
Di dalam pesawat, Kai duduk sambil mendengarkan arahan dari pramugari yang sedang menyampaikan announcement sebelum take off.
“Para penumpang pesawat yang terhormat, selamat datang di Penerbangan nomor CA125 menuju Pekanbaru. Saat ini kita berada di urutan ketiga untuk lepas landas dan diperkirakan akan mengudara dalam waktu sekitar tujuh menit ke depan.”
Kai yang duduk dengan orang asing lebih memilih meraih ponselnya. Perasaan sedih karena harus meninggalkan kota sang kekasih benar-benar membuat perasaanmya campur aduk, Ia lalu mencari nama kontak Meysa dan mulai mengetikkan sesuatu disana.
Satu persatu ketikan yang Kai tulis membuat hatinya mencelos nyeri. Memang terdengar lebay, tapi itulah keadaannya. Ia benar-benar tak sekuat itu. Pertemuan pertama dengan Meysa benar-benar membuat langkahnya terasa berat meninggalkan gadis itu.
Tepat setelah Kai menekan tanda send, pramugari yang belum selesai memberikan pengumuman itu menyampaikan kepada seluruh penumpang untuk memastikan seluruh barang elektronik yang di bawa dalam keadaan mati.
”Kami menghimbau Anda untuk mengencangkan sabuk pengaman dan mengamankan semua bagasi di bawah kursi Anda atau di kompartemen atas. Kami juga meminta agar tempat duduk dan nampan meja Anda dalam posisi tegak untuk lepas landas.
“Harap menonaktikan semua perangkat elektronik pribadi, termasuk laptop dan ponsel. Merokok dilarang selama penerbangan. Terima kasih telah memilih Lion Air. Selamat menikmati penebangan bersama kami.!”
Tepat setelah mendengar itu, Kai langsung menonaktifkan ponselnya dalam mode pesawat, lalu mematikan ponsel agar lebih afdol. Setelah itu barulah Kai memasukkannya ke dalam tas selempang yang melekat di dada
Kini suara pengumuman terdengar berganti, dari yang tadinya menggunakan bahasa Indonesia beralih menjadi bahasa Inggris. Suara pramugari terdengar merdu memberikan arahan.
“Ladies and gentlemen, welcome onboard CA125 5o Pekanbaru. We are currently third in line for take-off and are expected to be in the air in approximately seven minutes time.”
We ask that you please fasten your seatbelts at this time and secure all baggage underneath your seat or in the overhead compartments. We also ask that your seats and table trays are in the upright position for take-off”
“Please turn off all personal electronic devices, including laptops and cell phones. Smoking is prohibited for the duration of the flight. Thank you for choosing Lion Air. Enjoy your flight with us.”
Kai memastikan sabuk pengaman dan kursinya benar-benar nyaman. Ia lalu merebahkan tubuh dengan bersandar. Tak lupa mengenakan masker, topi yang melekat di kepala agak ia turunkan sehingga menutupi seluruh wajahnya.
Laki-laki itu memilih memejamkan mata, berusaha tidur tapi pikirannya terus tertuju pada Meysa. Bayang-bayang kebersamaan yang telah mereka habiskan selama beberapa hari ini terus menari indah dalam ingatan.
Suara mesin pesawat mulai terdengar . Sebagai tanda bersiap untuk segera lepas landas. Suara pilot dan co pilot terdengar menyampaikan beberapa kata, menandakan pesawat benar-benar akan segera terbang. Terbukti dengan suara mesin yang kian menderu, bersamaan dengan pergerakan yang Kai rasakan mulai menanjak. Namun ia tetap pada posisi yang sama, yaitu duduk tenang dengan mata terpejam.
Berusaha tidur namun pikirannya malah berkelana, mengutuki ketidak berdayaan yang belum mampu untuk menghalalkan Meysa.
