Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
71. Berakhir Sampai di Sini


__ADS_3

“Aku mohon beri aku kesempatan bee, aku gak bisa tanpa kamu!"


“Aku beneran sayang kamu!"


“Aku tahu aku salah, aku egois karena selama ini selalu gak punya waktu buat kamu!"


Meysa hanya diam mendengar ucapan panjang lebar dari laki-laki di seberang telepon.


Setelah sempat menonaktifkan ponselnya selama sehari semalam ntuk menghindari Kai dan setelah diaktifakn Meysa langsung dibuat jengah saat melihat pesan masuk dari orang yang sudah sering membuatnya kecewa.


Bahkan sudah lebih dari puluhan panggilan masuk dari Kai yang Ia abaikan sejak semalam. Meysa yang seharian full di rumah Rena, menyaksikan prosesi mappaci sebelum H-1 pernikahan sahabatnya itu sama sekali tak pernah memegang hp. Di malam larut ini, Meysa yang baru pulang dari rumah Rena pun memutuskan untuk mengangkat telepon Kai yang sudah ia abaikan selama dua hari dua malam sejak kejadian Kai kembali mengulang kesalahan yang sama, kesalahan yang berulang kali menjadi masalah dalam hubungan mereka.


Dan, saat diangkat Meysa memutuskan untuk mengakhiri semua. Ia terlalu lelah jika harus setiap hari dibuat stres karena masalah yang sama.


Kai yang tentunya tak mau hal itu terjadi terus meminta maaf, memohon agar Meysa tak mengakhiri hubungan yang sudah mereka bangun selama lebih dari tiga tahun sejak pertama kali kenal.


“Udahlah kai, apalagi yang mau dipertahankan?!" ujar Meysa yang mencoba bicara dengan kepala dingin. Ia tak lagi seperti Meysa yang dulu, dimana selalu marah dan menuntut agar Kai selalu memprioritaskan dan memberinya kabar. Kini ia terlihat acuh tak acuh dengan apa yang Kai katakan. Jika dulu ia begitu cepat luluh, kini hatinya seperti beku karena dikecewakan dengan kesalahan yang sama terus menerus.


Rententan kejadian yang berulang membuat Meysa tersadar bahwa ia tak bisa memaksakan kehendak agar sesuatu berjalan sebagaimana keinginannya. Seseorang tak harus selamanya menjadi seperti yang ia inginkan. Kejadian ini membuat Meysa tersadar jika seseorang yang benar-benar diprioritaskan tak perlu menuntut efort dan menuntut pasangannya untuk memberi perhatian. Jika mereka benar cinta dan sayang, sudah tentu mereka akan diperhatikan tanpa harus mengemis seperti yang ia lakukan selama ini.


“Aku sadar kalau selama ini aku yang terlalu banyak menuntut, aku yang selalu haus untuk diperhatian dan ingin diprioritaskan."


“Bee!" lirih Kai seraya menggeleng, Ia tak sanggup mendengar ucapan Meysa.


“Percuama aku nuntut banyak hal kalau aku emang gak sepenting itu di hidupmu, sampai kapanpun aku gak akan dapatin semua itu karena mungkin di hatimu memang udah gak ada aku!" lirih Meysa. Dadanya memang sesak, tapi air matanya seperti sudah kering, tak ada yang menetas disaat rasanya ia begitu ingin menangis.


“Bee, gak ada aku berpikir seperti itu! Aku emang salah, tapi apa yang kamu bilang itu gak bener!" sela Kai. Sungguh di saat seperti ini ia menyadari kesalahannya, Ia pun bingung dengan dirinya yang selalu mengulang hal yang sama dan berujung pada menyakiti gadis yang sangat ia cintai itu.


