
Malam hari, Kai menyempatkan waktu untuk pergi ke ulang tahun anak perempuan Pak Rajas, bersama duo kamvret.
Begitu tiba di rumah Pak Rajas. Ketiga pemuda yang pernah berkolaborasi sebagai desainer interior untuk gedung perusahaan baru pak Rajas itu disambut dengan begitu baik oleh penjaga yang ditugaskan menyambut tamu.
Mereka memasuki rumah mewah Pak Rajas, lalu melangkah menuju taman samping, tempat acara ulang tahun anak bungsunya itu diselenggarakan.
Pemuda yang menggunakan kemeja navy dipadukan celana beigee itu lebih banyak diam dibanding Ojik dan Satria. Kedua kawannya itu nampak antusias mengikuti perayaan ulang tahun yang sebentar lagi akan berlangsung.
“Senyum dikit napa Kai, masam kali kau!" Ojik merangkul Kai saat langkah mereka mulai keluar dari dalam rumah dan berjalan menuju taman yang sudah didekorasi sedemikian rupa. Ada banyak orang disana.
Pak Rajas benar-benar menyelanggarakan pesta ulangtahun yang megah untuk putri bungsunya itu. Selain itu ada juga agenda syukuran yang diselenggarakan secara bersamaan.
Kai menghela napas, Ia yang kelelahan berusaha melepaskan diri dari rangkulan Ojik. Laki-laki itu nampak tak bersemangat. Rasa lelah setelah seharian bekerja dan belum sempat mengabari Meysa membuat perasaannya jadi tak karuan, Ia sama sekali tak mengecek ponselnya sedari sore.
“Gak usah liatin mukaku kalo masam!"
Mendengar ucapan Kai yang memilih melangkah lebih dulu Ojik dan Satria hanya saling tatap, mengernyitkan kedua alis. Cukup heran melihat sikap dingin Kai.
“Maklumin, lagi banyak masalah dia!" celetuk Satria seraya menepuk bahu Ojik. Ia tahu tadi Ojik hanya berniat menghibur Kai.
Ojik mengangguk. “Kasian juga sih! Dia pasti capek, udah gitu malah kita paksa datang kesini!" selorohnya seraya meneruskan langkah, menyusul Kai yang lebih dulu terlihat berjabat tangan dengan Pak Rajas yang kelihatan antusias menyambut kedatangannya.
“Ya ada benernya juga kita ajak." Satria menyahuti dengan cepat. “Kalau gak diajak, bisa-bisa hubungan dia dengan Pak Rajas makin gak baik. Nanti disangka gak mau datang gara-gara masalah yang lalu!"
Lagi-lagi Ojik mengangguk, apa yang Satria katakan memang benar. Hal itu membuatnya tak jadi merasa bersalah.
“Saya pikir kalian gak akan datang!" Pak Rajas yang masih berjabat tangan dengan Kai, tersenyum melihat kehadiran Ojik dan Satria. Tangannya beralih menjabat kedua rekan sekaligus sahabat Kai itu.
“Ya datanglah Pak, suatu kehormatan diundang oleh salah satu orang berpengaruh di kota ini!" sahut Satria yang kini tengah berjabat tangan dengan senyum mengembang.
“Diundang orang sukses kali aja bisa ikut kecipratan sukses!" timpal Ojik sambil senyum. Menjilat orang kalangan atas memanglah menyenangkan.
Pak Rajas nampak tersenyum mendengar pujian dari kedua pemuda itu. “Jangan berlebihan, justru pemuda seperti kalian ini juga punya potensi dan peluang yang besar agar bisa jadi orang sukses!" Mata Pak Rajas beralih menatap ketiga pemuda itu secara bergantian sambil menepuk bahunya.
“Kalian bertiga ini salah satu tim yang solid, punya kreativitas yang luar biasa. Kalau diasah terus dan mau berusaha, saya yakin suatu saat pasti akan membuahkan hasil yang maksimal!"
Kai, Ojik dan Satria manggut-manggut mendengar wejangan dari salah satu orang penting itu. Selain memiliki sebuah perusahaan, Pak Rajas juga merupakan kepala Dinas PUPR di kota tersebut. Jadi, suatu kehormatan dan kebanggaan bagi ketiga pemuda itu bisa dekat dengan Pak Rajas dan diberi nasehat demikian.
“Dan untuk Kai..."
Kai yang tengah menunduk diam sembari tersenyum samar itu seketika menoleh pada Pak Rajas saat mendengar namanya disebut. Begitupun Ojik dan Satria, kedua sahabat Kai itu sempat saling bersitatap sebelum akhirnya sama-sama menatap Kai. Was-was jika saja Pak Rajas kembali memberikan tawaran agar Kai mau menjadi menantunya.
“Saya pikir Kai tidak akan datang karena masalah tawaran tempo hari!"
Kai yang juga memikirkan hal yang sama seperti Ojik dan Satria langsung menampakkan senyum simpul mendengar ucapan Pak Rajas.
