AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 78


__ADS_3

Hosh....  hosh....  hosh....


Azkia kembali terbangun menjelang dini hari setelah memimpikan mantan suaminya. Kali ini dia harus berlari agar Ardan tak membawa pergi putra yang telah dilahirkannya.


“ Apa ini ?.....”


“ Kenapa mimpi ini seperti cerita bersambung.....”


“ Apa ini sebuah pertanda.....”, gumannya ketakutan.


“ Jam 3.15 dini hari....”


“ Waktu yang sama setiap harinya....”, Azkia berucap dengan wajah panik.


Dulu, ketika Azkia masih kecil neneknya pernah berkata jika kamu mengalami mimpi diatas jam satu malam hingga jam tiga dini hari maka itu adalah suatu pertanda.


Tapi jika mimpi itu terjadi dibawah jam dua belas malam maka itu semua hanyalah bungga tidur semata.


Selama ini Azkia tak terlalu mempercayai apa yang pernah neneknya tersebut katakan karena tak pernah mengalaminya sendiri.


Tapi kali ini berbeda, dia mengalami mimpi dan terbangun dijam yang sama setiap hari hampir selama satu minggu ini.


Azkia bisa memastikan jika dia bermimpi diatas jam satu malam karena dengan kandungan yang semakin membesar dia tiap malam harus pergi kekamar mandi untuk buang air kecil.


Dan biasanya Azkia setiap kali hendak kekamar mandi selalu melihat kearah jam bulat yang menempel apik di dinding kamarnya.


Tiap hari rata – rata Azkia akan kekamar mandi sekitar jam dua belas hingga jam setengah satu malam sebelum pada akhirnya dia tertidur dan kembali memimpikan mantan suaminya tersebut.


Akibat mimpi yang terus berlanjut tersebut tak ayal juga mempengaruhi kondisi moodnya setiap hari, seperti pagi ini dia tampak resah dan gelisah.


Hal itu tentu saja ditangkap dengan jelas oleh Tracy. Tapi karena Azkia sepertinya enggan untuk menceritakan hal apa yang menganggunya, diapun tak bisa memaksa.


Tracy hanya bisa memberikan perhatian lebih dan sering menghubunginya melalui pesan karena begitu mengkhawatirkan wanita yang dianggap seperti putri bungsunya itu mengingat jika usia Azkia satu tahun lebih muda daripada Sindy putrinya.


“ Hati – hati ya sayang....”


“ Jika capek, langsung istirahat jangan dipaksakan.....”


“ Ingat kandunganmu sudah semakin besar.....”, ucap Tracy sambil mengusap kepala Azkia dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“ Terimakasih mom....”, jawab Azkia hangat.


“ Tenang saja mi, aku tak akan membuat Azkia kelelahan dikantor....”, ucap Sindy tersenyum lebar.


Keduanya pun segera berangkat menuju kantor karena mereka ada meeting bulanan dengan para pemegang saham pagi ini.


“ Sudahlah mi, jangan cemas....”


“ Azkia tahu batas kekuatan tubuhnya sendiri....”, ucap Watson sambil mencium kening istrinya dengan lembut.


“ Apa papi yakin jika lelaki itu tak menunjukkan pergerakan......”, tanya Tracy penuh selidik.


“ Dari kabar yang kuterima, seharusnya siang nanti lelaki itu akan bertolak  pulang kenegaranya....”, ucap Watson sebelum naik keatas mobilnya.


Watson yang tak ingin istrinya terlalu cemas segera menghubungi anak buahnya agar laporan mereka bisa didengar langsung oleh Tracy.


Begitu mendengar langsung, Tracypun merasa sedikit lega meski dalam hati kecilnya dia masih merasa khawatir melihat kondisi Azkia beberapa hari terakhir ini.

__ADS_1


“ Baiklah, siang nanti aku akan membawa makan siang kekantor untuk makan bersama Azkia dan Sindy...”


“ Kali ini aku akan berusaha untuk mengorek apa yang menjadi kegelisahan putriku itu....”, batin Tracy antusias.


Sementara itu dikantor, setelah meeting dengan para pemegang saham Sindy segera membereskan beberapa berkasnya untuk meninjau pabrik mereka yang baru saja dibuka bulan kemarin.


“ Kamu tak apa – apa kan aku tinggal sendiri....”, tanya Sindy cemas.


“ Berangkatlah, aku tidak apa – apa....”


“ Ada Jenny disini.....”, ucap Azkia sambil mengedipkan kepada satu mata kepada asisten pribadinya itu.


“ Tenang saja bos....”


“ Non Azkia aman bersamaku....”, ucap Jenny meyakinkan.


Dia sangat tahu kekhawatiran Sindy karena dia juga merasakan hal yang sama melihat beberapa hari ini jika Azkia sering terdiam melamun dengan pandangan kosong kedepan.


“ Kabari aku segera begitu ada sedikit hal yang janggal....”, bisik Sindy sebelum keluar ruangan.


Jenny mengangguk patuh dan diapun segera menyiapkan beberapa berkas yang akan Azkia gunakan untuk meeting dengan departemen teknik siang nanti.


