Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
65. Waktu, bisakah lebih cepat?


__ADS_3

Obrolan Kai dan Meysa masih berlanjut sampai waktu maghrib tiba. Apalagi ketika semua keluarga Kai keluar melaksanakan shalat. Membuat keduanya bisa lebih leluasa mengobrol. Saling melepas rindu satu sama lain.


“Bee, aku sayang kamu pake banget, bee!" ucap Kai yang tiba-tiba berteriak sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena hanya bisa berbaring. Menyadari pergerakan yang dapat dilakukan terbatas, Kai berusaha bergerak dengan sangat hati-hati. Tubuhnya terasa seperti remuk.


Meysa melotot gemas melihat tingkah Kai. Ia pun begitu menyayangi pria ini.


“Ih, nanti ada yang dengar!"


“Gak malu emang? tanya Meysa dengan wajah mencebik malu-malu. Takut ada yang mendengar ucapan Kai barusan.


“Disini gak ada orang kok, sepi!" Kai menunjukkan ruang rawat yang cukup luas.


Bang Alby memang memilih kamar privat agar bisa menampung keluarga yang datang membesuk. Meski bukan ruangan yang mahal, tapi fasilitasnya cukup oke.


Meysa manggut-manggut mendengar itu. Keduanya terdiam, tak lagi terdengar obrolan. Meski begitu sorot mata diantara sejoli itu terlihat saling tatap. Seakan tengah berbicara melalui sorot mata, dalam dan penuh cinta.


“Bee, kiss dulu! Pengen dipeluk juga!" Setelah cukup lama saling tatap, Kai malah merengek manja seperti anak kecil. Meminta sedikit asupan agar bisa mendapat semangat tambahan.


Sungguh Meysa dibuat gemas dengan sikap Kai yang seperti ini. Ia lalu memajukan bibirnya dan lagi-lagi berciuman secara virtual. Beginilah nasib LDR-an!


“Muuaach!" suara kecupan Meysa terdengar nyaring.


Kai yang mendapatkan apa yang diinginkan langsung tersenyum senang. Tak lupa ia balik melakukan hal yang sama pada Meysa.


“Muuuachh!"


Hal itu membuat Meysa kian merona malu.


“Aku sayang kamu tau, bee!" Denga wajah serius Kai menatap Meysa dengan tatapan penuh cinta. Seandainya waktu bisa dipercepat, rasanya ia ingin mempercepat hingga hari dimana Ia bisa menjadikan Meysa miliknya seutuhnya.


Meysa mengangguk sambil mengerjap lembut. “Dan aku lebih sayang kamu!" balanya yang mana membuat Kai mengulas senyum.


“Tunggu aku ya sayang, do'ain aku biar bisa secepatnya melaksanakan niat baik kita!"


Hati Meysa benar-benar tak bisa menghindari kesedihan jika Kai mulai membahas hal ini. Mereka sudah sama-sama ingin sesegera mungkin, tapi takdir seakan belum merestui. Membuat mereka harus bertahan dengan terus menggantungkan harapan agar diberi kemudahan.


“Maaf Karena aku harus bikin kamu menunggu selama ini!" Bahkan Kai tak bisa menyembunyikan kesedihannya setiap kali membahas hal yang sama. Ia bisa menjadi lebih sensitif dan mellow.


Tak ingin kesedihan ini berlarut, akhirnya Meysa mencoba mengalihkan dengan cara membahas hal lain.


“Eh bee, tahu gak aku abis dimarahin kak Faza!" seloroh Meysa sambil menunjukkan wajah sedih yang dibuat-buat. Mengadukan kejadian semalam pada orang terkasih.


“Dimarahin kenapa?" Kai yang penasaran terlihat menampakkan wajah khawatir. Ia ingin tahu kenapa pujaan hatinya itu dimarahi oleh calon kakak ipar.


“Jadi kemarin tuh aku hampir kesitu jengukin kamu!"

__ADS_1


Kai mengernyit seraya memiringkan tubuh ke kiri sambil menatap Meysa dengan serius. “Kesini?" tanya Kai yang tak mengerti.


“Mau jengukin aku?" tanyanya lagi memastikan saat Meysa yang ditanya malah nyengir kuda, lalu manggut-manggut, membuat kening Kai mengkerut.


“Berarti abang marah karena itu?" tanyanya lagi.


