Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
40


__ADS_3

“Bee, Aku minta maaf soal yang di halaman mesjid tadi, ya." Kai baru membuka obrolan saat berhenti di lampu merah.


Sejak dari Mesjid tak ada yang membuka obrolan, keduanya sama-sama diam. Meysa sendiri sibuk membuat story WA menggunakan foto bintang dan bulan yang dijepret Kai tadi. Meysa mengunggah dengan caption. “Bagaimanapun situasinya, sesulit apapun itu, Bintang adalah satu-satunya yang ingin Bulan temani!"


Sedangkan di IG, Ia mengunggahnya di insta story, tanpa caption. Hanya menggunakan lagu dengan penggalan lirik :


Dirimu laksana surgaku


tempatku mencurahkan.


segala rasa cinta suci yang indah di dalam hatiku.


tiada yang mampu gantikan titahmu di hatiku. Menyejukkan seluruh jiwa, melebur ke dasar sukmaku.


Meysa baru menoleh dan merespon ucapan Kai setelah selesai mengunggahnya.


“Gak apa bee, aku juga salah kok! Kita sama-sama ke bawa suasana."


Kai menghela napas mendengar itu. Ia takut jika Meysa berpikiran buruk tentangnya karena hal tadi. Kai menarik tangan Meysa untuk digenggam. Diusapnya dengan penuh sayang.


“Maksih ya bee, aku sayang banget samamu!"


Meysa mengangguk mendengar ucapan Kai. “Aku lebih sayang kamu!" jawabnya, mengutarakan perasaan yang tak kalah besarnya ke Kai.


Pemuda berkaos putih itu hanya mengangguk dari balik helmnya, Ia menoleh sembari menampakkan senyum pada Meysa.


“Besok ada waktu gak bee?”


Meysa nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Kai.


“Buat apa?"


“Aku mau ngajak kamu jalan-jalan, besok terkahir aku disini bee. Senin udah harus balik ke PKU. Aku pengen ngabisin sisa hari bersamamu. Karena habis itu mungkin kita lama lagi baru ketemunya.” Kai terdengar menghela napas berat setelah mengungkapkan hal itu.


“Rasanya berat bee, Aku gak mau pisah tapi emang harus gitu, bee!" Kai menoleh sekilas pada Meysa yang mendadak diam setelah mendengar ucapannya.


“Do'ain biar aku bisa segera datang buat halalim kamu ya, bee!" Kai menarik tangan Meysa untuk dikecup. Tak perduli jika mereka sedang di lampu merah. Toh tidak ada yang mengenal, begitu Kai berpikir.


Perasaan Meysa benar-benar campur aduk. Ia terharu mendengar niat baik Kai. Tapi Ia juga sedih karena Kai sudah harus pulang. Meysa merasa baru sekejap merasakan kebahagiaan bersama Kai, kini sudah harus berpisah lagi.


Rasa sedih membuat Meysa memberanikan diri untuk melingkarkan tangan di tubuh Kai. Tak ingin jauh-jauh darinya.


Meysa bahkan tak mengatakan sepatah katapun, membuat Kai bisa memahami kesedihan yang Meysa rasa. Kai menikmati pelukan Meysa, rasanya senyaman itu, Ia ingin membalas tapi posisinya sedang di atas motor.


Kai harus kembali melajukan motor setelah lampu lalu lintas berganti hijau. Sepanjang jalan tak ada yang memulai obrolan apapun. Sama-sama larut dalam pelukan dan rasa sedih.


Keduanya sama-sama menahan sesak memikirkan perpisahan yang akan terjadi esok lusa. Menikmati pelukan dalam diam. Rasanya tak mau berpisah, tapi keadaan belum mendukung. Air mata Meysa menetes, tak rela jauh dari Kai.


Begitu masuk di area kompleks, Meysa melepaskan pelukannya. Kai mengerti, ini sudah di kompleks. Menghindari segala kemungkinan jauh lebih baik.


“Aku masuk dulu ya!" ujar Meysa begitu sampai, Ia meraih keranjang peralatan untuk buket yang akan dieksekusi nanti.


“Bee!" cegah Kai saat Meysa hendak beranjak. Tarikan dari tangan Kai membuat Meysa langsung menoleh padanya.


Kai tahu Meysa baru saja habis menangis, tangan laki-laki itu tergerak menghapus air mata gadis yang ia cintai.