Sementara di sisi lain. Meysa yang tengah menyeret langkah di tengah perasaan sedih yang mendera terlihat begitu tak bersemangat. Ia menyusuri area parkir bersamaan dengan dering ponsel yang bergetar di dalam tas.
Ia lalu merogoh tasnya dan meraih ponsel saat sudah tiba di sisi motor. Meysa bersandar disana. Di bawah matahari yang kian teriak ia membaca sebuah pesan yang baru masuk.
Bintang : Bee, kalau pulang hati-hati di jalan, jaga kesehatan, jaga diri baik-baik! Aku sayang kamu!
Pesawatnya udah mau take off. Kalau udah sampai nanti kukabari ya, bee.
Love you wanita hebatku😘.
Pesan dari orang terkasih itu seketika membuat matanya kembali mengembun. Berat rasanya melepas Kai, entah berapa lama lagi waktu yang harus dihabiskan untuk menjalin hubungan jarak jauh.
Meysa takut tak mampu mengingat halangan dan rintangan seperti apa yang siap menghadang di depan. Yang mungkin bisa saja membuat hati mereka goyah hingga bahkan membuat keduanya tak sanggup meneruskan perjuangan. Banyak hal yang Meysa pikirkan, rasa takut akan segala yang terjadi membuat hatinya tak karuan. Ia takut apa yang telah dikorbankan hari ini akan jadi sia-sia di masa mendatang.
“Aku takut jika pada akhirnya kita hanya akan saling jadi pembelajaran dan kenangan satu sama lain, aku takut kalau seandainya kita gak menjadi akhir dari semua penantian dan harapan yang sudah kita bangun!" lirih Meysa yang mulai terisak. Perih sekali, ia menggenggam ponselnya erat-erat, memeluknya dalam dada.
Namun, ketika sebuah pesawat terdengar mengudara di atasnya, Ia mendongak dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan. Lion Air, tulisan di body pesawat yang masih terlihat jelas dari arahnya itu membuat pikiran Meysa tertuju pada Kai.
Ia lalu melirik jam di tangan.
Sudah lewat tujuh menit berlalu, itu artinya burung besi itulah yang Kai gunakan. Do'a dan harapan yang baik menyertai keberangkatan Kai.
Perlahan pesawat itu semakin jauh hingga menjadi titik kecil yang mulai mengarungi langit. Mengudara dengan gagah di atas sana.
Meysa kembali sendiri. Tak lagi bertemankan Bintang, sosok Bulan yang beberapa hari terakhir ini ceria harus kembali merasakan sepi. Benda langit yang pernah berjanji menemaninya mengarungi malam itu belum bisa menunaikan janji dan membawanya ikut bersama.
“Mau keluar?"
__ADS_1
Suara dari seseorang membuat Meysa cepat-cepat menghentikan acara kesedihannya. Tangannya tergerak menghapus air mata, ia lalu menoleh menatap sumber suara setelahnya.
Tukang parkir yang mengira ia kesulitan mengeluarkan motor itu datang menghampiri, siap memberikan bantuan. Meysa mengangguk mengiyakan pertanyaannya. Kebetulan sekali, Ia memang tak memiliki tenaga untuk sekedar mengeluarkan motor.
“Sudah, kak!" Tukang parki berseru seraya menunjuk motor Meysa yang sudah menghadap jalan keluar.
Meysa lalu melangkah dengan lesu.
“Makasih!" ucapnya seraya menyodorkan uang lima ribu untuk jasa parkir. Sekalian sebagai tanda terimakasih karena sudah membantu di saat yang tepat.
“Kembaliannya, kak!"
Suara tukang parkir membuat Meysa yang sudah naik di motor dan hendak memakai helem menoleh lagi.
“Ambil saja, kak!" lirihnya dengan wajah datar. Bahkan untuk berbicara saja ia merasa tak kuat.
“Oh, terimakasih banyak le!" tukang parkir nampak kegirangan diberi uang lebih.
