Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
43


__ADS_3

Meysa yang takut nonton horor malah ketiduran. Meski banyak orang sama sekali tak membuat Ia berani membuka mata. Suara iringan instrumen horor yang menggema, serta layar yang besar, seakan membuat setan dalam layar itu berada nyata di depan mata.


Alhasil Meysa lebih memilih menutup mata sambil memeluk lengan Kai. Tak ada lagi jaga jarak, tak ingat dengan pesan Faza dan larangan untuk tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram. Keduanya sama-sama terlena. Perpisahan esok hari seakan membuat mereka berpikir untuk berlaku seperti itu. Walau hanya bergandengan tangan pun tetap saja tidak boleh. Tapi mau dikata apa, perasaan yang menggebu seakan membutakan dan menghalalkan semua.


“Love you!" Kai mendaratkan kecupan di kening Meysa yang bersandar di bahunya. Meski ia juga takut tapi tetap nonton sambil menyipitkan mata, terkadang tak mau melihat jika sosok hantu dalam film sudah muncul.


“Ck, malah ada adegan bercocok tanam si setan sama manusia lagi," keluh Kai mengalihkan pandangan saat sosok yang menjadi setan jelmaan ular dan manusia itu membuat pemeran pria dalam film itu terpikat, mereka hendak berbuat enak-enak.


Kai menatap Meysa, seandainya sudah menikah mungkin bisa langsung praktek adegan enak-enak seperti yang di tampilkan di layar. Sial, Kai berdehem, berusaha mengusir gelanyar aneh yang timbul akibat adegan dan suara dessahann dalam film.


Dia laki-laki normal, tentu mudah terpancing hanya dengan melihat hal seperti itu. Apalagi di sampingnya ada orang yang dicintai, otomatis otak Kai langsung menghayalkan hal yang tidak-tidak dengan Meysa.


Namun, sebagai laki-laki yang baik dan bertanggung jawab Kai tidak ingin merusak wanita yang dicintainya. Dia ingin menjaga Meysa hingga nanti benar-benar halal untuk disentuh. Meski bukan hamba yang benar-benar taat, tapi Kai tetap berusaha menjaga batasan.


Walau tak bisa dipungkiri, jika untuk berpegangan tangan dan ciuman, Ia tak bisa menahannya. Seperti saat ini, Ia kembali mendaratkan ciuman di kening Meysa yang masih tertidur. Kai berusaha melindungi pandangan dari adegan yang bisa membuat gairahnya menggebu.


“Kapan abisnya sih!" seru Kai, masih dengan wajah berpaling, menghadap ke wajah Meysa yang bersandar di bahunya.


Tak terasa waktu sudah berlalu, film horor lucknut itu akhirnya berakhir. Kai sudah membangunkan Meysa, bersiap untuk keluar. Meysa masih berusaha mengumpulkan nyawa, megucek mata untuk mengusir kantuk. Bukannya menonto, malah berbalik ia yang ditonton oleh layar tersebut.


Tapi ada untungnya juga Meysa tidur, tak bisa dibayangkan kalau mata suci Bulannya harus ternodai karena adegan tadi. Kai membatin.


“Udah selesai?" tanya Meysa, Ia melirik sekitar dimana orang-orang mulai keluar satu persatu.


“Udah dong, itu orang-orang udah keluar semua."


“Aku ketidurannya lama, ya?" tanya Meysa. Ia tengah merapikan hijabnya yang berantakan.


“Bukan lama lagi, hampir dari seluruh film kamu ketiduran!” Kai menyalakan ponselnya, melihat jam disana.


“Kita disini udah 2 jam lebih, durasi film belum ada setengah kamu malah ketiduran aja."


Meysa tertawa mendengar ucapan Kai.


“Siapa suruh nonton film horor." Meysa mulai beranjak dari duduknya, memberikan sisa popcorn dan botol minuman untuk di pegang Kai.


