Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
58. Time After Time


__ADS_3

Hari terus berlalu, pekan berganti bulan, bahkan sudah setahun berlalu sejak Meysa dan Kai menjalin hubungan LDR fase kedua. Ya, bisa disebut fase kedua sebab fase pertama adalah fase perkenalkan sebelum akhirnya mereka sempat saling hilang kabar dan kembali merajut hubungan setelah Kai datang menemui Meysa pada saat itu.


Bukan hal yang mudah menjalani hubungan dengan jarak yang membentang. Cinta dan kesetiaan benar-benar diuji. Tak jarang pertengkaran selalu ada setiap hari hanya karena perihal komunikasi yang kadang merosot tajam.


Hubungan mereka setiap harinya mengalami pasang surut. Ada Meysa yang setiap harinya menanti kabar dan meminta sedikit waktu dari Kai untuk sekedar berkomunikasi. Namun, kesibukan membuat Kai benar-benar tenggelam dan sulit membagi waktu. Jangankan untuk memberi kabar setiap saat, mencoba untuk memerhatikan diri dengan memberi asupan pada tubuh tepat waktu saja sulit Kai lakukan.


Banyak yang sudah terjadi selama setahun itu, bahkan sejak bulan ramadhan tahun lalu Meysa sudah tidak lagi tinggal dengan Faza. Meysa memutuskan kembali ke kampung halamannya, menemani bapak yang tinggal sendiri di rumah.


Bahkan selama itu pula Meysa sudah membuka usaha florist kecil-kecilan dengan dibantu Rena yang kini sudah sah menjadi PNS.


Melalui episode kehidupan yang panjang memang tak selalu berjalan mulus. Kadang ada saja krikil kecil yang menjadi penghalang. Meysa yang terlihat jomblo karena dikira tak memiliki pasangan kerap kali dilamar oleh orang tua pemuda yang selalu mendekatinya. Bahkan Iba, perjaka tua yang selalu mengganggunya sedari dulu juga tak kunjung menyerah untuk mendekatinya.


Semua itu kadang membuat Meysa pusing sendiri. Pernah sekali ia meluapkan amarah pada Kai yang terlalu sibuk hingga tak ada waktu hanya untuk mengabari apalagi untuk menemaninya bercerita banyak hal setelah melewati hari yang melelahkan.


“Hal yang paling menyakitkan itu saat ada orang yang mengaku cinta tapi perlakuan dia ke kita seperti gak cinta!" Begitu Meysa melayangkan sarkas ketika merasa lelah pada Kai yang tak pernah ada waktu untuknya.


“Maksud kamu apa bee?" Bahkan disaat seperti itu Kai yang tengah bertelepon dengan Meysa masih terlihat sibuk dengan laptopnya.


Ya, karir Kai memang sedang berada di atas. Setelah berhasil menjadi konsultan beberapa waktu lalu. Kini ia kembali mengepakkan sayap di bidang interior desain dan arsitektur. Sudah banyak karya-karya indah yang ia buat.


Sehingga kesibukan pria itu makin bertambah. Kai kerja lembur bagai kuda hanya untuk mencapai tujuannya. Gaji yang ia hasilkan, selain untuk ditabung Kai gunakan untuk membantu membiayai sekolah sang adik dan berjanji akan langsung datang melamar Meysa ketika tabungannya sudah mencukupi.


“Ya kamu pikir aja sendiri!" seloroh Meysa geram, ia mematikan kamera pada panggilan video mereka saat itu. Kesal pada Kai yang terlalu sulit peka.


Dan emosi Meysa makin memuncak saat tengah melakukan panggilan Kai malah meminta izin untuk menelepon dengan orang lain terlebih dulu.


“Eh, bentar ya bee. Nanti aku telepon lagi, ada yang nelepon nih!"


“Kamu tuh apa-apaan sih?" sentak Meysa dengan air mata yang mulai menetes. Kesal karena merasa tak diutamakan oleh Kai.


Amarah Meysa membuat Kai yang meminta izin dengan baik-baik sontak terpaku ketika melihat Meysa marah dan sampai menangis seperti itu. Kai yang merasa kepalanya sudah hampir meledak karena masalah pekerjaan dan sekarang malah melihat Meysa seperti ini hanya bisa menghela napas dan berusaha menyikapi dengan kepala dingin.