Meysa hanya mengangguk, tangannya tergerak meraih helem untuk digunakan. Namu matanya malah tertuju pada helm yang Kai kenakan saat berangkat tadi. Milik Faza, hanya saja selama Kai disana, Ia sering memakainya.
Membuat perasaan sedih kembali menghampiri. Motor itu pun melaju meninggalkan bandara dengan perasaan sedih, bayang-bayang kebersamaan dengan Kai membuat Ia ingin cepat-cepat sampai rumah. Tak sabar ingin menumpahkan kesedihannya di kamar.
Gadis mengenaskan itu pun tiba di rumah sebelum Zuhur. Dengan langkah tergesa-gesa ia masuk ke kamar. Menangis tanpa takut ada yang dengar adalah kebebasan yang luar biasa, bisa membuat perasaan jadi lebih lega.
Setibanya di kamar Meysaangsung menjatuhkan diri di tempat tidur setelah membuka jilbab dan melemparnya asal, berserakan di lantai. Wajahnya ditelungkupkan d tempat tidur. Menumpahkan segala kesedihannya, situasi ini persis seperti saat Kai tak mengabarinya dulu.
Meysa membalik tubuh, ia mengusap bulir bening yang berlinang. Tangannya meraih ponsel, berulang kali menatap foto kebersamaannya dengan Kai yang diambil sebanyak mungkin saat bersama sebelum kembali berpisah seperti sekarang.
Sembari terisak menahan tangis, Meysa membuka sosial medianya lalu memilih foto Kai untuk diposting di story IG.
Tulis Meysa pada caption dengan menandai akun Instagram milik Kai. Tak lupa ia juga mengunggah foto yang sama di WA, hanya beda caption saja.
“Safe flight, I'll miss you so much, bee👩❤️👨" tulis Meysa dengan menyematkan emot dua orang yang saling mencintai.
Tak henti-hentinya Ia memandangi foto Kai yang dimbil saat laki-laki itu tengah mengantri untuk melakukan boarding pass saat masih di bandara tadi. Kai terlihat begitu menawan dengan senyum terulas saat berbicara dengan seorang penumpang di sampingnya membuat foto itu menjadi sebuah foto candid.
Hanya dengan menatap foto berhasil membuat dada Meysa bergemuruh. Ia seakan bisa merasakan keberadaan Kai melalui foto itu. Jantung yang selalu berdebar setiap kali berada di dekat Kai, membuat ingatan Meysa tertuju pada setiap moment yang dilakukan bersama Kai. Perlakuannya, sifat jahilnya, cara bicaranya dan semuanya selalu berhasil membuatnya terpikat. Ia mencintai seluruh yang ada pada Kai.
Perasaan pada orang asing itu begitu tulus dan tak berubah, bahkan sejak sebelum adanya pertemuan.
Disela tangis, bibir Meysa tersenyum mengingat hal manis yang pernah dilakukan bersama Kai. Dimana pertama kalinya Kai memberanikan diri untuk memeluk bahkan melayangkan kecupan di keningnya. Hal itu benar-benar membuat jantung Meysa seperti berhenti berdetak, hanya saja ia selalu berusaha bersikap tenang, seperti yang Kai lakukan.
Meysa kembali menelungkupkan wajah, Ia kembali terisak. Sepertinya mulai saat ini Ia benar-benar menjadi sad girl.
Ketiduran karena rasa sedih dan lelah yang bercampur jadi satu adalah hal yang paling menenangkan. Gadis itu tertidur karena sedih.
Membuat Rena yang baru pulang dari sekolah hanya geleng-geleng melihat wajah sembab Meysa. Tidur acak-acakan, dengan tangan yang masih menggenggam ponsel membuatnya menghela napas melihat betapa mengenaskannya sang sahabat.
“Semoga secepatnya bisa nikah supaya Ndak LDRan!" lirih Rena sambil membuka printilan seragam yang melekat di tubuhnya.
