
Setelah cukup lama beristirahat, Kai dan kawan-kawan pun melanjutkan perjalanan. Kurang lebih satu setengah jam lagi mereka sudah sampai di kota Pekanbaru.
Pikiran tentang stoey WA Meysa yang dibuat tadi malam itu membuat Kai tidak tenang. Meysa pasti sudah terlanjur marah dan kecewa, kesibukan dan hal spele yang sering terjadi sudah cukup menjadi pemicu pertengkaran diantara mereka. Namun, sepertinya kali ini pertengkaran besar akan kembali terjadi karena ponselnya yang hilang. Kai tak sanggup jika harus memikirkan hal itu. Ini semua karena ia kehilangan ponsel. Sial!
“Woy Kai, di depan kau ada truck, bangsat!" Satria terdengar berteriak geram saat melihat Kai berkendara dengan ugal-ugalan. Tak memerhatikan jalur dan kendaraan yang berlalu lalang.
Membuat Kai yang diteriaki dari jarak yang begitu dekat oleh Satria langsung tersadar, secepat kilat ia menghindar dari badan mobil yang hampir ia srempet karena tidak fokus.
Meski tidak mendengar jelas apa yang Satria katakan, tapi itu bisa membuatnya menghindar dengan cepat. Kalau tidak, ia bisa jatuh, sedangkan dari arah belakang masih ada beberapa rombongan truck yang berjejeran saling beriringan.
“Kalau gak fokus mending istirahat dulu!" Ojik ikut menimpali.
“Woy, dah berpa kali keluar jalur ini anak!" kini Satri kembali berteriak memperingati saat Kai kembali mengambil jalur dari kendaraan arah depan.
Namun, sekali lagi Kai bisa menghindar. Ia benar-benar tak mengerti kenapa bisa sampai seperti ini.
Hal itu membuat Satria dan kawan-kawan nampak khawatir.
“Kai!" teriak Satria lagi.
Kai yang kembali melamun seketika membelokkan stire ke arah jalan yang sepi kendaraan saat melihat di depannya ada sebuah mobil yang melaju kencang, ia baru saja mengambil jalur yang salah. Beruntung peringatan Satria sekali lagi membuatnya tersadar, dengan cepat ia bisa menghindar. Kondisi jalan yang lurus dan datar membuat Kai memutuskan mengarahkan motor ke arah kiri.
Namun, kali ini kecepatan yang ia gunakan untuk menghindar tak bisa dikendalikan hanya degan sekali rem. Membuatnya harus menabrak pembatas jalan.
Bruakk...
Motor Kai berhenti total, sedangkan tubuhnya terlempar melewati pembatas jalan.
“Anjir, tu anak malah nabrak!"
Bahkan Satria dan kawan-kawan yang lain langsung menepikan motor. Para pemuda itu nempak menganga dengan cemas saat menyaksikan Kai tergeletak di seberang sana. Bahkan banyak pengendara yang berhenti saat melihat insiden itu.
Para pemuda itu langsung berlarian ke arah Kai begitu turun dari motor.
..
Sore itu Meysa yang tengah berada di rumah Rena untuk membantu persiapan lamaran malam nanti tengah duduk di teras belakang setelah selesai membantu Bu Fatma dan kedua kakak Meysa memasak dan membuat kue untuk menjamu keluarga Erza malam nanti.
“Kalau mau pulang makan dulu, Meysa!" teriak bu Fatma yang sedang mengelap piring dan sendok yang akan digunakan.
“Iyo Mey, bawakan bapakmu kue sama makanan supaya tidak usah masak di rumah!" timpal Kakak perempuan Rena yang kedua.
__ADS_1
Meysa yang tengah duduk sambil pegang ponsel menyahut setelah meneguk es teh yang Rena belikan untuknya.
“Iya tante, nanti kalau sudah mau pulang!" Setelah itu Meysa beralih melihat ponselnya. Ia membuka aplikasi hijau dan menonton ulang story WhatsApp yang ia buat tadi malam.
Story berisi cuitan yang related dengan kondisinya, bahkan kata-katanya hampir sama persis seperti ucapan Erza yang dikatakan Rena kemarin sore. Video itu ia temukan di reels IG.
Hampir seluruh kontaknya menjadi penonton story tersebut, hanya orang yang ditujukan saja yang tidak ada di list penonton. Tentu saja, sebab Meysa tidak tahu jika ternyata ponsel Kai hilang, sehingga tak bisa mengabari.
“Hmmmnt!" Meysa mendesah kesal sambil mengunci ponselnya. Tak ada yang spesial yang membuat ia harus tetap memegang ponsel.
Dergggt, derggggt...
Suara dering telepon membuat langkah Meysa yang hendak masuk langsung tertahan. Ia menekan sensor fingerprint, membuka ponsel dengaan cepat, lalu beralih lagi membuka aplikasi WhatsApp yang juga terkunci.
Bang Sat is calling.
