
Meysa keluar dari kamar mandi menggunakan daster yang dibeli di pasar, 100 ribu dapat 3, Ia senang memakai daster murah, meski bahannya tipis tapi menyejukkan dan nyaman dipakai.
Kini Meysa berdiri di depan cermin, mengoleskan lipstik berwarna nude kesukaanya. Matanya masih agak bengkak. Kelopak matanya memang begitu cepat bengkak meski hanya menangis sebentar. Ia lalu memakai eyeliner untuk menyamarkan, agar matanya terlihat lebih tajam. Setelah menyemprotkan parfum Meysa menoleh pada Rena.
“Ren, ayo makan sama-sama!" Meysa berjalan ke arah tempat tidur. Ternyata Rena sudah terlelap. Ia kesal sahabatnya itu sudah seperti kebo, menempel sebentar di kasur sudah langsung pindah ke alam mimpi.
“Baru juga mau diajak makan sudah tidur." Meysa mengomel sambil melenggang keluar.
Sesampainya di dapur Faza ada disana, padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat. Kakaknya itu memang suka dimana-mana.
Meysa melewati Faza yang tengah sibuk dengan laptopnya di meja makan. Meysa memeriksa makanan. Lauk pauk masih banyak, tapi nasi hanya tersisa sedikit. Malas memasak membuat Meysa memilih merebus dua mie instan untuk makan malamnya dengan Kai.
“Bagaimana masalahmu dengan Bintang?"
Pertanyaan itu membuat Meysa menoleh dengan wajah kesal. Faza bertanya dengan mata dan satu tangan yang masih sibuk menatap layar laptop sambil mengetik. Sedangkan satu tangannya lagi beralih meraih mug kopi untuk diminum.
Meysa tidak suka Faza bertanya-tanya soal itu, apalagi memanggil Kai dengan sebutan Bintang. Ia merasa diejek karena terdengar menjengkelkan.
“Diberi izin berhubungan dengan Kai, bukan berarti kau bebas mau lakukan apapun. Ingat batasan!" lagi-lagi Kai berkata tanpa menoleh.
Wajah serius sambil kerja seperti ini sering kali membuat Meysa ketar-ketir kalau diberi peringatan. Faza kelihatan menyeramkan jika dalam mode ini.
“Kalau sampai melanggar tahu sendiri resikonya!"
Meysa hanya bisa diam sambil terus mendengarkan peringatan Faza. Ia tidak akan berani melanggar, jika marah kakaknya itu lebih galak melebihi Mamak dan Bapak. Meysa ingat dulu saat baru lulus SMP, Faza pernah dihadiahkan batang singkong karena ketahuan mengambil uang mamak dan menggunakannya untuk jalan-jalan sampai malam, padahal alasan pamit untuk kerja kelompok tahunya malah keluyuran, maklum remaja baru puber. Faza yang kebetulan sedang berlibur, sehingga Faza pula yang ambil bagian untuk menghukumnya.
“Kau dengar tidak, Meysa?"
“Iya dengar!" sahut Meysa sambil menuang mie rebusannya ke dalam mangkuk.
“Kuizinkan kau sama Kai karena anaknya kelihatan serius dan bertanggung jawab. Semoga kalian bisa sampai jenjang yang lebih serius, tapi kalau cuma buat pacar-pacaran mending tidak usah!"
Awalnya Meysa senang mendengar Faza memuji Kai, tapi saat mendengar perkataan Faza yang terakhir, Meysa langsung mencebikkan bibir.
Siapa juga yang cuma mau sekedar pacaran, setahunya Kai serius, dulu mereka sering membahas hal itu. Meysa membatin, tapi seketika hatinya kembali bimbang saat pikirannya mengatakan jika itu hanya rencana dulu, sekarang belum tentu Kai serius!
Dengan cepat Meysa menggeleng, mengusir pikiran buruk yang bisa merusak moodnya. Dalam hati dia meyakinkan diri jika Kai hanya main-main, tidak mungkin ia sampai kesini hanya untuk minta maaf dan memintanya untuk melanjutkan hubungan mereka kembali.
Meysa bernapas lega saat Melihat Erza sudah selesai dengan kesibukannya, kakaknya itu hendak beranjak ke kamar.
“Kak, boleh ajak Kai makan?"
Faza yang sudah berdiri sambil memegang laptop dan sebuah map berisi berkas-berkas nasabah menoleh sambil menyeruput tetesan terakhir kopinya.
Ia mengangguk memperbolehkan. “Memangnya mau kau kasih makan dimana tamumu?"
