Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
38


__ADS_3

Kai menatap makanan dari jeroan dan irisan daging sapi yang direbus lama itu sambil menghirup aromanya. Pesanan mereka baru saja diantarkan.


Kuah kental Coto berpadu dengan kacang tanah yang sudah dihaluskan nampak begitu menggugah selera. Aroma bumbu yang diracik khusus menambah cita rasa makanan berkuah yang wajib disantap bersama lontong dan ketupat.


“Tambahin ini biar enak!" Meysa mengiris satu buah ketupat lalu menuangkannya ke dalam mangkuk Coto milik Kai.


Kai mengaduk Coto miliknya. Mulut itu terlihat sudah tidak sabar ingin menyantap.


“Eh, tunggu dulu!" cegah Meysa, membuat Kai yang hendak menyuapkan Coto mengerutkan kening.


"Pakai sambal atau kecap kek biar enak.” Meysa menyodorkan botol saus kecap dan sambal pada Kai. “Nih, ini juga!" Tak lupa menyodorkan irisan jeruk nipis.


Kai lalu menyendok sambal dan menuangkan saus kecap sesuai selera, tak lupa memeraskan sedikit irisan jeruk.


“Nah gitu, kalau kayak tadi apa rasanya?" Meysa mengacungkan jempol dengan senyum sumringah dan mulai menyantap.


“Yang tadi juga enak kok bee, tapi makin enak setelah ditambahin ini!" seru Kai yang turut mengacungkan jempol setelah mencecep rasa kuah Coto yang sudah ditambahi kecap dan serangakaiannya.


Sejoli itu menyantap makanan berkuah tersebut dengan begitu lahap. Tak lupa disandingkan dengan jus jeruk dan es teh segar sebagai minumannya.


“Enak loh bee!" puji Kai lagi. Membuat Meysa tersenyum bahagia.


Dulu keduanya hanya bisa merencanakan pertemuan yang entah bisa jadi kenyataan atau tidak. Sebab jarak yang jauh dan kondisi saat itu sangat tidak mendukung sehingga membuat Kai yang merasa tak berdaya memilih jalan mundur dan terus berdo'a juga berusaha meski harus menahan rindu karena pahitnya perpisahan.


Tak terasa waktu telah berlalu lama, hal yang dianggap mustahil dan tidak mungkin, kini bisa terjadi. Bahkan do'a dan harapan yang keduanya lambungkan seakan tercapai satu-persatu. Tuhan mengabulkannya secara bertahap. Mulai dari perjuangan Kai, bekerja dan menabung hingga bisa bertemu. Keduanya tak berhenti berdo'a agar segera dipersatukan dalam ikatan yang sah.


“Nanti kita coba makanan khas yang lain juga ya, bee." Meysa menseruput jus jeruk miliknya.


“Siap buk bos!" Kai membuat gerakan hormat lalu meraih es teh. Keduanya memesan minuman yang berbeda.


“Ternyata perbedaan Coto sama Soto jauh banget ya, bee."


“Ya jauh lah, Coto pake c sedangkan soto pake s." Meysa terkekeh sendiri menanggapi ucapan serius Kai. Tapi pemuda itu pun ikut terkekeh mendengarnya.


“Kalauu itu semua orang juga tahu!"


“Ya kalau tahu seharusnya dulu kamu gak ngira itu jenis makanan yang sama dong.”


“Lihat huruf depannya yang beda harusnya kamu mikir itu makanannya beda juga!"


Kai tertawa mendengar perkataan Meysa. Dulu saat Meysa mengatakan sedang makan Coto, ia malah mengira Bulannya itu sedang makan soto, dikiranya jenis makanan yang sama, hanya beda S dan C saja. Tapi nyatanya perbedaan kedua makanan tersebut sangatlah jauh. Kuah soto yang kuning dan lebih mirip kuah sop berbeda jauh dengan kuah Coto yang cokelat. Bahkan segi penyajiannya pun beda.


Kai menghabiskan cotonya lebih dulu daripada Meysa. Wanita memang lelet dalam soal makan. Kai mengulum senyum menyadari itu.


Kai menyandarkan punggung di kursi, sambil melihat sekeliling yang penuh dengan pengunjung. Kai meraih tisu lalu menutup mulutnya. Ia bersendawa, membuat Meysa tertawa.


“Alhamdulillah." Kai menatap Meysa yang menertawakan dirinya.