“Aku tahu aku salah, tapi tolong jangan berpikiran seperti itu. Bahkan sampai saat ini perasaanku ke kamu masih sama, gak ada yang berubah!" lirihnya mencoba meyakinkan. ”Hanya mungkin caraku yang salah, aku juga gak tahu kenapa kejadian seperti ini harus terulang setuap hari!" ungkap Kai. Ia tak ingin Meysa terus berpikiran seperti itu. Karena sungguh, mau sesibuk apapun dia, cintanya pada gadis itu tetap sama. Tak akan pernah berubah.


“Huuuhh!"


Membuat Kai menunduk menahan air mata saat mendengar Meysa melenguh panjang. Ia tahu Meysa sudah terlanjur kecewa padanya. Kai sadar hal ini adalah salah satu bentuk rintangan dalam hubungan mereka.


“Tapi kenapa Kai?"

__ADS_1


Kai yang tengah menunduk sambil memencet pangkal hidung, segera berusaha fokus saat Meysa kembali bertanya.


“Kenapa kamu memperlakukanku seperti orang yang gak penting, gak diprioritaskan!"


“Padahal aku sama sekali gak pernah nuntut apapun selain kabar!"


Kai mengangguk perih sambil menopang keningnya menggunakan tangan. Apa yang Meysa ucapkan semakin membuat rasa bersalahnya kian besar.


“Tapi kenapa harus sesusah itu buat lakuinnya. Padahal hubungan kita hanya tergantung sama itu, Kai!"


“Bahkan aku selalu berusaha maklum sama kesibukanmu! Apa salah kalau aku marah karena kamu gak ngasih kabar?" sentak Meysa dengan kening mengkerut menahan sedih.


Rentetan ucapan yang keluar dari mulut Meysa membuat Kai membisu. Pertanyaan Meysa bagai sebuah tamparan yang menyadarkannya.


“Bahkan setiap kamu mengulang hal yang sama aku selalu maklum dan memaafkan!"


“Maklumku yang mana lagi yang nggak aku kasih, hah?" sergah Meysa bingung dengan sedikit meninggikan suara.


Meysa menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Dadanya begitu sesak mengungkapkan semua.


Hatinya sakit mengingat bagaimana Kai tak memberinya kabar seharian full tetapi pada malam harinya ia bisa pergi ke pesta. Apalagi itu adalah pesta ulang tahun seseorang yang pernah membuatnya cemburu.


Sekali lagi Meysa tersenyum pedih, Ia menarik napas dalam dan kembali berkata. ”Dan makasih karena itu juga aku bisa sadar!'


"Bee!" lirih Kai. Berharap Meysa mau berhenti. Namun gadis yang sudah terlanjur kecewa itu sepertinya tak berniat melanjutkan hubungan yang berulang kali telah membuatnya sesak.


“Aku sadar diri, aku gak seberharga itu di hidupmu!"


“Aku pasrah, Kai!"


“Percuma aku berusaha nunggu kamu, berusaha pertahanin hubungan yang setiap hari bikin aku sakit dan kecewa tapi kamu malah kasih sakit seperti ini tiap hari!" ucapan Meysa terdengar begitu memilukan.


“Aku sanggup nunggu kamu sampai kapanpun itu, tapi aku gak sanggup menahan sakitnya kecewa karena sikapmu!"


“Aku menyerah!

__ADS_1


“Bee, kumohon, stop!" potong Kai. Namun Meysa yang tak perduli terus mengeluarkan seluruh isi hatinya.


“Aku serahkan semua sama Allah!


“Kalau kita memang ditakdirkan untuk berjodoh, Allah pasti akan menyatukan kita dan mendekatkan kita kembali!"


“Tapi bee!" sela Kai lagi dari balik telepon, suaranya terdengar sendu menahan tangis.


“Tolong hargai keputusanku!" pungkas Meysa yang tak ingin diganggu gugat.


Membuat Kai mengangguk mendengar keputusan meysa, tak terasa air mata pria itu meleleh begitu saja. Ia tahu kesalahannya yang sudah sangat menggunung, bahkan Meysa tak lagi bisa mentolerir semua.