Yang mana membuat Meysa langsung menceritakan semua kejadiannya secara detail.


“Aku bohong ke bapak, bikin alasan nginap di rumah teman yang mau nikahan biar bisa kesitu tanpa dicurigai."


”Ih, bee! Ada-ada aja kamu!" sentak Kai dengan menampakkan wajah kesal mendengar Meysa hampir melakukan tindakan yang tak seharusnya.


Namun, Meysa hanya tampak cengengesan, bercerita dengan Kai memang seperti moodboster baginya. Kai selalu bisa menjadi pendengar yang baik setiap kali ia bercerita. Walau terkadang Kai mendadak jadi seperti bapak-bapak yang menasehati anaknya ketika Meysa berbuat salah.


“Tapi pas udah sampai bandara Faza malah muncul!" ujarnya yang melanjutkan cerita.


“Faza, Faza. Udah kek paling tua aja kamu!" potong Kai sembari menampakkan wajah datar. Tak suka jika Meysa memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan nama seperti itu, tidak sopan. Apalagi Faza adalah Abangnya.


Ditegur Kai membuat Meysa terkekeh. “Hehe!" Ia merebahkan tubuhnya ke kasur setelah lelah duduk bersandar di kepala ranjang.


“Dengerin dulu, aku belum selesai cerita!"


Kai mengangguk sambil mengatupkan bibir lalu tersenyum lebar. Mempersilahkan tuan putri untuk kembali mendongeng.


“Uda berusaha sembunyi-sembunyi biar gak ketahuan. Eh, malah ada suara annoucment yang bikin ketahuan!" Meysa menghembuskan napas kasar mengingat kesialan yang menimpanya semalam.


Kai sempat tersenyum mendengar itu, kemudian menyahuti cerita Meysa. “Lagian sok-sokan kali ya mbak!" Kai memutar mata malas. “Sok-sokan mau pergi sendiri tanpa izin pulak, terus bohong sama orang tua. Gimana mau dikasih kemudahan kalau awalnya aja salah?!"


Membuat Meysa menghela napas lesu mendengar ucapan Kai yang mendadak ceramah seperti bapak-bapak. Meski begitu ia tak bisa memungkiri jika dirinya memang salah, sehingga Meysa pun hanya pasrah mendengar ceramah dari Kai.


”Gak baik kayak begitu bee, apalagi sampai bohong ke orang tua!" seloroh Kai tak habis pikir. Ia bahkan tak setuju kalau sampai Meysa melakukan itu. Meski rasa rindunya pada Meysa pun sangatlah besar dan ingin bertemu secepatnya. Tapi Kai tak ingin kalau sampai Meysa yang datang menemui. Sebab menurut Kai menemui Meysa adalah tugasnya. Meski setahun ini ia benar-benar belum ada waktu untuk datang mengunjungi Meysa.


“Habis aku khawatir banget tahu!"


Kai mengangguk mengerti mendengar ucapan Meysa. Ia paham betul bagaimana perasaan gadis tersebut.


“Hampir empat hari kamu gak ada kabar, sekalinya dapat kabar kamu lagi kecelakaan. Gimana aku gak panik coba?!"


“Aku khawatir, aku takut kamu kenapa-kenapa!" tutur Meysa dengan wajah sendu. Ia menghembuskan napas berat, mengingat bagaimana runtuhnya ia saat mendengar kabar tak mengenakan itu.


Sementara Kai yang merasa bersalah hanya bisa diam sambil mengerjapkan mata. Ia merasa sangat tak berdaya di tengah hubungan jarak jauh ini.


”Kamu tahu, dengar kabar kamu kenapa-kenapa tuh sama aja kalau duniaku yang runtuh, karena kamu udah kujadikan sebagai duniaku!" lirihnya lagi. Membuat Kai memejamkan mata mendengar ucapan meysa yang membuatnya tersentuh dan merasa sangat dicintai. Ia beruntung memiliki wanita yang menjadikannya pusat dunia seperti meysa.


“Aku sayang kamu bee!" lirih Kai dengan lembut.

__ADS_1


“Aku lebih sayang kamu, Kai!" balas Meysa.


Lalu keduanya sama-sama terdiam dan kembali saling tatap. Pikiran keduanya sama-sama dipenuhi dengan perasaan dan rasa beruntung saling memiliki satu sama lain.


