
Awan kelabu menghiasi langit, menutupi sinar matahari yang perlahan mulai memudar sinarnya seiring rintikan hujan jatuh membasahi bumi.
Hujan turun dengan derasnya disertai kilat yang terus melintas dilangit. Suara gemuruh yang memekakkan telinga juga turut meramaikan malam yang mencekam ini.
Ditengah cuaca yang buruk itu seorang lelaki tampan terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit bersama peralatan yang terpasang ditubuhnya.
Tubuhnya tampak kurus dan wajahnya pucat bak mayat hidup, meski ketampanannya tak hilang dan malah semakin terpancar.
Entah kenapa sudah hampir satu bulan Ardan masih belum sadarkan diri padahal luka ditubuhnya sudah sembuh dan mengering.
Dokter mengira ini berkaitan dengan kondisi psikis pasien yang tampaknya cukup terpukul akan sesuatu hal sehingga dia enggan untuk membuka kedua matanya.
“ Bagaimana ini yah….”
“ Ardan koma sedangkan Azkia menghilang entah kemana….”
“ Rasanya hati bunda benar – benar hancur saat ini….. ”, guman Melati penuh kesedihan.
Faisal yang ada disampingnya hanya bisa memberikan pelukan hangat dan kata – kata motivasi untuk mengguatkan sang istri.
Sudah berbagai cara Faisal lakukan untuk mencari keberadaan Azkia, namun usahanya tersebut tak membuahkan hasil.
Faisal sangat terkejut waktu mengetahui jika Azkia telah memberikan kuasa kepada Jacob untuk mengelola AH Group sementara waktu hingga dia kembali sehingga kasus Hilman pun lelaki itu yang menghandle semuanya.
Untuk kasus perceraian anaknya, karena adanya bukti yang kuat baik berupa foto dan video serta hasil visum dokter maka kemungkinan gugatan perceraian Azkia untuk dikabulkan sangat tinggi.
Saat ini dia dan Melati hanya bisa pasrah menanti hakim mengetuk palu putusan perceraian karena dia juga tak bisa melakukan apapun untuk mencegahnya.
JDERRR !!!!.....
Petir kembali menyambar bersautan hingga menyilaukan mata dan suara guntur yang bergemuruh dilangit mampu membangunkan Ardan dari tidur panjangnya.
Kedua mata Ardan perlahan mulai terbuka dan menatap linglung langit – langit putih yang ada diatasnya.
Melati yang melihat putra semata wayangnya terbangun langsung memanggil dokter jaga untuk mengecek keadaan Ardan.
Tak berselang lama, seorang dokter dan beberapa orang perawat memasuki ruang rawat Ardan dan mulai memeriksa kondisi pasien.
“ Syukurlah kondisi tuan muda dalam keadaan stabil….”
“ Sebaiknya hindari berita yang bisa membuatnya kembali terguncang hingga kondisinya benar – benar pulih….”, ucap sang dokter memberi peringatan.
Melati dan Faisal hanya mengangguk pelan sebagai jawaban sebelum dokter dan perawat yang mendampinginya keluar ruangan.
__ADS_1
Setelah semua petugas medis keluar ruangan, Melati dan Faisal segera berjalan mendekati ranjang tempat dimana Ardan berbaring lemah disana.
“ Bagaimana perasaanmu….”, tanya Melati lembut.
“ Azkia….”
“ Mana Azkia bun….”, ucap Ardan sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan mencari keberadaan sang istri.
Melihat hal tersebut, Melati menangis dalam hati karena dia tak ingin menunjukkan kesedihannya itu dihadapan putra semata wayangnya.
Mengingat kembali ucapan sang dokter agar Ardan tak mendapatkan kabar yang mengejutkan, terpaksa Melatipun berbohong demi kebaikan anaknya.
“ Azkia masih ada dikantor….”
“ Kamu tahu kan bagaimana sibuknya dia….”, ucap Melati tersenyum hangat.
Ardan hanya bisa mengangguk paham, karena kondisi tubuhnya masih lemah diapun kembali menutup mata setelah obat yang baru saja disuntikkan dalam infus bereaksi.
“ Obat yang saya suntikkan mengandung obat tidur agar pasien tidak terlalu banyak beraktivitas dulu setelah sadar dari koma….”, ucap sang perawat menjelaskan waktu dia melihat raut wajah Melati mulai cemas.
Sementara itu ditempat lain, Windy saat ini sudah mendekam didalam bangsal rumah sakit jiwa karena dia sering mengamuk ketika halusinasinya akan sosok Lisa kembali muncul.
Para pelayan yang berada dalam kediaman pada akhirnya memanggil petugas kepolisian kerena wanita itu terus saja mengamuk tak terkendali bahkan mampu melukai beberapa pekerja hingga mengalami kondisi kritis.