“Yakan aku gak lihat, bee!" Kai ikut berdiri dan menyusul langkah Meysa. Saat melewati tempat sampah, ia membuag sisa popcorn dan minumannya disana.


“Tapi ada untungnya juga kamu gak lihat, bahaya!" ujar Kai sambil menahan tawa. Membuat Meysa menoleh dengan kening mengkerut, mempertanyakan maksud ucapan Kai.


Mereka sudah keluar dari dalam bioskop. Melangkah menyusuri jejeran gerai yang ada di mall.


"Ada adegan 18+, gak baik kalau dinonton sama bocil!"


“Si paling gak bocil!" Meysa menoleh sambil mencebik.


Menghabiskan dua jam lebih di dalam bioskop membuat dua orang itu kelaparan. Kai mengajak Meysa makan, tapi Meysa tidak mau kalau harus makan di mall. Meysa yang menganut prinsip hidup hemat juga menerapkannya pada Kai. Kai tidak boleh boros! Kalau tidak, misi untuk menghalalkannya akan semakin lama.


Alhasil dua sejoli yang sedang kasmaran berat itu melajukan motor meninggalkan halaman parkir Palu Grand Mall.


“Eh, ternyata kita habis dari matahari." Seloroh Meysa saat melirik icon Matahari Mall yang ada di gedung itu. Keduanya keluar lewat pintu belakang. Tak lagi melewati jalan yang ada di sisi pantai.


Tanpa dikasih tahu, Kai yang langsung memahami maksud candaan Meysa pun segera berceletuk.


“Hah, iya ya. bulan dan bintang abis meet and great dengan matahari. Gawat, tanda-tanda akhir bulan, nih!"


Meysa dan Kai lalu tertawa bersama, dua orang itu memang sfrekwensi. Memiliki selera humor yang receh, bahkan dulu setiap kali berteleponan tak jarang keduanya sering membahas hal-hal random.


“Kita makan dimana, bee?" tanya Kai. Kini keduanya tengah berada di lampu merah.


“Kalau lihat warung singgah aja!”

__ADS_1


“Gak usah mikir kesasar apa nggak, Kitakan hari ini fullday jalan-jalan. Tanpa arahpun gak apa-apa."


Mendengar ucapan Meysa yang seakan begitu pasrah di bawa jalan-jalan tanpa tujuan membuat Kai terkekeh.


“Kalau aku bawa ke tempat sepi gak apa-apa berarti?!"


“Gak modal banget, masa di bawa ke tempat sepi, huu!” Meysa menanggapi candaan Kai dengan ejekan.


“Emang tahu maksudku apa?" canda Kai sambil menahan tawa. Membuat Meysa terdiam sejenak, kalau sudah begini ia tahu Kai pasti ada pikiran kotor terselubung. Membuatnya gemas dan ingin melayangkan tonjokan.


Plakk.


Cap lima jari melayang di punggung Kai, membuat laki-laki itu mengaduh.


“Awww, sakit, bee!" pekik Kai menahan perihnya pukulan Meysa. Tak menyangka si Bulan punya tenaga hulk.


Membuat beberapa orang yang ada di samping mereka menoleh dengan wajah heran. Bertanya-tanya kenapa orang di samping mereka malah tawuran.


“Eh." Kai dan Meysa menoleh malu-malu menyadari diri jadi pusat perhatian.


“Jangan macam-macam, ntar kamu pulang tinggal nama!" Meysa berbisik di punggung Kai. Bukannya takut Kai malah menampakkan senyum lebar. Ia memang suka melontarkan candaan pada Meysa.


“Emangnya rela kalau aku tinggal nama?"


Meysa menggeleng. Tentu tidak, Kai tanpa kabar saja ia sedih. Apalagi kalau Kai tinggal nama, entah bagaimana jadinya. Ia sudah terlalu mencintai Kai. Tak mengerti kenapa perasaannya bisa sebesar ini, kenal secara virtual tak menghalang cintanya tumbuh menjadi nyata. Bahkan sebesar jagat raya.


