AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 86


__ADS_3

Disebuah ruangan yang didominasi warna putih dengan bau  obat – obatan sangat kental menyeruak diudara terlihat seorang lelaki tergeletak dengan berbagai macam alat yang menopang kehidupannya terpasang di tubuhnya.


Setelah melalui operasi selama enam jam, kondisi Ardan yang sempat stabil tiba – tiba kritis kembali setelah dia mengalami kejang beberapa kali.


Dan saat ini hanya alat terpasang ditubuhnya yang bisa membantunya untuk bertahan dalam keadaan koma tersebut.


Beberapa kali terlihat seorang perawat masuk kedalam ruangan untuk menyuntikkan obat kedalam infuse sekaligus mengecek kondisi pasien.


Merasa tak ada perubahan, setelah mengatur laju cairan infuse sang perawat pun kembali keluar dan kesunyianpun kembali menyapa.


Dalam gelapnya malam, tanpa disadari semua orang jiwa Ardan keluar dari dari raganya dalam kondisi linglung.


Ardan yang tak menyadari jika raganya masih terbaring diatas ranjang putih dengan berbagai alat yang menancap ditubuhnya berjalan keluar ruangan dengan sedikit binggung.


Dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sepi karena sudah hampir mendekati tengah malam saat ini jadi semua pintu kamar pun tertutup rapat.


Para penunggu juga sudah banyak yang tertidur lelap disamping ranjang pasien yang malam ini mereka temani.


Ardan terus melangkahkan kakinya tanpa arah dengan pandangan mata kosong hingga sosok lelaki tegap yang baru keluar dari lift menyita perhatiannya.


Diapun mengikuti langkah lelaki itu menuju parkiran dimana disana sudah ada seorang lelaki yang menunggunya kemudian menyerahkan sebuah paper bag kepadanya.


Setelah menerima paper bag yang Ardan perkirakan berisi pakaian tersebut, lelaki yang masih coba Ardan ingat namanya tersebut mulai berjalan masuk rumah sakit dan menunggu didepan lift yang masih tertutup.


Ardan terus saja membuntuti lelaki itu hingga dia masuk kedalam sebuah ruangan berisi seorang anak perempuan kecil dan wanita hamil yang berbaring lemah diatas ranjang dengan selang infuse menancap ditangannya.


“ Azkia.....”, guman Ardan lirih.


Sekarang dia ingat jika lelaki yang sedari tadi dibuntutinya adalah Louis, putra sulung Watson yang menjadi rivalnya untuk mendapatkan kembali hati mantan istrinya itu.


Setelah meletakkan paper bag diatas sofa, Louis membenahi selimut Imelda yang sedikit merosot dan dia pun beranjak mendekati Azkia yang terlihat tak nyaman dalam tidurnya.


Perlahan Louis mengangkat kepala Azkia dan menyelipkan satu tangannya kepundaknya untuk memeluk tubuhnya dengan erat.


“ Tidurlah dengan nyenyak....”


“ Jangan takut, aku akan menemanimu malam ini....”, bisik Louis tepat ditelinga Azkia.


Setelah mendapat bisikan dari Louis perlahan kening Azkia yang tadinya berkerut sudah mulai kembali seperti semula dan diapun dapat tidur dengan nyenyak sambil menghirup aroma yang akhir – akhir membuatnya tenang.


“ Hey !!!....”


“ Apa yang kamu lakukan !!!....”

__ADS_1


“ Lepaskan pelukanmu !!!.....”, teriak Ardan penuh amarah.


Dengan wajah penuh kecemburuan Ardan berusaha untuk melepaskan tangan Louis dari tubuh Azkia, tapi sekuat apapun Ardan mencoba dia tak bisa menyentuh tubuh Louis.


“ Kenapa aku tak bisa menyentuhnya.....”, ucap Ardan frustasi.


Ardan masih belum sadar jika dia saat ini hanyalah jiwa yang tak kasat mata. Bukan hanya tak bisa menyentuh tapi kehadiran dan suaranya juga tak mampu dilihat serta didengar oleh orang lain.


“ Hahahaaa.....”


“ Dasar bodoh.....”, celetuk seorang anak kecil yang tiba – tiba ada disamping Ardan membuatnya terkejut.


“ Siapa kamu....”


“ Dimana orang tuamu....”


“ Bagaimana bisa bocah kecil sepertimu berkeliaran sendiri malam – malam begini......”, ucap Ardan sambil melotot tajam.