“Omongan saya tempo hari jangan diambil hati Kai, saya tidak bersungguh-sungguh. Kalaupun bisa tentu kami akan sangat senang." Pak Rajas juga menampakkan senyum. Jujur saat menyuruh bawahannya untuk mengundang Kai dan kawan-kawan ia sempat ragu. Sebab takut ketiga pemuda itu tak lagi mau berhubungan hanya karena masalah tersebut.
“Saya salut karena ternyata seorang Zayankara Kai'ulani begitu gentlenya menolak tawaran saya demi sebuah komitmen dan kesetiaan."
Jujur Kai hanya bisa tersenyum dan mengangguk samar mendengar sanjungan dari Pak Rajas. Meski begitu ia sama sekali tak besar kepala, sebab merasa hal yang Pak Rajas katakan sangatlah berlebihan. Ia bahkan tak memiliki keistimewaan apa-apa hingga harus dipuji. Terlebih lagi tawaran Pak Rajas yang ingin menjadikannya menantu sangatlah berlebihan. Kalaupun ia tak lebih dulu dengan Meysa, Kai akan tetap menolak tawaran tersebut.
__ADS_1
“Ini baru pria luar biasa!" puji Pak Rajas lagi sambil menepuk bahu Kai. “Setia dan bertanggung jawab.”
“Jangan berlebihan, Pak. Saya cuma orang biasa!" ujar Kai merendah. Ia benar-benar tak suka berada di situasi ini. Entah apa yang Pak Rajas lihat darinya hingga menginginkan ia menikahi putrinya dan begitu menyanjungnya. Ini benar-benar berlebihan!
“Orang seperti saya yang baru memulai karir gak pantas jadi bagian keluarga bapak. Saya bukan apa-apa, masih banyak yang lebih dari saya." Kai menjawab apa adanya tanpa mengurangi rasa hormat sedikitpun. Selama mengatakan itu semua ia terlihat menunduk demi untuk menghormati orang yang tengah berbincang dengannya.
“Kedua teman saya ini bahkan lebih hebat dari saya Pak, mereka ini dua orang yang luar biasa." Kai yang merasa tak nyaman terlihat memberi kode pada Ojik dan Satria. Berharap duo kamvret itu bisa membantunya keluar dari pembahasan yang canggung ini.
Namun, bukannya peka. Dua orang yang Kai sanjung itu malah mengkerutkan wajah. Ojik dan Satria saling tatap, merasa berlebihan karena Kai memujinya demikian. Mereka yang sering sama-sama gesrek merasa tak pantas mendapatkan pujian. Sebab sebenarnya mereka bertiga adalah dua orang yang sama-sama gila kalau sudah berkumpul.
Bantu aku, anjir!
Kai melotot seraya menyikut lengan Satria yang ada di sampingnya.
“Ayah, acaranya sudah mau dimulai!"
Beruntung kemunculan seorang wanita membuat Kai bisa bernapas lega. Merasa lega ada yang membantunya keluar dari pembahasan yang sebisa mungkin ia hindari.
Baik Pak Rajas, Ojik, Satria maupun Kai sama-sama menoleh pada seseorang yang datang itu. Terlihat seorang wanita mengenakan hijab berwarna mocca dipadukan dengan gamis warna senada model mermaid tail dan bordiran elegan di bagian bahu, nampak cantik menawan. Wanita itu tersenyum ramah pada ketiga pemuda tersebut.
Masyaallah, cantiknya ciptaan Allah! puji Satria dalam hati.
Sedangkan Ojik hanya menampakkan wajah b aja. Terkagum tapi tak sekagum Satria yang berlebihan hingga memuji dalam hati.
Begitupun dengan Kai, Ia langsung menunduk setelah balas senyum seadanya pada anak bungsu pak Rajas itu. Gadis yang pernah Pak Rajas tawarkan untuk ia jadikan istri.
“Ternyata kalian datang!" sapa Isita dengan ramah. Ia berdiri di samping sang Ayah yang juga nampak tersenyum memperhatikan ketiga pemuda itu.
“Dapat undangan dari Pak Rajas, sesibuk apapun tentu kami akan usahakan untuk hadir." Bahkan Satria turut menimpali. Kecuali Ojik yang tidak memberikan tanggapan apapun, ia hanya manggut-manggut sambil tersenyum.
Isita menampakkan senyum hangat pada ketiga tamunya. Ia lalu mengalihkan pandangan menatap sang Ayah.
“Udah mau dimulai, Yah!" ujar Isita memberi tahu Pak Rajas. Membuat pria paruh baya itu mengangguk mengerti. Ia kembali menoleh pada ketiga tamunya.
“Saya ke depan dulu ya, acaranya sudah mau dimulai!" Pak Rajas dengan rendah hati memberi tahu hal tersebut pada Kai, Ojik dan Satria. Kini ketiga pemuda itu yang balas mengangguk.
“Enjoyed the party! Nanti kita harus sempatkan untuk dokumentasi!"
Ketiga pemuda itu manggut-manggut mendengar ucapan Pak Rajas yang berjalan lebih dulu ke arah tempat inti acara, dimana sebuah kue ulang tahun berdiri kokoh di depan hiasan bunga dan balon, serta lampu kelap-kelip yang bertuliskan nama si pemilik acara.
