Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
8 (Zayankara Kai'ulani)


__ADS_3

Sejak kepergian Rena, Kai masih larut dalam pikirannya. Kata-kata Rena barusan benar-benar membuat rasa bersalah dalam diri kian menguar. Tanpa diberitahu pun ia sangat sadar jika tindakannya setahun lalu itu merupakan hal yang salah. Tidak seharusnya begitu!


Jangankan Meysa, ia sendiri pun sangat terluka karena pilihannya kala itu. Setahun lalu, ia beruntung menemukan Meysa, Bulan yang ia temui di kala pekatnya malam. Mereka adalah dua orang yang sama-sama berniat menghibur hati, berusaha meluapkan masalah dengan cara yang sama dan berujung dipertemukan satu sama lain.


Sama halnya dengan Meysa, perasaannya pada gadis itu pun sangatlah besar. Tak disangka kisah yang hanya berawal dari sebuah ketikan ujung jari itu bisa berubah menjadi rasa cinta. Kai merasa sangat beruntung bisa bertemu Meysa yang ternyata memiliki kesamaan dengannya, sama-sama suka menulis, membuat Kai seolah menemukan pelabuhan yang tepat untuk sajak-sajaknya, apalagi respon yang Meysa berikan selalu luar biasa. Sederhana memang, tapi itu mampu membuatnya merasa dihargai sebab di dunianya ia selalu dianggap aneh hanya karena sering menulis bait sajak.


Ini bukan hanya tentang sajak. Tiap hari saling bertukar cerita melalui pesan membuat rasanya pada sang Bulan kian bertambah. Tak jarang keduanya melakukan telepon, melakukan hal random hanya untuk mengisi kekosongan. Hingga hubungan keduanya makin serius. Mulai membahas segala rencana masa depan hingga pertemuan. Tapi saat itu situasinya tak memungkinkan, Kai masih sbertatus seorang mahasiswa yang sedang berjuang meraih mimpi. Apa yang bisa anak seusia itu lakukan selain hanya menyusun angan dan berdo'a. Mereka bukanlah dua orang yang berasal dari keluarga kaya dan bisa melakukan pertemuan kapan saja jika ingin. Banyak hal yang harus dipersiapkan dan dipertimbangkan.


Oleh sebab itu Kai hanya bisa meyakinkan Meysa jika ia benar-benar menginginkannya.


“Aku sayang kamu, Bul!"


“Aku juga, Tang!"


Percakapan melalui telepon saat itu pun mulai terngiang-ngiang di kepala Kai. Memory kenangan indah itu mulai berputar satu-satu dalam ingatan.


“Kalau kamu yakin sama aku, aku akan berusaha dan berjuang sampai nanti kita bertemu.”


“Aku akan menunggu sampai saat itu tiba!”


“Bee, ayo kita sama-sama berdoa sama Allah. Semoga apa yg kita inginkan di restui oleh-Nya, karena aku percaya dengan kekuatan do'a. Sekuat apapun usaha kita bila Dia tidak merestui hubungan kita, kita tidak akan berjodoh, bee. Namun, sejauh apapun jarak kita, jika Dia merestuinya, kita akan berjodoh walau sesulit apapun itu. Sepertinya kita emang harus bertanya langsung sama Allah, bee, karena sebai-baiknya petunjuk itu adalah petunjuk dari-Nya, supaya kita sama-sama lebih yakin!”


Begitu ucapnya dulu ketika berusaha meyakinkan Meysa dan mengajaknya berjuang. Selain Bulan, Bee merupakan panggilan sayang yang mereka gunakan. Tak bisa dibayangkan bagaimana manisnya hubungan mereka pada saat itu. Pantas saja Meysa sebegitu terlukanya setelah kehilangan sang Bintang, bahkan gadis itu sampai sulit untuk membuka hati lagi.


“Tapi, jika dalam penantianmu ada orang yang mau sama kamu. Pilih dia bee, aku gak bisa bikin kamu menunggu, aku ikhlas asal kamu bahagia!"


“Husst, jangan ngomong begitu! Aku maunya kamu, berarti ya cuma kamu!”


Namun, hidup tak melulu berjalan mulus. Tiba-tiba keraguan menghadang tatkala Kai berusaha menguatkan diri di tengah hubungan mereka. Kala itu ia memang belum punya pekerjaan tetap.


