
Dua hari berada dikediaman Azkia tak membuat hubungan Ardan dan istrinya menjadi baik, yang ada justru semakin bertambah buruk.
Takdir seakan tak membiarkan keduanya bersatu dengan menghadirkan banyak kesalah pahaman diantara keduanya.
Melati tak bisa berbuat apapun waktu Ardan disalahpahami oleh Azkia karena anaknya tersebutlah yang telah menghancurkan kepercayaan istrinya dengan menghadirkan pihak ketiga dalam pernikahan mereka.
Apalagi bukti video dan foto yang ada mendukung kecurigaan Azkia akan keterlibatan Ardan didalam kasus penyerangan yang terjadi pada menantunya tersebut malam kemarin.
“ Aku sudah menduga jika kehadiran wanita j****g itu dalam hidup Ardan akan membuat kehidupan anakku bertambah kacau….”
“ Tapi kenapa Ardan seakan tak mau belajar dan terusa saja terlibat dengannya…..”, batin Melati kesal.
Melati pikir, tempo hari ketika Ardan menangis dipangkuannya lelaki itu sudah sadar atas kesalahannya dan berniat untuk berubah hingga diapun berusaha untuk membujuk Azkia agar memaafkan anaknya.
Tapi sekarang, setelah melihat jika Ardan kembali berhubungan dengan Meysa, Melati menjadi tidak respek lagi dengan anaknya.
Diapun bertekad untuk membantu menantunya tersebut lepas dari jeratan anaknya jika hal itu bisa membuat Azkia bahagia.
Sementara tu, disebuah gedung perkantoran berlantai tujuh saat ini terlihat seorang lelaki sedang membereskan berkas – berkas dihadapannya yang seakan tak pernah habis itu.
“ Bagaimana…..”
“ Apa orang yang masuk dan menyerang istriku sudah tertangkap….”, tanya Ardan tajam.
Robby hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan karena pergerakan mereka begitu cepat dan malam itu sepertinya Azkia sengaja membiarkan musuhnya tersebut untuk melarikan diri.
Padahal, jika langsung menangkap mereka Robby sangat yakin dua pengawal wanita yang mendampingi Azkia sanggup melakukannya hingga tak membuatnya pusing seperti ini.
Entah motif apa yang mendasari Azkia melakukan hal itu mengingat nyawanya hampir saja melayang jika saja dia lengah.
“ Oya, aku sudah mendapatkan informasi mengenai pemuda yang berbicara dengan bik Surti kemarin….”
“ Lelaki muda itu adalah Adrian Wiratmadjah seorang psikiater….”
“ Selain membuka praktek pribadi dia juga merupakan salah satu dosen di beberapa kampus yang ada di ibukota….”, ucap Robby sambil menyodorkan berkas mengenai semua hal yang berkaitan dengan Adrian.
“ Psikiater….”
“ Untuk apa….”, guman Ardan binggung.
Robby hanya bisa tercenggang tak percaya mendengar gumanan Ardan, seakan lelaki itu memang tak mengerti kenapa istrinya sampai harus berobat ke psikiater.
“ Kamu itu beneran bodoh atau cuma pura –pura….”, ucap Robby sinis.
“ Apa maksudmu….”
__ADS_1
“ Aku benar – benar tak mengerti….”, tanya Ardan dengan raut wajah binggung.
Ketidak pekaan Ardan inilah yang membuat Robby jengah.Padahal apa yang tidak dia perhatikan adalah sesuatu yang sangat riskan hingga dapat mempengaruhi hidup seseorang.
Dia sangat berbeda dengan Ardi yang memiliki perasaan lebih peka dan insting yang tajam sehingga cocok sebagai pemimpin.
Meski Ardan tegas tapi ke acuhannya terhadap semua hal yang dirasanya tidak penting itu kadang membuatnya celaka.
“ Apa kamu tidak sadar akan perbuatanmu….”
“ Menurutmu, dendam salah sasaran yang kamu layangkan kepada istrimu itu tak menguncang jiwanya…”
“ Bukan hanya perkataan kejam dan kasar yang kamu lontarkan saja yang membuat mentalnya terganggu….”
“ Penyiksaan fisik dan seksual lah yang akan sulit dia hilangkan dan akan terus membekas dalam ingatannya…. ”
“ Sedangkan pelaku sebenarnya malah kamu biarkan saja tanpa memberinya hukuman seperti apa yang kamu lakukan terhadap Azkia….”, ucap Robby berapi – api.
“ Jadi maksudmu, Azkia mengalami gangguan mental karena perilaku kasar yang kuberikan selama ini….”, tanya Ardan mulai paham.
“ Achh….”
“ Sudahlah….”