Meysa mengerucutkan bibir mendengar perkataan Faza yang suka kadang-kadang.ketus, galak, tiba-tiba baik dan bahkan tiba-tiba sok receh. Ia begitu sulit ditebak.
“Memberi makan tamu itu termasuk cara memuliakannya."
“Yang penting kau jangan aneh-aneh!" Faza memeri peringatan lewat sorot matanya.
“Ishhh!" Meysa mencebikkan bibir, memangnya siapa yang mau aneh-aneh. Ia tahu maksud Faza. Lagipula hal itu sudah diperingatkan berulang kali, Meysa bosan mendengarnya.
__ADS_1
Bersamaan dengan Faza yang sudah pergi ke kamar, Meysa meletakkan dua mangkuk mie di meja makan. Lalu ia keluar untuk memanggil Kai. Kasihan kalau sampai tidak makan, nanti Bintangnya bisa redup, energinya bisa hilang karena kelaparan.
Wajah Meysa langsung mengkerut heran saat tidak mendapati kamar kost itu tertutup, tidak ada orang yang menyahut saat dipanggil, bahkan laki-laki itu juga tidak ada di sekitar halaman rumah.
“Itu anak kemana lagi?" omel Meysa sambil berkacak pinggang. Ia keluar ke jalan untuk memastikan apakah Kai ada disana.
“Tidam tahu tempat juga sok-sokan keluyuran!" Meysa masih menggerutu, kesal tidak tahu Kai pergi kemana.
Ia lalu kembali ke terasa, dan duduk kursi plastik sambil menunggu Kai disana. Hampir 15 menit sudah Meysa menunggu tapi Kai tak muncul-muncul juga. Membuat Meysa mulai khawatir. Ia masuk untuk mengambil ponselnya di kamar dan kembali duduk.
“Ck, lupa. Kan nomor dia ndak ada sama saya." Tadi Meysa berniat menghubungi Kai untuk menanyakan keberadaannya, tapi ia lupa jika tak ada satupun kontak Kai di ponselnya.
Meysa mendesah kesal. Ia segera memutar otak. Senyum lebar langsung terpancar saat ia mengingat Kai yang katanya memiliki akun fake yang mengikutinya di Instagram.
Lama menscroll tapi tak menemukan akun milik Kai yang id Instagram tidak ia ketahui sama sekali. Alhasil Meysa memutuskan untuk membuka blokiran akun Kai di IG maupun di WA.
Meysa : Kamu dimana?
Tulis Meysa pada pesan yang dikirim ke dua media sosial Kai itu. Saat sedang menunggu balasan Meysa malah ingin buang air. Setelah buang air Ia kembali ke depan.
Saat baru menginjakkan kaki di pint, tatapan Meysa tertuju pada sosok Kai yang tengah berjalan di halaman, hendak menghampirinya. Hal itu membuat Meysa langsung menunjukkan wajah datar. Kesal karena Kai baru muncul sekarang. Entah darimana perginya!
“Darimana saja kamu?" sergah Meysa yang langsung menyambut Kai dengan pertanyaan.
Kai yang sudah ada di teras hanya menatap Meysa dengan senyum tertahan.
“Dari sana." Kai menunjuk asal tanpa memberi tahu yang sebenarnya pada Meysa.
“Dari sana mana?" tanya Meysa penasaran. “Kamu jalan kaki, cari apa emangnya?"
Namun, Meysa yang tak percaya terus mencecar Kai. “Cari angin dimana sampai selama itu? Kamu habis darimana, Kai?"
Kai menampakkan wajah meyakinkan. “Gak dari mana-mana bee, cuma dari ngobrol dikit dengan Erza aja kok."
Mendengar Kai menyebut nama Erza membuat kening Meysa mengkerut.
“Ngobrol apa sama Erza?"
“Banyak bee, ngobrol masalah kehidupan."
Meysa berdecak kesal mendengar jawaban Kai yang menurutnya terlalu berbelit-belit. Sementara sejak tadi ia khawatir bukan main. Meysa memang agak berlebihan, mentang-mentang Kai orang baru dia jadi takut jika Kai pergi seorang diri. T
Padahal Kai pasti bisa menjaga diri.
“Kalau mau kemana-mana tuh bilang, jangan bikin khawatir! Aku chat juga gak dibalas-balas."
Kai yang mendengar itu langsung mnujukkan ekspresi heran.
“Hah, kamu chat aku?" tanya Kai memastikan.
“Iya, blokiran di IG sama WA udah kubuka. WA sama IGnya masih yang lama, 'kan?"
Kai mengangguk mengiyakan. Meski pernah ganti ponsel, tapi Ia masih menggunakan nomor Wa yang lama, begitupun dengan akun Instagramnya.
