
Umur, hidup dan mati seseorang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa dan kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan peran dengan baik selama nafas masih dikandung badan.
Tubuh Louis yang sudah dibersihkan dan hendak dibungkus dengan kain agar bisa dibawah pulang oleh anggota keluarganya tiba – tiba bergerak membuat para perawat yang bertugas untuk membersihkannya berteriak katakutan sambil berlari keluar ruangan.
“ Ada apa, kenapa kamu berlarian seperti itu....”, tegur salah satu temannya yang kebetulan berpapasan dengannya.
“ It-itu....”
“ Mayatnya hidup lagi.....”, ucapnya ketakutan.
Sang perawat yang berpapasan dengan perawat yang telah membersihkan tubuh Louis segera menuju kamar mayat dimana jenazah Louis dibersihkan.
Begitu melihat jika jari – jari Louis bergerak dan detak jantungnya kembali berdetak meski sangat samar, sang perawatpun segera membawa brankar Louis menuju ruang perawatan sambil menghubungi dokter jaga.
Tracy dan Becca yang hendak menuju kamar mayat sangat terkejut waktu perawat membawa jenasah Louis masuk kedalam ruang operasi.
“ Ada apa ini....”
“ Kenapa jenasah anakku dibawa keruang operasi.... ”, tanya Tracy binggung.
Sang perawatpun menjelaskan semua hal yang tadi dokter katakan ketika memeriksa kembali kondisi Louis.
“ Baiklah....”
“ Tolong lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya....”, ucap Tracy terharu.
Tracy yang sangat syok dengan kenyataan yang ada dibantu menantunya untuk duduk dikursi yang tersedia didepan ruang operasi karena tubuhnya sangat lemas setelah mendengar kabar mengejutkan tersebut dan hampir terjatuh kelantai
“ Apa benar yang dikatakan perawat itu mi....”
“ Kak Louis masih hidup....”, ucap Becca dengan ekpresi tak percaya.
“ Seperti yang kamu dengar....”
“ Kakak iparmu masih hidup Becca...”
“ Ini adalah mujizat Tuhan.....”, Tracypun langsung berdoa mengucap puji syukur karena nyawa putranya telah kembali.
Keduanya pun langsung berpelukan karena bahagia dan berdoa semoga operasi kecil yang mereka lalukan saat ini bisa berjalan dengan lancar.
“ Cepat kabari Sindy...”
“ Azkia harus tahu jika suaminya masih hidup....”, ucap Tracy bersemangat.
Sementara itu di salah satu ruangan UGD, Sindy dengan setia menemani Azkia begitu sahabat sekaligus kakak iparnya itu sudah sadarkan diri.
Saat ini Azkia sedang berbincang dengan Melati yang sedang menyampaikan pesan terakhir Ardan ketika berbincang dengannya diambulan selama menuju rumah sakit.
__ADS_1
FLASH BACK ON
Melati senantiasa menemani Ardan didalam ambulan sementara Faisal sibuk membantu Watson untuk meringkus para penjahat yang menganggu kelancaran jalannya pernikahan Azkia dan Louis serta yang menusuk perut putranya.
“ Bunda, maafkan semua kesalahan Ardan ya bun....”
“ Selama Ardan hidup, Ardan belum pernah sekalipun membuat bunda bangga...”
“ Yang ada, Ardan terus saja membuat bunda kecewa dan menangis karena Ardan.....”, ucap Ardan dengan nafas tersenggal – senggal.
“ Kamu selalu membuat bunda bangga dengan caramu sendiri... ”
“ Istirahatlah, simpan tenagamu dan yakinlah jika kamu bisa sembuh.....”, ucap Melati sambil mengenggam tangan Ardan kuat – kuat.
Ardan yang merasa jika nyawanya sudah tinggal sebentar lagi terus saja berbicara dengan Melati mengungkapkan semua yang menjadi penyesalan hatinya.
“ Sampaikan maafku kepada Azkia bun...”
“ Maaf aku tak bisa menemaninya membesarkan Askara.....”
“ Jangan biarkan Azkia menyalahkan dirinya sendiri atas kematianku karena semua ini kulakukan dengan ikhlas sebagai penebus dosa - dosaku kepadanya....”
“ Suatu hal yang tak bisa aku lakukan selama menjadi suaminya....”
“ Dan anggap saja kematianku ini sebagai hukuman atas semua kejahatan yang pernah aku lakukan dimasa lalu....”, ucap Ardan terakhir kali sebelum menutup mata.
Azkia langsung memeluk Melati dengan erat dan keduanya pun menangis bersama mengenang sosok Ardan.
