
Meski tak tidur sekamar, tapi setiap malam Ardan selalu memanjatkan doa untuk istrinya dalam ibadahnya.
Suatu hal yang tak pernah Ardan lakukan dulu karena hati dan jiwanya tertutup oleh dendam hingga membutakan segalanya.
Kembali membayangkan semua itu, Ardan seketika memalingkan wajahnya. Rasa perih dan nyeri didadanya sudah tak bisa terlukiskan lagi bagaimana dasyatnya.
Rasanya seperti ada ratusan anak panah yang menancap dan mengoyak jantungnya secara perlahan secara terus menerus.
Yang bisa Ardan lakukan hanya memejamkan matanya kuat – kuat agar butiran kristal yang sudah mengumpul dipelupuk matanya tak benar – benar turun.
Secara perlahan, Ardanpun mulai meraup oksigen sebanyak – banyaknya dengan mengambil nafas dalam beberapa kali dan menghembuskannya secara perlahan.
Sesak….
Dadanya sungguh terasa sesak dan lidahnya keluh sehingga sekedar untuk berkata – kata saja rasanya sangat sulit sehingga dia hanya mampu terdiam membisu.
Setelah membereskan perlengkapan ibadahnya, Ardan bergegas keluar kamar untuk menghilangkan penat yang ada.
Kaki Ardan melangkah menuju dapur untuk membuat secangkir kopi hitam agar rasa penat dikepalanya bisa sedikit reda.
Setelah jadi,dia membawa kopi yang mengepul tebal itu ke teras yang ada di halaman belakang rumah dan duduk dikursi rotan yang ada disana.
Meski angin malam terasa dingin menusuk kulit, tapi rasa panas yang mendera hatinya menyamarkan rasa dingin yang ada.
Seteguk demi seteguk kopi hitam panas itu menemani Ardan melewati malam kelam sambil duduk bersandar menatap langit cerah diatas sana.
Bulan sabit yang berada dilangit terus ditatapnya sambil sesekali mulutnya menyemburkan asap putih tebal dari rokok yang dihisapnya.
Entah sudah berapa pak bungkus rokok yang dihisapnya malam ini agar kegelisahan hatinya bisa menghilang.
Dia sama sekali tak menyangka jika dia akan merasa jatuh cinta sedalam ini terhadap Azkia, istri yang kini tak bisa lagi dia miliki.
Jika saja pernikahan mereka tak diawali dengan air mata mungkin Azkia akan memeluk Ardan tanpa ragu dan menguatkannya.
Tapi rasa sakit yang pernah hadir membuatnya menarik diri dan membunuh semua harapan serta rasa cintanya terhadap Ardan.
Azkia hanya mampu menatap nanar tubuh suaminya yang terlihat lebih kurus dan ringkih daripada biasanya.
POV AZKIA
“ Hey….”
“ Kenapa kamu terus muncul dan mempengaruhi perasaanku….”
__ADS_1
“ Jika terus begini maka kamu akan kembali ditindas dan disakiti…..”, teriaknya tak terima.
“ Kamu sangat egois….”
“ Maka dari itu aku muncul….”
“ Apa kamu tidak lihat bagaimana menyesalnya suamiku….”
“ Tubuhnya semakin kurus dan tak terawat….”
“ Kurasa dia sudah benar – benar suda merasa menyesal sekarang…. ”, ucap jiwa asli Azkia sedih.
“ Inilah yang aku tak suka darimu….”
“ Kamu lemah dan mudah terpedaya….”
“ Apa kamu tidak ingat perlakuan iblis itu kepadamu….”, teriaknya penuh amarah.
Aku sadar jika apa yang diucapkan bagian diriku yang lainnya itu benar adanya. Tapi, melihat lelaki yang sempat bertahta dalam hatiku sekian lama terlihat putus asa seperti ini hatiku juga merasa sangat sedih.
Meski aku berkata jika sudah tak mencintai lagi, tapi bagian terdalamku menolak dan rasa cinta itu masih tersisa meski tak sebesar sebelumnya.
Bagian dari diri Azkia merasa marah waktu dia mendengar suara hati terdalam Azkia yang masih menyisakan setitik cinta untuk Ardan.
Dukkk…
Dukkk…
“ Apa yang kau lakukan ?!!!....”, teriak Azkia terkejut.