__ADS_1
“Blokirannya beneran udah dibuka?" Kai yang masih tak percaya mencoba memastikan.
“Iya, udah. Tadi aku kirim chat mau tanya kamu lagi dimana."
“Aku gak ada bawa hp bee, lagi dicas di kamar. Maaf ya!" Kai tersenyum lega.
“Makasih ya bee, akhirnya blokirannya udah dibuka lagi."
Tangan Kai terarah mengusap rambut Meysa yang tergerai. Betapa senangnya Ia mendengar apa yang Meysa sampaikan barusan Akhirnya setelah sekian lama, Meysa mau membuka blokirannya. Itu bisa membuat mereka lebih mudah untuk saling berkomunikasi saat berjauhan nanti.
“ Makanya, lain kali jangan suka ngilang, kebiasaan!" protes Meysa tak suka. Ia benar-benar khawatir.
Bukannya marah diomeli Meysa, Kai malah senang karena merasa diperhatikan oleh gadis di depannya itu.
“Besok aku ngilang lagi deh biar dicariin kek gini." Goda Kai dengan senyum tertahan.
Meysa berdecak kesal mendengar ucapan Kai. Laki-laki itu malah senang diomeli, bahkan berniat mengulang hal yang sama. Sangat mengesalkan.
“Ngilang aja terus! kamu tuh memang hoby ngilang! Baru juga minta maaf, baru juga baikan, sekarang udah niat jahat lagi." seloroh Meysa yang mana membuat Kai gemas lalu mencubit pipi Meysa.
“Bercanda!"
“Gak gitu maksudnya," ucap Kai membenarkan. “Aku tuh suka lihat kamu marah-marah,” tuturnya yang memang merasa gemas melihat sikap Meysa.
Sedangkan Meysa yang mendengar itu langsung menepuk pelan bahu Kai. Rasanya ia begitu bahagia bisa berinteraksi seperti ini dengan orang yang selalu diharapkan. Candaan yang dulu hanya bisa dilakukan melalui ruang terbatas itu kita berlangsung secara nyata. Ada rasa haru dan bahagia yang tak bisa Meysa utarakan.
“Yaudah, ayo makan dulu, udah hampir jam 11 loh ini. Mienya juga sudah dingin karena kamu lama." Meysa menarik lengan hoodie Kai untuk mengikutimya masuk.
Kai menurut mengikuti langkah Meysa. Ia pun merasakan hal yang sama seperti yang Meysa rasakan, terharu sekaligus ada rasa senang yang tak bisa diungkapkan bisa sedekat ini dengan orang tercintam Nyata dan sangat menggetarkan.
Tanpa tahu interaksi mereka barusan disaksikan oleh segerombolan geng ibu-ibu tukang julid yang lewat menggunakan mobil. Baru pulang dari shooping.
“Eh, itu adek iparnya Eka, kan?" tanya Ibu-ibu yang satu. Tampilan necis dengan warna baju secerah pelangi, warna warni. Bibir merah merekahnya komat-kamit siap memulai pergibahan malam ini.
Tak memandang waktu dan tepat, jika ada peluang, maka pergibahan siap dilaksanakan. Seperti sekarang, di mobilpun bisa ieksekusi, asal ada bahan yang mendukung. Itu prinsip yang dianut ibu-ibu tersebut.
“Iya, itu Faza pe adek!" Sahut ibu-ibu berkaca mata hitam, seperti orang buta. Lipstik Pink Fanta terang, model hijab ala ibu-ibu pejabat, dengan sanggul besar dan rambut agak kelihatan. Hmmmnt, tampilan yang masyaallah sekali.
“Dengan siapa dia itu, kelihatan dekat sekali!"
“Siapa tahu Erza, kan katanya dia memang dekat dengan Erza." Ibu-ibu yang mengemudikan mobil asal menyahut karena tak menoleh saat lewat depan rumah Faza. Ia tidak melihat apa yang terjadi.
“Bukan! Kayaknya Ini lain,” sahut yang satu membenarkan
Empat dari ibu-ibu itu langsung menampakkan wajah julid.
“Katanya dekat dengan Erza tapi dekat juga dengan orang lain,” ujar ibu yang duduk di samping kemudi.
“Dia itu memang dekat dengan banyak laki-laki."
“Eka juga kenapa ba kasih izin adek iparnya dekat begitu dengan laki-laki di rumahnya."
“Pantas Bu Asmi tidak mau Erza dengan iparnya Eka, kelakuannya begitu."
__ADS_1
Lima ibu-ibu itu benar-benar menunjukkan kemampuan julid maksimal yang dimiliki. Bersiap untuk menebar gosip besok hari kepada ibu-ibu yang lain.