
Begitu sinar sang mentari mulai nampak, Azkia buru – buru bangun dan langsung bergegas menuju kamar mandi sambil membawa bungkusan yang semalam dia beli diapotik bersama Sindy.
Setelah meletakkan urine dalam wadah dan mencelupkan ujung test pack, Azkia menunggu hasilnya dengan wajah cemas.
Satu strip.......
Deg deg deg.....
Jantung Azkia seakan mau keluar saat menunggu apakah garis selanjutnya akan bertambah atau tidak.
Karena garis tak lainnya tak juga muncul maka Azkiapun menyimpulkan jika dirinya tak hamil.
“ Ah....”
“ Negatif ternyata....”, ucapnya pelan.
Entah kenapa tiba – tiba hatinya merasa kecewa waktu dia melihat hanya ada satu garis merah dialat tersebut.
Sindy yang juga penasaran pada akhirnya berlari menuju kamar mandi saat melihat ranjang Azkia telah kosong.
Tok tok tok.....
Begitu mendapat sahutan, Sindypun langsung masuk kedalam kamar mandi menghampiri sahabatnya yang sedang termenung didepan wastafel.
“ Bagaimana hasilnya.....”, tanyanya antusia.
“ Negatif....”, jawab Azkia murung.
“ Hey....”
“ Kenapa kamu tampak sedih....”
“ Apa kamu berharap jika dirimu hamil ?.....”, tanya Sindy dengan tatapan penuh selidik.
“ Entahlah....”
“ Bukankah seharusnya aku senang karena ini adalah hasil yang aku inginkan....”
“ Tapi entah kenapa aku sedikit sedih......”, ucap Azkia mellow.
Sindy yang melihat perubahan emosi Azkia secara tiba - tiba sedikit takut jika penyakitnya kambuh sehingga diapun menyarankan agar sahabatnya itu kembali bertemu dengan psikiaternya agar kondisi hatinya bisa normal kembali.
Azkia yang menyadari hal tersebut pun segera menyetujui usul Sindy dan langsung membuat janji temu dengan Patricia hari ini.
Tanpa keduanya sadari ternyata test pack yang mereka buang kedalam tong sampah masih berproses dan sekarang terlihat satu garis berwarna merah muda yang samar.
Siang harinya, setelah menyelesaikan makan siangnya, Azkia langsung meluncur ketempat praktek Patricia.
Patricia, psikiater yang menanggani Azkia menyambut hangat kedatangan wanita itu ditempat parkteknya.
Berbekal laporan yang diterimanya dari Adrian, Patricia pun melanjutkan pengobatan yang dilakukan oleh Azkia hingga hasilnya signifikan seperti saat ini.
“ Bagaimana perasaanmu hari ini ?.....”, sapa Patricia diawal sesi
__ADS_1
“ Buruk....”, jawab Azkia singkat.
“ Tidak apa....”
" Kamu bisa menceritakan semuanya padaku hari ini...."
“ Mari kita mulai sesinya....”, ucap Praticia memulai.
Berbaring disebuah kursi malas berlapis busa, Azkia pun mulai menceritakan semua hal yang dirasakan hari ini.
Patricia dengan sabar dan penuh perhatian menyimak setiap hal yang wanita itu ucapkan sambil sesekali menulis sesuatu diatas buku yang dipegangnya.
Azkia terus menceritakan semua hal yang menjadi ketakutannya saat ini dan yang membuat emosinya kembali tak stabil.
Baik itu yang berhubungan dengan masa lalu, pekerjaan ataupun semua hal mengenai masa depannya nanti.
Meski sudah memaafkan, tapi Azkia masih belum sepenuhnya bisa melupakan dan hanya bisa menerima semua hal yang terjadi pada dirinya dimasa lalu karena bagaimanapun hal itu juga tak mungkin bisa terhapus begitu saja.
Dan ketika dirinya mulai tenang dan merasa bahagia, Azkia tak ingin semua hal yang ada hubungannya dengan masa lalunya kembali hadir dan mengacaukan kehidupannya.
“ Lalu, bagaimana seandainya apa yang menjadi ketakutanmu itu terjadi....”
“ Apa yang akan kamu lakukan kedepannya nanti ?.....”
“ Apa kamu akan membuangnya sebelum dia tumbuh didalam tubuhmu....”, Patricia mencoba memancing reaksi apa yang akan Azkia berikan lewat pertanyaannya.
“ Tentu saja tidak...”
“ Dia sama sekali tak bersalah meski merupakan bagian dari masa laluku....”, jawab Azkia cepat.
Sikap kooperatif yang diberikan oleh Azkia selama menjalani terapi membuat Patricia merasa lebih mudah untuk menyembuhkan luka serta trauma yang dialami oleh wanita muda itu.
