
Malam semakin larut dan Azkia yang berkendara diluar pada akhirnya memutuskan untuk pulang kerumahnya setidaknya disana ada bik Surti dan mang Ujang yang akan membelanya jika Ardan kembali datang dan berbuat hal nekat seperti tadi.
“ Aku juga harus minta beberapa bodyguard milik Jacob untuk berjaga dirumahku agar Ardan tak bisa lagi masuk….”, guman Azkia pelan.
Setibanya dirumah, mang Ujang yang memang sedang berjaga didepan kediaman bersama beberapa penjaga milik Faisal langsung mematikan rokoknya dan bangkit begitu melihat mobil Azkia mendekat.
“ Non Azkia….”
“ Apa ini benar – benar non…..”, ucap mang Ujang terharu.
“ Iya mang….”
“ Ini aku….”
“ Aku sudah pulang….”, ucap Azkia sambil mengenggam tangan keriput lelaki tua berbadan kekar tersebut dengan haru.
Mang Ujang segera membawa Azkia masuk dan membangunkan istrinya agar bisa menyiapkan teh hangat dan camilan untuk anak majikannya itu.
“ Apa benar non Azkia sudah kembali pak…..”, tanya bik Surti senang.
“ Benar bu….”
“ Sekarang non Azkia sedang berada dalam kamarnya….” , ucap mang Ujang bahagia.
Kedua pasutri yang sudah merawat Azkia sejak masih bayi merasa sangat sedih waktu mendapat kabar jika gadis itu diculik.
Bik Surti bahkan sudah dua hari ini tidak mau makan karena terus memikirkan Azkia yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri itu.
Tok tok tok……
Begitu ada tanggapan, bik Surti segera membuka handle pintu kamar Azkia dan masuk kedalam sambil membawa secangkir teh manis panas dan sepiring bolu pisang dalam nampan.
“ Diminum dulu tehnya non agar perut non Azkia hangat….”, ucap bik Surti lembut.
“ Makasih ya bik….”, ucap Azkia tulus.
Deg….
Melihat sorot mata Azkia, bik Surti mulai merasakan firasat buruk jika apa yang diduga beberapa hari terakhir ini benar adanya.
“ Sepertinya dugaanku beberapa hari ini benar….”, batin bik Surti bermonolog.
Bik Surti yang merasa jika Azkia berubah sejak kematian Ronan masih mencoba untuk mengusir prasangka yang ada dalam hatinya dan mengatakan jika semua hal yang dipikirkannya itu salah.
__ADS_1
Tapi malam ini, dapat bik Surti pastikan jika yang berada dihadapannya itu bukanlah Azkia asli tapi jiwa lainnya yang menguasai tubuhnya.
Setelah berbincang sebentar dengan Azkia, bik Surti yang saat ini sedang berada didalam kamarnya terlihat sangat gelisah.
Sambil memegang ponsel yang ada ditangannya, dia beberapa kali membuka dan menutup telapak tangannya yang berisi kartu nama seorang psikiater.
Psikiater yang dulu sempat menanggani Azkia ketika penyakit bipolar menyerangnya muncul karena terlalu sedih atas meninggalnya sang mama.
“ Apa aku harus menghubungi tuan Adrian ya….”
“ Tuan besar pernah berpesan jika suatu saat penyakit non Azkia kambuh maka aku harus segera menghubungi tuan Adrian…..”
“ Tapi, melihat dengan sifat non yang sekarang aku rasa itu lebih baik karena non Azkia tak akan mudah untuk ditindas….”, batin bik Surti resah.
Setelah menimbang – nimbang cukup lama pada akhirnya bik Surti pun kembali menaruh kartu nama Adrian didalam laci meja riasnya dan membiarkan Azkia dengan jiwa lainnya ini menjalani hidup.
“ Setidaknya sekarang non Azkia lebih tegas dan terlihat lebih ceria….”
“ Bahkan setelah kasus penculikan yang dialaminya non Azkia juga tampak terlihat sangat tenang seakan tak terganggu apapun meski dia terlihat sangat waspada….”, guman bik Surti bermonolog.
Semua itu bik Surti ucapkan untuk menenangkan hatinya bahwa keputusan yang diambilnya tidaklah salah tanpa dia tahu jika jiwa lain tersebut tetap dibiarkan itu akan sulit terkendali dan bisa membahayakan nyawa Azkia karena sifatnya yang lebih emosional dibandingkan jiwa aslinya.
Bik Surti tak menyadari jika ada masanya nanti Azkia akan merasa sangat terpuruk setelah mengalami masa - masa penuh percaya diri seperti sekarang yang bisa berakibat fatal dimana masa mania (istilah yang dialami penderita bipolar ) tersebut ada masa berakhirnya.
Jika hal itu sampai terjadi maka Azkia akan mengalami depresi berat hingga mengacu pada percobaan bunuh diri.