Bukannya takut, melihat Ardan melotot tajam kepadanya bocah kecil tersebut semakin tertawa terbahak – bahak hingga berguling – guling dilantai karena menganggap jika ekpresi lelaki dihadapannya itu sangatlah lucu.


“ Apa yang kamu tertawakan bocah tengik....”


“ Cepat keluar dari sini...”, usir Ardan dengan kasar.


“ Nasib om sama sepertiku tak tahu kapan kita akan sadar kembali....”


“ Jadi biarkan wanita itu bahagia dengan lelaki yang mencintainya....”, ucapnya sok bijaksana.


Deg....


Hati Ardan seakan tercubit mendengar ucapan bocah lelaki kecil yang ada disampingnya tersebut.


Memang benar apa yang diucapkan bocah kecil itu, tapi ego Ardan masih belum bisa menerima jika harus merelakan Azkia dan calon anaknya bahagia bersama orang lain.


“ Apa ini yang Azkia rasakan ketika aku sedang bermesraan dengan Meysa....”


“ Rasanya sangat sakit sekali...”, gumannya sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


Ardan yang merasa tubuhnya lemah hendak berpegangan pada ujung ranjang, tapi lagi – lagi tangannya menembus begitu saja batang besi tanpa terasa apapun.


Dengan wajah sedikit binggung dia kembali bertanya kepada bocah kecil yang masih menatapnya intens dari samping itu.


“ Tunggu.....”

__ADS_1


“ Apa maksud ucapanmu tadi....”


“ Aku dan kamu sama....”, tanya Ardan menatap bocah kecil dihadapannya dengan penuh selidik.


“ ck ck ck.....”


“ Sudah kuduga jika om memang benar – benar bodoh.....”, decaknya mengejek.


Karena kasihan melihat wajah Ardan yang senduh, bocah kecil itupun menjelaskan semuanya agar lelaki yang ada dihadapannya itu tidak binggung.


“ Lalu, apakah semua orang yang sedang mengalami koma jiwanya akan gentayangan seperti kita.....”, tanyanya penasaran.


“ Tidak juga....”


“ Mungkin hanya sebagian saja yang seperti kita....”, jawab bocah kecil itu sambil memutar bola matanya untuk mengingat kira – kira pasien mana lagi yang sedang koma berhasil dia temui.


Saat keduanya sedang berbicara serius tiba – tiba suara gumanan lirih Azkia membuat atensi keduanya teralihkan.


Ardan hanya bisa menatap cemburu melihat Louis beberapa kali mencium kening Azkia sambil mengusap kepalanya dengan lembut agar wanita itu kembali terlelap.


Tak ingin semakin perih dengan melihat kemesraan mantan istrinya dengan putra sulung Watson, Ardanpun keluar ruangan bersama bocah kecil yang terus mengikutinya.


“ Kenapa kamu terus mengikutiku....”


“ Kembalilah sana....”, ucap Ardan tajam.


“ Aku bosan berada didalam kamarku terus.....”


“ Ini sudah enam bulan sejak aku dirawat namun jiwaku tak juga bisa masuk kedalam tubuhku....”, ucapnya lemah.


“ Benarkah....”


“ Lalu, apakah aku juga akan begitu.....”, tanya Ardan cemas.


Bagaimana tidak cemas, jika dia tetap dalam bentuk jiwa dan tak bisa kembali kedalam raganya maka dia tak akan bisa mengendong anaknya jika dia terlahir nanti.


“ Apakah tak ada cara agar jiwaku bisa masuk kedalam tubuhku....”, Ardan kembali bertanya dengan wajah frustasi.


Bocah lelaki kecil itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh sebelum dia menghilang dari hadapan Ardan yang sekarang berjalan lunglai menuju ruang perawatannya.


Dipandanginya tubuh tegapnya yang penuh dengan luka itu sekarang hanya mampu bertahan dengan berbagai macam peralatan yang menancap disana untuk membuatnya tetap hidup.


“ Apakah ini karma atas semua perbuatan jahat yang kulakukan dimasa lalu....”, guman Ardan penuh penyesalan.

__ADS_1


“ Jika benar, maka aku akan menerimanya dengan lapang dada asalkan aku masih diberi kesempatan untuk bisa bertemu dengan mantan istri dan anakku untuk sekedar mengucapkan kata maaf....”, ucapnya penuh ketulusan.


__ADS_2