“Makanya, mau yah aku aja ke tempat sepi!" Kai kembali melayangkan candaan saat motor sudah melaju.


“Emangnya mau ngapain ke tempat sepi?" tanya Meysa sok polos.


“Nyicil reproduksi, mau?" Kai menoleh, tawanya tertahan saat melihat Meysa malah melototkan mata dari pantulan kaca spion.


“Ih, otakmu kok makin error gitu!" Meysa menepuk punggung Kai. Membuat tawanya makin lebar. Senang sekali menjahili Meysa, wajah menggemaskan saat marah itu membuatnya tercandu-candu.


“Itu tahu!" seru Meysa dengan wajah mencebik.


“Bercanda sayang, bercanda!”


“Aku gak seburuk itu, tahu sendirikan kalau aku ini anak baik-baik.”


Meysa yang tengah menampakkan wajah marah seketika tersenyum saat mendengar kata anak baik. Ingin rasanya dia menarik kepala Kai yang mengaku anak baik tapi ucapan setiap kali berbicara dengan duo kamvret sama sekali tak terkontrol dan punya pikiran kotor.


“Si paling anak baik yang salah pergaulan!" celetuk Meysa mengejek.


Sementara Kai terus melajukan motor, mencari tempat mengisi perut. Namun, saat melewati sebuah toko emas, Kai menepikan motornya. Membuat Meysa yang tengah menikmati perjalanan langsung mengkerut heran saat melihat jejeran ruko di sampingnya. Kai berhenti tepat di halaman sebuah toko emas.


“Kenapa berhenti disini, Bang Kai?!" tanya Meysa tanpa menoleh. Yang mana tanpa sadar Kai tengah menatapnya dengan wajah cemberut saat mendengar sebutan yang Meysa lontarkan.


Meysa menoleh, ia pun heran melihat wajah kusut Kai yang sengaja dibuat-buat agar kelihatan sedang kesal.


“Itu lagi ngejek apa gimana?"


Meysa menampakkan senyum melihat wajah datar yang dibuat-buat Kai. Kai tidak bisa berpura-pura marah. Tidak cocok!


“Manggil Bang Kai atau lagi ngejek pakai Bangkai, nih?”


Meysa menggerutkan kening mendengar ucapan Kai. Ia tidak mengerti. Namun, Ia langsung mengingat saat Kai bertelepon dengan Satria dan Ojik. Dimana Satria mengejek Kai dengan sebutan bangkai. Membuat Meysa tertawa, Kai pikir ia sedang diejek. Sama seperti yang Satria lakukan kemarin.


“Hahaha, sensitif kali lah, bang!" Meysa menepuk pipi Kai dengan gemas.


“Aku beneran manggil kamu, ABANG KAi, bukan nyebut kata BANGKAI yang busuk!" Seru Meysa memperjelas dibagian dua kata itu.

__ADS_1


Tak menyangka jika ternyata nama Kai bisa jadi seunik itu. Membuat Meysa yang baru menyadari hal itu tertawa dalam hati.


Kai balas menepuk wajah Meysa dengan gemes. “Aku juga sebenernya gak masalah sih, cuma lucu aja tumben dengar kamu manggil Abang!" jelas Kai yang ternyata tak mempersembahkan hal itu, Ia hanya merasa tersentuh mendengar Meysa memanggilnya dengan sebutan Abang.


Kai terkekeh menyadari ucapannya, tak menyangka ia punya bakat akting juga. Merubah-rubah raut wajah.


“Eh, tapi kok bisa kebetulan gitu ya, bee. Salah dikit bisa jadi bangkai beneran!" Meysa terkekeh.


“Kan, malah ngejek beneran!" Kai menggelengkan kepala.


“Habis lucu, bee!"


“Ya gak tau emak, kenapa dia namain aku gitu! BangKai- BangKai gini artinya bagus loh!" seru Kai sambil menarik tangan Meysa menuju toko emas.


