AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 71


__ADS_3

Disebuah banggunan tua yang sudah bobrok dibagian depannya tampak beberapa penjaga keluar masuk dalam sebuah kamar tempat dimana Meysa disekap.


Kali ini para bawahan Ardan tak lagi bertidak brutal dalam menyetubui Meysa seperti sebelumnya karena tak ingin kondisi wanita itu kembali kritis seperti sebelumnya.


Mereka tak berani mengambil resiko setelah tahu jika dokter yang merawat Meysa telah membohongi mereka dan berniat membantu wanita tersebut kabur.


Setelah melayani lelaki terakhir, begitu pintu tertutup Meysa menangis sekencang – kencangnya melampiaskan seluruh rasa sakit yang dia rasakan selama ini.


“ Oh Tuhan....”


“ Kenapa aku harus merasakan semua penderitaan ini...”


“ Aku sudah nggak kuat Tuhan.....”


“ Aku sudah nggak sanggup mengahadapi semua ini....”


“ Hikksssss......”


“ Aku sudah nggak sanggup lagi...”, tangis pilu Meysa.


Meysa mengakui jika mentalnya tak sekuat Azkia yang masih tetap bisa tersenyum meski mendapatkan kekerasan seksual, hinaan, serta caci maki setiap saat dari Ardan yang merupakan suami sahnya.


Saat ini Meysa merasa dirinya benar – benar rapuh dan kesepian tanpa seorang pun bisa untuk dia jadikan sandaran.


Sambil terisak –isak, Meysa yang mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan tak sengaja menatap sebuah pecahan kaca diujung ruangan.


" Itu seperti pecahan gelas yang tak sengaja ku jatuhkan kemarin malam....." , guman Meysa senang hingga senyum diwajahnya pun merekah lebar seperti baru saja mendapatkan lotre.


Sambil menahan nyeri diarea intinya, Meysa berusaha turun dari atas ranjang.


Dengan sempoyongan dia berusaha untuk mengapai pecahan gelas tersebut.


Tapi begitu tangannya ingin meraih pecahan gelas kaca tersebut, satu kakinya tersandung kaki yang lainnya hingga dia jatuh tengkurap dengan jidat membentur lantai.


Brukkk....


Meysa meringis merasakan jidatnya terasa nyut – nyutan setelah berhasil mencium lantai, namun tak lama kemudian raut kesakitan diwajahnya berubah menjadi tawa yang menggelegar.


Dia sudah seperti orang gila saat ini, menangis dan tertawa disaat bersamaan sambil berguman terhadap dirinya sendiri.


Dengan tangan gemetar Meysa meraih pecahan gelas kaca tersebut dan langsung menyayatkannya kepergelangan tangannya.


Sretttt.....


Seketika darah segar mengucur deras  membasahi lantai dan gaun yang dipakainya dan bau anyir mulai menyeruak diudara.


Meysa memejamkan kedua matanya, merasakan rasa sakit luar biasa dipergelangan tangannya yang secara cepat mulai menjalar keseluruh tubuhnya.


“ Tenang Meysa....”


“ Rasa sakit ini hanya sebentar....”


“ Setelah ini kamu akan terbebas dari penderitaan dan rasa sakit yang ada.... ”,gumannya dalam hati.


Dengan tubuh lemah akibat kekurangan darah Meysa masih bisa tertawa keras.

__ADS_1


Tawa yang dia harapkan akan menjadi tawa terakhir dalam kehidupannya yang kelam ini.


Namun lagi – lagi harapannya tak sesuai dengan kenyatan. Tiba – tiba saja pintu terbuka dan ada lelaki berteriak memanggil rekan – rekannya yang lain.


“ DASAR WANITA BODOH !!!!.....”


“ APA YANG KAMU LAKUKAN !!!....”


“ MEREPOTKAN SAJA !!!....”, ucap seseorang yang mengangkat tubuh Meysa naik keatas ranjang.


Sementara rekan yang lainnya mencari handuk kecil untuk menekan pergelangan tangan Meysa  agar darah tak keluar semakin banyak.


Meysa yang melihat nyawanya kembali terselamatkan merasa tak senang dan mulai memberontak dengan sisa tenaga yang dimilikinya.


“ LEPASKAN !!!....”


“ BIARKAN AKU MATI !!!....”, teriak Meysa frustasi.


Namun lelaki yang berusaha menyelamatkan nyawanya terus menekan kuat pergelangan tangannya agar rekannya bisa membalut luka Azkia hingga darah bisa berhenti.


“ PERGI KALIAN !!!...”


“ KALIAN TAK BOLEH MENYELAMATKANKU !!!....”


“ AKU INGIN MATI !!!....”


“ AKU YANG BERHAK ATAS TUBUHKU !!!....”


" KALIAN SEMUA PERGI !!!"


“ AKU INGIN MATI !!!....”


