AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 88


__ADS_3

Begitu tiba dirumah sakit, Melati dan Faisal langsung menuju tempat dimana Ardan dirawat setelah bertanya kepada bagian resepsionis rumah sakit.


Keduanya berjalan cepat dengan hati tak karuan, melewati lorong demi lorong untuk bisa sampai ruang ICU dimana Ardan dirawat.


Tubuh Melati langsung bergetar hebat dengan suara tangis tertahan ketika dia melihat tubuh Ardan dipenuhi berbagai macam alat yang digunakan untuk menopang hidupnya waktu dia menatap putranya dari balik kaca.


Sekali lagi Melati dipaksa untuk melihat dan menghadapi kenyataan pahit seperti ini.


Bayangan Ardi yang terbaring diatas ranjang rumah sakit setelah mengalami kecelakaan kembali terlintas dalam benaknya.


Melati hanya bisa membekap mulutnya agar dia tak menjerit histeris melihat kondisi sang putra yang mengenaskan tersebut sambil bersandar ditembok agar tubuhnya tak luruh kelantai.


Faisal yang melihat wajah istrinya pucat pasi dengan tubuh bergetar segera membawanya untuk duduk.


“ Istighfar bun...”


“ Istighfar agar hati bunda bisa tenang......”, ucap Faisal sambil mengenggam jemari tangan Melati dengan erat.


Melati memejamkan kedua matanya sambil terus beristighfar dalam hati, meminta kekuatan agar bisa menerima cobaan berat ini dengan hati lapang.


Bukan hanya Melati saja yang sedih, Faisal juga merasa hatinya tercabik – cabik waktu mendapati putranya terluka dan dalam kondisi koma seperti ini.


Ardan harus menghadapi nasib sama seperti saudara kembarnya yang waktu itu hanya mampu bertahan selama dua puluh jam sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dan pergi untuk selama – lamanya.


Faisal berusaha untuk tegar meski dia sangat tahu jika jiwanya cukup rapuh saat ini, tapi dia juga tak bisa mengabaikan keberadaan sang istri yang membutuhkan dukungannya untuk menguatkannya.


Keduanya saling berpelukan dan menangis tanpa suara dan tak berhenti berdoa dalam hati demi kesembuhan putranya.


“ Ayah....”


“ Bunda....”, ucap Ardan lirih.


Ardan ikut  menangis dalam pelukan kedua orang tuanya meski mereka tak bisa merasakan kehadirannya saat ini tapi baginya ini sudah cukup.


“ Maafkan Ardan yah....”


“ Aku tak mengindahkan nasehat ayah...”


“ Jika saja aku sedikit lebih bersabar lagi mungkin saat ini aku sudah bisa mengendong anakku....”, ucapnya sambil sesenggukan.


Ardan menumpahkan semua rasa sesak dalam dadanya dengan berkeluh kesah kepada kedua orang tuanya.


Meski kedua orang tuanya tak bisa mendengar apa yang dia ucapkan setidaknya apa yang menganjal didalam hatinya saat ini berangsur – angsur lepas hingga membuat dadanya terasa lebih plong.


Melihat jika istrinya sudah sedikit tenang setelah meminum air mineral dari dalam botol, Faisal pun meninggalkannya sejenak untuk mencari tahu mengenai kondisi Ardan secara keseluruhan kepada dokter yang merawatnya.


Melati tampak menatap botol kemasan air mineral yang isinya tinggal separuh tersebut dengan kedua mata berkaca – kaca.


Tak ingin terus larut dalam kesedihan, Melati pun mendongakkan kepalanya agar air mata yang sudah berkumpul dipelupuk mata tak sampai jatuh.

__ADS_1


Pada saat dia mengedarkan padangannya, tanpa sengaja ujung mata Melati melihat sosok Jacob berjalan cepat kearah berlawan dari tempatnya duduk saat ini.


“ Jacob.....”


“ Kenapa dia ada disini....”, batin Melati curiga.


Melati yang penasaran mengenai kehadiran Jacob dirumah sakit tersebut pun pada akhirnya mengikuti sahabat mantan menantunya itu dari belakang.


Ardan yang melihat bundanya bangkit dari tempat duduknya pun ikut beranjak pergi bersama dengan Melati.


Melati sengaja menjaga jarak dan beberapa kali bersembunyi dibalik tembok ketika Jacob menoleh kebelakang.


“ Apa hanya perasaanku saja ya....”


“ Sepertinya ada yang sedang mengikutiku....”, batin Jacob sambil menatap sekelilingnya dengan waspada.


Setelah merasa jika tak ada orang yang mencurigakan berada dekat dengannya, Jacob pun segera melanjutkan perjalanannya.


Diapun segera mencari bayi kecil dengan nama Azkia diatas boxnya. Ketika sudah menemukan, senyum lebar merekah diwajah tampan Jacob


“ Hallo jagoan papa....”


“ Papa ada disini untuk bertemu denganmu  sayang.....”, ucap Jacob sambil melambaikan tangannya kearah bayi lelaki yang ada di dalam box dibalik ruang kaca yang ada dihadapannya tersebut.