“ Apa ini semua penawaran mesin terbaru.....”, tanya Azkia sambil mengamati proposal yang ada diatas mejanya.


“ Benar nona....”


“ Itu sudah saya seleksi berdasarkan apa yang kita perlukan untuk pabrik baru tersebut....”, ucap Jenny menjelaskan.


“ Ok, akan aku lihat satu persatu....”


“ Kamu bisa pergi....”, ucapnya sambil mulai membuka lembar  demi lembar proposal yang ada dihadapannya.


Untuk itulah siang ini Azkia berencana mengadakan meeting dengan bagian teknik agar dia bisa membicarakan semua hal yang berkaitan dengan revisi bagian pabrik dan juga mengenai mesin – mesin yang akan digunakan disana.


Azkia yang tampak fokus mengenai proposal yang ada ditangannya tiba – tiba berkeringat dingin sambil meringgis kesakitan.


Drttt.....


Bunyi ponsel diatas mejanya tak dia hiraukan dan Azkiapun segera menekan tombol merah diatas mejanya.


Jenny yang baru saja masuk setelah melihat bel merah dimejanya menyala langsung panik melihat wajah Azkia pucat pasi dengan keringat dingin mengucur deras ditubuhnya.


Setelah membantu membaringkan tubuh bosnya diatas sofa dan mengambilkan segelas air hangat, Jennypun melihat ponsel Azkia yang sedari tadi tak berhenti berdering pun langsung mengangkatnya begitu tahu siapa yang sedari tadi menghubungi Azkia.


“ Pagi tuan muda....”, jawab Jenny sopan.


Melihat jika ponsel Azkia yang mengangkat adalah asistennya membuat hati Louis menjadi tak tenang.


“ Dimana Azkia ?....”, tanya Louis langsung.


“ Nona muda sedang berbaring diatas sofa tuan....”


“ Tadi nona mengeluh perutnya sakit tapi tidak mau diajak kerumah sakit.....”, ucap Jenny mengadu.


Mendengar jika Azkia sedang sakit tiba - tiba saja jantung Louis berdetak kencang, ada rasa takut serta khawatir yang tinggi didalam hatinya.


“ Aku akan segera kesana....”

__ADS_1


“ Jaga dia dengan baik....”, perintah Louis tegas.


Hati Louis semakin tak karuan waktu dia mendengar suara rintih kesakitan Azkia sebelum teleponnya ditutup oleh Jenny.


Bayangan masa lalu tentang mendiang istrinya, Elisabeth kembali berputar dalam benaknya membuat Louis didera ketakutan teramat sangat.


“ Tidak....”


“ Tidak....”


“ Ini tak boleh lagi terjadi padaku....”


“ Aku tak ingin Imelda kembali kehilangan mommynya....”


“ Cukup kau ambil mommy kandung Imelda Tuhan....”


“ Kali ini jangan biarkan putriku kembali kehilangan mommynya....”, ucap Louis panik.


Dengan kecepatan tinggi dia memacu mobilnya agar bisa sampai dia kantor Azkia dan segera membawa wanita itu kerumah sakit.


Begitu sampai diloby, Louis langsung melempar kunci mobilnya pada security yang bertugas didepan dan berlari menuju lift dengan cepat.


Semua karyawan yang melihat putra sulung Watson tersebut berlari dengan wajah panik menuju lift khusus untuk pimpinan merasa sedikit binggung dan saling berpandangan satu dengan yang lainnya.


“ Ada apa ?....”


“ Apa ada masalah yang gawat ?....”, tanya resepsionis pada salah satu karyawan yang baru turun kebawah dengan wajah penasaran.


“ Tidak ada apa – apa....”


“ Semua berjalan seperti biasa....”, katanya sambil melirik temannya yang mengangguk setuju dengan ucapan tersebut.


Brakkk.....


Louis membuka pintu ruang kerja Azkia dengan kasar dan melihat Jenny sedang mengelap wajah dan kedua tangan Azkia dengan handuk kecil.


“ Nona terus berkeringat dingin sambil merintih kesakitan sejak tadi....”, ucap Jenny penuh kekhawatiran.


Begitu Louis berjalan mendekat, Azkiapun membuka kedua matanya dan menatapnya sayu.


“ Louis....”, ucap Azkia lemah.


“ Bertahanlah....”


“ Aku akan segera membawamu kerumah sakit......”, ucap Louis yang langsung mengangkat tubuh munggil Azia dalam dekapannya.


Dibelakang, Jenny mengikuti langkah cepat Louis sambil membawakan tas milik Azkia.


Semua orang segera memberi jalan ketika melihat tuan muda pertama Watson tersebut mengendong Azkia dalam dekapannya.


“ Apa bu Azkia akan melahirkan....”


“ Kurasa begitu....”


“ Pantas saja pak Louis terlihat sangat panik....”


“ Mana bu Sindy sedang tidak ada ditempat lagi....”

__ADS_1


Itulah serangkaian bisik – bisik karyawan yang melihat kejadian tersebut sebelum mereka beranjak kembali bekerja seiring dengan mobil Louis meninggalkan gedung perkantoran.


__ADS_2