Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
30


__ADS_3

Azan Isya sudah berkumandang sejak 30 menit yang lalu. Di ruang tengah, Faza baru selesai melaksanakan shalat bersama Cia, putri sulungnya.


“Besok pagi, mau ikut shalat di mesjid tidak?"


“Mau-mau!" teriak gadis kecil itu antusias. Sebelum shalat isya tadi ia belajar mengaji bersama Papanya. Cia senang diajar Faza, Papanya tidak galak dan cerewet seperti sang Mama.


“Kalau mau ikut, harus cepat bangun!” Faza mencolek hidung Cia yang kelihatan pesek karena pipi bocah itu seperti bakpau.


“Kalau mau cepat bangun, harus cepat tidur!" Eka yang baru keluar dari dapur turut menimpali. Sebotol susu formula yang baru dibuat diberikan pada si gembul Gia yang sedang ada di atas kereta.


“Nen nen, nennen.” Bayi gembul itu berceloteh ria. Ia menerima botol susu dari mamanya lalu menggerakkan kereta itu kesana kemari dengan sangat lincah.


“Berarti Cia harus tidur duluan?"


Eka duduk dan membantu putri sulungnya melepas mukenna. Ia mengangguk. “Cia tidak punya PR kan?"


Bocah itu menggeleng.


“Kalau begitu langsung tidur, nak. Besokkan mau ikut Papa shalat di mesjid."


Dengan penuh semangat bocah itu lalu berlari ke kamar, Ia begitu bersemangat.


Selepas Cia ke kamar. Eka menoleh pada Faza. Pria yang duduk di kursi rotan masih dengan pakaian shalat lengkap itu tengah sibuk dengan ponselnya.


“Jadi Kai dan Meysa ini ceritanya pacaran betulan?"


Suami istri itu sudah baikan dari pertengkaran semalam. Mendengar Eka yang terus kepo dengan urusan Meysa, akhirnya Faza menceritakn hubungan Meysa dengan Kai.


Awalnya Eka tidak percaya, tapi setelah mendengar cerita Kai. Eka akhirnya percaya.


“Ternyata kisah cinta seperti itu ada betulan ya, pa." Begitu Eka menyahut tak percaya.


Biasanya dia hanya mendengar kisah ini dari orang-orang, tak menyangka jika orang terdekatnya ternyata memilki kisah percintaan yang unik. Ya, Eka pun mengakui jika cinta virtual atau hubungan jarak jauh merupakan hal yang unik. Sebab, dua orang yang sama sekali tak pernah bertemu dan bertatap muka langsung bisa saling mencintai dengan serius, bahkan ada yang sampai ke jenjang pernikahan. Eka salut karena mereka yang menjalin hubungan seperti itu memiliki komitmen dan kesetiaan yang luar biasa.


“Ada lah, buktinya mereka." Begitu Faza menyahut pagi tadi sambil mengemudikan mobil, mengantar Eka ke kantornya di dinas kesehatan.


Masih banyak yang ingin Eka tanyakan, tapi pagi itu ia sudah harus turun. Mobil sudah berhenti depan kantornya. Kini Eka ingin menanyakan hal itu lagi pada Faza.


“Pa!!" Panggil Eka, ia menyusul duduk di kursi rotan sebelah Faza.


“Hmmmnt."


“Berarti kau izinkan Meysa pacaran?"


Setahu Eka, dari dulu Faza terus melarang keras adiknya pacaran. Katanya kalau ada yang serius baru diizinkan. Faza tidak ingin Meysa hanya sekedar pacar-pacaran, takut adiknya tersesat.


Agak lama Faza terdiam, hingga akhirnya ia mulai menjawab.

__ADS_1


“Sebenarnya bukan diizankan bagaimana, tapi kulihat Kai ini anaknya serius!"


