AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 94


__ADS_3

“ Are you ready....”, tanya Louis sambil tersenyum lebar.


“ Ok....”, jawab Azkia singkat.


Setelah menarik nafas dalam beberapa kali, Azkiapun melangkah masuk kerumah sakit sambil mengenggam tangan Louis.


“ Kamu bisa Azkia....”


“ Kamu bisa.....”, batinnya menyemangati diri sendiri.


Ardan yang tak sengaja melihat Azkia datang menuju ruang dimana dirinya dirawat sedikit terkejut, namun tak menampik jika hatinya merasa bahagia.


Tapi begitu dia melihat jika tangan mantan istrinya digandeng dengan mesra oleh Louis yang datang dari arah belakang menyusul langkah Azkia,  senyum lebar diwajah Ardan langsung sirna.


Apalagi selama perjalanan keduanya terlihat berbkincang dengan hangat sambil sesekali tersenyum dengan tatapan penuh cinta.


Ardan yang melayang mengikuti mereka hanya bisa memegang dadanya yang terasa sangat nyeri melihat kemesraan tersebut.


Melati yang baru saja datang dari kantin setelah membeli sarapan terbelalak begitu dia melihat mantan menantunya itu berjalan menuju kearahnya.


“ Azkia....”


“ Apa itu benar kamu nak.....”, ucap Melati dengan bibir bergetar.


Azkia pun langsung menghambur kedalam pelukan Melati yang sudah dia anggap sebagai ibundanya sendiri dengan penuh kerinduan.


“ Benar....”


“ Ini Azkia bun.....”, ucapnya sambil memeluk erat Melati.


Waktu Azkia memeluk Melati dapat dia rasakan jika mantan ibu mertuanya itu sangat kurus sekarang hingga tulang tubuhnya terasa waktu dia peluk tadi.


“ Bunda jarang makan ya kok jadi kurusan begini....”, ucap Azkia sedih.


“ Bagaimana bunda bisa makan nak jika Ardan masih terbaring tak sadarkan diri seperti itu....”, jawab Melati sambil menitikkan air mata.


Melihat melati menangis tersedu – sedu, Azkia pun segera membawa mantan ibu mertuanya itu duduk dikursi sambil mengusap bahunya pelan untuk menenangkannya.


“ Apa kamu ingin mengunjungi Ardan....”, tanya Melati sesenggukan.


“ Iya bun....”


“ Azkia ingin mengunjungi Ardan....”, ucap Azkia mengutarakan tujuannya.


Setelah berbicara dengan perawat yang berjaga, Azkiapun diijinkan untuk masuk setelah dia menganti pakaiannya dengan baju steril.


Sementara itu diluar Louis mulai berbicara dengan Melati mengenai pelanggaran perjanjian yang telah mereka sepakati bersama.


Melati yang memang tak tahu menahu mengenai tindakan Vera sangat terkejut waktu Louis mengatakan jika adiknya Vera sengaja datang mencari Azkia agar mau mengunjungi Ardan dirumah sakit.


Louis yang melihat Melati cukup terkejut setelah mendengar ceritanya, mulai bisa menebak jika Vera melakukan semuanya atas inisiatifnya sendiri.


Maka dari itu Louispun meminta Melati untuk memanggil Vera kemari karena ada beberapa hal yang ingin dia bicarakan dengan wanita itu.

__ADS_1


Melati yang seringkali dipesan oleh suaminya agar tak mencari masalah dengan keluarga Watson selama Ardan dirawat pada akhirnya hanya bisa pasrah menuruti keingginan Louis untuk segera menghubungi Vera agar datang secepatnya kerumah sakit.


Sementara itu didalam ruang ICU, Azkia yang sudah berganti pakaian steril berjalan pelan menuju ranjang tempat dimana Ardan berbaring selama beberapa bulan ini.


Tubuh Ardan yang kurus dan ditancapi berbagai macam alat untuk menopang kehidupannya membuat hati Azkia merasa pilu.


Kedua mata yang tertutup rapat tersebut terlihat sangat cekung dengan tulang pipi yang terlihat menonjol meski tak menghilangkan ketampanan Ardan namun kondisi mantan suaminya itu membuat hati Azkia sedih.


Azkiapun duduk disamping tubuh Ardan yang terbaring lemah sambil membacakan doa meminta kesembuhan kepada Sang Maha Kuasa.


Ardan yang mendengar Azkia memanjatkan doa untuknya dengan tulus tak bisa lagi membendung rasa haru dalam hatinya.


Wanita yang selama ini dia siksa dan sakiti dan terus menerus dia hina nyatanya masih mau mendatangi dan mendoakan kesembuhannya dengan tulus.


Jika saja waktu bisa diputar kembali, Ardan bersumpah dia akan mengabdikan hidupnya demi bisa membahagiakan istrinya.


Namun sayangnya semua kesempatan yang ada telah berlalu dan hanya menyisakan penyesalan yang teramat dalam sekarang.


“ Ardan, tahukah kamu jika dulu aku sangat mencintaimu....”


“ Meski kamu menyakiti dan menghinaku setiap hari namun aku tetap bertahan karena rasa cinta yang begitu dalam terhadapmu....”