“Malah diketawain!" protes Kai mengkerutkan kening. “Kenapa?"


“Hehe, lucu aja!"


“Dimananya yang lucu, bee-bee?" Kai meletakkan dagu di atas tangan yang bertumpu pada meja. Matanya tak mengerjap, terus memerhatikan Meysa yang menurutnya menggemaskan.


“Lucu karena aku pikir kamu gak bisa bersendawa!"


“Lah aku manusia bee, jelas bisa bersendawa. Kamu pikir aku Alieen?" canda Kai. “Udah ganteng mirip Jefri Nichol gini malah dikira Alieen.”


“Yang bilang mirip Alien siapa, huu!" seru Meysa sambil menahan tawa.


“Udah ah, aku mau makan, jangan ajak bicara terus!"


“Kamu yang ngajak bicara loh, bee.”


“Shuutt!" Meysa menyuruh Kai diam dengan meletakkan telunjuk di bibir. Dia ingin fokus makan.


“Huu, lelet!" Kai terus meledek Meysa. Gadis itu terlihat acuh, malas memperdulikan Kai lagi.


Kai sendiri meraih ponselnya yang ada di atas meja. Ia memencet icon kamera, mengarahkan ponsel hendak mengambil gambar Meysa.


“Kawan-kawan, nih ada cewek cantik yang makannya lelet kek keong!" Kai terkekeh, ia merekam Meysa yang sedang makan. Membuat gadis itu segera melindungi wajahnya dengan telapak tangan.


“Ih, jangan di video, Aku gak estetik kalau lagi ngunyah. Jelek!" teriak Meysa tak suka. Ia cemberut, berusaha menutup wajah menggunakan tisu.

__ADS_1


“Tuh mana sok jaim pulak ni anak!" Hardik Kai yang terus menjahili, Ia tak menghiraukan ucapan Meysa.


“Ih, bee!!" Wajah Meysa merah padam, kesal sekali Kai malah merekam. Mengingat mulutnya sangat tidak estetik saat makan, dia tidak layak membuat konten makan.


Kai terus terkekeh, senang sekali menjahili Meysa. Ada rasa stroberi dan apel di hatinya setiap kali melihat ekspresi menggemaskan itu ketika sedang serius, merengek dan marah-marah.


Drggggt, drggggt, drgggtt...


Ekspresi tertawa lebar itu seketika berubah datar saat ponselnya bergetar. Seseorang tengah menelponnya dengan panggilan video.


“Ganggu aja anak ini!" gerutu Kai. Ia menghentikan rekaman, jarinya tergerak memencet notifikasi panggilan.


Meysa mengejek Kai, telepon yang berdering membuat ia selamat dari kelakuan jahil sang Bintang.


“Terimakasih sudah menelepon, aku jadi bisa lanjutkan makan dengan tenang!" ejek Meysa dengan ekspresi menyebalkan.


“Nantangin, ntar kulanjut nangis kamu, dek-dek!" Kai mencibir, balas mengejek Meysa.


“Dek, dek. Aku lebih tuah dua bulan dari kamu ya, bang!" seru Meysa tak mau kalah.


Membuat Kai terkekeh. Ia lupa ternyata dirinya adalah berondong Meysa. Termasuk kategori karena ia lebih muda. Meski hanya dua bulan.


“Iya si paling tua!" seru Kai sambil terkekeh. “Aku jadi berondongnya Tante Bulan."


“Ngomong terus ni anak, angkat tuh. Bunyi terus, siapa tahu penting!"


Kai yang menyadari itu, langsung menggeser tombol biru berlogo kamera danangsung menampakkan wajah laki-laki yang begitu dikenalnya.


“Kemana aja kau, anj***! Mana lama pulak ngakatnya!" Orang di baling panggilan video melayangkan protes.


Membuat Meysa terbatuk-batuk, keselek jeroan sapi. Hampir muncrat, untung ia segera tutup mulut agar jeroannya tidak loncat.


Kai yang sigap dan perhatian menyodorkan tisu dan minuman pada Meysa.


“Mulut kau tu dah macam kebun binatang, monyet!" balas Kai. Membuat Meysa menghela napas, ternyata mereka sama-sama mulut kebun binatang.


Pemuda yang melakukan panggilan telepon itu memutar mata malas.


“Bacot Kai!" tuturnya tak mau kalah.


