Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
10 (Makan Tanpa Nasi)


__ADS_3

Meysa memacu motornya di bawah langit malam kota Palu. Ia sudah memasuki area perumahan tempatnya tinggal. Belum ada tanda-tanda Faza dan keluarga kecilnya datang. Meysa memarkirkan motor di teras. Saat menoleh, pandangannya tertuju pada sosok Kai yang ternyata sedang duduk di emperan teras kos. Laki-laki itu tersenyum, tapi ia sama sekali tak membalasnya. Meysa hanya menampakkan wajah datar, acuh tak acuh.


Begitu melihatnya turun dari motor, Kai langsung melangkah ke arahnya. Membuat Meysa tak perlu repot-repot untuk memanggilnya.


“Kenapa lama?” tanya Kai yang tak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Hampir satu jam menunggu membuat ia takut terjadi sesuatu pada gadis itu.


“Kenapa nanya?"


Kai gelagapan, ia menghembuskan napas sejenak kemudian kembali menatap wajah ketus Meysa. “Aku khawatir!"


“Aku baik-baik aja!" jawabnya dengan tangan teralih meraih lima kantong plastik putih berisi belanjaannya.


“Ayo makan!" Meysa yang melangkah lebih dulu harus menoleh kembali ketika tak mendengar adanya pergerakan dari Kai. Pria itu masih berdiri di samping motor, tengah menatapnya dalam diam.


Tatapan Kai itu benar-benar membuat jantungnya berdebar sekaligus teriris. “Ayo, jangan diam disitu!” Panggil Meysa yang masih berusaha mengendalikan diri agar tidak runtuh. “Nanti kakakku marah kalau tidak menjamu tamu dengan baik.”


“Aku minta maaf, bul!"


“Ini bukan waktunya minta maaf!" sergah Meysa dengan sedikit ngegas. Gadis itu memejamkan mata, berusaha mengontrol diri. “Ini waktunya makan, kalau mau maaf-maafan nanti saja kalau lebaran!"


“Maaf-maafan gak harus tunggu lebaran." sahut Kai. Wajahnya serius, tatapannya masih dalam terhadap Meysa. Tujuannya kemari untuk menebus kesalahan, melihat sikap dingin Meysa benar-benar membuat rasa bersalahnya semakin dalam.


Sementara Meysa yang ditatap seperti itu merasa jantungnya semakin tidak aman. Hatinya masih terlalu rapuh, jika posisinya di kamar seorang diri. Mungkin dia sudah menumpahkan tangisnya sejak tadi. Ia berusaha mengontrol diri dengan cara menekuk kuku ke jari, berharap air matanya masih bisa diajak kerja sama agar tak tumpah sekarang, apalagi ia masih di hadapan Kai.


“Udahlah, makan dulu!"


Melihat Meysa yang masih tetap pada pendiriannya, Kai akhirnya memilih mengalah. Ia menghela napas dan mengangguk pelan setelahnya. Mendebat Meysa bukanlah hal yang pantas, dia sudah terlalu banyak salah pada gadis itu dan Kai juga tak ingin memaksa. Ia akan mencobanya lagi nanti.


Di dapur, Meysa mempersilahkan Kai duduk di kursi meja makan. Sementara ia sibuk menyiapkan piring dan peralatan makan lain setelah meletakkan kresek belanjanya di atas Meja.


Pergerakan Meysa tak lepas dari sorot mata Kai. Jika setahun lalu ia hanya bisa menyaksikan apa yang Meysa lakukan dari layar ponsel. Kini gadis itu tengah sibuk bergerak nyata di depannya. Membuat mata laki-laki itu berkaca-kaca saking terharunya. Tak apa dibilang lebay, inilah kenyataannya! Ia membatin kalau seandainya ada yang melihatnya dalam keadaan sedih.


“Tunggu sebentar, aku panggil Rena dulu!" Setelah meletakkan peralatan makan yang diambil, Meysa berlalu meninggalkan Kai yang tengah mengangguk sambil menatapnya.


“Ren, mak----. Yah sudah tidur anak ini!" omel Meysa ketika masuk kamar malah mendapati Rena sudah terlelap dengan menggunakan daster, bahkan handuk yang membungkus kepalanya masih terbuka.


Meysa tak berniat membangunkan Rena, sebab ia tahu kalau sahabatnya itu tidak suka dibangunkan ketika sedang tidur, apalagi kalau tidak penting. Ia lalu kembali ke dapur.


Sesampainya di dapur, Meysa sedikit terpaku melihat Kai tengah menyusun bungkusan ayam di atas piring. Apalagi ketika laki-laki yang tengah menuangkan sambal ke dalam mangkuk itu menoleh sambil tersenyum ke arahnya.