Robby langsung meninggalkan sahabat sekaligus bosnya itu seorang diri. Dia sudah malas berdebat akan sesuatu hal yang sudah pasti tersebut.
“ Kuharap kamu benar – benar memikirkan perkataanku dan merasa menyesal….”, batin Robby penuh harap.
Ardan terlihat mulai merenungkan semua ucapan Robby tadi sambil memijit pangkal hidungnya beberapa kali.
“ Apa hal ini yang membuat Azkia menolak untuk kembali padaku….”
“ Tapi, dia sama sekali tak terlihat jika mengalami gangguan mental meski sekarang sikapnya sangat dingin terhadapku….”, guman Ardan bermonolog.
Ardan masih saja belum menyadari jika perbuatan kejinya berimbas fatal bagi istrinya, terutama mentalnya.
Dan untuk Meysa, Ardan melupakan wanita itu sejenak setelah dia menghilang pasca membuat kehebohan direstoran beberapa waktu yang lalu.
Ardan yang sibuk dengan masalah yang dibuat oleh Hilman dan juga sibuk memperbaiki hubungannya dengan Azkia tanpa sadar mulai melupakan tentang Meysa dan semua perbuatannya dimasa lampau.
“ Benar kata Robby….”
“ Aku harus membalaskan dendam Ardi….”
“ Karena Meysa ada di ibukota saat ini maka aku akan lebih mudah untuk menemukannya….”
__ADS_1
“ Kali ini tak akan kubiarkan wanita itu menghirup udara bebas dengan tenang….”, desis Ardan penuh amarah.
Karena anak buahnya yang semalam dia perintah masih belum mendapatkan hasil maka kali ini Ardan akan menggunakan orang – orang pilihannya untuk mencari keberadaan Meysa dan komplotannya.
Ardan tak akan lagi bersikap lembek, setidaknya apa yang akan dia lakukan ini sepadan dengan semua perbuatan buruknya terhadap sang istri.
“ Aku harus benar – benar membuat pelaku sesungguhnya menyesal bahkan memohon untuk mati….”, gumannya penuh tekad.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh istrinya, pagi ini Ardan mendapatkan surat panggilan dari pengadilan agama untuk melakukan sidang pertamanya.
Karena Ardan tak pulang kerumah beberapa hari ini maka Robert pun berinisiatif untuk memberitahukan kepada kliennya tersebut akan sidang mediasi yang dilakukan esok lusa.
“ Apa Azkia juga akan datang dalam sidang tersebut ?....”, tanya Ardan penasaran.
“ Tentu saja tuan….”
“ Nyonya Azkia wajib datang pada sidang mediasi tersebut….”, ucap Robert menjawab.
Ardan merasa sedikit lega waktu mengetahui jika Azkia akan datang.
Kesempatan itu bisa dia gunakan untuk mendiskusikan semuanya dengan sang istri agar mencabut gugatan cerai yang telah dilayangkannya.
Sementara itu Azkia sebenarnya tak ingin hadir dalam sidang mediasi ini, tapi karena penggugat dan pihak tergugat wajib hadir maka dengan terpaksa Azkia pun bersedia meluangkan waktunya.
“ Tenanglah….”
“ Ada aku dan Martin yang akan mendampingimu disana….”, ucap Jacob penuh perhatian.
Azkia hanya bisa mengangguk pasrah, meski enggan tapi dia juga ingin perceraian yang diajukannya cepat menuai hasil.
“ Ini hanya sekali saja….”
“ Untuk selanjutnya, Martinlah yang nantinya akan mengurus semuanya hingga surat resmi ceraimu keluar……”, ucap Jacob kembali menyakinkan agar Azkia tak ragu.
Azkia tak perduli dengan Ardan yang terus bersikukuh tidak ingin bercerai dengannya dengan alasan ingin berbakti kepada kedua orang tuanya.
Sekarang Azkia tak memiliki alasan apapun untuk bertahan dalam pernikahan toxic ini karena rasa cinta yang dia miliki sudah hilang seiring dengan meninggalnya sang papa.
Ardan terlihat memandangi surat panggilan sidang yang dia peroleh dari Robert dengan perasaan campur aduk.
Rasa pedih dan nyeri itu kembali berkejaran didalam nadi Ardan. Dia benci dengan isyarat perpisahan yang diberikan oleh istrinya.
Dia masih ingin berjuang dalam pernikahannya meski harus dihina sebagai lelaki tidak tahu diri dan bermuka tebal, tapi Ardan akan menjalaninya selama dia bisa mempertahankan Azkia disisinya..
" Kenapa rasanya sesakit ini saat tahu jika wanita yang ku cintai tak menginginkanku lagi....", batin Ardan perih.
__ADS_1