Azkia yang sekarang ada dihadapannya lebih ceria dan lebih percaya diri dibandingkan waktu pertama kali dia datang.
Kala itu, berbagai emosi dalam diri wanita muda itu muncul bergantian secara berlebihan sehingga membuat Patricia sempat merasa jika Azkia akan sulit untuk sembuh dengan semua penolakan yang terjadi.
Tapi seiring berjalannya waktu, Patricia dapat merasakan berubahan yang cukup drastis dalam diri Azkia.
Hal itu bisa terjadi karena saat ini Azkia dikelilingi oleh orang – orang yang berpikirian positif dan menyayanginya dengan tulus, meski mereka bukan sauadara atau kerabat dekatnya.
Tak terasa dua jam sudah Azkia melewati sesi terapi siang ini. Hatinya sekarang terasa plong setelah dia mengutarakan semua hal yang dia rasa kepada Patricia.
Dengan dagu terangkat dan langkah tegap serta senyum yang terus mengembang diwajah cantiknya Azkia melangkah untuk menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini dengann hati riang.
Seperti apa yang Patricia katakana tadi, apapaun yang terjadi dia harus menjalaninya dengan ikhlas dan gembira agar langkahnya bisa menjadi ringan.
“ Baiklah.....”
“ Apapun yang terjadi didepan, aku akan menjalaninya dengan penuh semangat....”, gumannya positif.
Jika Azkia telah berdamai dengan masa lalunya dan mulai hidup bahagia dengan hati lapang lain halnya dengan Ardan yang masih larut dalam penyesalannya.
Meski dia mencoba menyibukkan diri dengan berbagai macam bentuk pekerjaan yang tiada habisnya namun hal tersebut sama sekali tak bisa menghilangkan bayangan akan istrinya.
__ADS_1
“ Bagaimana kondisinya saat ini....”
“ Apakah dia juga mengalami mual dan ngidam sama sepertiku....”
“ Seharusnya, disaat seperti ini aku berada disampingnya...”
“ Memenuhi semua keingginan dan kebutuhannya....”
“ Menghadapi semuanya bersama sambil menunggu buah hati kita lahir kedunia...”, guman Ardan penuh sesal.
Sebagai mantan suami yang merasakan kehamilan simpatik, dirinya sudah merasa tersiksa seperti ini, apalagi waktu Ardan membayangkan bagaimana kesulitannya Azkia harus menghadapi morning sickness setiap hari.
Sedangkan tak ada seorang pun yang bisa menjadi sandarannya diluar sana.
Dia merasa menjadi lelaki yang paling bodoh karena telah melepaskan seorang wanita yang baik seperti Azkia hanya demi nafsu sesatnya.
Saat ini Ardan hanya mampu memandangi foto Azkia yang ada digaleri ponselnya dengan tatapan nanar.
Foto yang dia ambil secara sembunyi – sembunyi ketika istrinya sedang tertawa lepas bersama pembantunya.
Dengan kedua mata berkaca – kaca Ardan membelai wajah cantik Azkia yang ada didalam foto secara perlahan dengan penuh cinta.
“ Sayang....”
“ Dimana kamu sekarang....”
“ Aku benar – benar merindukanmu.....”
“ Bagaimana kabar si kecil....”
“ Dia tak membuatmu repot kan.....”
“ Maaf jika suami bodohmu ini tak ada disampingmu disaat – saat seperti ini.....”, gumannya pelan.
Setetes air mata mulai turun secara berlahan seiring berbagai kenangan buruk yang hadir dalam benaknya.
Ardan kembali menangis pilu ketika dia tak mendapati satupun kenangan manis bersama istrinya.
Yang ada semuanya hanyalah kenangan buruk dan menyesakkan dada.
Menyadari fakta itu, air mata Ardan mengalir deras dipipinya tanpa bisa dia tahan lagi.
Dia menangis terguguh seperti anak kecil yang sedang ditinggalkan oleh ibunya.
Rasanya sangat menyesakkan dada, rasa kehilangan yang teramat dalam mulai dirasakannya.
Robby yang hendak masuk kedalam ruangan Ardan langsung menghentikan langkahnya dan kembali menutup pintu secara perlahan ketika melihat Ardan menangis terseduh – seduh dikursinya.
Sebenarnya Robby sudah mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan Azkia saat ini, tapi dia tak berani melaporkan sebelum yakin benar jika istri bosnya tersebut ada dinegera itu.
“ Maafkan aku Ar....”
“ Bukannya aku jahat....”
__ADS_1
“ Aku hanya ingin kamu benar – benar menyesali semua perbuatanmu dan mau bertobat... ”
“ Kuharap, kamu bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi sehingga saat kamu bertemu kembali dengan Azkia kamu bisa mengucapkan kata maaf dengan tulus dan penuh penyesalan kepadanya ....”, batin Robby bermonolog.