Kai menarik napas dalam. Tak ingin memaksa bukan berarti ia tak lagi mencintai Meysa, tetapi Kai hanya tak ingin semakin menyakiti hati Meysa dengan terus menorehkan kekecewaan yang sama. Kai berusaha menghargai meskipun hatinya harus menahan sembilu.


Berulang kali Kai memejamkan mata mendengar ucapan Meysa, ia menarik napas dalam sebelum berkata “Oke, Aku hargai keputusanmu, tapi tolong jangan hapus ataupun blokir wa ku." Pinta Kai yang sejujurnya tak bisa melakukan itu.


Kai tak ingin jika meysa sampai memblokir semua yang biasa mereka gunakan untuk berkomunikasi. sebab besar harapan kai untuk bisa kembali dengan gadis itu suatu saat nanti.


“Aku ingin selalu tahu kabarmu, tolong jangan blok aku! Aku harap kamu mau setuju!"


Meysa menarik napas dalam mendengar ucapan Kai. Ia tersenyum perih, pria itu memang begitu cepat menyetujui segala keputusan yang ia buat. Ini membuat Meysa tersadar, Kai selalu seperti ini. Bahkan tak pernah berusaha mempertahankan, jika dulu setiap kali Kai menjadi orang yang mudah pasrah dan mengiyakan semua ucapannya, sudah pasti Meysa akan mengatakan 'Oh jadi usahamu cuma segini, bahkan kamu gampang pasrah dan gak mau berusaha buat nahan aku!' begitu Meysa berkata setiap kali Kai menunjukkan sikap pasrah. Namun, kali ini ia tak lagi memprovokasi Kai dengan kata-kata seperti itu agar dipertahankan. Kekecewaannya kali ini cukup besar dan kesalahan Kai yang berulang itu cukup membuatnya sadar.


Meysa lalu menarik napas dalam dan menghembuskanya dengan pelan. “Tenang aja, kamu gak akan kublokir kok!" pungkasnya memutuskan. ”Kita bukan anak kecil lagi yang kalau ada masalah harus main bloki-blokiran, aku juga mau melepaskan tanpa dendam. Aku akan berusaha ikhlas!" ucap meysa menyetujui.


Sedangkan Kai terus terlihat menunduk sembari memijat pangkal hidung. Berat berada di situasi ini. Tapi Ia juga tak ingin memaksakan kehendak, bukan karena tak laagi cinta. Hanya saja ia sadar, luka yang digoreskan pada Meysa sudah terlalu dalam. Ia bahkan malu pada dirinya yang terus menerus mengulangi kesalahan yang sama meski telah diberi maaf.


Sampai ketemu di titik terbaik menurut takdir, bee! Semoga Allah menjagamu untukku, Aku sayang kamu! Sayang banget! Lirih Kai dalam hati dari balik telepon yang masih terhubung dengan Meysa. Hanya saja mereka masih sama-sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Dengan Kai yang terus memerhatikan foto kenangan ketika Ia menemui Meysa setahun yang lalu.


Tunggu aku! Ya Allah lindungi dia, jaga hatinya saat aku tak lagi bisa menjaga dan menggenggam hatinya. Semua kuserahkan padamu. Lihatlah keseriusanku yang selama ini berusaha keras untuk menghalalkannya. Engkau maha mengetahui, Engkau jelas yang paling tahu apa yang ada di dalam hatiku, betapa aku menginginkannya dan semua usahaku selama ini memang untuk menjadikannya kekasih halalku!


Kai masih saja berguman sembari menatap foto Meysa.


Tak disangka, hubungan yang sudah terjalin selama hampir empat tahun itu harus kandas di tengah jalan. Dari balik telepon Kai dan Meysa masih sama-sama terdiam sambil menahan sedih.


Pihak yang paling menyesal disini tentu adalah Kai, sebab dirinyalah yang menjadi penyebab berkahirnya hubungan mereka kali ini.

__ADS_1


__ADS_2