“Bee, kamu masih mau bertahan dan menungguku setelah melihat betapa sulitnya kehidupanku? Aku takut kalau gak bisa membahagiakanmu saat bersamaku nanti."


Begitu Kai bertanya pada Meysa ketika ia kembali berada di fase sulit. Kuliah sambil menjaga toko kakak adalah pekerjaan sampingannya, tak jarang ia juga sering turut membantu membuat desain interior, job yang kakaknya berikan.


“Apapun keadaannya, aku mau selalu denganmu, bee! Menemenimu dari bawah dan menjadi saksi kesuksesanmu, kelak!”

__ADS_1


Di Pekanbaru Kai tinggal sendiri di toko baju distro milik sang kakak yang sudah berkeluarga dan juga menetap di kota itu. Kai menjalani hidup sehari-hari layaknya seperti anak muda yang menempuh pendidikan pada umumnya. Dia bukanlah tipe yang sedikit-sedikit minta kepada orang tua. Saat itu Kai benar-benar berada di fase sulit. Terlebih lagi kesibukannya di kampus dan tugas-tugas yang menumpuk membuat kepalanya hampir pecah. Membuat ia memutuskan untuk menenangkan diri lebih dulu.


Beberapa hari Bintang itu tak menemani Bulannya. Kai sadar ia salah, tak seharusnya ia mengabaikan Meysa, apalagi pesan dan beberapa panggilan tak terjawab dari gadis itu sudah menumpuk di pemberitahuan ponselnya. Bukan berniat mengabaikan ataupun tak perduli. Hanya saja Kai benar-benar pusing terhadap kehidupannya yang rumit. Sejak mengenal Meysa dan menjalin hubungan virtual dengan gadis itu, biasanya ia akan menumpahkan keluh kesah padanya, mereka selalu berbagi satu sama lain. Namun, untuk kali ini Kai benar-benar berada di titik terpuruk dan tak ingin membebani Meysa dengan masalahnya.


Hidupnya memang terkadang sulit, tapi Kai bukanlah sosok pemuda yang tahunya hanya minta pada orang tua. Menurutnya, dirinya sudah tidak pantas minta uang di orang tua, dia adalah tipe orang yang kalau dikasih ambil, kalau tidak pun tak akan minta.


Tanya tentang mampukah ia membahagiakan Meysa kalau seperti ini mulai menghampiri. Mengingat hidupnya pun cukup sulit, lalu bagaimana bisa membahagiakan anak orang? Hal ini menjadi titik balik bagi seorang Kai, cintanya pada Meysa memang besar, tapi ia takut menjanjikan apapun pada gadis itu. Sejak itu Kai mulai jarang memberi kabar pada Meysa, ia bersikap acuh, seolah tak menginginkan gadis itu. Meysa selalu mempertanyakan perubahan sikapnya, dari yang selalu mengabari perlahan mulai jarang


___________


Bulan :


Kamu kenapa sih? Kalau bosan bilang, jangan seperti ini!


Mana Bintangku yang dulu? Yang katanya janji mau berjuang bersama, kenapa sekarang malah hilang?


Jangan mentang-mentang kita jauhan jadi kamu bisa seenaknya.


Aku kehilangan cahayamu di pekatnya malam!


Padahal kamu pernah janji kalau kita akan sama-sama sampai akhir, tapi kenapa begini saat sudah setengah jalan!


__________


Hatinya teriris membaca setiap rentetan pesan dari Meysa. Namun, ia pun tak bisa melakukan apa-apa selain hanya bisa mengutuki keadaan.


“Maaf-maafin aku, Bul! Bukan aku gak cinta, tapi aku takut memberimu harapan, hidupku sulit! Aku takut buat kamu menunggu hal yang sia-sia!” lirih Kai saat itu.


Hingga satu pesan menohok dari Meysa pun masuk.


___________


Bulan :


Ternyata kamu cuma butuh aku pas lagi sepi aja, aku selalu berusaha ada buat kamu tapi kamu tega memperlakukanku seperti ini!

__ADS_1


^^^Bintang :^^^


^^^Kamu salah paham, Bee! Aku sama sekali gak berniat seperti itu.^^^


Bulan :


Bullshit!! Sama halnya kamu yg membutuhkanku hanya saat sepi. Aku juga cuma butuh kamu untuk mengisi waktu luangku.