“ Bahkan aku rela membohongi semua orang, termasuk papaku hanya demi bisa terus bersama dengan orang yang aku cintai....”


“ Cinta dan benci itu beda tipis.... ”


“ Karena sangat dalam mencintaimu maka begitu aku sudah kecewa maka aku juga bisa membencimu begitu dalam.... ”


“ Bahkan karena dalamnya rasa benciku padamu, aku sempat menolak kehadiran anak kita....”


“ Untungnya aku dikelilingi oleh orang – orang yang menyayangiku sehingga akupun bisa benar – benar bisa menghapus rasa benci itu sekarang....”


“ Rasa benci yang tanpa sadar sempat menggerogoti hatiku secara berlahan sekarang telah sirna....”


“ Untungnya aku cepat tersadar akan semua itu dan mulai menyambut kebahagiaan yang ada dihadapanku....”


“ Sekarang, aku dengan ikhlas memaafkan semua kesalahan yang pernah kamu buat kepadaku....”


“ Jadi, bangunlah segera karena aku telah memaafkanmu dengan sepenuh hati....”, ucap Azkia tulus.


Ardan yang mendengar semua curahan hati Azkia hanya bisa menangis tersedu – sedu hingga tiba – tiba cahaya putih terang menyedot jiwanya untuk segera masuk kedalam tubuhnya.


Azkia yang melihat air mata keluar dari sudut mata Ardan diikuti dengan jemarinya yang bergerak segera keluar untuk memanggil perawat yang berjaga.


Perawat yang mendengar laporan Azkia segera masuk kedalam ruangan dan tak lama kemudian diapun segera memanggil dokter yang bertanggung jawab atas Ardan.


“ Ada apa dengan Ardan....”


“ Apa kondisinya semakin kritis....”, tanya Melati panik.


Melati tentunya sangat panik waktu dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan Ardan dengan wajah tegang setelah Azkia keluar.


“ Tidak bunda....”

__ADS_1


" Kondisi Ardan tidak kritis....."


“ Justru sebaliknya, Ardan sudah sadar sekarang....”, ucap Azkia menangis haru.


" Apa...."


" Ardan sudah sadar....", tanya Melati mengulangi ucapan Azkia.


" Benar bun....."


" Ardan sudah sadar.....", ucap Azkia berusaha meyakinkan Melati.


Mendengar hal itu Melatipun langsung memeluk tubuh Azkia dengan erat sambil menangis penuh kebahagiaan.


" Terimakasih...."


" Terimakasih nak....."


" Berkatr kamu Ardan sudah sadar sekarang....", ucap Melati berderai air mata.


Keduanya pun berpelukan dengan erat menyambut kabar bahagia tersebut karena Ardan pada akhirnya bisa sadar setelah beberapa bulan terbaring koma.


Sementara itu dilain tempat, Louis dan Vera terlihat duduk berhadapan di café depan rumah sakit dengan wajah tegang.


Vera tak terima disalahkan begitu saja oleh Louis karena merasa dirinya tak masuk dalam perjanjian yang dibuat oleh kakak dan suaminya.


Selain itu, Vera juga menganggap jika Louis tak berhak untuk melarangnya menemui Azkia karena lelaki itu bukan siapa – siapanya Azkia.


“ Kamu tak berhak melarang Azkia untuk bertemu dengan siapapun meski kamu merupakan calon suami Azkia....”, ucap Vera lantang.


“ Lalu\, apa hak anda meminta Azkia datang untuk menemui b*****n yang telah menghancurkan hidup dan masa mudanya dengan menggunakan nama kakak anda.....”\, balas Louis dengan penuh penekanan.


Vera yang tak terima keponakannya dikatakan b*****n oleh Louis semakin beringas dan mengeluarkan kata – kata kasar bernada provokatif.


Namun dengan tenangnya Louis membalikkan semua kata – kata yang dilontarkan oleh Vera hingga membuatnya diam karena merasa terpojok.


“ Tidak...”


“ Aku tak akan membiarkan Azkia menikah dengan lelaki kejam ini....”


“ Aku akan mencari cara agar Azkia bisa melihat wajah lelaki itu sesungguhnya....”, batin Vera geram.


Louis yang melihat jika Vera tampaknya sedang merencanakan sesuatu yang menurut fellingnya tak baikpun segera memberi peringatan keras.


“ Sebaiknya batalkan semua hal yang anda rencanakan jika tak ingin menyesal....”, ancam Louis sambil menyeringai tajam.


Vera yang merasakan aura intimidasi dari Louis hanya bisa terdiam tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun hingga deringan ponsel Louis membuatnya bernafas lega.


“ Brengsek !!!....”


“ Auranya begitu mencekik hingga aku tak bisa bernafas....”, guman Vera geram.


Vera segera menyesap minumannya sampai tandas begitu Louis menghilang dibalik kerumunan lalu lintas yang ada didepan cafe.

__ADS_1


Wajah Vera yang semula menggelap langsung berganti ceria ketika Melati menghubunginya dan mengatakan  jika Ardan telah sadar dari komanya.


__ADS_2