“Jangan sedih lagi sayang!" lirih Kai dengan wajah berat. Bagaimana bisa ia meminta Meysa untuk tidak sedih, sementara dirinya pun merasakan kesedihan yang sama.


“Aku pasti kembali lagi, do'ain secepatnya ya biar bisa jemput kamu!"


Meysa hanya mengangguk sambil menahan sesak karena ucapan Kai. Ia tak mampu berkata-kata.


“Masuklah, langsung tidur ya!" Kai mengusap kepala Meysa penuh sayang.


“Gak bisa langsung tidur, harus ngerjain ini dulu!" Meysa mengangkat keranjang, menunjukkan jika Ia masih harus menyelesaikan dua pesanan lagi untuk besok.


Kai memejamkan mata, Ia hampir lupa jika Meysa harus menyelesaikan pesanan.

__ADS_1


“Ya Allah, bee, aku lupa!" ucap Kai sambil mengerjapkan mata.


Meysa menggeleng tanda tak apa. Setelah itu Meysa masuk untuk membersihkan badan, begitu juga dengan Kai. Mereka sama-sama hendak mandi. Tadi Kai memberikan kunci motor pada Meysa, tapi gadis itu menyuruh Kai untuk memegangnya


Selesai dengan ritual mandi, Meysa keluar dari toilet, matanya melihat Rena yang tengah main ponsel sambil maskeran. Lampu kamar sudah gelap, hanya menampakkan wajah Rena yang seperti hantu terkena paparan cahaya ponsel.


Meysa menyalakan lampu, Ia berdiri di depan cermin, mengoleskan skincare untuk misi wajah glowing. Setelah itu Meysa mengeringkan rambutnya yang basah, menggantung handuk basah di belakang pintu kamar mandi.


“Ren, bantu bikin buket yok!" seru Meysa yang meraih keranjangnya.


Rena menoleh pada Meysa. Ia berniat membantu, tapi Meysa malah keluar kamar. “Kau mau kemana Meysaroh?"


“Kita buat disini saja, saya malas keluar!”


“Ayo diluar saja, Ren. Sekalian sama Kai, besok lusa dia sudah pulang." Meysa memohon dengan wajah memelas. Membuat Rena menghela napas kasar.


Sebenarnya Rena masih kesal karena pilihan Meysa, tapi Ia juga tak bisa melihat Meysa sedih. Pasti anak itu sedih karena Bintangnya sudah mau pulang. Dengan berat hati Rena menuruti keinginan Meysa.


Mereka keluar dan duduk di teras. Bersiap menrangkai. Meysa memberikan catatan permintaan sesuai keinginan pemesan. Rena mulai membacanya dengan teliti, meski tidak terlalu berbakat, tapi dia lumayan bisa diandalkan.


“Tunggu, chat Kai dulu.” Meysa meraih ponselnya dan mencari nama kontak Ayang.


“Terserah kau bucin!" hardik Rena dengan wajah kesal. Hmmmnt, dia saja kesal begini, apalagi dengan Erza. Pasti hati laki-laki itu hancur berkeping-keping! Rena kasihan dan memikirkan perasaan Erza yang baik hati dan tidak sombong.


Meysa : Bee, mau bantu bikin buket?


^^^Bintang : Boleh bee, aku kesitu ya!^^^


Kai yang baru hendak membuka laptopnya langsung bergegas keluar ketika melihat pesan dari Meysa. Tadinya Ia akan lanjut mengerjakan desain proyek yang belum usai. Tapi, karena waktunya dengan Meysa tinggal sebentar. Akhirnya Kai memilih untuk gerak cepat menemui Meysa, Ia tidak ingin melewatkan moment apapun dengan pujaan hatinya.


Kai keluar mengenakan kaos hitam dengan celana cargo pendek. Senyumnya langsung terurai ketika Melihat Meysa dan Rena menoleh padanya saat mendengar suara derap langkah.


Meysa yang tengah menggunakan drees polos dengan rambut di Cepol asal mengenakan jepitan membuat Kai terpesona. Rasanya ingin menikahi Meysa saat itu juga.


“Halo bee!" Kai menyapa ramah, tak lupa menyapa Rena dengan senyum.


Waktu perlahan berlalu, ketiganya terlihat akrab, saling ngobrol banyak hal satu sama lain. Yang diceritakan pun random. Seperti Rena yang ikut menceritakan pengalaman lucu saat pertama kali mengajar.


