terasa sangat sulit dan melelahkan.
“ Menyebalkan….”, umpat Ardan waktu dia melihat berkas pekerjaan yang tak kunjung habis yang ada dihadapannya.
Sejak dahulu Ardan tak pernah setuju untuk bergabung dengan perusahaan milik keluarganya tersebut.
Tapi kepergian Ardi membuatnya harus melakukan pekerjaan yang membosankan tersebut karena ayahnya butuh penerus yang akan mengurus Bimantara Group.
Dan pada akhirnya, Ardanpun terjebak dalam pilihan dan dunia yang sangat tidak disukainya itu.
Bekerja seharian dikantor berkutat dengan berkas dan layar monitor bukanlah gaya hidup Ardan yang memiliki jiwa bebas.
Impiannya untuk berkeliling dunia dan mengabadikan setiap moment melalui jepretan kamera yang akan dia buat dalam pameran tunggal karyanya pupus sudah ketika dia harus menggantikan posisi Ardi didalam perusahaan.
Ardan yang baru saja menyalakan sebatang rokok ditangannya dikejutkan oleh bunyi ponsel dengan nama Tobby tertera dilayarnya.
“ Ada berita apa ?....”, tanya Ardan to the point.
“ Ada satu apartemen yang aku curigai dijadikan oleh Jacob untuk menyembunyikan istrimu…..”
“ Tapi sayangnya, akses masuknya tak biasa dan aku tak bisa membobolnya….”
“ Kebetulan pemilik apartemen adalah sahabat Ardi, Thomas….”
“ Mungkin kamu bisa meminta bantuannya untuk mendapatkan akses masuk kesana….”
“ Dan perlu kamu ingat, tak ada nama Jacob Wang dalam unit tersebut sehingga kemungkinan besar kamu perlu mencari tahu nama siapa yang dia pakai untuk membeli apartemen itu….”
“ Thomas saat ini sedang ada di Paradise Club jika kamu ingin menemuinya sekarang juga….”, ucap Tobby menjelaskan informasi yang baru saja dia dapatkan.
Ardan yang mendengar hal tersebut segera meluncur ke Paradise Club, tempat dimana kakak kembarnya bersama para sahabatnya dulu sering menghabiskan waktu melepas penat yang ada.
Begitu sampai, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Bukannya sepi, justru semakin malam club akan semakin ramai hingga menjelang dini hari nanti.
Didalam club, Ardan yang pernah beberapa kali diajak oleh Ardi kesana sedikit banyak tahu lokasi mana yang menjadi tempat para sahabat kakak kembarnya itu berkumpul.
Thomas yang melihat kedatangan Ardan cukup terkejut, namun dia langsung menyapa ramah adik kembar sahabatnya itu.
“ Wah….”
“ Tumben tuan muda Bimantara yang satu ini mau ikut bergabung dengan kita….”, celetuk Thomas seraya menyalami Ardan ramah.
“ Maklum….”
“ Menjadi CEO Bimantara Group pasti sibuk banget…. ”
__ADS_1
“ Iya kan Ar….”, ucap Willy menimpali.
“ Weekend gini lu masih kerja juga Ar…”, tanya Daxion penasaran pasalnya sesibuk – sibuknya Ardi dulu jika weekend dia akan melepas semua pekerjaan kantor kecuali ada masalah urgent yang harus segera diatasi.
“ Masih, tapi kerja dari rumah….”, jawab Ardan ramah.
Ardan yang tak terlalu akrab dengan sahabat kakak kembarnya itu mencoba untuk berbasa – basi sejenak karena dia juga sudah lama tak bertemu dengan mereka karena kesibukan yang ada.
Awalnya mereka bertiga membicarakan tentang kesibukan masing – masing, lalu entah kenapa tiba – tiba saja obrolan berubah menjadi curhatan lelaki dewasa dalam urusan rumah tangga.
Karena semuanya sudah menikah jadi tak ada yang canggung ketika sudah membahas masalah ranjang, urusan anak hingga masalah istri – istri mereka.
Ardan yang tak terlalu mengenal keluarga kecil ketiga sahabat kakak kembarnya itu hanya menyimak sambil
sesekali ikut tertawa jika ada cerita yang menggelitik.
Tak ada sedikitpun niat Ardan untuk menceritakan rumah tangganya dengan Azkia karena selama ini tak ada yang moment berkesan dalam hubungannya dengan sang istri selama lima bulan menikah.
“ Istri lu belum hamil Ar ?....”, tanya Thomas tiba – tiba.
“ Belum….”, jawab Ardan singkat.
“ Baru juga lima bulan nikah, masih pengantin baru lah….”
“ Puas – puasin dulu aja Ar sebelum lu direpotin urusan anak….”, ucap Dixion terkekeh.
“ Yah….”
“ Ck….”
“ Bisa – bisanya lu mikir kaya gitu….”, ucap Dixion sambil menggeleng – gelengkan kepala.