“Mereka bersama sudah hampir dua tahun, walaupun setahun lebih ini sempat hilang kabar tapi Kai datang langsung kesini, itu artinya dia serius,” lanjut Faza. Seakan ia sudah memikirkan semua matang-matang. Melihat keberanian Kai, membuat ia yakin pada laki-laki itu. Bagi Faza, salah satu ciri pria bertanggung jawab adalah dia yang langsung datang ke rumah untuk membuktikan cinta. Dan Kai termasuk, meski bukan datang untuk melamar, tapi kedatangan Kai menemui Meysa sudah membuktikan keseriusan dan keberanian laki-laki itu.


“Cih, sepertinya sudah siap sekali punya adik ipar."


“Siap ndak siap harus siap lah."


“Terus Erza bagaimana?"


Faza meletakkan ponselnya, melipat tangan di dada sambil menarik napas dalam.


“Untuk apa sama Erza, Mamanya saja tidak suka dengan Meysa." Wajah Faza kelihatan kesal. Dia juga tahu apa yang menyebabkan orang tua Erza tak menyetujui anaknya dengan Meysa. Faza merasa kasihan dengan adiknya.


“Belum juga jadi, sudah koar-koar tidak setuju. Padahal pacaran sama anaknya saja belum."


Faza kesal, Ibu Erza yang merupakan istri Abdi negara memang terkenal sombong di kompleks itu. Ia suka memandang rendah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan sebagus keluarganya. Sebenarnya keluarga Erza masih ada hubungan jauh dengan Eka, istrinya. Bahkan dulu Faza ingat betul bagaimana julidnya Mama Erza ketika tahu Eka akan menikah dengan orang sepertinya yang merupakan hanya anak seorang petani.


“Eka ini te pintar cari suami, coba cari yang kaya. Ini dapat anak petani, lagi pula gaji pegawai Bank yang jabatannya masih rendah seperti Faza itu sedikit sekali, mana cukup!"


Faza ingat sekali kata-kata tersebut. Dimana saat itu jabatannya di perbankan masih di bawah, tapi ia berani mengajak Eka menikah. Kebetulan saat itu Faza memang sengaja melamar kerja di kota tempatnya pernah menuntut ilmu, yaitu kota tempat istrinya dibesarkan.


'Aku memang anak petani, tapi hasil kebun milik orang tuaku lebih besar dari gajimu!' Begitu dulu Faza balik julid dalam hati. Saat itu kondisi keuangan keluarga memang masih bagus, Bapak dan Mamak masih memiliki beberapa hektar kebun sawit dan juga persawahan di kampung. Hanya saja Faza masih tetap baik pada Erza, karena Erza memiliki sifat yang baik.


“Sabar, tahu sendiri Tante Asmi memang begitu."


Faza memutar mata malas, “Kalau Meysa mau, mungkin dari dulu sudah sama Erza. Tapi yang dia mau memang bukan Erza, melainkan Kai."


Selain itu, Eka juga lebih tertarik membahas persoalan tentang hubungan adik iparnya.


“Coba telepon Meysa, tanya dimana, sudah isya ini." Eka mengalihkan obrolan.


“Mereka di tugu perdamaian!" sahut Faza, tadi begitu sampai rumah, tak melihat keberadaan Meysa dan Rena juga Kai. Faza langsung menelpon Rena, menanyakan keberadaanya.


Setelah diberi tahu, Faza merasa lega. Ia yang dulunya selalu berpikiran negatif dan tidak tenang setiap kali Meysa pergi dengan laki-laki selalu marah-marah. Tapi kali ini malah begitu tenang, seakan memberikan kepercayaan penuh pada adiknya itu bersama dengan Kai.


“Sama siapa kesana?" cecar Eka.


“Bertiga sama Rena dan Kai.”


“Heh ini sudah malam, suruh pulang." Meski terkadang bersikap acuh dan seakan tidak perduli pada apa yang Meysa lakukan, tapi Eka terkadang juga suka mengekang, meski ia hanya melakukan hal itu melalui suaminya, meminta Faza untuk menegur Meysa. Pernah berselisih dengan Meysa, membuat ia malas terlalu menegur anak itu.


