Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
23


__ADS_3

Beberapa hari bisa berada di dekat Bulan, bahkan menatapnya secara langsung dengan jarak sedekat ini membuat hati Kai seperti di siram ribuan kelopak bunga. Satu resolusi tahun ini berhasil tercapai, yaitu datang ke Bulan.


Sejak lulus kuliah dan mendapat pekerjaan bagus, ia mulai menabung untuk bisa ke bulan. Sudah seperti astronot yang akan menjalankan misi, cita-citanya sangat di luar nalar. Ia mengumpulkan pundi-pundi rupiah hanya untuk bisa menemui sang belahan jiwa. Tak hanya Janji semu seperti dulu ketika masih melarat, kini semua bisa tercapai berkat kerja kerasnya.


Sempat jatuh bangun, tapi Kai tak menyerah. Karena ia memiliki banyak mimpi. Kini satu-persatu bisa tercapai. Entah langkahnya kali ini akan membawa kemenangan atau justru kekalahan, Kai tak perduli. Setidaknya diriku pernah berjuang! Ia berusaha menyemangati diri.


Setelah kepergian calon kakak ipar, Ia masih mematung. Saling tatap dengan sosok Bulan dari jarak yang cukup jauh. Meysa di depan wastafel cuci piring, ujung ruang. Kai di tengah ruangan, berdiri di sisi meja makan. Sorot mata keduanya begitu dalam.


“Aku boleh bicara?" Kai membuka obrolan.


“Aku juga mau bicara!" Meysa menyahut tak mau kalah.


Kai tersenyum, ia senang akhirnya Meysa mau bicara dengannya. Semua berkat calon kakak ipar, sepertinya jika ia tak memberi peringatan seperti tadi, mungkin Meysa masih akan menghindar.


“Kamu kemana saja selama ini?” sergah Meysa langsung ke intinya.


“Kenapa sekarang malah datang lagi?"


Jika semalam Meysa masih gengsi dan terus berkelit membuat alasan hanya untuk memberikan rasa sakit pada Kai. Kali ini ia lebih bisa terbuka. Meya memilih itu karena tak ingin kejadian semalam terulang, ia menyesal sudah mengatakan semua pada Kai. Ia benar-benar dikuasai amarah malam itu. Tadi malam setelah Faza keluar, ia merenungi semua ucapannya pada Kai. Kai memang salah, tapi seharusnya ia mau dengar penjelasan laki-laki itu dulu.


“Kenapa diam saja? Bukannya kamu mau bicara! Ayo, aku mau dengar!" Meysa kembali menantang, Kai menunduk sedari tadi.


“Ternyata dari dulu sampai sekarang aku memang gak sepenting itu bagimu!"


Kai menatap dengan sedih. “Kata siapa gak penting, kamu sepenting itu, kamu berharga bagiku!"


“Kalau berharga dan penting kamu gak akan lakuin hal yang bikin kita ada di situasi seperti sekarang!"


Hati Meysa sakit, semua tidak akan jadi begini jika bukan Kai yang mulai. Dulu jarang mengabari dan terkesan abai, bahkan untuk menanyakan keadaan Meysa saja Kai tak bisa. Meysa sakit hati.

__ADS_1


“Kamu boleh berbuat apa aja, kamu boleh menjauh, tapi jangan sampai pergi. Kita bisa jadi teman, gak perlu begini!" Begitu Meysa memohon ketika Kai menunjukkan perubahan sikap yang luar biasa. Jarang memberi kabar. Jangankan menelpon atau VC, membalas pesan dari Meysa saja sangat jarang.


Hubungan itu benar-benar terasa hambar, tak ada hal yang menyenangkan, Meysa merasa sangat kosong.


“Maaf ya kalau kesannya aku terlalu maksa dan ngemis." Saat itu Meysa memang benar berjuang untuk mempertahankan hubungannya dengan Kai. Meysa dibuat bingung, ia capek dang ingin berhenti tapi hatinya memang sudah mentok di Kai sejak malam pertama kenal dengan laki-laki asing tersebut.


“Maafin Aku. Jujur aku juga bingung, sebenarnya aku pun gak bisa tanpa kamu! Ini terlalu rumit." Itu balasan pertama Kai setelah belasan pesan dan beberapa panggilan yang Kai abaikan.


Meya ingat, saat itu dia sedih karena Kai. “Kamu bisa, buktinya kamu selalu mengabaikanku. Kalau kamu beneran serius dan sayang, kamu gak akan bisa mendiamkanku seperti ini!"


Padahal bagi Meysa hanya dengan cara seperti itulah mereka merasakan keberadaan satu sama lain. Rindu mereka hanya bisa diobati melalui panggilan video dan telepon ataupun bertukar pesan. Tapi Kai malah berubah setelah mengutarakan banyak janji dan mimpi. Persis seperti pejabat yang tebar janji manis saat mencalonkan, setelah naik malah mendadak lupa ingatan.


Mata Meysa masih menatap tajam pada Kai. Ingatan kejadian saat detik-detik perpisahan memang menyakitkan. Tapi selalu ia kenang seperti pahlawan.