Meski mantan suaminya itu telah menyakitinya sangat dalam tapi melihatnya mengorbankan nyawa untuk melindunginya membuat Azkia merasa terharu.
Kedatangan Robby yang mengatakan jika jenazah Ardan sudah bisa dibawa pulang segera pamit undur diri sambil mengecup kedua pipi mantan menantunya tersebut.
“ Jangan pernah lupakan bunda ya sayang meski tak ada Ardan diantara kami....”, ucap Melati sesenggukan.
“ Selamanya, bunda akan menjadi bundanya Azkia....”
“ Kapanpun bunda kangen Askara, bunda bisa telepon atau datang....”
“ Jika nantinya Askara sudah besar dan bisa diajak bepergian jauh, sesekali aku akan mengajak Askara mengunjungi ayah dan bunda ditanah air....”, ucap Azkia dengan kedua mata berkaca – kaca.
Panggilan Robby menyadarkan keduanya jika waktu berpisah sudah tiba hingga Melatipun dengan berat hati meninggalkan ruang UGD bersama Robby yang mengekorinya dibelakang.
Drtttt....
Sindy segera mengangkat telepon dari kakak iparnya begitu layar ponselnya menunjukkan foto Becca.
“ Apa...”
__ADS_1
“ Kak Louis masih hidup....”, teriak Sindy sambil membekap mulutnya dengan satu tangannya karena cukup terkejut dengan berita yang Becca berikan kepadanya.
Azkia yang menatap kosong kedepan setelah kepergian Melati langsung bereaksi begitu mendengar suara teriakan Sindy.
“ Jelaskan padaku semuanya, apa benar semua yang kudengar barusan....”, ucap Azkia menuntut.
“ Benar Azkia....”
“ Semua yang kamu dengar benar adanya....”
“ Kak Louis masih hidup dan sekarang sedang menjalani operasi untuk mengeluarkan beberapa peluru dilengan dan punggungnya....”, jelas Sindy sambil berderai air mata.
“ Lalu bagaimana dengan luka tembak dikepalanya.....”, tanya Azkia penuh selidik.
“ Kata dokter, luka tembak dikepalanya hanya menyerempet saja tak sampai melukai tengkorak kepalanya dan hal itulah yang membuatnya tetap hidup....”
“ Dan mengenai jantungnya yang sempat berhenti berdetak......”
“ Dokter sendiri tak bisa menjelaskan karena ini merupakan mujizat dan baru kali ini terjadi hal seperti ini....”, ucap Sindy bahagia.
Melihat Azkia hendak turun dari atas ranjang, Sindy pun dengan sigap melarangnya karena masih ada infuse yang harus sahabatnya itu habiskan hari ini sebelum dia diperbolehkan untuk pulang.
Karena Azkia bersikeras ingin menunggui Louis selesai dioperasi maka Sindypun membawa sahabatnya itu ke depan ruang operasi menggunakan kursi roda dengan infuse yang menancap disisi kiri kursi.
“ Azkia...”
“ Kenapa kamu kemari....”
“ Kamu seharusnya beristirahat hingga kondisimu pulih kembali.....”, ucap Tracy panik.
“ Aku ingin menunggu suamiku disini mom....”, ucap Azkia keras kepala.
Menyadari watak menantunya yang sedikit keras tersebut, Tracy pun membiarkan Azkia menunggu Louis selesai dioperasi bersama mereka.
Watson yang mendapat kabar dari sang istri jika Louis masih hidup merasa sangat bahagia, namun hal itu tak mengendorkan semangatnya untuk membantai habis keluarga yang menargetkan anak dan menantunya.
Faisal yang harus segera membawa jenazah Ardan kembali ketanah air untuk dikebumikan menyerahkan semua hukuman sang penjahat ketangan Watson.
Dia sangat yakin jika Watson akan membalas setiap tetes darah yang anggota keluarga dan anak buahnya keluarkan kepada musuh – musuhnya.
Bersama Thomas, Watson dan anak buahnya segera menghabisi seluruh anggota keluarga angkat mantan menantunya tersebut.
Jika dulu mendiang Elisabeth tak menahannya untuk menghancurkan keluarga angkatnya mungkin mereka semua sudah tinggal nama sekarang.
Nyatanya kesempatan baik yang Watson berikan malah dipergunakan oleh mereka untuk menghabisi Louis dan Azkia.
Untung Tuhan masih sayang dengan anak sulungnya itu hingga dia bisa bangkit dari kematian yang sempat menghampirinya.
__ADS_1