
Sinar sang mentari yang mulai naik perlahan masuk melalui celah – celah tirai kamar dan mendarat dipelupuk mata seorang lelaki yang tertidur sambil memeluk ponselnya dengan erat.
Merasa silau oleh hangatnya sinar mentari yang mengenai pelupuk matanya, Ardanpun mulai membuka kedua matanya.
Ardan cukup bahagia begitu membuka mata dia bisa melihat senyum manis Azkia, meski itu baru diwakili oleh fotonya saja tapi sudah cukup membuat paginya menjadi semangat.
“ Selamat pagi sayang....”
“ Doain papa ya sayang agar semua pekerjaan papa hari ini bisa berjalan dengan baik....”
“ Agar secepatnya kita bisa bertemu....”, ucapnya sambil tersenyum manis dengan mengelus perut buncit Azkia yang ada diwalpapaer ponselnya.
Robby yang baru saja masuk kedalam kamar Ardan untuk menyiapkan semua keperluan lelaki itu pagi ini bergidik ngeri melihat bosnya itu kembali berbicara dengan layar ponselnya seakan dia sedang berbicara dengan Azkia didunia nyata.
“ Apa dia benar – benar sudah gila karena terlalau lama menahan rindu....”, guman Robby lirih.
Meski mendengar gumanan Robby tapi Ardan tak perduli dan terus melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Baginya tinggal dinegara yang sama sudah cukup untuknya, setidaknya mereka tak lagi dipisahkan oleh lautan yang membentang luas memisahkan keduanya.
Seharian ini Ardan sibuk dengan proyek kerjasama yang baru saja dia tandatangani sehingga dia tak sempat memikirkan hal lain.
Dia melakukan segalanya dengan fokus karena melihat jika pangsa pasar dinegara ini cukup baik bagi produk yang perusahaan Bimantara miliki.
“ Baguslah...”
“ Jika semua bisa berjalan lancar maka aku akan sering datang kenegara ini nantinya....”, batin Ardan puas.
Watson yang mendengar laporan dari anak buahnya jika Ardan sibuk dengan proyek yang sedang dikerjakannya merasa sedikit tenang karena tak ada pergerakan mencurigakan dari mantan suami Azkia tersebut.
“ Terus pantau dan laporkan begitu ada pergerakan jika dia berniat datang kekota ini....”, perintah Watson tegas.
“ Baik tuan....”, ucap lawan bicaranya dengan patuh.
Begitu Watson menutup telepon, Tracy pun segera menghampiri suaminya dengan wajah sedikit cemas mengingat jika dia baru mendengar dari putri bungsunya jika mantan suami Azkia ada dinegara ini.
“ Tenang saja, dia tak akan pernah bisa menyentuh Azkia selama masih ada aku disini....”, ucap Watson sambil mengelus kepala istrinya dengan penuh cinta.
__ADS_1
“ Kamu tahukan jika sebentar lagi Azkia akan melahirkan....”
“ Tak baik baginya jika dia mengalami stress dalam kondisi seperti ini....”, Tracy masih saja sedikit cemas meski sang suami sudah berusaha menangkannya.
Dengan pribadi Ardan, Tracy sangat yakin jika kedatangan lelaki itu pasti ada maksud tersembunyi selain untuk menandatangani perjanjian kerjasama dan meninjau proyek yang ada dinegara ini.
Mengingat selama ini bisnis yang digeluti oleh keluarga Bimantara tak pernah sampai keaspek obat – obatan seperti kerjasama yang dijalaninya saat ini, tentu hal ini mengundang kecurigaan dalam benak Tracy.
Sementara itu di ruang kerjanya Azkia terlihat sedikit lesu dan tak bersemangat. Bahkan tak jarang dia terlihat seperti sedang melamun dengan tatapan kosong kedepan.
Entah kenapa hari ini pikirannya tak bisa fokus sejak dia bermimpi mengenai mantan suaminya tadi malam.
Mungkin bawaan bayi atau memang ada tali penghubung karena sang anak memiliki ikatan darah dengan sang papa, semalam Azkia memimpikan Ardan.
Hal yang tak pernah dialami sebelumnya selama dia berada dalam tempat persembunyiannya ini.
Didalam mimpinya, Ardan telah berubah banyak. Bukan hanya masalah penampilan, sikap lelaki itu juga berubah seratus delapan puluh derajat dari Ardan yang dia kenal sebelumnya.