“ Tentu saja mengubur dalam – dalam rasa cinta itu agar tak bisa lagi muncul kepermukaan….”, ujarnya sambil menekan dalam – dalam rasa cinta itu didalam hatinya hingga sinar pink tersebut tak tampak lagi.
Azkia tiba – tiba merasakan sesak ketika rasa cinta tersebut cahayanya benar – benar menghilang hingga membuatnya kembali melemah.
Tiba – tiba saja bagian dari dalam diri Azkia yang lain menjadi lebih kuat daripada sebelumnya dan berhasil menyegel jiwa aslinya.
“ Jika tahu sinar pink tersebut bisa melemahkannya, sudah sedari lama aku hilangkan….”, ujarnya puas.
POV END
Shanum dan Shanas bersama bik Surti serta Ardan masih setia mendampingi Azkia yang masih belum juga membuka mata setelah pingsan dibawah jendela.
Untungnya pendengaran Shanaz cukup bagus sehingga suara sekecil apapun bisa dia dengar. Jadi tak heran jika saat Azkia jatuh pingsan wanita muda itu segera bergegas kekamar majikannya.
__ADS_1
Setelah Azkia siuman, bik Surti segera memberikan obat untuk dikonsumsi majikannya itu agar bisa kembali tenang.
“ Obat apa itu bik…”, tanya Ardan curiga.
“ Vitamin den….”, ucap bik Surti berbohong.
Ardan yang tak puas dengan ucapan bik Surti hanya bisa mendesah pasrah ketika dua wanita muda pengawal sang istri menatapnya tajam.
Shanaz dan Shanum sudah tahu jika yang diminum oleh Azkia adalah lithium yaitu obat penyeimbang suasana hati yang diberikan oleh psikiater yang menanggani Azkia.
Bik Surti diam – diam mulai menghubungi dokter Adrian setelah melihat perubahan emosi Azkia yang sangat drastis dua hari terakhir ini.
Meski tak menceritakan seluruhnya, tapi bik Surti sudah menceritakan garis besar apa yang menjadi penyebab emosi Azkia menjadi tak stabil kepada Shanum dan Shanaz dengan harapan kedua wanita muda itu bisa bertindak cepat seandainya hal seperti ini terjadi pada Azkia ketika dirinya tak ada.
Kedua pengawal wanita inilah yang menyimpan botol obat yang diberikan oleh bik Surti yang akan digunakan seandainya terjadi lagi hal seperti ini dimasa depan.
Begitu meminum obat tersebut, suasa hati Azkia tiba – tiba saja menjadi stabil sehingga dia kembali terlelap karena terlalu lelah.
Shanaz dan Shanum tak kembali kedalam kamar mereka dan lebih memilih menemani Azkia sehingga tak ada alasan bagi Ardan untuk tetap berada dalam kamar istrinya tersebut.
Begitu turun, Ardan langsung menghentikan langkah kaki bik Surti yang sangat terlihat ingin cepat menghindarinya.
“ Apa benar obat yang diminum oleh Azkia tadi adalah vitamin bik….”
“ Jawab dengan jujur….”, ucap Ardan mengintimidasi.
“ Kata mbak Shanaz tadi begitu den….”, ucap bik Surti gugup.
“ Lho, bukannya bibik tadi yang memberikan obat itu kepada Azkia ?...”, tanya Ardan curiga.
“ Benar den, tadi bibik yang memberikan obat itu ke non Azkia….”
“ Tapi obat itu bibik dapat dari non Shanaz yang mengatakan jika kondisi non Azkia beberapa hari ini sedang drop sehingga tiap malam harus minum vitamin itu….”, ucap bik Surti berbohong.
Wajah bik Surti yang terlihat meyakinkan membuat Ardan percaya dan membiarkan wanita tua itu kembali kedalam kamarnya untuk beristirahat.
Semua yang dikatakan oleh bik Surti atas perintah Shanaz yang sudah bisa memprediksi jika suami Azkia itu pasti akan menanyakan masalah tersebut kepadanya.
“ Obat apa itu sebenarnya karena aku tak percaya jika itu adalah vitamin biasa….”, batin Ardan curiga.
Shanaz yang melihat Ardan menanyai bik Surti diam – diam menghubungi Jacob. Bosnya itu harus tahu mengenai penyakit Azkia karena menurutnya kondisinya cukup mengkhawatirkan.
Dia menduga jika pingsannya Azkia ini bukanlah hal yang wajar karena cukup tahu sejarah pernikahan toxic yang selama ini wanita itu jalani.
__ADS_1