Tapi seketika ia meralat ucapannya saat menyadari jika Meysa menikah dengan Kai otomatis sahabatnya itu akan ikut bersama Kai. Rena tak sanggup jika harus berjauhan dengan Meysa. Sedangkan yang membuatnya memilih untuk bekerja di kota itu karena Meysa berada disana. Ia tak ingin berjauhan dengan sahabatnya itu, padahal orang tua Rena sudah menyuruhnya pulang sejak selesai wisuda waktu itu.
“Ish tapi kalau kau menikah dengan Kai, kita pasti berjauhan, Meysa!" Rena tidak rela. Padahal bagaimanapun juga kelak mereka akan tetap berpisah jika sudah berkeluarga dan kehidupan masing-masing.
“Ck, Kasian sekali!" lirih Rena saat mendekatkan diri melihat ponsel Meysa yang menyala karena ada sebuah notifikasi. Hingga Menampakkan lockscreen dengan foto keduanya yang terlihat romantis dan estetik, dimana Kai tengah menyandarkan kepala di bahu Meysa. Sedangkan Meysa sendiri hanya menampakkan bahu dan jilbabnya saja.
__ADS_1
“Ini saking capeknya menangis sampai ketiduran!" cebik Rena sambil menelisik wajah Meysa, kelopak matanya kelihatan bengkak.
“Padahal mau disuruh bantu kasih pindah barang!"
Rena yang sudah berganti baju mulai mengemasi barang-barangnya, Ia akan kembali ke kamar kost yang selama seminggu ini dikuasai orang asing, Kai.
“Akhirnya bisa tidur nyenyak!" Rena merebahkan tubuhnya di kasur kesayangan. Tidur dengan Meysa tidaklah buruk, tapi tidur sendiri lebih menyenangkan sebab tak akan ada lagi dengkuran yang mengganggu telinga yang membuat tidurnya tidak nyenyak. Padahal tanpa Rena tahu jika dirinya pun sering mendengkur seperti Meysa. Hanya tidak sadar saja. Bahkan seluruh makhluk hidup pasti pernah mendengkur.
Rena merapikan kamarnya yang memang tidak kotor sebab Kai meninggalkan kamar itu dalam keadaan rapi dan bersih.
“Kai ini bersih juga orangnya!" Mata Rena menelisik ruang kostnya yang bersih, sehingga tak harus susah payah membersihkan. Kai memang bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Disana bahkan tak ada sampah atau sisa puntung rokok seperti kamar anak kost laki-laki kebanyakan.
Rena mulai menyusun barang-barangnya seperti sedia kala. Di meja belajar, ia menamukan secarik kertas berisi sketsa sebuah bangunan yang merupakan hasil guratan tangan Kai. Membuat Rena sekali lagi kagum padanya sebab Kai tetap meluangkan waktunya menemui Meysa di tengah kesibukan.
....
Di belahan bumi yang lain, di Indonesia bagian barat. Tepatnya di tanah melayu, kota Pekanbaru, Riau.
Sebuah pesawat dengan rute penerbangan dari kota Palu menuju Pekanbaru itu mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Syarif Kasim II.
Sosok laki-laki yang baru saja tiba di tanah asalnya terpantau tengah menyusuri ruang kedatangan di bandara tersebut. Wajah itu nampak lesu. Ia memang baru saja kembali setelah seminggu lalu menyambangi sang pujaan hati, sosok gadis virtual yang dikenalnya dua tahun lalu.
Dimana pertemuan itu menjadi pertemuan pertama yang akhirnya baru bisa diwujudkan setelah sekian lama. Meski hanya sesaat, akan tetapi mampu memberikan kebahagiaan yang luar biasa. Sosok virtual itu mampu membuat hatinya jatuh begitu dalam, sempat memilih menjauh untuk memperbaiki diri tak lantas membuat perasaannya berubah, bahkan mampu mencintai dan menjaga hati selama saling hilang. Begitu besar dan tulusnya perasaan itu, bahkan perasaannya semakin besar setelah pertemuan kemarin.