“Bukannya aku benci atau dendam, tapi setelah kita berpisah selama setahun ini aku jadi sadar kalau kamu memang bisa bahagia tanpa aku." Mata Meysa mulai berkaca-kaca. Tak lagi keras hati seperti semalam hanya untuk menutupi semua. Kali ini dia benar-benar mengungkapkan apa yang dirasa.


Kai menggeleng dengan wajah sendu, rasa bersalah menyebar di rongga dada. Tapi semua yang Meysa katakan tak seperti apa yang ia rasa.


“Kalu nggak kenapa kita bisa jadi begini? Kamu gak berusaha menghubungi dan memperbaiki saja bisa membuktikan kalau aku ini memang gak sespesial itu." Meysa mengusap hidungnya yang mulai berair. Pagi ini ia kembali berderai air mata. Sangat mengenaskan.


Laki-laki asing itu berhasil membuatnya menangis untuk yang kesekian kali. Beberapa hari setelah mengabaikan pesan Kai yang hanya mengatakan satu kata, yaitu “Maaf' tanpa berusaha menjelaskan apa yang terjadi hingga membuatnya bersikap demikian. Meysa memutuskan untuk tak membalas pesan Kai, ia kesal.


Bukannya dikejar atau berusaha menjelaskan, Kai malah turut mendiamkan. Sikap Kai yang tak menghubungi jika tidak dihubungi duluan membuat Meysa kesal dan sakit hati. Hingga beberapa minggu setelahnya Meysa memutuskan untuk memblokir semua social media Kai hanya untuk meluapkan kekesalan, ia sangat marah. Tapi setelah itu, bukannya lupa, hidupnya malah makin menyedihkan. Seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Sangat berlebihan! Cinta memang bisa melemahkan dan menguatkan.


“Maafin aku, Mey!"


“Maaf!"


Setahun tak berkomunikasi ternyata tak membuat Kai berubah. Dia masih saja suka mengucapkan maaf tanpa memberikan kalimat pendukung yang jelas. Meysa tak hanya ingin sekedar mendengar kata maaf, tapi juga ingin tahu alasan, apa dan bagaimana penyebabnya.

__ADS_1


“Pada saat itu aku memang bodoh, Mey, aku bingung dengan hidupku yang tidak jelas!"


“Kamu tahukan bagaimana kehidupanku pada saat itu gimana." Kai menatap dengan nanar.


“Semuanya terlalu sulit dan rumit!"


“Aku memang benar-benar mau sama kamu, aku menginginkanmuu, Mey!"


“Kalau memang mau kenapa harus menyakiti dan memilih pergi, bukankah kita sama-sama sepakat untuk berjuang." Meysa meremas ujung kaosnya, meluapkan kekesalan yang ada.


“Aku takut gak bisa memenuhi semua, kamu tahu aku tidak punya pekerjaan saat itu. Kuliahku juga belum selesai, buat biaya sehari-hari aja sulit, apalagi toko Abang sempat hampir tutup! Aku gak punya kekuatan dan keberanian buat meyakinkan diri kalau semua akan baik-baik saja saat itu."


Meysa sedih mendengar ucapan Kai. Ternyata hanya itu yang pria itu takutkan. Ia tahu Kai begity memikirkan semua secara matang.


“Kalau memang begitu adanya, kamu harusnya cerita bukan malah mendam sendiri dan bersikap seenaknya! Kamu pikir aku gak sakit?" Sergah Meysa, ia juga ingi Kai tahu bagaimana perasaannya hancur karena sikapnya


“Aku juga bingung dengan diriku!" Kai menjawab lesu, sosok lelaki yang kelihatan tegar itu ternyata bisa Rapur juga.


“Aku selalu memikirkamu, apalagi setiap kamu bilang mau berhenti!"


“Aku seperti kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku, Mey!”


Kepala Meysa kian menunduk dalam, ucapan Kai membuat hatinya nano-nano.


“Tapi waktu itu aku juga tidak mau egois dengan terus menahanmu bersama dengan orang yang tidak jelas sepertiku. Aku ingin kamu bahagia, meski tidak denganku. Aku memang bisa hidup tanpa kabarmu, tapi itu semua gak bisa mencegah diriku untuk terus memikirkanmu, aku masih ingin kamu." Kai juga ikut mencurahkan isi hatinya. Keduanya masih saling mengungkapkan dari jarak yang sama sekali tak berubah. Masih berjauhan.


“Astaga, Aku lambat!!"


Di tengah suasana yang mengharu biru Kai dan Meysa dibuat terpaku dengan suara teriakan dari ruang tengah. Itu pasti Rena yang baru menyadari jika dia kesiangan.

__ADS_1


Kai dan Meysa saling tatap, mereka masih ingin menyelesaikan semua dengan bercerita panjang lebar. Keduanya terlihat bersiap akan meminta Rena tetap diam di ruang tengah untuk tidak mengganggu ketik suara langkah terdengar makin mendekat.


__ADS_2