
Sinar mentari pagi yang hangat perlahan masuk melalui celah – celah gorden dan mendarat diatas seprai putih dimana diatasnya terbaring seorang gadis dengan wajah sangat pucat.
Hangatnya mentari pagi seakan tak mengusiknya tidur nyenyak gadis itu yang masih setia memejamkan kedua matanya.
Entah karena pengaruh obat tidur atau kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah, sejak dipindahkan kedalam ruang rawat Azkia masih juga belum membuka kedua matanya.
Hanya deru nafasnya yang teratur terlihat jelas dibalik selimut bergaris – garis biru yang membungkus tubuh kurusnya.
“ Dok, bagaimana kondisinya ?....”
“ Kenapa dia masih belum terbangun juga…..”, tanya Melati cemas.
“ Selain kondisinya yang masih lemah setelah melewati masa kritis….”
“ Juga efek dari obat tidur yang disuntikkan kepada pasien….”
“ Kami melakukan hal ini agar kondisi pasien bisa tetap stabil dengan beristirahat cukup….”, ucap sang dokter menjelaskan.
“ Ibu tenang saja….”
“ Sebentar lagi pasien pasti akan bangun karena efek obatnya sudah hampir hilang….”, ucap dokter menenangkan.
Mendengar ucapan sang dokter, Melati hanya bisa bernafas lega meski masih ada sedikit kekhawatiran waktu melihat sang menantu masih belum juga membuka kedua matanya.
Setelah dokter pergi, tersisa satu perawat yang akan mengobati dan mengganti perban di punggung Azkia sekarang.
Meski melati sudah melihat luka tersebut semalam, pagi ini dia kembali melihat luka cambukan, gigitan serta cakaran yang masih sedikit basah air matanya kembali mengucur deras di pipi.
“ Maafkan bunda sayang….”
“ Bunda telah gagal mendidik Ardan hingga dia menjadi lelaki kejam tak berperasaan seperti ini….”, batin Melati menangis.
Melati masih belum mendapatkan jawaban atas apa yang membuat Ardan tega menyakiti istrinya sedemikian rupa hingga hampir merengang nyawa.
Ardan masih diam membisu waktu Faisal mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan mengenai apa yang menimpah Azkia.
Meski Ardan sudah membungkam mulut dokter dan semua pekerja yang ada diruamh sakit serta dirumahnya, namun kondisi tubuh Azkia membuka segalanya.
“ Apa benar yang dikatakan Vira jika ini ada hubungannya dengan kembalinya Ardan menjalin hubungan dengan Meysa….”, batin Melati curiga.
Bukan tanpa alasan Melati mencurigai Meysa dan segala tindak tanduknya mengingat dulu waktu Ardan menjalin hubungan dengan gadis itu pribadi putranya berubah drastis.
Untung saja kemunafikan dan kebejatan Meysa cepat terungkap sehingga Ardan memutuskan hubungan dengan kekasih yang membawa pengaruh buruk pada dirinya tersebut.
Menghilangnya Meysa setelah putus dari Ardan membuat Melati merasa tenang, namun siapa sangka jika wanita licik terebut kembali datang dan mengganggu pernikahan anaknya yang masih seumur jagung tersebut.
__ADS_1
“ Tenang saja sayang….”
“ Bunda tak akan membiarkan Ardan atau siapapun menyakitimu lagi….”
“ Cukup sekali bunda kecolongan hingga kamu menderita seperti ini….”, guman Melati berderai air mata.
Azkia sebenarnya sudah bangun sejak suster mengobati dan mengganti perban dipunggungnya. Tapi entah kenapa kedua matanya terasa berat untuk dibuka.
Jiwa Azkia yang berada dalam tubuh rapuh tersebut saat ini sudah berbeda. Mendengar semua ucapan Melati, dalam diam gadis itu sudah mulai menyusun rencana mengenai apa yang akan dia lakukan setelah terbangun nanti.
“ Sial….”
“ Tampaknya sisa obat tidur ini masih bereaksi….”, umpat Azkia dalam hati.
Tak lama kemudian, diapun kembali terlelap menuju alam mimpi yang sangat buruk. Tampaknya, jiwa Azkia yang asli sedang mengalami pergolakan batin disana.
Melati sedikit terkejut waktu jemari Azkia yang dipegangnya mencengkeram erat tangannya. Perlahan keringat dingin mulai muncul dan memenuhi dahinya.
“ Hentikan mas…..”
“ Kumohon…..”
“ Hentikan...."
" Aku sudah tidak sanggup lagi….”
“ Sakit mas……”, Azkia mengingau merintih kesakitan.