”Bee, kok nangis?" lirih Kai dengan suara sendu. Rencana hendak menelepon client sejenak ia urungkan demi untuk menenangkan sang kekasih.


Bukannya tak peka, hanya saja saat ini ia benar-benar tak punya waktu luang untuk memberi kabar setiap waktu pada Meysa.


“Kapan sih kamu ngertiin aku, dari beberapa bulan yang lalu kamu gak pernah perduli sama aku. Apa jangan-jangan kamu emang udah gak mau tau dan gak mau perduli?" sentak Meysa kesal.


“Bukan aku gak perduli bee, tapi akhir-akhir ini kamu tahu kan aku lagi sibuk."


“Aku bahkan udah coba ngabarin kamu semaksimal mungkin."


“Ini cuma mau minta izin buat hubungin client loh bee, mau ngabarin soal total biaya!" Kai menghela napas letih.


Apa yang Kai katakan memang tak sepenuhnya salah. Pria itu memang selalu berusaha mengabari kemana dan dimanapun ia. Namun, sebagai seorang wanita yang, hakikatnya butuh perhatian lebih. Meysa hanyalah wanita biasa yang kadang letih dan butuh sandaran untuk bercerita dengan orang terkasih. Bukan hanya kabar yang ia butuhkan, tetapi juga perhatian dan kasih sayang. Bahkan intensitas mereka melakukan deeptalk pun bisa dihitung jari, semua karena kesibukan Kai.


Padahal hal utama yang menjadi fondasi untuk mempertahankan hubungan jarak jauh selain komitmen dan kepercayaan adalah komunikasi. Tapi yang terjadi diantara mereka tidaklah demikian, komunikasi antara Kai dan Meysa terbilang kian merosot tiap harinya. Inilah yang membuat Meysa kecewa.

__ADS_1


“Aku izin bentar aja kok bee, bentar aku telepon lagi, ya!" Kai kembali meminta izin sebab ia sudah mendapat pesan agar segera mengabari client yang dimaksud.


“Bahkan di waktu luang seperti ini pun kamu masih sibuk kerja, gak ada waktu buat aku!" ucap Meysa sebelum akhirnya memutuskan panggilan secara sepihak.


Hal seperti itu memang sering terjadi diantara mereka. Meski begitu pertengkaran itu paling lama hanya berlangsung beberapa hari saja. Setelahnya mereka akan kembali berbaikan, saling minta maaf dan saling sayang. Bahkan semua itu masih sering berulang hingga kini. Sudah seperti bumbu yang wajib di dalam hubungan mereka.


Sama halnya sore ini Meysa kembali dibuat kesal oleh Kai yang beberapa hari lalu izin touring dan camping bersama teman-temannya malah tak ada kabar sama sekali.


“Gak aktif semua!" keluh Meysa saat mencoba mengabari Kai melalui seluruh media sosialnya.


Tiga hari berlalu tanpa kabar dari Kai benar-benar membuat Meysa kesal. Hatinya sakit karena Kai tak memberi kabar apapun, bahkan nomor lelaki itu tak ada yang aktif.


“Kamu tuh kebiasaan banget kayak begini!" lirih Meysa sambil mengusap bulir bening yang mulai mengalir dari pelupuk matanya.


Pikiran tentang hal buruk mulai berkeliaran di kepala. Ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada Kai, dan hal yang paling menjadi ketakutannya adalah jikalau adanya dambaan hati lain yang membuat Kai hilang kabar. Meysa takut penantiannya selama ini hanya akan sia-sia jika hal itu benar-benar terjadi.


Dengan gerakan kasar Meysa kembali mengusap air matanya dan pergi dari toko floristnya yang mungil itu. Sejak menetap di kamoung, bapak membangunkannya toko berukuran 4×4 di samping rumah saat Meysa mengutarakan niatnya untuk berjualan bunga.


“Mau kemana, Mey?"


Terdengar suara teriakan bapak dari arah teras, membuat Meysa yang hendak menaiki motor maticnya menoleh pada bapak.


“Ke rumah Rena!"


Dengan cepat ia lalu melajukan motor ke rumah sahabatnya yang hanya beda lorong dengan rumahnya.


