
Mentari yang muncul dilangit hari ini terlihat sedikit malu – malu sehingga membuat udara yang semalam terasa panas pagi ini menjadi lebih sejuk dan lebih segar dengan turunnya embun membasahi bumi.
Kicauan burung yang bertengger dipohon mangga samping kamar Azkia membuat gadis itu tersenyum saat membuka jendela kamarnya.
Rasa lelah dan penat yang dirasakannya kemarin seolah hilang seketika ketika dia melihat tiga anak burung sedang menikmati makanan yang dibawakan oleh induknya.
“ Bahagianya mereka yang masih memiliki orang tua yang bisa menjaganya….”, gumannya sedih.
Kembali mengingat kematian kedua orang tuanya membuat hati Azkia menjadi sangat sedih dan tak terasa air mata mulai mengalir deras dipipinya tanpa bisa dia hentikan.
Tanpa gadis itu sadari penyakit bipolar yang dideritanya membuat emosinya naik turun secara drastis seperti ini.
Baru sepersekian detik dia merasa sangat bahagia dan dalam detik selanjutnya dia mengalami kepedihan yang mendalam.
“ Kenapa aku jadi mellow seperti ini…..”, batinnya tak senang.
“ Tidak….”
“ Aku tak boleh terpengaruh apapun dan fokus pada pembalasan dendam yang sudah mulai berjalan saat ini….”, gumannya bermonolog.
Azkia menghela nafas panjang dan segera menuju kamar mandi untuk membasahi kepala dan tubuhnya agar kebali rileks dan fresh.
Meski kepala dan badannya terasa dingin oleh siraman air dari shower tapi entah kenapa dadanya terasa sangat sesak dan panas ketika mengingat kembali jika pemicu kematian kedua orang tuanya adalah orang – orang terdekatnya yang dulu sangat disayanginya.
Azkia kembali mengingat jika dulu hubungannya dengan Hilman cukup baik karena kakak tiri mamanya itu kerap berkunjung dan membawakan makanan kesukaannya hingga Azkia kecil merasa sayang terhadapnya.
Tapi siapa sangka lelaki yang dia sayangi itu adalah orang yang menyebabkan mamanya menderita depresi hingga pada akhirnya meninggal dunia dalam kesedihan yang dalam.
Dan sekarang, suami yang dipilihnya jugalah yang menjadi penyebab papanya meninggal dunia karena terkejut dengan kelakuan keji yang dilakukan Ardan kepadanya.
Azkia yang merasakan nafasnya kembali sesak terlihat meringkuk dengan shower yang masih menyala diatasnya hingga tubuhnya mengigil kedinginan.
Bik Surti yang masuk untuk membersihkan kamar Azkia merasa sedikit khawatir waktu gadis itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Dengan jalan perlahan, bik Surti mendekatkan telinganya dipintu kamar mandi untuk mencari tahu kenapa hingga tiga puluh menit lamanya Azkia masih belum juga keluar dari dalam kamar mandi.
Samar bik Surti mendengar suara tangisan diiringi oleh gemericik air yang kekuar dari dalam shower membuat wanita tua itu bertambah cemas.
Tok tok tok…..
__ADS_1
“ Non….”
“ Non Azkia….”
“ Non Azkia tidak apa – apa kan non….”, teriak bik Surti sambil terus mengetuk pintu kamar mandi dengan hati cemas.
Bik Surti yang tak mendapatkan tanggapan apapun dari dalam kamar mandi merasa semakin cemas hingga diapun memberanikan diri untuk masuk.
Ceklek….
Pintu kamar mandi yang tak terkunci membuat hati bik Surti merasa lega. Namun ketenangan hatinya tak berlangsung lama ketika dia melihat Azkia meringkuk di bawah shower dengan kulit pucat.
Dengan panik, bik Surti segera mematikan air shower dan membungkus tubuh Azkia yang sangat dingin itu dengan handuk.
Dipapah oleh bik Surti, Azkia berjalan keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh mengigil dan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.
Melihat bibir Azkia sudah membiru bik Surti segera membantu Azkia memakai pakaian yang sebelumnya badannya telah dibaluri minyak kayu putih agar hangat.