“Anak-anak ada-ada saja jawabannya.”


“Pernah satu kali ada soal yang mempertanyakan kegiatan hari-hari ibu mereka, Eh dijawab main tiktok, ngakak ndak tuh!" Rena tertawa sambil melirik Kai dan Meysa yang ikut tertawa.


“Mungkin anaknya jawab gitu karena related dengan apa yang dilihat.” Kai ikut berceletuk sambil geleng-geleng kepala.


“Ya, gimana gak related orang ibu-ibu jaman sekarang sukanya main tok-tok!" sahut Meysa ikut menimpali.


“Kamu gitu juga gak?" tanya Kai seraya menatap Meysa dengan senyum tertahan.


“Ya, nggaklah. Aku kan bukan ibu-ibu." celetuk Meysa membela diri.


“Dia emang gak suka joget tiktok, tapi up story' 24 jam rajin sekali, sudah kek seleb berjuta followers!" sahut Rena menimpali, membuat Meysa terpojokkan.


Kai tertawa mendengar ucapan Rena soal seleb berjuta followers.


“Ya, biar rame!" sahut Meysa tak mau kalah.


“Memang jiwa-jiwa kesepian kau itu, Mey!" lanjut Rena menghardik.


Meysa tak ambil pusing, ia malah mengambil ponsel dan merekam bunga yang ada, tak lupa Rena dan Kai yang di depannya pun turut direkam. Membuat ucapan Rena langsung terbukti nyata.


“Tuh kan!" seru Kai, ia terkekeh melihat kelakuan Bulannya. “Baru juga dibilang udah dibuktiin aja!" Kai menatap Rena, membenarkan ucapan gadis tersebut.


“Lah kenapa? Ini namanya mengabadikan moment," celetuk Meysa tak perduli. Membuat Kai geleng-geleng kepala.


“Ih bee, kamu emang dikit-dikit bikin story. Otw kesini, otw kesana. Lagi di tempat ini, di tempat itu! Benar-benar kayak seleb aja kamu, ntar ada yg culik baru tahu rasa!” celetuk Kai ketika mengingat betapa seringnya Meysa update Instastory. Ia juga tahu hal itu.


“Lah, kenapa kamu yang sewot, bee. Suka-suka yang punya akun lah. Lagi pula aku tidak merugikan siapa-siapa, kan!"

__ADS_1


“Ya juga sih,” Kai terkekeh menimpali. Membuat Rena bisa menilai jika Kai tidak suka cari ribut, dia terlihat suka mengalah padahal Meysa terlihat sedikit emosi.


“Dari situ juga aku jadi tau kamu ngapain aja, lagi dimana, sama siapa, kamu tinggal dimana, alamat toko bunganya dimana. Kan jadi gampang mantau dan nemuinnya.” kai cengengesan mengingat bagaimana perjuangannya sampai bisa menemukan Meysa hanya karena wanita itu selalu update dan menaruh alamat di insa story' setiap kali mengunggah semua hal tentang toko bunga tempatnya bekerja.


Kai yang tidak tahu alamat toko ELF florist jadi tahu berkat kerajinan Meysa yang selalu update. Itu juga memudahkan ia menemukan Bulannya. Tak perlu susah-susah cari alamat dan tanya sana-sini. Bisa merepotkan.


“Tuh kan, sekarang ketahuan siapa yang malah mau menculikku!" Protes Meysa.


Sementara Rena ia kembali fokus mengkemas uang untuk money buket, Malas mendengar perdebatan dua makhluk tersebut. Ia dan Meysa sudah menyelesaikan Snack hampers balon.


Sejenak suasana hening, membuat ingatan Meysa tertuju pada saat Kai pertama kali datang, dimana laki-laki itu pernah mengira ia punya anak. Membuat keningnya mengkerut heran.


“Wait!" serunya membuat Kai dan Rena menoleh.


“Kamu sering liat storyku, tapi kamu malah nanya aku punya anak atau nggak pas baru datang waktu itu!" Meysa melayangkan protes, membuat Kai tertawa.