“Sudah siap!" dengan wajah gembira Kai menunjuk lima piring berisi ayam yang sudah ia susun. Ia melakukan itu dengan niat hanya ingin mbantu Meysa agar tidak terlalu repot.


“Makasih!" ucap Meysa datar, ia mendekat ke sisi meja. Tangannya mulai tergerak menyatukan tiga bungkus ayam dalam satu piring yang sama, sementara dua sisanya ia biarkan dalam dua piring berbeda sebagaimana yang Kai susun tadi.


“Maaf! Kamu gak suka ya kalau aku ikut-ikutan bantu." Jujur Kai hampir berkecil hati melihat apa yang Meysa lakukan. Sebegitu kecewanyakah dia hingga apa yang berusaha dilakukanpun tak membuat Meysa senang? Namun, lagi-lagi dia berusaha menguatkan diri kalau mengingat apa yang Meysa lakukan tak seberapa dengan apa yang ia lakukan setahun lalu.


Meysa menatap Kai sambil menggeleng. “Bukan gak suka, ini lebih baik disatukan biar tidak banyak piring kotor. Yang mau makan cuma kita berdua, Rena sudah tidur."


Ternyata itu alasannya. Penjelasan Meysa langsung membuat raut wajah Kai berubah, ia kembali tersenyum. Ternyata Bulannya tak sejahat perasangkanya.

__ADS_1


Pandangan Kai sama sekali tak beralih, terus mengikuti kemana arah pergerakan Meysa. Gadis itu mendekat ke lemari dapur, lalu membuka magiccom. Kai ikut mengkerutkan kening melihat wajah kebingungan Meysa, apalagi ketika gadis itu menunduk sambil mengamati bagian luar magiccom.


“Hehe, lupa kepencet!" Meysa menoleh cengengesan pada Kai yang masih menatap heran padanya.


Membuat wajah heran Kai berubah menjadi tawa mengembang tanpa suara setelah tahu apa penyebab wajah kebingungan Meysa. “Seriusan?"


“Hehe, iya. Seharusnya udah masak tapi ternyata tadi gak kupencet tombolnya.”


“Bul, bul!" Kai menggeleng masih dengan senyum lebar. Ia senang bisa kembali melihat senyuman di wajah Bulannya. “Kebiasaan kali ya! Dulu juga pernah gitu, kan?”


Meysa menganggukkan kepala untuk membenarkan ucapan Kai. Ia terkekeh menyadari kecerobohan yang kesekian kali setiap masak menggunakan magiccom. Kejadian yang sama selalu saja terulang tiap kali ia kelaparan.


“Maaf ya, kamu pasti lapar."


“Mana aku sengaja gak beli nasi karena ini."


“Gak apa, bul! Aku masih kenyang kok.”


Meysa terdiam sejenak, aroma ayam goreng beserta sambalnya yang menguar membuat cacing alaska di perutnya berdemo. Tapi kalau harus keluar untuk beli makan pun ia sangat malas, menunggu nasi mateng pun bukan hal yang sebentar. Sebenarnya ia bisa saja tak makan nasi, tapi sosok Bintang yang menjadi tamunya itu membuat ia mau tidak mau harus keluar untuk beli makan lagi.


“Tunggu sebentar ya, aku keluar lagi!" Dengan terburu-buru Meysa langsung meraih kunci motor di atas meja. Ia pun hendak melangkah tapi urung sebab Kai menghentikan langkahnya.


“Nggak usah repot-repot, bul!" Kai berdiri dan langsung menarik tangan Meysa, menahannya untuk tidak pergi.


Meysa menoleh, lagi-lagi ia harus merasakan getaran hebat setiap kali bersitatap dengan Kai. Apalagi ini pertama kalinya ia bersentuhan langsung dengan laki-laki itu. Meysa masih terpaku, sekujur tubuhnya terasa disengat aliran listrik. Membuatnya sangat tak berdaya. Namun, setelah berhasil mengumpulkan kesadaran, ia berhasil menarik tangannya dari pegangan Kai.


“Maaf!"


Kai menggeleng. “Gak usah Mey, jangan repot-repot, kita tunggu nasinya saja ya!"


“Kamu lapar!" pungkas Meysa.


“Nggak, Mey. Aku masih aman kok!"


Ucapan itu lagi! Meysa tersenyum dalam hati mendengar ucapan yang selalu Kai ucapkan dulu setiap kali ia menanyakan apakah laki-laki itu sudah makan atau belum. Saat dalam kondisi sulit, pasti Kai selalu mengatakan hal yang sama hanya untuk membuatnya tenang dan tidak khawatir. Setahun berlalu, ternyata tak banyak yang berubah dari Bintangya, hanya saja tubuhnya tak lagi berisi seperti dulu. Persis seperti tubuhnya yang mengalami penurunan drastis!