Dia adalah Satria, teman Kai sejak duduk di bangku perkuliahan. Teman seperjuangan yang pernah melewati susah senang bersama dari mereka masih kuliah hingga sekarang. Dulu Kai memang memiliki banyak teman, tapi yang paling dekat dan istimewa menurut Kai hanya tiga, yaitu Satria, Ojik dan Vadli. Mereka berempat sama-sama memiliki pekerjaan yang bagus. Walau Vadli sendiri kerja di perusahaan berbeda dengan tiga orang itu, tapi hubungan mereka masih baik hingga sekarang.


“B*angsatt-b*angsatt, nama kau tu yang satria di pakein bang di depannya, jadilah bang sat!" ejek Kai tak mau kalah. Sudah seperti Tom and Jerry.


Meysa yang mendengar itu hanya menggeleng, ia juga tahu Satria. Meysa pikir keduanya sudah berubah seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata mulut dua makhluk itu masih sama, tetap seperti tak pernah sekolah jika sudah bicara.


“Anjirr, Bang Kai! Parah mana hah?" Satria nampak terkekeh dari balik telepon. Membuat suara omelan dari seseorang yang bersama Satria terdengar.


“Anjir, malah adu skill ngebacot kalian ni, ya!" Sosok Ojik menampakkan raut wajah kesal, Ia merampas ponsel dari tangan Satria.


“Kalian dimana?" tanya Kai yang terkekeh melihat dua sahabatnya itu.


“Kami yang harusnya nanya ! Kau dimana, Kai?" Ojik balik ngegass.


“Di rumah makan?" sahut satria yang memerhatikan area belakang Kai terlihat banyak orang sedang makan. “Makan dimana, kami mau nyusul!"


“Banyak yang harus dibahas ni, Kai." Ojik menampakkan wajah serius.


“Bener kata ojik, sekalian bahas rencana touring besok, mumpung minggu." Satria ikut menampakkan wajahnya. Dua orang itu tengah berada di sebuah ruangan bercat putih. Sepertinya kostan Satria.


“Seninnya kita ada jumpa investor buat proyek yang di Batam,” tambah Satria lagi.


Keduanya sama sekali tidak tahu soal kepergian Kai dan malah mengira Kai sedang makan di kota mereka.


“Sinilah susul, aku gak di PKU!" Kai terkekeh sambil berganti kamera belakang, lalu menampakkan kondisi sekitar, banner rumah makan yang berisikan alamat tempat makan itu.


“Terus dimana kalau gak di PKU?" tanya Ojik dengan kening menyerngit.


“Eh, eh... Balik kamernya Kai. Tadi tu siapa?" Mata Satria yang lebih jeli meminta Kai membalik kamera saat diperhatikan ia melihat sosok wanita tengah makan, berada tepat di hadapan Kai.


Ojik yang tidak jeli hanya ikut terheran-heran mendengar permintaan Satria.


“Kau sama cewek?" tanya Satri mengintrogasi, yakin jika wanita itu memang satu meja dengan Kai.

__ADS_1


Mendengar itu, Kai melirik Meysa yang masih fokus makan. Ia tersenyum menyadari si Bang Sat yang peka akan adanya sosok wanita bersamanya.


“Kau lagi dimana, Kai?" cecar Satria. “Pungut cewek dimana?"


“Mana pulak lah ada cewek, orang dia aja dah karatan menjomblo." Ojik menyahut tak percaya. Ia tahu betul jika Kai memang tak pernah berhubungan dengan wanita, terakhir bersama gadis virtual itu. Ojik tahu hubungan antara Kai dengan orang yang selalu video call bersama Kai itu. Tapi sejak tak berhubungan dengannya, Kai memang tak dekat dengan wanita manapun, kalaupun ada, paling hanya sebatas teman, tidak lebih.


Kai yang mendengar itu langsung mengarahkan kamera belakang. Menampakkan sosok Meysa yang ikut menoleh heran saat Kai menatapnya sambil menahan senyum.


“Jir, cewek beneran, cok!" seru Satria heboh, tangannya melayang menepuk bahu Ojik yang memegang ponsel.


Sedangkan Ojik masih memerhatikan gadis yang tengah menampakkan wajah heran itu.


“Ih, mulai lagi! Jangan diliatin sini!" tolak Meysa tak suka. Ia menutup kamera menggunakan telapak tangannya. Kai menuruti keinginan Meysa.


“Mungut cewek dimana kau, Kai?"