Saat itu otak Kai memang agak ngelag, hingga tak bisa berpikir jernih. Apalagi ketika melihat interaksi Meysa dengan laki-laki begitu dekat, ditambah lagi sambil menggendong anak. Membuat ia tiba-tiba mengira jika Meysa sudah berkeluarga. Padahal sebelumnya Kai tak pernah melewatkan setiap story yang Meysa unggah. Bahkan ia juga tahu jika sejak lost contact Kakak Ipar Meysa melahirkan lagi. Dan bayi itu juga sering masuk story' Meysa. Tapi entah mengapa saat melihat Meysa dengan laki-laki ia malah berpikiran demikian. Ia cemburu sehingga tak bisa berpikir jernih. Padahal bocah yang digendong merupakan bocah yang sama dengan yang selalu Meysa unggah.


“Hehe, iya juga ya, kok bisa lupa.” Kai tertawa menyadari kekonyolannya saat itu.


Suasana kembali hening, Meysa dan Rena sibuk menyelesaikan money buket dari pecahan uang 20 ribu itu. Sedangkan Kai tengah main ponsel sambil sesekali memerhatikan Meysa yang sedang merangkai kain wrapping.


Tiba-tiba Faza muncul dari dalam. Bapak dua anak itu penasaran saat mendengar obrolan seru diantara mereka.


“Belum tidur?" tanya Faza. Ia ikut duduk di sisi Kai, tepat berhadapan dengan Meysa.


“Selesaikan ini dulu!" jawab Meysa tanpa menoleh.


Faza manggut-manggut, ia menoleh pada Kai yang sibuk main ponsel.


“Besok mancing bareng yok, Kai."


Kai menoleh dengan wajah heran. Calon kakak ipar mengajaknya mancing, sedangkan besok ia berniat menghabiskan waktu dengan Meysa, karena hari Senin sudah harus balik ke asalnya.


“Mumpung minggu!" lanjut Faza. Sebagai calon kakak ipar yang baik dia ingin menghabiskan waktu dengan calon adik ipar, sekalian mengobrol banyak hal.


“Tapi bang...”


Meysa dan Rena menoleh saat Kai memanggil Faza dengan sebutan bang. Terdengar aneh ditelinga mereka.


Faza mengkerutkan dahi mendengar kata tapi dari mulut Kai.


“Besok saya ada janji sama Meysa, mau jalan-jalan soalnya hari senin rencana balik ke Pekanbaru," tutur Kai memberi tahu. Membuat Faza manggut-manggut.


“Bolehkan bang, saya izin ajak Meysa jalan-jalan!" ucap Kai hati-hati, takut tak diberi izin.


“Boleh, asal jangan aneh-aneh ya kalian!" peringat Faza, berusaha menampakkan wajah biasa saja. Takut calon adik ipar segan padanya. Entah kenapa Faza tidak ingin menampakkan kesan galak di hadapan Kai.


Membuat Meysa heran, ternyata saudaranya juga bisa pencitraan.


“Siap kak!" Kai mengiyakan peringatan Faza.


“Hmmmnt, sayang sekali ya Kai kamu sudah harus pulang. Padahal kita belum sempat cerita banyak hal, maklum saya juga sibuk!" Faza mendesah, merasa tak punya waktu luang untuk.


“Gak apa bang, lain kali kalau saya datang lagi kita mancing!"


Faza menepuk bahu Kai, merasa sudah sangat klop dengan calona dik ipar. Rasanya ia ingin menukar Kai jadi adiknya, malas punya adik perempuan. Di keluarganya kebanyakan perempuan, bahkan anaknya pun perempuan semua. Faza terkekeh menyadari pikiran jahatnya yang ingin menukar Kai dengan Meysa. (Author bilek : Kakak Lucknut!🙄)


Karena waktu sudah menunjukkan jam 10, Kai menyuruh mereka semua masuk. Tak enak dilihat tetangga. Sedangkan Meysa dan Rena lanjut menyelesaikan buket di kamar.


“Faza baik sekali sama Kai!"


Meysa menoleh pada Rena. Ternyata Rena juga menyadari hal itu.


“Iya toh, Ren. Biasanya dia suka ketus. Bahkan sama Erza saja kadang cuek." Bahkan Meysa juga heran dengan perubahan sikap kakaknya.


Rena dan Meysa mempertanyakan apa yang membuat Faza begitu baik dan menerima Kai, padahal Kai merupakan orang asing yang baru dienalnya.

__ADS_1


Tanpa mereka tahu jika Faza selalu memiliki insting yang kuat, seakan bisa merasakan mana yang baik, bersungguh-sungguh dan mana yang tidak.


__ADS_2