AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 46


__ADS_3

Disebuah gedung pencakar langit yang megah, terlihat seorang pria memakai setelah jas hitam resmi dengan kemeja putih yang sangat cocok dengan bentuk tubuhnya yang tinggi dan tegap sedang berdiri didepan jendela kaca yang menampilkan pemandangan seluruh ibukota dengan tatapan kosong.


Sebelah tangannya dia masukkan kedalam saku celananya dan satu tangannya yang lain sedang memegang segelas wine sambil sesekali menikmati aromanya sebelum membiarkan cairan itu membasahi tenggorokannya.


Meski tahu apa yang sedang mengganggu pikiran bosnya itu tapi Robby yang berdiri dibelakangnya tak berani membuat suara apapun dan hanya bisa menunggu.


Ardan menghabiskan wine didalam gelas yang dipegangnya itu secara berlahan dan kembali meminta Robby untuk mengisinya saat habis.


Dan itu dilakukannya berulang kali hingga satu botol wine berhasil dia habiskan malam ini demi mengusir rasa penat yang ada dikepalanya.


Begitu ponselnya berbunyi, Ardan langsung menuju sofa tunggal yang berada tak jauh dari meja kerjanya dan mengambil ponsel miliknya yang berada diatas meja.


Ardan terlihat mengernyitkan alisnya yang tebal setelah membaca pesan yang masuk dan termenung untuk beberapa saat.


“ Baiklah….”, hanya satu kalimat itu yang meluncur di bibir tebal dan sexy milik Ardan setelah membaca pesan tersebut.


Melihat Ardan melambaikan satu tangannya, Robby segera undur diri dari ruangan dan menutup pintu tanpa membuat suara apapun.


Telunjuk dan ibu jari Ardan memencet  pelan area diantara kedua alisnya beberapa kali untuk memastikan jika apa yang akan dilakukannya kali ini adalah keputusan yang benar.


“ Cukup sudah…..”


“ Aku harus menjemput istriku sekarang….”, katanya sambil terkekeh pelan.


Berbekal bantuan dari Thoman, setibanya di Galaxy Apartemen Ardan pun segera mencari Hans untuk mengambil kartu akses agar bisa masuk kedalam.


Setelah mendapatkan kartu akses, Ardanpun bergegas masuk kedalam lift dan naik ke lantai enam untuk menuju unit 315 tempat yang dia yakini istrinya berada saat ini.


Begitu sampai didepan unit yang dituju, Ardanpun segera memencet bel beberapa kali namun tak ada tanggapan membuatnya terpaksa harus menggunakan cara licik agar bisa masuk.


Dengan bantuan alat yang diberikan oleh Tobby, Ardanpun dengan mudah bisa membuka pintu yang dilengkapi dengan password tersebut.


Ceklek….


Krietttt….


Ardan membuka pintu dan menutupnya secara perlahan agar tak menimbulkan suara yang bisa membuat sang pemilik rumah curiga.


Melihat jika ruang utama, tengah dan dapur kosong, Ardanpun mulai berjalan masuk kedalam salah satu kamar yang ada disana.


Begitu kakinya melangkah masuk, Ardan mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi mulai berjalan mengendap – endap sambil mengedarkan pandangannya kesemua sisi kamar yang berukuran delapan kali sepuluh itu dengan cermat.


Melihat sebuah tas yang tak asing baginya, Ardan pun mulai berjalan mendekat untuk memastikan jika tas tersebut milik istrinya.


Perlahan  Ardan membuka tas kerja yang tergeletak dimeja kecil disamping tempat tidur hanya untuk memastikan jika itu milik istrinya.


Ardan tak perduli jika nantinya pemilik tas akan marah ketika tahu ada orang yang dengan lancang mengobrak abrik isi tasnya.


Tujuan utama Ardan adalah mencari dompet untuk mendapatkan identitas dari si pemilik tas yang dia yakini pasti ada disana.


“ Benar….”

__ADS_1


“ Ini tas milik Azkia….”, batin Ardan bermonolog.


Setelah menutup kembali dompet yang hanya berisi beberapa lembar uang seratus ribuan dan beberapa kartu bank, tangan Ardan berhenti sejenak karena penasaran pada berkas yang ada didalam map bening dan segera mengeluarkannya untuk dia baca.


Kedua mata Ardan terbelalak kaget dengan tatapan tak percaya dengan apa yang barusan dia baca dalam map bening tersebut.


Didalam map bening itu terdapat tanda terima berkas pengajuan cerai yang Azkia ajukan kepengadilan agama dua hari yang lalu.


“ Sialan !!!....”


“ Apa – apaan ini !!!.....”


“ Tak bisa dibiarkan….”


“ Aku tak ingin bercerai…..”, runtuk Ardan dengan wajah panik.


Ingin rasanya Ardan menyusul Azkia kedalam kamar mandi dan meminta penjelasan dari istrinya itu sekarang juga.


Emosinya terasa seperti ingin meledak sekarang juga, tapi berusaha sekuat tenaga dia tahan karena tak ingin  Azkia terkejut dan membuat keributan didalam apartemen tersebut.