Hingga tiba – tiba ada jarum suntik yang menusuk lengannya hingga membuat kedua matanya terasa berat dan pada akhirnya perlahan mulai tertutup.


“ Kenapa Tuhan....”


“ Kenapa hidupku semenderita ini....”


“ Bahkan untuk matipun aku tak bisa....”, gumannya pelan sebelum kesadarannya benar – benar hilang.


Jika saja mereka tak sayang nyawa mungkin dengan mudahnya mereka membiarkan Meysa mati kehabisan darah.


Tapi bos mereka sudah mewanti – wanti untuk tak membuat wanita itu mati sebelum dia mengijinkannya, jika tidak maka seluruh penjaga harus siap – siap kehilangan kepala mereka.


*


*


*


Tak terasa empat bulan telah berlalu, Azkia yang merasa perutnya semakin membuncitpun pada akhirnya mencoba memeriksakan diri kedokter kandungan.


Seperti yang sudah dia duga, ternyata dirinya tengah hamil dan bayi yang ada dikandungannya pun terlihat sangat sehat.


Berkat dukungan Sindy dan keluarganya, Azkia bisa melalui kehamilannya ini dengan baik meski dia harus berperan sebagai single parent.

__ADS_1


Diluar negeri menjadi single parent bukanlah hal yang buruk. Banyak wanita yang menjadi single parent yang berhasil membesarkan anak – anak mereka dengan baik.


Tak seperti jika Azkia masih berada dinegaranya sendiri. Pasti banyak tetangga yang julid dan menyiyir kehidupan seorang single parent (janda ) diusia muda seperti Azkia ini.


Sindy yang selalu berada disisi Azkia pun selalu berupaya untuk menyemangati sahabatnya dan menekankan kata - kata positif jika dia mampu membesarkan anaknya seorang diri.


Jacob yang sudah lama menduga jika hal ini akan terjadi pun pada akhirnya berusaha untuk bisa menerima semuanya dengan lapang dada.


Bahkan dia siap menjadi ayah sambung bagi bayi yang dikandung oleh Azkia dan berjanji akan menyayangi dan menjaganya seperti anak kandungnya sendiri jika Azkia mengijinkannya.


Meski sudah berdamai dengan masa lalunya, tapi Azkia masih belum bisa menjalin hubungan baru dengan orang lain setelah dia berpisah dengan sang suami.


Maka dari itu diapun menolak secara halus keingginan Jacob untuk menikahinya.


Tak ingin membuat lelaki itu sedih, Azkiapun  mengijinkan Jacob menjadi ayah angkat bagi bayinya nanti mengingat betapa banyak pengorbanan yang telah dilakukan oleh lelaki itu untuk membebaskan dirinya dari jeratan sang suami hingga mampu berdiri sendiri dengan kakinya seperti sekarang.


Merasa sedikit lelah, hari ini Azkia ijin kerja setengah hari dan langsung pulang kerumah.


Setelah membersihkan tubuhnya, didepan kaca Azkia tersenyum lebar sambil menunduk dan mengusap perutnya yang masih datar.


“ Maafin mama ya nak....”


“ Mama harap kamu nggak marah dan kecewa dengan keputusan mama untuk berpisah dengan papamu dan memilih pergi bersembunyi seperti ini...”


“ Tumbuh yang sehat ya nak.... ”


“ Mama sudah nggak sabar menantimu lahir kedunia ini....”


“ Dunia yang hanya ada kita berdua dan orang – orang yang menyayangi kita...”


“ Meskipun tak ada papa disimu, mama janji kamu tak akan kekurangan kasih sayang sedikitpun....”


“ Mama akan jadi ibu sekaligus ayah bagimu...”


“ Kita lewati semua ini sama – sama ya nak....”


“ I Love U sayang....”


“ Buah hati mama.....”, ucap Azkia sambil membelai perut datarnya dengan lembut dan hangat.


Setelah selesai berbicara dengan bayi yang masih ada dalam kandungannya, Azkiapun merebahkan diri diatas ranjang.


Kali ini dia tak lagi sendiri, ada makhluk hidup lain yang sedang tumbuh didalam tubuhnya.


Untuk itu Azkia pun bertekad untuk menjaga pola hidup dan asupan makanan yang dikonsumsinya agar bayi dan dirinya bisa sehat dan selamat hingga waktu melahirkan tiba nanti.


" Aku harus terus happy dan tak boleh bersedih...."


" Semua ini demi tumbuh kembang anakku....."


" Buah hatiku...."


" Papa dan mama pasti senang jika mereka mengetahui akan segera mendapatkan cucu.....", batin Azkia sambil menatap foto almarhum kedua orang tuanya diponsel dengan wajah senduh.


Harapan terakhir papanya, melihat dia bahagia dan memiliki cucu. Meski Ronan tak bisa lagi melihat dan berbahagia dengannya setidaknya melalui doa dia akan menyampaikan kabar gembira tersebut kepada kedua orang tuanya yang telah tiada.

__ADS_1


__ADS_2