Diantara peluh yang memenuhi dahinya, airmata Azkia pun mulai mengucur deras dari kedua matanya yang masih tertutup rapat.
“ Azkia….”
“ Bangun nak….”
“ Ini bunda…..”
“ Bunda janji akan selalu disampingmu dan melindungimu sayang…..”
“ Tak akan ada lagi yang bisa menyakitimu sekarang….”
“ Termasuk Ardan….”, ucap Melati sedih.
Wanita paruh baya tersebut menyeka keringat yang mulai membasahi wajah pucat Azkia dengan tisu sambil sedikit menepuk pipinya agar gadis itu terbangun.
Mendapatkan tepukan di pipi bukannya terbangun, Azkia malah menangis histeris hingga membuat Melati sangat panik dan langsung menekan bel agar perawat segera datang.
__ADS_1
Dokter yang merawat Azkia menyuruh suster untuk menyuntikkan obat penenang kedalam infus Azkia ketika melihat gadis itu semakin histeris dengan kedua mata masih tertutup rapat.
Melihat Azkia sudah mulai tenang seiring obat yang disuntikkan tersebut bereaksi, dokterpun berjalan mendekat kearah Melati.
“ Setelah lukanya mengering dan pasien diperbolehkan pulang….”
“ Sebagai dokter yang merawatnya, saya sarankan bawa putri ibu ke seorang psikiater mengingat luka batin yang dideritanya cukup parah…”
“ Dan sebisa mungkin sebaiknya ibu membawa Azkia pergi kesuatu tempat yang tenang dan menjauh dari orang yang telah menyakitinya dan membuatnya trauma seperti ini….”, ucap sang dokter memberi saran.
Melati hanya bisa mengangguk sedih melihat kondisi menantunya yang semakin hari dirasa semakin mengkhawatirkan.
Ronan yang sudah merasa lebih baik saat ini sedang meuju ruang rawat putrinya bersama Jacob yang membantunya mendorong kursi roda yang digunakannya.
Melati yang melihat ada sedikit perdebatan dipintu masuk ruang rawat Azkia segera keluar untuk melihat siapa yang memaksa masuk kedalam ruang rawat menantunya itu.
“ Ronan…..”, ucap Melati sedikit terkejut.
Melihat Ronan datang memakai pakaian pasien dengan kursi roda dan selang infuse ditangannya, hati Melati semakin merasa bersalah.
Akibat bodyguard Ardan yang tak membolehkan Ronan masuk kedalam ruang rawat sang putri membuat lelaki paruh baya tersebut kembali mengalami serangan jantung dan berakhir dirawat seperti sekarang.
“ Silahkan masuk….”, ucap Melati sedikit canggung.
Meski Melati tak salah, namun Ronan tetap tak bisa bersikap biasa – biasa saja terhadap keluarga lelaki yang telah membuat putrinya seperti ini.
Dibantu oleh Jacob, Ronan berjalan menghampiri Azkia yang terbujur lemas dengan wajah sangat pucat dan dengan beberapa luka dipergelangan tangan yang membiru.
“ Sayang….”
“ Maafkan papa nak….”
“ Seharusnya papa bisa tegas melarangmu menikahi Ardan waktu feeling papa mengatakan jika dia bukanlah lelaki yang tepat untukmu…. ”, ucap Ronan penuh penyesalan.
Sebenarnya Ronan sudah memiliki feeling yang buruk mengenai kedatangan Ardan yang hendak menikahi Azkia mengingat betapa kerasnya lelaki itu menolak untuk bertanggung jawab setelah menodai Azkia satu setengah tahun yang lalu.
Tapi berkat bujukan besannya dan melihat betapa bahagianya sang putri karena bisa menikah dengan lelaki yang sangat dicintainya membuat Ronan pada akhirnya luluh dan merestui pernikahan keduanya.
Melati hanya bisa tersenyum miris mendengar semua ucapan Ronan kepada sang putri tanpa bisa berkata apa – apa karena semua murni kesalahan Ardan, anaknya.
Ronan menciumi pergelangan tangan Azkia yang membiru dengan luka yang mulai mengering dibagian tengahnya karena kuat dan seringnya Ardan mengingat kedua tangan Azkia dengan tali ketika mereka melakukan penyatuan yang tak wajar tersebut.
“ Satu kesalahan papa adalah merestui pernikahanmu...."
“ Tapi setelah mengetahui perbuatan buruk Ardan kepadamu...."
__ADS_1
" Papa bersumpah tak akan pernah sudi untuk merestuimu kembali bersama suamimu itu lagi….”, janji Ronan dalam hatinya.