_____


Dari saat itu hubungannya dengan Meysa mulai sering cekcok, tapi Kai sama sekali tak bisa melakukan apa-apa. Ia tak lagi membujuk Meysa untuk tidak marah, Kai juga tak lagi menjelaskan panjang lebar. Ia hanya mengatakan satu kata 'Maaf!' setiap kali Meysa mengirimkankannya pesan ungkapan sakit hati.


Bukan tak perduli, sejujurnya ia pun terluka menahan sakit. Setiap hari Kai harus menahan sesak saat membaca rentetan pesan ungkapan dari Meysa. Hingga saat itu tiba, mungkin Meysa sudah lelah, gadis itu tak lagi mengirimkan pesan sebab ia sendiri tak pernah membalasnya. Kalaupun dibalas paling hanya kata Maaf.


Sakit? Pedih? Tentu saja! Hari-hari yang Kai lalui makin terasa berat tanpa Bulannya. Bahkan ia tak lagi bisa menghubungi Meysa, gadis itu memblokir semua akses komunikasi diantara mereka. Tentu semua karena salah dan ulah Kai sendiri. Dia yang mengawali semua, tapi ia juga yang tersiksa.


Beberapa bulan setelah itu, Kai wisuda, ia menjadi seorang sarjana teknik. Setelah itu ia mulai mencari kerja, benar-benar merintis semua dari awal. Semua tak lepas dari bantuan sang Kakak. Kai mencoba bergelut di bidang properti, tak jarang ia medapat job untuk mendesain interior bangunan besar seperti apartemen, dan perumahan bahkan juga mendesain untuk proyek besar lainnya.


Kehidupan Kai sedikit demi sedikit mulai berubah, ia bisa menabung dan membantu keuangan orang tuanya di kampung. Kai sangat bersyukur atas perubahan hidupnya yang sedikit lebih cerah. Semua tak lepas dari bantuan sang Kakak dan kerja kerasnya.


Waktu memang berlalu. Namun, waktu tak membuatnya lupa pada Bulan, sosok cinta virtual yang masih melekat di hati hingga kini. Ternyata ia masih menjadikan gadis itu tujuannya, memantaunya melalui akun fake yang ia buat. Ia senang bisa melihatnya meski hanya menjadi penonton instastory tanpa bertukar kabar seperti dulu.


Perasaannya pada Bulan masih sama, ia masih menautkan nama itu sebagai tujuan nomor satu. Sejak awal memulai karir, Kai selalu menyisihkan tabungan hanya untuk bertemu gadis itu. Apapun keadaannya dan bagaimana pun situasinya Kai bertekat ingin menemui sang Bulan, ia sangat merindukan gadis yang ia temukan kala pekatnya malam itu.


Hingga hari ini tiba, ia datang ke kota sang Bulan. Awalnya ia sempat putus asa ketika melihat tambatan hatinya tengah menggendong bayi sambil bercengkrama dengan seorang laki-laki berseragam. Ia hampir pergi, tapi langkahnya tertahan. Dalam hati Kai berusaha menguatkan diri bahwa apapun yang terjadi ia tetap tinggal dan harus menemui gadis itu. Hal itu yang membuat ia berani menyapa Meysa lebih dulu


“Kamu sudah punya anak?" Kata-kata itulah yang keluar begitu saja dari mulutnya.


Hal yang paling membuatnya senang adalah ketika Meysa menoleh kaget dan langsung menjelaskan semua padanya. Ia bersyukur, itu artinya ia masih punya kesempatan untuk kembali memiliki sang Bulan. Bisa melihatnya secara langsung seperti ini benar-benar membuat hati Kai berdebar hebat, kalau bisa menangis maka ia ingin menangis saat itu juga. Kalau ia bisa memeluk, mungkin akan dipeluknya Bulan saat itu juga. Namun, ia masih bisa untuk mengontrol diri dan tahu batasan.


“I Love you terdalam untukmu yang tersayang!" Kata-kata itu hanya mampu ia utarakan dari dalam hati, lewat jarak yang cukup dekat. Bukan lagi melalui gawai atau bahkan dari jarak pulau dan lautan yang membentang.


Kebaikan Faza ketika antusias menyambutnya benar-benar membuat Kai senang dan berkesan. Orang yang dulunya hanya ia kenal melalui gambar dan cerita Meysa itu ternyat sosok yang baik.


Kini Kai masih termenung memikirkan perkataan menohok Rena barusan.

__ADS_1


__ADS_2