“Gasslah kita nyusul sekarang, Jik!"


Dua orang di balik telepon itu terdengar heboh, sangat bersemangat. Tak menyangka Kai mau memulai hubungan baru.


“Gak mungut, Setan. Ini cewekku yang dulu!" ucap Kai terus terang.


Yang mana membuat Ojik dan Satria saling pandang dengan wajah heran. Mengingat cewek mana yang Kai maksud.


“Yang bener Kai? Cewek kau yang dulu itu?" Ojik melotot tak percaya.


“Yang orang Sulawesi itu?" lanjut Satria tak kalah heboh.


Setahu mereka, hubungan dua orang itu sudah lama berakhir. Tak menyangka keduanya malah bersama lagi, bahkan bertemu seperti itu!


Bertemu!! Kata itu membuat otak Ojik dan Satria ngelag. Mereka saling tatap lagi. Bersiap menanyakan dimana keberadaan Kai sebenarnya.


“Cewek kau nyusul ke PKU?" tanya serentak dua orang itu. Tapi melihat Kai yang hanya menampakkan wajah datar dengan bibir menahan senyum membuat keduanya bingung.


“Kau nyusul ke sana?" tebak Satria, didukung anggukan oleh Ojik.


“Anjirr, bucin kali anak ini!" Keduanya tertawa terbahak-bahak.


Mendengar itu, Meysa nampak cemberut. Ia kesal karena Kai, dua orang itu mengejek mereka lagi. Mengingat dulu keduanya sama-sama suka berceletuk seenaknya setiap kali Ia melakukan panggilan video dengan Kai.


“Gila, bucin parah nih, asli!" seru Satria mengejek.


“Gak ada kabar hampir seminggu ternyata lagi nemuin ceweknya, hahaha." Keduanya terbahak bersama. Tak menyangka Kai diam-diam hanyut sampai Sulawesi.


“Setanlah, iri aja kalian!” ketus Kai.


“Pantas selama ini gak mau buka hati, ternyata hatinya masih sama yang jauh!"


“Bener-bener pejuang LDR nih bos."


“Mana perginya gak ngasih tahu!"


Dua orang itu masih saja terkekeh, begitu senang meledek Kai. Padahal jika keduanya yang pacaran, Kai sama sekali tak pernah berlaku demikian.


“Eh, Kai, balek lah kameranya. Kita mau lihat cewek kau!" pinta Satria, Ojik ikut-ikutan menunggu, ia juga penasaran.


Kai bergeming, malas menuruti keinginan duo kamvret sialan yang terus saling sahut hanya untuk mengejeknya, bikin mental down.


Sementara Meysa terus menatap kesal, sorot matanya seolah mengatakan “Makanya gak usah dikasih lihat, kan diejek jadinya. Tahu sendiri dua orang itu gimana!"


Tak diturutipun tak apa. Satria yang memiliki ide cemerlang malah berteriak, mengatakan sesuatu pada kekasih hati Bang Kai yang juga dikenalnya karena dulunya sering berhubungan dengan Kai.


“Kak, gimana? Realpict gak si Bang Kai nih!"


“Anjir!" gerutu Kai mendengar pertanyaan Satria yang disambut gelak tawa oleh Ojik.


“Kalau gak realpict dan ori kami siapa menerima retur pemgembalian kak!" Duo kamvret itu saling tatap kemudian tertawa terbahak-bahak. Bahkan Meysa yang mendengar pun ikut terkekeh.


Ingin rasanya Kai memukul kepala duo makhluk kurang ajar itu. Ia yang malas meladeni hanya meletakkan ponsel bersandar di mangkuk Coto.


“Kak, kak. Tau gak si Kai tu selama kalian lost contact macam anak ayam yang kehilangan induknya, gak bersemangat dia jalani hidup. Macam udah mau kehabisan nyawa rupa dia!"


“Anjir mulut kau B*angsat!" keluh Kai. Walau itu fakta tapi Kai tak suka jika yang mengatakan duo kamvret tersebut.

__ADS_1


“Ish!" protes Meysa tak suka dengar ucapan Kai. Kai hanya tersenyum kikuk.


“Kak, si Kai manggil bee lagi gak?" Kedua makhluk itu terus melayangkan pertanyaan pada Meysa, meski yang ditanya tak nampak batang hidungnya. Sepertinya mereka benar-benar suka mengejek Kai.


__ADS_2