Melihat jika Windy mengalami gangguan kejiwaan, pihak yang berwajib pun membawanya kesebuah rumah sakit jiwa untuk ditanggani.
Bukan hanya kondisi pasangan suami istri ini yang menyedihkan, bahkan nasib Mesya juga tak kalah tragis.
Selama Ardan mengalami koma, Meysa tak lagi mendapat siksaan fisik tapi dia malah mendapatkan pelecehan seksual dari anak buah Ardan yang ditugaskan untuk menjaganya.
Bahkan tiap hari dia tak bisa beristirahat dengan tenang karena selalu saja diganggu oleh lpara elaki hidung belang untuk melayani nafsu mereka yang tiada habisnya secara silih berganti.
Ardan memang tak melarang anak buahnya untuk menyetubui Meysa dan melukainya asalkan tak membuatnya mati.
Badan Meysa yang dulu segar dan berisi kini mulai kurus karena dia hanya diberi makan satu kali sehari sedangkan tenaganya diforsir habis untuk melayani bawahan Ardan.
Kulit tubuhnya yang dulu putih mulus sekarang penuh dengan banyak luka serta lebam hampir merata disekujur tubuhnya.
Beberapa kali dia berusaha untuk bunuh diri tapi sayangnya aksinya tersebut ketahuan sehingga dia hanya bisa pasrah menerima nasibnya saat ini.
Sedangkan dibumi bagian lain tampak dua orang wanita muda sedang merayakan kemenangan mereka dalam memperebutkan tender dengan nilai trilyunan untuk satu proyek yang akan mereka kerjakan bulan depan.
“ Kedatanganmu benar – benar membawa keberuntungan Azkia….”
__ADS_1
“ Jika tahu begini, aku akan suruh Jacob untuk membujukmu datang kesini lebih cepat….”, ucap Sindy bahagia.
Sejak kehadiran Azkia yang membantu mengembangkan perusahaan yang baru saja dirintisnya, hukuman yang diberikan oleh sang papi perlahan mulai dicabut.
Kehadiran Azkia yang dianggap memberi hal positif kepada Sindy membuat lelaki paruh baya itu berusaha untuk kembali mempercayai putri bungsunya itu.
Dengan selesainya masa hukuman yang dijalaninya, Sindy merasa hidupnya lebih muda karena semua akses perbankan dan kemewahan yang dimilikinya sudah bisa dia gunakan lagi.
Ditanah air, AH Group semakin berjaya berada ditangan Jacob karena lelaki itu berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuktikan jika kepercayaan yang diberikan oleh Azkia kepadanya tak salah.
Sidang perceraian antara Azkia dan Ardan tinggal menunggu ketok palu dari hakim dua hari lagi sebelum surat resmi cerai keduanya keluar.
Robby yang ingin membalas perbuatan Jacob terhadap Ardan tak berhasil karena tak ada bukti yang menunjukkan jika rival abadi bosnya itulah yang melukai Ardan sehingga diapun hanya bisa gigit jari dengan perasaan geram.
Sekuat apapun Melati menutupi kenyataan yang ada pada akhirnya Ardanpun menyadari jika Azkia telah pergi.
“ Kenapa bunda menutup – nutupi semua ini dariku….”
“ Apa bunda juga tak ingin memberitahuku dimana Azkia kini berada….”, ucap Ardan kecewa.
Melihat Ardan menatapnya dengan penuh kecewa membuat hati Melati sangat sedih dan hancur.
Seandainya dia tahu keberadaan memantunya, tak perlu Ardan suruh suruh Melati sudah pasti akan menjemputnya sendiri.
“ Kenapa bunda diam….”
“ Bunda benar – benar ingin memisahkan aku dengan Azkia ya….”, ucap Ardan sedih.
“ Jika bunda tahu, pasti sudah bunda jemput pulang Azkia….”
“ Masalahnya, hingga detik inipun ayahmu juga tak berhasil menemukannya….”, ucap Melati sendu.
“ Bagaimana dengan Jacob ?....”
“ Aku yakin lelaki brengsek itu tahu dimana Azkia berada…..”, ucap Ardan tajam.
“ Ayahmu juga sudah menanyainya bahkan menaruh orang untuk mengawasi semua gerak – geriknya…..”
“ Tapi sayangnya, keberadaan istrimu masih belum juga bisa dilacak….”, ucap Melati tampak frustasi.
Rahang Ardan mulai mengeras dengan kedua tangan terkepal sempurna mendengar semua penjelasan dari ibundanya.
“ Tidak….”
__ADS_1
“ Aku tak boleh kehilangan Azkia….”
“ Dimanapun dia bersembunyi pasti akan aku temukan, sekalipun itu berada dilubang semut….”, batin Ardan penuh tekad.