Setelah menyelimuti tubuh Azkia, bik Surti segera turun kedapur untuk membuatkan teh panas untuk majikannya tersebut.
“ Ada apa sebenarnya….”
“ Kenapa non Azkia jadi begini padahal tadi waktu bangun dia masih baik – baik saja….”, batin bik Surti cemas.
“ Minum dulu non agar badan non Azkia menjadi hangat…..”, ucap bik Surti lembut.
Dengan penuh kesabaran bik Surti membantu Azkia minum dan mengeringkan rambut hitam panjangnya yang basah dengan hair drayer agar cepat kering.
Sementara itu, Ardan yang mendapatkan berita jika Azkia pulang kerumahnya setelah pergi dari apartemen Jacob segera melajukan kendaraannya kesana.
Dipinggir jalan dia menyempatkan diri untuk membeli bubur ayam dengan sate telur puyuh dan sate usus pedas kesukaan Azkia untuk mengambil hati istrinya tersebut.
“ Kuharap dia mau menerima pemberianku ini….”, guman Ardan ceria.
Setelah pesanannya sudah dapat, Ardanpun segera meluncur kerumah Azkia sebelum dia pergi kekantornya.
Begitu mobil Ardan datang, para bodyguard yang berjaga langsung menahannya didepan pintu pagar membuat lelaki itu menautkan kedua alisnya sambil menatap tajam kearah dua orang bodyguard yang berani menghalangi jalannya itu.
“ Maaf tuan….”
__ADS_1
“ Anda tidak bisa masuk kedalam…”
“ Jika ada pesan, tuan bisa mengatakannya kepada kami agar bisa kami teruskan kepada nona Azkia….”, ucap salah satu bodyguard tegas.
“ Siapa kalian berani mengaturku….”, teriak Ardan tak senang.
“ Maaf tuan….”
“ Kami hanya menjalankan perintah saja….”, ucap temannya menimpali.
Ardan yang tak terima dengan perlakuan bodyguard tersebut segera memukul wajah lelaki kekar yang ada dihadapnnya itu dengan keras.
Bughhh….
Bughhhh…
Bughhh…..
Perkelahian tak dapat dihindari karena Ardan menyerang para bodyguard yang berada didepan pagar dengan membabi buta.
Beberapa orang bodyguard yang berjaga didalam rumah mulai datang untuk melerai perkelahian tersebut dan membawa Ardan pergi karena sudah membuat kekacauan didepan kediaman Azkia.
“ Maaf tuan….”
“ Jika anda tak bersedia pergi maka jangan salahkan kami jika tak bersikap hormat kepada anda….”, ucap salah satu bodyguard sambil mendorong tubuh Ardan agar lelaki itu masuk kedalam mobilnya sebelum kekacauan terjadi semakin parah.
“ Brengsek kalian !!!....”
“ Lihat saja, aku tak akan tinggal diam diperlakukan seperti itu !!!....”, ucap Ardan penuh ancaman.
Sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan jempolnya, Ardan segera menekan pedal mobilnya hingga akhirnya melesat pergi meninggalkan kediaman sang istri.
“ F***k you Jacob !!!....”, teriak Ardan penuh amarah.
Beberapa kali Ardan terlihat memukul stir mobilnya dengan kencang sambil mengucapkan sumpah serapah untuk Jacob.
Melihat jika bodyguard yang berjaga bukan milik ayahnya yang biasa berjaga disana, Ardan menduga jika bodyguard tersebut pastilah milik Jacob Wang karena tak ada lagi teman Azkia yang selalu terlibat dengannya jika bukan rival abadinya itu.
Sementara itu lelaki yang terus disumpahi sepanjang jalan oleh Ardan sedang tersenyum puas setelah mendengar laporan dari Martin perihal kedatangan Ardan kekantor MT Law kemarin.
__ADS_1
“ Apapun usaha yang kamu lakukan tak akan membuat Azkia mencabut gugatan cerai yang sudah dilayangkannya karena aku tak akan membiarkan hal itu terjadi….”
“ Azkia tak pantas bersanding dengan lelaki keji sepertimu….”, guman Jacob bermonolog.