Tukkk....


Kepala Jacob ditampol Louis dari belakang  hingga lelaki itu mengadu kesakitan sementara sang pelaku malah cengengesan melihat penderitaannya.


“ Siapa yang kamu suruh memanggil papa....”


“ Jagoan kecilku tak akan pernah memanggilmu papa karena sebentar lagi dia akan jadi anakku.....”


“ Jadi jangan pernah berkhayal  akan hal itu....”


“ Karena akulah papanya....”, ucap Louis bangga.


“ Masih calon saja bangga.....”


“ Lagian Azkia juga masih belum menjawab lamaranmu....”, cibir Jacob sinis.


Melihat wajah Louis yang memerah, Jacob terlihat sangat puas dan kembali bersuara untuk memprovokatif sepupunya itu.


“ Lagian, jauh – jauh hari Azkia sudah mengijinkanku untuk menjadi papa angkat dari anaknya....”


“ Jadi sekarang akulah yang berhak menyandang gelar papa....”, ucapnya bangga.


Ardan yang ada disamping Melati segera datang menghampiri dan membentak keduanya meski tak bisa mereka dengar.


“ Enak saja kalian berdua mengaku sebagai papa anakku....”

__ADS_1


“ Sampai kapanpun akulah yang pantas dipanggil papa karena aku adalah papa kandungnya....”, ucap Ardan dengan nada tinggi.


Tanpa semua orang sadari, bayi munggil yang baru lahir tersebut bisa melihat pertengkaran tiga lelaki dari balik kaca yang membatasinya dan tersenyum manis.


“ Kenapa mereka bertengkar tentang panggilan itu tanpa meminta pendapatku....”


“ Bagaimanapun nantinya aku yang akan memutuskan siapa diantara mereka yang pantas aku panggil papa....”, batin bayi munggil tersebut berceloteh.


Pertengkaran dua lelaki beda usia tersebut sangat menarik perhatian  Melati apalagi yang menjadi pertengkaran mereka adalah bayi munggil yang merupakan cucunya tersebut.


“ Jadi Azkia sudah melahirkan....”


“ Apa ini suatu kebetulan.....”, batin Melati sambil menatap box bayi yang dia duga cucunya tersebut dengan senduh.


Melati yang ingin menghampiri ruang baby terpaksa mengurungkan niatnya waktu sang suami menghubunginya.


Setidaknya saat ini Melati sudah tahu jika cucunya sudah terlahir kedunia, tinggal masalah Ardan yang masih menjadi beban pikirannya.


Melati cukup syok waktu mendengar jika ternyata kondisi Ardan lebih parah dari apa yang dia bayangkan sebelumnya.


Sehingga keingginan mereka untuk bisa memindahkan putra mereka secepatnya dan mendapatkan perawatan didalam negeri tak bisa terwujud.


Mereka baru bisa memindahkan Ardan begitu kondisinya stabil atau hingga Ardan sadar dari komanya.


Melatipun menceritakan kepada suaminya mengenai pertemuannya dengan Jacob dirumah sakit ini hingga dia mengetahui kabar jika menantunya itu sudah melahirkan.


“ Apa ?....”


“ Azkia sudah melahirkan ?....”


“ Bukannya prediksinya baru bulan depan ?.....”, tanya Faisal binggung.


“ Aku sendiri tak tahu kapan pastinya Azkia melahirkan karena aku juga baru mengetahui hal itu ketika melihat Jacob mengunjungi anak Azkia diruang baby....”


“ Jika karena hal ini Ardan nekat untuk bertemu Azkia aku rasa itu juga tidak salah....”


“ Mengingat jika dia adalah papa dari anak yang dikandung Azkia....”, ucap Melati penuh penekanan.


Faisal memahami kekecewaan yang dirasakan oleh Melati. Tapi dia juga tak bisa menyalahkan sikap keluarga Watson yang protektiv terhadap Azkia setelah banyak hal buruk yang dilakukan oleh putranya terhadap Azkia dimasa lalu.


“ Kapan ayah akan menemui Watson ?.....”, tanya Melati tajam.


“ Sebentar lagi ayah akan bertemu putra sulung Watson di cefe depan rumah sakit ketika jam makan siang nanti.....”, jawab Faisal sambil meneguk air dalam botol yang dibawanya.


“ Jika bunda mau ikut maka bunda tenangkan diri dulu.....”


“ Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karenabaik Robby ataupun Alfonso juga tak mengetahui secara jelas kenapa Ardan nekat untuk pergi menemui Azkia hari itu...."


" Sebelum kita bertemu dengan perwakilan keluarga Watson aku harap bunda bisa bersikap lebih tenang....”, ucap Faisal bijaksana.

__ADS_1


Melati hanya bisa berdecak kesal melihat sang suami tak mendukung pemikirannya yang merasa jika apa yang dilakukan Ardan tak salah dan menyayangkan sikap Louis yang mengejar putranya hingga sampai terjadi kecelakaan maut seperti itu.


__ADS_2