“Maafin ketidak berdayaanku yang sampai saat ini belum juga bisa datang untuk memenuhi janjiku, bee!"


“Maaf karena aku gak bisa jadi orang yang ada di saat kamu butuh!"


“Maaf karena sudah membuatmu menunggu selama ini!" tiba-tiba rasa bersalah menyeruak ke dalam hati kai. Sebagai seorang laki-laki, situasi ini membuat ia merasa tak berguna.


Terkadang ia merasa egois karena harus meminta Meysa menunggu selama ini, tapi di sisi lain ia pun tak ingin dan tak akan sanggup kalau Meysa sampai memilih orang lain dan meninggalkannya di saat perjuangan cinta mereka sudah sejauh ini.


Ujian jarak jauh sangatlah luar biasa terjalnya. Selain hanya masalah kepercayaan dan komunikasi, tak jarang kesetiaan keduanya pun diuji dengan kehadiran orang-orang yang terkadang bisa menggoyahkan. Namun, beruntung Ia dan Meysa sama-sama memilih untuk menjaga hati dan saling menguatkan untuk menghadapi hal seperti itu.


“Kamu pasti capek ya nungguin aku?" wajah Kai terlihat lesu, ia menatap Meysa dengan serius.


Meysa menggeleng, tanda jika ia sama sekali tak lelah.


“Di luar sana banyak yang lebih dariku!"


“Tapi yang aku mau cuma kamu!" sergah Meysa memotong ucapan Kai. “Kamu tahu sendirikan, yang aku mau cuma kamu!" sentaknya tak suka setiap kali mendengar Kai berkata seperti itu.


“Aku takut kehilanganmu, bee!"


“Jangan ngomong begitu!" Meysa menggeleng tidak setuju.


“Kamu bilang kita akan sama-sama berjuang sampai nanti takdir mempersatukan kita!"


Kai tersenyum samar, apa yang Meysa katakan memang benar. Namun disaat-saat tertentu seperti ini Ia terkadang merasa lemah dan sangat tak berdaya.


Betapa banyak kekurangan yang Ia miliki tapi Meysa masih mau bertahan hingga kini, bahkan gadis itu mau menunggunya. Namun, rasa bersalah karena sudah membuat Meysa menunggu lama selalu saja menghampiri. Membuatnya seperti orang yang tidak tahu arah harus bertindak seperti apa lagi.


Selama ini ia bahkan tak hanya tinggal diam. Ia berusaha semaksimal mungkin, bekerja dan bahkan sudah menyisihkan tabungan untuk semua itu. Akan tetapi Kai memiliki tanggung jawab yang mengharuskannya terlebih dulu harus mengundurkan niat baiknya.


Dulu biaya kuliahnya dibantu oleh abang, kini saatnya ia ganti bantu membiayai sekolah sang adik, seperti yang dilakukan Alby padanya dulu dan kini saatnya ia berganti mengemban tugas. Syaqila sudah harus masuk perguruan tinggi beberapa bulan lagi, oleh sebab itu ia harus merelakan niat baiknya diundur sampai urusan Syaqila beres lebih dulu.


Orang tua Kai sebenarnya tak lepas tanggung jawab pada anak mereka. Hanya saja Kai dan Alby memang begitu bertanggung jawab, mereka yang ingin berbaur untuk saling membantu satu sama lain.


Bahkan Ayah sudah menanyakan soal niat serius Kai pada Meysa, tapi untuk saat ini Kai masih ingin fokus mengumpulkan biaya untuk membantu kedua orang tuanya, mengumpulkan biaya pendidikan Syaqila. Kai memanglah sosok anak yang berbakti, Ia bukan beban keluarga. Semua kerja keras yang ia lakukan pun untuk membahagiakan keluarga.


Kai menunduk lesu menyadari segala hal yang membuatnya tak berdaya. ”Di luar sana banyak yang lebih baik dari aku, bee!" lirihnya dengan berat hati.


“Di luar sana juga banyak yang lebih dari aku!Pungkas Meysa membalas ucapan Kai dengan kalimat yang sama. Membuat pemuda itu menghela napas berat.


Benar, di luar sana memang banyak yang baik. Tapi Kai tak bisa membohongi diri jika hanya Meysalah yang ia inginkan. Begitupun sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2