“ Soalnya malam itu Ardi sempat ngajak gue kesini untuk curhat jika dia ingin menikahi Azkia mengantikan lu…”
“ Tapi Azkia menolak dengan alasan itu bukan tanggung jawabnya…. ”
" Tapi tanggung jawab lu karena lu yang udah ngambil keperawanan dia….”, ucap Willy spontan.
“ Tunggu – tunggu….”
“ Tadi kamu bilang apa…”
“ Aku udah ngambil keperawanan Azkia ....”, tanya Ardan dengan kening berkerut.
Tiba – tiba kepala Ardan terasa pusing karena seingatnya dia sama sekali tak mengenal Azkia apalagi sampai menodainya.
“ Sungguh tak masuk akal…..”, batin Ardan binggung.
“ Kok gue nggak tahu cerita ini ya…..”
“ Emang kapan Ardi cerita ke lu….”, tanya Thomas penasaran.
" Sama...."
__ADS_1
" Gue juga nggak ngerasa Ardi pernah cerita ini ke gue.....", ucap Dixion menimpali.
“ Kalian berdua waktu itu lagi sibuk sama istri masing – masing jadinya cuma gue yang bisa nemenin Ardi disini….”, ucap Wiily menjawab.
“ Emang lu nggak ingat apa – apa soal ini Ar ?.....”, tanya Dixion dengan tatapan menyelidik.
Mendengar pertanyaan Dixion tiba – tiba Ardan terbawa pada peristiwa dua tahun yang lalu pada saat merayakan malam tahun baru.
Seingatnya, waktu itu Ardan menegak whiski cukup banyak setelah dia melihat wanita yang mirip dengan Meysa bercumbu mesra dengan seorang lelaki di sebuah mobil yang kaca mobilnya terbuka dipemberhentian lampu merah.
Ardan yang hendak mengejar pun kehilangan jejak karena jalanan cukup padat waktu itu karena menjelang perayaan pergantian tahun.
Kembali patah hati dengan pengkhianatan yang berulang kali Meysa lakukan, Ardanpun tanpa sadar menghabiskan berbotol – botol whisky dan sialnya dia sempat meneguk minuman entah milik siapa yang ternyata ada obat perangsang didalamnya.
Ardan yang dalam pengaruh alkohol dan obat perngasang tanpa sadar menarik salah satu gadis pengunjung hotel tempatnya merayakan pergantian tahun bersama teman- temannya kesebuah kamar yang sebelumnya telah dia pesan sebelum acara berlangsung dan bercinta semalaman.
Paginya, gadis yang dia ajak bercinta semalam telah pergi dan hanya meninggalkan noda darah diatas sprei putih tempatnya tidur.
Meski merasa bersalah karena telah merampas keperawanan seorang gadis yang tak dia kenal, Ardan juga tak berusaha mencari tahu karena menurutnya mereka melakukan atas dasar suka sama suka.
“ Apa karena ini ayah dan bunda pernah bilang jika aku memang sudah sewajarnya menikahi Azkia karena harus bertanggung jawab….”, batin Ardan bermonolog.
Satu persatu ingatan Ardan kembali muncul salah satunya mengenai kedatangan Ronan dan Azkia kerumahnya untuk meminta pertanggung jawaban darinya.
“ Jadi, gadis yang aku nodai pada malam pesta tahun baru itu Azkia ?....”, tanya Ardan berusaha memastikan.
“ Menurut cerita Ardi malam itu sih begitu….”
“ Dia sendiri juga baru tahu ceritanya setelah Meysa mengiriminya pesan….”
“ Bahkan saking syoknya, Ardi sampai menangis tersedu – sedu….”
“ Malam itu, Ardi benar – benar rapuh…”
“ Dan esok harinya gue terima kabar jika dia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia ditempat….”
“ Hati gue rasanya udah mau copot saja waktu itu….”, ucap Willy sedih jika kembali mengingat moment tersebut.
Semua orang langsung terdiam mendengar penuturan Willy karena mereka sebelumnya tak tahu masalah ini jika Willy tak menceritakannya malam ini.
Saking syoknya Ardan hanya bisa terbenggong sesaat. Otaknya seakan lumpuh dalam sekejam sehingga tak mampu lagi dia gunakan untuk berpikir dengan benar.
“ Tunggu, aku sepertinya masih menyimpan screenshot pesan Meysa yang dikirim ke Ardi….”, ucap Willy sambil membuka galeri foto yang tersimpan dalam drive miliknya.
Setelah ditelusuri Willy pun menemukan potongan pesan yang Meysa kirimkan kepada Ardi yang sempat dia simpan dulu.
“ Ini dia...."
" coba baca….”, ucap Willy sambil menyodorkan ponselnya kepada Ardan.
Kedua mata Ardan terbelalak membaca pesan yang Meysa berikan kepada kakak kembarnya tersebut.
Niat hati ingin meminta bantuan Thomas untuk menemukan keberadaan sang istri, Ardan malah disuguhi fakta baru yang membuatnya semakin syok.
__ADS_1