“Saya ke depan dulu!" pamit Isita sopan. Kemudian segera menyusul sang Ayah.
Menyisakan Kai, Ojik dan Satria yang sama-sama terdiam.
“Hmmmnt, entah apa pulak yang Pak Rajas lihat sampai segitu berlebihannya sama aku!" Kai mulai membuka obrolan. Ia mendesah bingung, tangannya tergerak mengusap rambutnya ke belakang, lalu berhenti sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Maklumin aja, namanya juga mata orang tua!"
“Udah pakai kacamata ya pasti rabun!"
Kai dan Satria sama-sama menoleh pada Ojik yang berada paling ujung, tengah berceletuk random. Membuat keduanya melayangkan tepukan menoyor bahu Ojik.
__ADS_1
“Mulut kau!"
“Entar ada yang dengar!"
Seru Kai dan Satria memperingatkan. Meski begitu mereka terlihat sama-sama menahan tawa. Tak ada yang salah dengan ucapan Ojik. Pak Rajas memang sudah tua dan berkacamata, terlebih lagi Ojik mengatakan itu hanya karena ingin menghibur mereka.
“Lah, salahnya dimana?" celetuk Ojik tanpa rasa bersalah. Yang mana membuat mereka sama-sama menutup mulut dan mulai tertawa kecil.
“Salahnya tuh Pak Rajas gak nawarin anaknya ke aku!"
Celetukan lain dari Satria membuat Ojik dan Kai sama-sama menoleh pada Satria yang berada di tengah.
“Jangan bilang Kau pulak yang naksir sama Isita!" timpal Kai penuh selidik.
“Dikit!" sahut Satria yang nampak menahan senyum. “Udah cantik, ramah, kaya, anak pejabat pulak. Siapa yang gak mau!"
“Huuu, emang mata kau tuh yang bangsat. gak bisa lihat bening-bening dikit maunya langsung naksir!'" cebik Ojik.
Kai yang merasa situasi tak memungkinkan langsung beralih ke tengah. Menarik kedua sahabatnya itu untuk bergabung diantara orang-orang.
“Udah, gak usah ribut! Mending ikut antri disitu, kali aja dapat kue!"
Ketiga pemuda itu nampak terkekeh. Usia sudah hampir 26 tahun tapi persahabatan mereka masih sama persis saat kuliah dulu. Jika sudah berkumpul, maka mereka terlihat kekanak-kanakan. Contohnya seperti saat ini. Mereka terlihat turut ikut menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Isita. Menginstruksikan agar kue segera dipotong.
Begitu selesai acara inti, para tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Selain acara ulang tahun, ternyata sore tadi Pak Rajas juga telah merayakan acara syukuran atas dilantiknya putra sulungnya sebagai salah satu anggota DPR. Hanya saja, undangan yang Kai dan duo kamvret terima hanya undangan ulang tahun.
“Bang Kai, Bang Ojik, Bang Sat, sini foto!" teriak Isita. Membuat ketiga pemuda yang tengah duduk sambil menyantap es buah dan kue yang ada itu saling tatap lalu sama-sama menoleh pada Isita yang masih melambaikan tangan pada mereka.
“Dia manggil kita?" tanya Ojik. Tangannya baru saja menyuapkan puding fla coklat ke dalam mulut.
“Ya iya, itu tadi dia nyebut nama kita!" jawab Satria begitu antusias. "Dia ngajak foto bareng!"
Sementara Kai yang duduk diam sambil menyantap es buah sama sekali tak bereaksi apa-apa.
“Kai, Jik, ayok! Kasian anak orang manggil mulu itu!" ujar Satria lagi. Ia terlihat sangat memerhatikan Isita. Jangan-jangan ada undang di balik batu? Entahlah!
“Kalian kesana aja, aku gak ikut!"
Ojik dan Satria menoleh pada Kai.
“Sebenarnya aku juga gak mau, tapi gak enak sama Pak Rajas dan Pak Irsyad! Mereka manggil juga itu," lirih Ojik saat melihat Pak Rajas dan Irsyad, anaknya yang baru terpilih jadi anggota Dewan ikut memanggil.
“Iya, gak enak Kai! Masa orang besar manggil kita abaikan!" sahut Satria. Yang mana membuat Kai mau tak mau harus ikut berfoto setelah dipaksa oleh dua sahabatnya itu.
Beberapa tamu penting yang turut hadir dalam acara ikut berfoto bersama. Meski Kai tak begitu antusias, Ia tetap menampakkan senyum saat berfoto. Beberapa orang mulai membuat rekaman untuk mendokumentasikan moment dengan ponsel masing-masing. Begitupun dengan Ojik dan Satria.
“Foto berenam bareng Isita, Pak Rajas dan Pak Irsyad yuk!" usul Satria yang kelihatan begitu bersemangat jika menyangkut Isita.
“Oh Ayok, sekalian dokumentasi moment dengan tiga pemuda teknik hebat!" sahut pak Irsyad yang ternyata mendengar usulan Ojik.
Membuat Kai mau tak mau harus ikut bergabung meski dengan perasaan tak karuan.
__ADS_1