“Biar saja dulu, sekali-kali." Kai beranjak dari kursi saat mendengar suara ketukan dan salam di luar.


“Tapi ini sudah hampir jam 8, pa."


“Tidak apa, biar saja dulu mereka selesaikan masalahnya. Toh, Kai juga tidak lama lagi pulang."

__ADS_1


Eka hanya bisa geleng kepala melihat sikap Faza yang tidak seperti biasa. Suaminya itu kelihatan sangat santai sambil melangkah untuk membuka pintu.


Sementara itu di luar, Erza baru saja memarkirkan motor di balik pagar rumah Faza. Lalu melangkah masuk, tangannya terulur mengetuk pintu sambil mengucap salam.


Tok, tok, tok.


“Assalamualikum!"


“Waalaikumsalam!" sahut suara laki-laki dari dalam. Erza tahu itu suara Kak Faza.


Sebenarnya saat menjelang maghrib tadi, Erza sempat mampir kesana untuk mencari Meysa. Tapi tidak ada orang, rumah itu juga kelihatan sepi, bahkan tak ada satupun kendaraan yang terparkir. Akhirnya Erza memutuskan pulang dan kini ia datang lagi.


Wajah berseri-seri itu nampak senang ketika pintu terbuk, Faza muncul masih dengan menggunakan pakaian shalat lengkap dengan peci.


“Eh, Erza, kenapa?"


“Ada Meysa, kak?"


“Tidak ada, Za, belum pulang, Kayaknya keluar dari sore." Faza menjawab apa adanya.


Erza nampak lesu, tapi ia tetap senyum pepsodent. Berhubung orang yang dicari tidak ada, Erza lalu berpamit pulang.


“Masuk, Za!" Tapi Faza lebih dulu menawarkan masuk.


“Nanti saja kak, kalau Meysa sudah pulang." Tolak Erza. Ia lalu pamit setelah melihat Faza mengangguk.


Baru Erza melangkahkan kaki di halaman, sebuah motor scoopy merah yang dikendarai Rena masuk.


“Kak Erza!" sapa Rena ramah, memanggil pemuda itu dengan sebutan kakak. Erza balas tersenyum dengan sedikit menyingkir saat motor Rena lewat tepat di sampingnya.


“Ini Meysa sudah datang, Erza!" teriak Faza menunjuk satu motor yang sama menyusul. Bapak dua anak itu masih berdiri di teras.


Erza langsung mengikuti arah tangan Faza, sebuah motor yang dikendarai dengan dua orang berboncengan membuat mata Erza menyipit. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan itu.


“Erza!"


Ternyata wanitanya yang dicari tengah bersama laki-laki lain. Wajah yang semalam kelihata sedih itu nampak ceria.saat melambai padanya.


Seketika Erza kehilangan semangat, tubuhnya terasa lemas. Rasa ini lebih sakit daripada saat Meysa menolaknya beberapa kali. Entah kenapa senyum kebahagiaan yang gadis itu pancarkan barusan tampak berbeda.


“Hati-hati!"


Melihat Meysa turun dari motor lalu menyerahkan helem pada laki-laki asing itu membuat dada Erza semakin sesak.


“Iya!" Dengan wajah ceria kini Meysa berjalan menghampirinya.


Mata Erza perih. Ingatannya melayang pada curhatan Meysa semalam. Tapi setelah melihat interaksi dua orang yang menurut sepengetahuannnya hubungan keduanya sedang berada di ujung tanduk, nyatanya terlihat baik-baik saja, bahkan Meysa tak lagi bersedih.

__ADS_1


Membuat Erza seakan bisa menerka apa yang telah terjadi diantara mereka.


“Sudah dari tadi, Za?”


__ADS_2