AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 36


__ADS_3

Hari ini cuaca begitu cerah dan angin yang berhembus sangat sejuk membuat semua orang ingin menikmati waktu berada diluar ruangan lebih lama lagi.


Langit pagi yang cerah membuat mood Meysa sangat baik hari ini seiring bersedianya Ardan untuk menemuinya siang ini setelah lelaki itu menghindar hampir satu minggu lamanya tanpa alasan yang jelas.


Maka dari itu, hari ini Meysa berniat untuk mencari tahu penyebabnya sekalian memberi kejutan kepada Ardan mengenai perselingkuhan istrinya.


“ Akhirnya kesempatan ini datang juga…..”


“ Sempurna….”


“ Dengan begini Ardan akan semakin membenci Azkia sehingga kesempatanku menjadi nyonya Bimantara terbuka lebar…..”, guman Meysa tersenyum senang.


Meysapun  mulai merencanakan semua hal yang akan dia lakukan nanti dengan matang agar Ardan bersimpati terhadapnya dan kembali memperhatikannya.


Suasana hati Meysa yang begitu cerah dan berwarna tampaknya juga dialami oleh Azkia saat ini setelah keluar dari rumah sakit mengantar Ardan melepaskan jahitan luka ditelapak tangannya.


Namun keceriaan yang ada diwajah Azkia tak menurun diwajah Ardan yang mukanya terus ditekuk selepas keluar dari ruang praktek dokter.


Ardan merasa tak puas karena merasa jika dokter yang  merawatnya  tidak peka dengan isyarat yang dia berikan agar luka jahitnya tidak dilepaskan hari ini.


Selama ini Ardan telah mengupayakan segala cara untuk membuat luka jahitannya basah sehingga tak cepat membaik terus mengalami kegagalan dan hari ini adalah puncaknya.


Pada awalnya dokter yang menangganinya seakan mengerti dengan beberapa kode yang diberikan oleh Ardan, namun endingnya tetap tak sesuai harapan.


Luka jahitnya dinyatakan sembuh oleh dokter sehingga kesempatannya menikmati kebersamaan dengan sang istri akan musnah mengingat Azkia pasti setelah ini akan kembali bersikap dingin dan menjauh darinya.


“ Apa yang harus aku lakukan sekarang agar dia benar – benar bisa memaafkanku….”, batin Ardan gusar.


Sepanjang jalan Ardan memikirkan banyak rencana dalam otaknya agar istrinya tersebut mau memaafkannya dan memulai semuanya dari awal.


Namun dari semua hal yang dia pikirkan tak ada satupun yang benar - benar layak untuk dia coba hingga tak terasa mobil yang dia naiki sampai dihalaman depan rumah.


Begitu sampai didepan rumah, Azkia tak ikut turun membuat Ardan yang baru saja ingin menutup pintu menautkan kedua alisnya heran.


“ Aku akan langsung pergi kekantor sekarang….”, ucap Azkia singkat.


“ Kamu nggak masuk dulu….”, ucap Ardan penuh harap.


“ Masih banyak urusan yang harus aku selesaikan dikantor…..”, kata Azkia dengan nada datar.


Melihat istrinya sama sekali tak ada niatan untuk turun dari mobil, tak ada pilihan lain Ardanpun menutup pintu mobil dan berjalan masuk kedalam rumah seiring mobil yang membawa Azkia pergi melesat meninggalkan halaman rumah.


Drtttt…..

__ADS_1


Baru saja kaki Ardan melangkah kedalam rumah ada sebuah pesan masuk yang membuat wajah Ardan yang sudah kusut semakin bertambah kusut.


“ Baiklah….”


“ Kita selesaikan satu persatu permasalahan yang ada…..”, guman Ardan sambil melangkahkan kakinya mengambil beberapa berkas yang akan dia bawa nanti.


Setelah Robby datang, Ardan pun segera berangkat menuju restoran yang telah dipesan oleh Meysa sebagai tempat pertemuan keduanya.


Didalam perjalanan, tubuh Ardan langsung menegang begitu temannya yang pernah dimintai tolong untuk mencari tahu mengenai semua hal yang  Meysa lakukan didalam rumah sakit tempatnya bekerja memberinya kabar.


“ Apa kamu yakin dengan semua hal yang kamu ucapkan ?.....”, tanya Ardan berusaha kembali memastikan.


" Tentu saja....."


“ Lampiran file yang aku kirim bisa kamu lihat dan aku jamin keabsahannya….”, ucap temannya tegas.


“ Baiklah….”


“ Terimakasih untuk semuanya….”