“ Apa mungkin dia bisa berubah sedrastis itu.....”
“ Kurasa itu hanya bunga tidur makanya bisa seperfect itu.....”, batin Azkia mengelak.
“ Sikap manusia mungkin bisa diubah tapi sifat seseorang akan sangat sulit berubah, terutama jika orang itu adalah Ardan Bimantara....”, batinnya bermonolog.
Tak ingin larut dalam pemikirannya yang pada nantinya akan membuatnya stress maka Azkia pun mencoba mengalihkan pikirannya pada proposal baru yang sedang dikerjakannya.
Setidaknya dengan fokus kearah pekerjaan dia tak lagi memikirkan hal – hal yang dapat menyebabkan suasana hatinya memburuk.
Malam harinya dihotel tempat Ardan menginap kedatangan seorang tamu yang merupakan informan yang ditempatkan Robby untuk mencari informasi mengenai Azkia dinegara tersebut.
Sang informan segera meminta agar dia dibawa kedalam kamar hotel Robby untuk menghindari ada yang mencuri dengar percakapan mereka.
Robby yang mengerti kekhawatiran Alfonso segera membawa informannya tersebut menuju kamar Ardan.
“ Bagaimana ?....”
" Apa ada kabar bagus......", Robby langsung menodong Alfonso begitu lelaki itu sudah duduk disofa.
__ADS_1
“ Tidak terlalu bagus....”
“ Pengawalan cukup ketat....”
“ Bahkan disini tindak tanduk kalian juga sedang diawasi....”, ucapnya pelan.
Meski sudah berada dalam kamar, namun Alfonso tak berani berbicara terlalu keras sambil tetap bersikap waspada.
Ardan yang melihat jika Alfonso sedikit tak nyaman pada akhirnya meminta hasil rekaman serta gambar yang berhasil lelaki itu dapatkan.
Dari apa yang dilihatnya tampaknya Ardan akan cukup kesulitan untuk bisa mendekat kearah Azkia tanpa diketahui.
“ Penjagaan berlapis dan tuan muda pertama Watson bahkan turun tangan sendiri akan hal ini....”
“ Dan ini sangat tidak bagus....”
“ Saranku, sebaiknya kamu jangan melangkah terlalu jauh dulu sebelum benar – benar memahami keadaan yang ada....”, ucap Alfonso memberi saran.
Diam – diam Ardan mengepalkan kedua tangannya kuat – kuat melihat beberapa foto yang menampilkan keakraban antara mantan istrinya tersebut dengan lelaki yang Ardan perkirakan lebih tua lima tahunan darinya yang Alfonso katakan sebagai tuan muda pertama Watson.
Setelah mendapatkan berbagai informasi yang dianggap penting dari Alfonso, Ardan dan Robby segera merundingkan hal tersebut setelah lelaki yang menjadi informan tersebut pergi.
“ Seperti prediksi tuan besar....”
“ Kita harus menyelesaikan pekerjaan disini dan pulang kembali ketanah air dulu ....”
“ Baru dikunjungan berikutnya kita bisa berusaha untuk mencari cara agar bisa mendekati Azkia...”
“ Kita rundingkan semuanya setelah tiba ditanah air, mungkin tuan besar memiliki solusi....”, ucap Robby pelan.
Jika Alfonso sangat hati – hati maka mereka pun juga melakukan hal yang sama. Jangan sampai upaya yang telah mereka lakukan dengan susah payah pada akhirnya akan menuai kegagalan karena bertidak gegabah demi mengikuti emosi sesaat.
“ Sabarlah sebentar lagi....”
“ Sehingga apa yang telah kamu perjuangkan sejauh ini tak berujung sia – sia.....”, Robby berusaha untuk memberi pengertian terhadap Ardan agar tak mengambil tindakan nekat yang dapat merugikannya.
Meski merasa berat, Ardanpun terpaksa mengikuti apa yang disarankan oleh assisten pribadinya tersebut.
__ADS_1
Seperti yang sudah menjadi tekadnya, Ardan akan berusaha untuk lebih bisa berpikir panjang sebelum bertindak.
Disini bukanlah wilayah kekuasaannya sehingga sebagai tamu diapun tak bisa berbuat hal dan mengendalikan semuanya ditelapak tangannya seperti jika dirinya berada ditanah airnya sendiri.