Nama yang tertera membuat Meysa mengernyitkan kening. Tumben Satria menelponnya. Meysa yang merasa ada hal penting langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Assalamualikum."
“Ya, ada apa?" jawab Meysa dengan ekspresi datar.
“Meysa, Kai kecelakaan!"
Seketika Meysa merasa jantungnya berhenti berdetak, ia tak langsung menjawab perkataan Satria. Namun, matanya yang terasa panas langsung mengerjap saat merasakan bulir bening itu hendak menetes. Dunianya seperti runtuh saat itu.
Namun, saat erlintas pikiran tentang Satria hanya bercanda membuatnya sedikit tenang dan punya nyali untuk memastikan kebenaran.
“Kamu bilang apa, Satria?" sergah Meysa mencoba menepis berita yang Satria sampaikan hanyalah bualan belaka. Omong kosong agar amarah yang disebabkan oleh Kai yang tak mengabari bisa hilang.
Ya, pikiran Meysa memang terlalu jauh.
“Kai kecelakan. Jatuh dari motor siang tadi."
Glek..
Saliva Meysa terasa tercekat di tenggorokan, ia tak lagi bisa berkata-kata. Air matanya mengalir begitu saja. Tiga hari tak diberi kabar, dan begitu diberi kabar, ia malah mendengar hal tak mengenakkan seperti ini. Rasanya Ah, mantap!!!
“Ini kami udah di RS, sampai di Pekanbaru sebelum zuhur tadi!"
Tak lupa Satria juga menjelaskan apa yang membuat Kai tak mengabarinya sejak tiba di lokasi.
__ADS_1
“Hp si Kai hilang makanya gak bisa hubungin kamu!"
Meysa memejamkan mata mendengar ucapan Satria. Air matanya kembali berlinang. Ternyata itu alasannya sampai Kai tak mengabarinya beberapa hari. Tak menyangka kekasihnya itu mendapat musibah beruntun seperti ini. Tanpa mintaa maaf atau penjelasan apapun dari Kai, Meysa sudah memberikan maaf. Ia menyesal telah berprasangka buruk pada Kai.
Tentu penjelasan Satria itu membuat amarah Meysa hilang seketika, berganti dengan rasa cemas dan kekhawatir memikirkan bagaimana kondisi Kai. Amarahnya menguap entah kemana. Dengan suara hati yang berganti menjadi kata-kata yang menyuarakan jika ia begitu mencintai dan menyayangi Kai, Meysa tak ingin terjadi apa-apa pada pria itu, ia takut jika harus kehilangan sang Bintang. Bulan itu takut mengarungi malam seorang diri.
“Terus keadaan dia gimana?" lirih Meysa dengan suara gemetar. Air matanya menetes tiada henti. Tak ingin ada yang melihatnya menangis, Meysa melangkah ke halaman belakang rumah Meysa dan berhenti tepat di bawah pohon nangka yang memiliki buah lebat.
“Gak terlalu parah sih."
“Cuma luka di perut samping, kena pagar pembatas dan dijahit. Lehernya keseleo dikit, soalnya pas jatuh posisinya jungkir balik gitu!"
Air mata Meysa makin menetes deras saat mendengar penjelasan dari Satria. Sungguh ia sangat menghawatirkan keadaan Kai.
“Kok bisa sampai kejadian gitu sih?" lirih Meysa sedih.
“Ya namanya juga takdir, tadi si Bang Kai tuh kek gak fokus gitu!"
Meysa menghela napas sambil mendongak, berusaha membendung air matanya yang tak mau berhenti mengalir.
“Aku pengen lihat Kai, Satria!"
Satria yang tengah menelpon Meysa di halaman rumah sakit itu nampak menggaruk kepalanya. Bingung harus menjawab keinginan Meysa. Bukannya tak mau, tapi saat ini Kai sedang dijaga oleh orang tuanya yang langsung datang dari kampung begitu mendengar kabar anak mereka kecelakaan. Kedua orang tua Kai dan adik perempuannya baru sampai setengah jam yang lalu.
Satria yang merasa harus memberi tahu Meysa soal ini langsung keluar ruang rawat Kai demi untuk menghubungi kekasih sahabatnya itu. Itupun Satria masih merasa bersalah sebab lambat memberi tahu Meysa dan baru sempat mengabari di saat sore begini.
“Gimana ya Meysa, bukan aku gak mau. Tapi di dalam ada Mak sama Ayahnya, aban Alby, ibu si Azka, bahkan adek dia pun ada juga!" seloroh Satria yang merasa tidak enakan.
Baru kali ini lelaki yang biasanya selalu bicara menggunakan seluruh isi kebun binatang setiap bersama Kai dan Ojik itu terdengar sangat normal ketika bicara dengan Meysa.
“Nanti pasti aku telepon lagi kalau aku masuk."
Meysa mengangguk pasrah, sambil merapalkan do'a dalam hati agar Kai lekas pulih dan tak ada luka serius lainnya lagi.
.
.
.
Tbc...
__ADS_1
_MeyKa with Love❣️