Dilain tempat, Ardan yang sudah mulai merasa lebih baik terpaksa meninggalkan apartemen milik Jacob tersebut sambil tertatih – tatih karena juniornya masih terasa ngilu.
Untung saja Ardan pergi dari sana karena tak lama setelah kepergiannya Jacob tiba di apartemennya dengan wajah merah padam menahan amarah yang teramat sangat.
Apalagi waktu tadi dia mendengar dari Azkia jika suaminya sempat ingin menyetubuinya dengan kasar membuat Jacob langsung mengobrak abrik seprei coklat yang berantakan akibat pergulatan yang terjadi tadi.
“ Brengsek kau Ardan !!!....”
“ Lihat saja, sebentar lagi aku akan membawa Azkia pergi jauh dan saat itu aku pastikan kamu tak akan pernah bisa menemukan keberadaannya lagi…..”, desis Jacob penuh amarah.
Ardan langsung merebahkan dirinya diatas ranjang sambil meringis begitu sampai didalam kamarnya dengan perasaan kesal.
“ Besok pagi aku harus ke Century untuk menemui langsung kuasa hukum Azkia dan menyuruhnya mencabut gugatan cerai yang Azkia ajukan……”, guman Ardan pelan.
Karena cukup lelah, tak membutuhkan waktu lama Ardanpun langsung memejamkan mata menuju alam mimpi.
Keesokan paginya, sesuai dengan apa yang sudah direncanakannya Ardanpun bergegas pergi ke Century dimana kantor kuasa hukum Azkia berada.
__ADS_1
Begitu sampai di Century, setelah memarkirkan mobilnya Ardanpun segera menuju lantai delapan belas dimana kantor MT Law berada.
MT Law adalah salah satu firma hukum terkenal diibukota karena kepiawaian Martin dalam memenangkan setiap kasus yang ditanganinya.
Sebenarnya Ardan sedikit terperangah waktu mendengar jika Martin lah yang menanggani gugatan cerai yang dilayangkan Azkia kepadanya.
Meski sudah mendengar sendiri bagaimana peragai dan watak Martin yang tak bisa disogok ataupun dipengaruhi, tapi Ardan masih berharap pengacara tersebut mau mendengarkan ucapannya dan mengabulkan keingginannya untuk tak bercerai dengan Azkia.
Setelah sampai diresepsionis, Robby yang sudah membuat janji temu untuk bosnya membuat Ardan tak kesulitan untuk bisa masuk kesana.
“ Silahkan pak Ardan….”
“ Tadi pagi sekretaris bapak sudah menghubungi kami…”
“ Anda sungguh beruntung karena pak Martin free pagi ini….”, ucap Gabrielle, sekretaris Martin yang tiba – tiba muncul dengan wajah ramah.
Ardan hanya berdehem menjawab ucapan wanita yang menjadi sekretaris Martin tersebut yang sedari tadi tampak berusaha untuk menggodanya dengan senyum dan tatapan nakalnya.
Wajah tegas dan sorot mata Ardan yang dingin membuat Gabrielle yang sedari tadi berusaha merayunya menjadi gugup.
Senyum lebar yang tadi terlihat jelas diwajah wanita tersebut tiba – tiba memudar seiring aura kemarahan dan intimidasi yang begitu kental keluar dari tubuh Ardan.
“ Bapak bisa menunggu disini….”
“ Sebentar lagi pak Martin akan tiba….”, ucap Gabrielle berusaha untuk tetap mempertahankan senyuman diwajahnya meski nyalinya sudah mulai menciut.
Begitu berada diluar ruangan, Gabrielle langsung menghirup udara sebanyak – banyaknya karena aura intimidasi yang Ardan keluarkan nyatanya mampu membuatnya sesak nafas.
“ Ya Tuhan….”
“ Serasa bertemu malaikat pencabut nyawa saja aku ini hingga ketakutan seperti ini….”, batin Gabrielle sambil mengelus dadanya berulang kali.
Meskipun terlihat menyeramkan ketika marah tapi pesona ketampanan wajah Ardan tak luntur bahkan semakin terlihat dalam kondisi seperti itu.
“ Orang tampan kaya’ gimanapun tetap kelihatan tampan….”
“ Apa gara – gara ini istrinya menceraikannya…. ”
" Dia sangat menyeramkan ketika marah......", batin Gabrielle penuh tanda tanya.
Lamunan Gabrielle buyar ketika suara langkah sepatu Martin terdengar. Setelah mendongak, dia bisa melihat jika pimpinanya itu sudah melangkah menuju ketempatnya berada saat ini.
“ Pagi pak….”
__ADS_1
“ Bapak sudah ditunggu pak Ardan Bimantara didalam…..”, ucap Gabrielle penuh hormat.
Martin melangkah masuk dengan tegap dan dagu terangkat seakan nama besar Bimantara sama sekali tak membuatnya goyah.