Ardan terlihat memutar otaknya dengan keras agar dia bisa tetap mempertahankan Azkia disisinya sambil memastikan jika hanya ada istrinya dalam apartemen tersebut.


“ Aman….”


“ Jacob tak ada disini sekarang….”, batin Ardan lega.


Sambil menunggu sang istri keluar dari dalam kamar mandi, Ardan sudah memikirkan beberapa rencana licik dalam otaknya agar istrinya itu tetap bertahan dalam pernikahan mereka.


Ayah dan bundanya begitu menyayangi Azkia seperti putri kandung mereka sendiri pasti akan sangat sedih jika tahu keduanya akan bercerai.


Bukan hanya sedih, Ardan takut bundanya kembali depresi karena kehilangan seseorang yang sangat disayangi sehingga berpikiran sempit seperti kejadian ketika kakak kembarnya meninggal dulu.


“ Tidak….”


“ Hal buruk itu tak boleh terjadi lagi…..”, batin Ardan panik.


Azkia yang baru keluar dari dalam kamar mandi sangat terkejut dengan kehadiran Ardan didalam kamarnya.


“ Apa yang kamu lakukan disini ....”


“ Bagaimana kamu bisa masuk…..”, tanya Azkia gugup.


Jakun Ardan anik turun melihat Azkia keluar dari dalam kamar mandi menggunakan hotpant hitam dengan kemeja lengan pendek abu – abu yang sedikit kebesaran hingga membuat istrinya tersebut terlihat semakin sexy.


Rambutanya yang dicepol keatas sembarangan terlihat sangat mengairahkan apalagi leher putihnya yang jenjang terekpos begitu saja membuat Ardan kesulitan menelan ludah dengan nafas mulai memburu.


Tiba – tiba ide jahat terlintas dalam benak Ardan agar Azkia mencabut gugatan cerai yang telah diajukannya tadi.


Seperti singa kelaparan, Ardan segera menerjang tubuh munggil Azkia dan membaringkannya diatas ranjang, mengukungnya hingga sulit untuk bisa melarikan diri.


“ Minggir kamu !!!...”

__ADS_1


“ Lepaskan !!!....”, bentak Azkia sambil mendorong tubuh Ardan yang sedang menghimpitnya.


“ Mari kita mulai semuanya dari awal Azkia…..”


“ Malam ini biarkan aku memuaskanmu dan kita bercinta dengan hebat….. ”, ucap Ardan dengan suara berat penuh nafsu.


“ Tidak….”


“ Aku tidak mau….”, jerit Azkia sambil meronta – ronta berusaha membebaskan diri dari kukungan tubuh Ardan.


“ Pergi saja kamu pada Meysa dan biarkan dia yang melayanimu….”


“ Jangan sentuh aku….”, Azkia terus menjerit dan berontak berharap bisa mendorong tubuh Ardan yang lebih besar darinya.


Mendengar nama Meysa disebut, rahang Ardan tiba – tiba mengeras karena dia masih belum berhasil menemukan wanita yang telah mengacaukan hidup keluarganya itu.


“ Aku menginginkanmu Azkia…..”, ucap Ardan penuh penekanan.


“ Tidak…”


“ Aku tidak mau….”


“ Dan aku tak sudi tangan kotormu itu menyentuhku….”, balas Azkia tak kalah senggit.


Azkia yang melihat wajah Ardan mulai memerah menahan amarah, merasa sedikit takut dalam hati dan segera memeras otaknya untuk bisa kabur secepatnya jika tak ingin dimangsa.


Tanpa pikir panjang, Azkia segera menendang asset milik Ardan hingga suaminya itu berguling kesamping kesakitan.


“ AZKIA !!!....”


“ LIHAT SAJA BAGAIAMANA AKU MENGHUKUMMU !!!....”, teriak Ardan penuh amarah.


Dia sama sekali tak menyangka jika istrinya akan bertingkah bar – bar seperti itu terhadapnya hingga menendang masa depannya dengan sangat keras.


“ Bagaimana jika juniorku tidak bisa berfungsi lagi….”, batin Ardan panik.


Dia berguling – guling diranjang sambil memegangi asetnya yang terasa ngilu sementara Azkia langsung menyambar tasnya disamping ranjang dan berlari keluar dari unit apartemennya.


Begitu lift terbuka, dia langsung masuk untuk turun kebawah. Untung saja dia tadi sempat membawa tas kerjanya turun hingga dompet dan ponselnya tak tertinggal didalam apartemen..


“ Gila….”


“ Dia benar – benar sudah gila…..”, guman Azkia bergidik ngeri.


Dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika Ardan kembali menyetubuinya dengan kasar seperti biasa.


Luka ditubuhnya yang sudah sembuh tak ingin dia buat terbuka lagi seiring dengan jiwanya yang masih terpuruk didalam.


“ Aku harus menghubungi Jacob segera….”


“ Kurasa aku harus pindah dari tempat ini secepatnya…..”, guman Azkia cemas.

__ADS_1


__ADS_2