“Memangnya apa artinya, bee?" tanya Meysa bersungguh-sungguh ingin tahu.


“Bahas itu nanti dulu ya, sekarang kita masuk dulu! Biar bisa cepat cari makan, kamu udah lapar, kan?" tanya Kai tanpa menoleh, Ia terus menuntun tangan Meysa ke dalam.


Meysa yang tidak tahu apa tujuan Kai sebenarnya, hanya menampakkan wajah heran.


“Memangnya mau apa ke toko emas?"


“Ya beli emaslah bee, masa beli baju. Ada-ada aja kamu!"


Meysa mendengus kesal mendengar jawaban menyebalkan dari Kai. Meski begitu ia tetap menurut. Kai membawanya duduk di kursi depan etalase, sementara laki-laki itu sibuk melihat-lihat jejeran emas yang ada di dalamnya. Persis seperti saat melihat jam tangan di mall tadi.


“Kamu beneran mau beli emas?" Meysa mendekatkan bibir di telinga Kai. Laki-laki itu masih sibuk.


“Shutt!" Kai menoleh, menempelkan telunjuk di bibir Meysa.


“Kamu diam! Gak disuruh banyak tanya!" Seru Kai sambil menahan kebengekan. Lucu melihat wajah kesal Meysa. Sepertinya ia harus sering-sering membuat Meysa kesal agar terlihat menggemaskan.


Berbeda dengan wajah ibu-ibu penjaga toko yang berseri-seri, mukanya glowing dengan tangan dan leher dipenuhi emas. Hidupnya kelihatan makmur sekali. Wanita yang memakai songkok haji itu tersenyum melihat tingkah sejoli yang dikiranya pasangan suami istri muda.


“Apa kita cari?"


Meysa menatap ibu haji glowing yang hidupnya terlihat makmur dengan rentetan emas di tangan dan leher. Wajar, dia penjual emas. Meysa membantin.


“Saya mau lihat yang ini, Bu!"


Meysa kembali menoleh pada Kai, tidak tahu laki-laki itu menunjuk cincin yang mana. Pasalnya ada banyak cincin yang ada di dalam etalase.


“Yang ini?" ibu haji glowing menunjuk cincin bermata bunga, besar sekali. Pasti harganya mahal, persis seperti cincin yang rata-rata keluarganya gunakan setiap kali acara.


“Bukan!" Kai menggeleng, ternyata bukan itu yang ditunjuknya.


Disaat Kai sibuk memilih cincin, Meysa sendiri malah sibuk bertanya-tanya sebenernya Kai ingin membelikan cincin untuk siapa? Tidak tahu Kai sedang beli emas untuk dirinya.


“Yang itu, yang permata bunga kecil!"


“Ini?" tanya ibu haji. Tapi Kai menggeleng lagi. Sudah ada beberapa cincin yang ditunjuk tapi tak juga sesuai yang Kai inginkan.


“Yang ini, Bu! Yang bentuk permatanya bunga kecil, yang sederhana ini!" Kai menjelaskan semaksimal mungkin agar si Ibu haji mengerti.


“Iya yang itu!"


Benar saja, ibu haji yang glowing dan makmur itu meraih cincin yang Kai tunjuk. Kai mengangguk senang.


Ibu haji yang glowing dan makmur memberikan cincin pada Kai. Laki-laki itu menerimanya dengan senyum mengembang. Dilihatnya cincin itu dengan begitu teliti. Sementara Meysa yang duduk di sampingnya hanya diam memperhatikan.


“Suka ini gak, bee?" Kai menoleh pada Meysa. Kening gadis itu seketika mengkerut. Ia bingung, apakah Kai memilih cincin untuknya?

__ADS_1


Meysa menegakkan tubuh, tak lagi bersandar malas-malasan di etalase. Ia menatap Kai dengan serius.


“Itu buatku?"


__ADS_2