“Kalaupun mau pergi, aku ikut, ya!"


Ucapan Kai membuat pandangan Meysa dari sosok bintangnya itu teralih. Ia menatap ke sembarang arah.


“Kalau gak mau aku ikut, kita tunggu nasinya mateng aja ya, Mey! Gak usah repot-repot!"


Entah mengapa Meysa malah tak ingin berdebat, ia malah menuruti kata-kata Kai. Padahal bisa saja ia pergi tanpa mempertimbangkan keinginan Kai yang ingin ikut dengannya. Tapi rasa malasnya lebih besar menguasai, sehingga membuat ia memilih tidak pergi.


Sebenarnya bukan masalah repot-repot atau tidak. Aku juga sudah lapar, tapi juga terlalu mager kalau harus pergi lagi. Ringis Meysa membatin.


“Tapi magiccomnya sudah dipencet beneran, kan Bul?" tanya Kai memastikan ketika Meysa sudah duduk di depannya.


Meysa mengangguk ragu, tapi ketika ia hendak berdiri memastikan, Kai justru menahannya.

__ADS_1


“Biar aku ya, kamu duduk aja!"


Kali ini pergerakan Kai yang tak lepas dari sorotan Meysa. Gadis itu benar-benar merasa haru sekaligus sedih atas apa yang terjadi saat ini. Rasanya masih seperti mimpi.


“Dah bul, udah asli kepencet!" Kai kembali duduk di tempat. Ucapan Kai membuat Meysa terkekeh menyadari kecerobohannya kali ini.


Keduanya larut dalam kesunyian, tak ada yang berniat memulai obrolan apapun. Sama-sama menunduk dan saling curi pandang dari ujung mata. Kai sendiri bukan tak ingin memulai obrolan, tapi kali ini ia hanya ingin mengamati wajah sang Bulan dengan jarak yang begitu dekat.


“Kraukk....”


Keduanya seketika saling tatap ketika mendengar bunyi alarm dari perut yang sedang kelaparan.


“Kamu lapar?" tanya Kai dengan senyum tertahan.


Meysa yang tadi menyandarkan kepala di meja dengan posis miring perlahan bangkit dengan senyum menahan malu.


“Hehe iya, belum makan dari siang!"


Seketika raut wajah Kai berubah menjadi datar. Setahun berlalu ternyata cinta virtualnya itu belum meninggalkan kebiasaanama, masih malas makan. Hal itu membuatnya kesal sekaligus gemas.


“Bul, bul, kebiasaan!" Kai menggeleng, meski begitu ia merasa senang kali ini bisa memberi perhatian secara nyata pada orang yang dulu hanya bisa ia ingatkan makan dan jaga kesehatan melalui gawai.


Meysa sendiri langsung mengernyitkan kening ketika melihat Kai beranjak sambil membawa piring ke dekat magiccom.


“Belum mateng!"


“Makan apa dong bul, kamu pasti lapar kali, ya!" lirih Kai dengan wajah cemas.


Rasa haru semakin merong-rong hati Meysa ketika tahu ternyata Kai melangkah memastikan nasi hanya untuk dirinya.


“Makan ayam ajalah!" Meysa menyusut hidung sambil menunduk. Tangannya menarik piring ke depannya. Rasa sedih membuat ia tak lagi bisa menahan lapar.


“Gak pakai nasi?" Kai kembali duduk.


“Aku laper!" Meysa mulai mencocol ayam beserta lalapan pada sambal yang ada.


“Aku aja yang beliin nasi ya!" tawar Kai. Namun Meysa justru menggeleng tak setuju.


“Nanti kamu nyasar!" ucapnya dengan mulut kepenuhan. Sudah tidak ada lagi jaga image di hadapan Bintang, ia sama sekali tak perduli, yang terpenting perutnya harus terisi.


“Kan ada BPJS!"


Tawa Meysa langsung pecah mendengar ucapan Kai, apalagi melihat wajah datar laki-laki itu tengah menahan tawanya. Membuatnya kembali teringat pada candaan mereka dulu.


“GPS!" ucap Meysa membenarkan. Tawanya pudar, ia lebih memilih menunduk ketika raut wajahnya berubah sendu, menahan air mata yang hampir tumpah sambil terus menguyah makanan merupakan cara untuk menutupi hati yang kembali diterpa kesedihan.


Kai yang menyadari itu pun lebih memilih diam. Ia tak ingin membuat Meysa semakin sedih.


“Aku beliin nasi ya, Mey!"

__ADS_1


“Ndak usah," sergah Meysa. “Kamu makanlah juga, makan ini dulu aja, nanti makan lagi!"


Akhirnya Kai tak lagi memaksa, ia lebih memilih menuruti apa yang Meysa katakan dan keduanya sama-sama makan ayam tanpa nasi.


__ADS_2