“ Jika ada hal yang bisa aku bantu, jangan segan untuk menghubungiku….”, ucap Ardan datar.


Aura dingin mulai mendominasi suhu yang ada dalam mobil sehingga membuat bulu kudu Robby berdiri seketika.


Diapun berusaha membaca file yang dikirimkan oleh Mark kepadanya secara berlahan dan berulang kali hanya untuk memastikan jika dia tak salah mengerti mengenai apa yang tertulis disana.


Berapa kalipun Ardan mengulangi membaca kata demi kata nyatanya hal itu sama sekali tak merubah fakta yang ada mengenai Meysa yang berbohong tentang penyakitnya.


“ Tidak….”


“ Aku masih tidak percaya jika Meysa bisa membohongiku sesuatu hal yang serius seperti ini….”, guman Ardan sarat akan kekecewaan.


Sekali lagi Ardan merasa terpukul dengan kebohongan demi kebohongan yang Meysa buat untuk menarik perhatian dan rasa simpati darinya.


Robby yang melihat gelagat tak baik pada Ardan berusaha menyadarkan teman sekaligus bosnya tersebut dengan menyentuh tangan Ardan pelan.


“ Apa kamu baik – baik saja ?….”, tanya Robby khawatir.


“ Tidak….”


" Aku kacau sekarang..."


“ Aku sama sekali tak menyangka jika Meysa bisa membohongiku sejauh ini….”, ucap Ardan dengan raut wajah antara kecewa dan marah menjadi satu.

__ADS_1


Kali ini Ardan benar - benar sangat terpukul dengan kabar yang baru saja diterimanya tersebut dan membuatnya tak bisa mentoleransi lagi semua perbuatan Meysa.


Meski tak bisa memaafkan atas kebohongan yang telah wanita itu lakukan dimasa lalu, tapi mengenai penyakit yang dideritanya Ardan masih berharap Meysa tidak akan pernah membohonginya.


“ Meysa tidak sakit….”


“ Dia berbohong hanya untuk menarik  rasa simpatiku….”, desis Ardan penuh amarah.


Robby yang melihat Ardan benar – benar terpukul memilih diam dan mendengarkan semua yang Ardan ceritakan tanpa sekalipun berniat untuk menghentikan, menyela ataupun bertanya sebelum ceritanya usai.


“ Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang….”, tanya Robby sedikit cemas.


Dia sangat tahu jika Ardan sudah dikhianati maka dia tak akan segan untuk menghabisi siapapun itu, meskipun itu adalah anggota keluarganya sendiri.


Dan kali ini Robby ingin tahu apa yang akan Ardan lakukan karena dia tak ingin temannya tersebut hilang kendali hingga sampai membunuh Meysa.


“ Aku akan membuatnya berhenti sekarang juga….”


“ Sudah cukup aku tertipu dengan wajah polos dan tak berdosanya itu…”, ucap Ardan penuh amarah.


“ Apa perlu aku temani masuk…..”, ucap Robby menawarkan diri.


“ Tidak perlu….”


“ Kamu pergi saja ke century dan cari Liam….”


“ Ambil surat pernyataan yang telah Rudolf buat yang ada ditangannya….”


“ Jika bisa, kamu cari tahu dimana Rudolf dan siapa yang mengamankannya sekarang….”, perintah Ardan tegas.


Robby hanya bisa mengangguk pasrah karena surat yang akan dia ambil tersebut lebih penting dibandingkan dengan ikut masuk kedalam restoran bersama Ardan.


Meski hatinya merasa tak tenang membiarkan Ardan menemui Meysa sendirian tapi dia juga tak bisa berbuat apapun jika tak ingin Hilman sadar dan kabur sebelum bukti untuk menangkapnya lengkap.


“ Jika ada sesuatu, cepat hubungi aku….”, ucap Robby dengan tatapan cemas.


Setelah melihat Ardan masuk kedalam restoran, Robbypun segera menekan gas dan melaju ke century untuk bertemu dengan Liam.


“ Semoga aku tak lama nanti disana sehingga bisa kembali kesini tepat waktu….”, batin Robby bermonolog.


Meysa yang mengetahui jika Ardan telah datang dari sopir yang disuruhnya menunggu kedatangan mantan kekasihnya itu tersenyum lebar dan mulai memoles wajahnya dengan bedak dibeberapa bagian agar kelihatan pucat.


Demi penarik rasa simpati Ardan, siang ini Meysa benar – benar berdandan seperti seorang yang berpenyakitan.

__ADS_1


Semua yang dilakukan demi ambisinya untuk menjadi nyonya Bimantara dan menguasai hartanya.


__ADS_2