Laki-laki itu adalah Kai, wajah yang tadi terlihat lesu itu seketika bersemangat setelah berusaha kuat dan memberi support pada diri sendiri untuk tidak patah semangat agar apa yang ia inginkan bisa segera tercapai. Yaitu menghalalkan kekasih tercinta yang berada jauh di tanah Celebes sana.
Meski kembali LDRan dengan yang terkasih, Ia harus tetap semangat. Setelah keluar dari pesawat Kai menepikan diri di sebuah kursi. Ia lalu meraih ponsel, hal yang paling pertama dicek adalah pesan dari kontak beremoticon Bulan itu. Tapi tak ada satupun balasan sejak pesan terakhir yang dikirimnya sebelum berangkat tadi.
Kai sama sekali tak marah. Mungkin Meysa lelah dan sibuk hingga tak sempat membalas pesannya. Ia lalu kembali mengirim pesan.
Kai : Sayang, alhamdulilah udah sampai!
Tetap sama saja, tak ada balasan. Dengan itu Kai berinisiatif menghubungi Meysa secara langsung. Ia ingin memberitahukan jika ia sudah sampai dengan selamat. Kai tak ingin membuat gadis itu kepikiran.
Namun, dari beberapa panggilan video dan telepon biasa yang dilakukan, tak satupun juga diangkat.
Kai : Sibuk ya?
Baik-baik ya disana, jaga kesehatan!
Nanti aku hubungi lagi kalau udah sampai rumah.
Setelah mengetikkan beberapa pesan. Jari Kai lalu beralih mencaru nama Satria untuk dihubungi. Tapi, kawan lucknutnya itu bahkan tak mengangkat teleponnya. Padahal ia ingin minta dijemput. Kai malas kalau harus menggunakan jasa taksi atau ojek online untuk pulang.
Sebenarnya bisa saja ia meminta bang Albi untuk menjemput, hanya saja Kai tidak ingin diintrogasi. Sudah pasti Abangnya itu akan mencecarnya karena minta jemput di bandara, sedangkan Ia sama sekali tak memberi tahu keluarganya soal kepergiannya menemui Meysa.
Bukannya tak ingin terbuka, hanya saja Kai berniat memberi tahu hal itu nanti disaat yang sudah tepat. Apalagi sebelumnya hubungannya dengan Meysa sempat renggang dan baru baikan beberapa hari ini.
Kini ia dan Meysa kembali bersama. Meneruskan kisahdengan orang yang sama membuat rasa bahagia membuncah di hati.
Kai mendesah kesal saat Satria juga tak mengangkat telpon. Membuat ia mencoba menghubungi Ojik. Hanya dua orang itu yang tahu soal kepergiannya. Jadi ia tak perlu menjelaskan banyak hal pada mereka. Namun, sayang tak ada satupun yang menjawab teleponnya. Kai kesal sebab dalam waktu bersamaan tiga orang itu tak mengangkat teleponnya.
“Anjir, gak ada satupun yang angkat!" seru Kai dengan kesal.
Tak ingin berlama-lama di bandara akhirnya ia memilih pulang menggunakan ojek. Ia sudah tak sabar ingin mandi dan merebahkan diri di tempat tidur, Ia rindu dengan guling dan bantalnya. Kekasih yang selalu setia menemani dan menghabiskan malam bersama. Mungkin nanti akan berhenti memeluk guling jika Meysa sudah jadi istrinya. Kai tersenyum membayangkan hal itu.
“Kemana?" tanya tukang ojek dengan logat khas daerah itu.
“Jalan Kartama!" Kai menepuk punggung tukang ojek. Motor itupun melaju meninggalkan bandara.
__ADS_1