Sesampai disana Meysa langsung masuk ke dalam rumah. Terlihat Rena tengah duduk di ruang tamu sambil memegang satu toples kacang telur yang menjadi cemilannya.


Rumah Rena yang kelihatan sepi membuat Meysa bisa curhat dengan leluasa. Ia duduk di sofa kayu samping Rena, tangannya terulur


merampas toples kacang telur itu.


Rena tak melayangkan protes, ia hanya memerhatikan Meysa yang kelihatan kesal sambil terus mengunyah butiran kacang telur.


“Kai!" Meysa mendesah kesal mengingat Kai sudah tak memberinya kabar sejak tiga hari yang lalu. Terakhir saat kekasihnya itu baru tiba di lokasi camping setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh dari Pekanbaru ke Sumbar.


Waktu itu Kai sempat mengirimkan video dan foto di sekitar area camping.


“Kai kenapa?" sunggut Rena. Tangan Ibu guru itu ikut meraih kacang telur.


“Sudah tiga hari ndak ada kabar!" lirih Meysa dengan hati dan pikiran yang carut marut memikirkan apa yang membuat Kai sampai setega itu tak mengabarinya selama ini. Tak ada pesan ataupun telepon.


Rena menghela napas kasar, gadis yang biasanya cerewet itu juga nampak tengah banyak pikiran. Meski begitu Ia tetap merespon curhatan Meysa.


“Kenapa harus kaget kalau hal yang sama terulang lagi. Bukannya sebelumnya pun sudah pernah terjadi, kan?" Rena melirik Meysa yang nampak sendu.


Membuat sahabatnya itu menunduk menyadari apa yang baru saja Rena katakan memang benar adanya.

__ADS_1


“Hmmm!" Meysa mendesah kecewa, dulu Kai pernah melakukan hal yang sama, kini Ia kembali mengulanginya. Meysa merasa seperti dipermainkan.


“Saya harus apa Ren?"


“Mey, kalau laki-laki tahan tidak memberi kabar itu artinya dia sudah tidak sayang. Bisa jadi ada orang baru yang isi hatinya."


“Karena katanya, laki-laki itu jadi orang yang paling tidak tahan kalau sehari saja tidak saling menagabari!"


Meysa yang tadinya sedih seketika menyerngit curiga mendengar apa yang Rena sampaikan. Entah ilmu darimana yang didapatkan oleh penyandang status jomblo fisabilillah itu, tiba-tiba menyampaikan nasihat bijak yang mendalam begini. Tentu hal itu membuat Meysa bertanya-tanya.


“Pungut kata-kata darimana?" selidik Meysa yang mana membuat Rena langsung mengerlingkan mata ke kiri dan kanan. Terlihat seperti orang panik di sela ketenangan yang ia tunjukkan.


“Pu-pungut di Ig!" jawab Reba terbata-bata.


Namun, bukannya percaya, justru makin membuat Meysa yakin jika ada yang disembunyikan oleh Rena. Tak biasanya sahabatnya itu bersikap seperti ini. Apalagi apa yang Rena sampaikan seperti sebuah pengalaman nyata.


“Ren!"


Rena menoleh dengan bola mata yang masih tergerak kesana kemari.


Meysa menelisik wajah Rena, membuat ia menyadari jika memang ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya itu.


“Kau punya pacar?"


“Pacarmu yang ajar ngomong begitu?" cecar Meysa penuh selidik.


Rena gelagapan, ia melayangkan tangan memukul bahu Meysa yang sudah menuduhnya sembarang.


“Sembarangan kalau ngomong!" sentak Rena tak suka, ia mengalihkan pandangan ke arah pintu yang terbuka lebar, memperlihatkan suasana sore di luar sana.


“Oh, jadi sekarang main rahasia-rahasiaan?"


Ucapan Meysa makin membuat Rena gelagapan.


“Oke, Fine!" seloroh Meysa lagi.


Yang mana hal itu membuat Rena yang tak sanggup berbohong akhirnya bersiap mengakui hal besar yang sudah cukup lama ia sembunyikan.


“Iya Mey, Iya!" Rena akhirnya menyerah. Membuat Meysa akhirnya menampakkan senyum penuh kemenangan.


“Oh jadi ada betul rahasia yang kau sembunyikan dari saya?!"


“Ih Mey, maaaf!" lirih Rena penuh rasa bersalah.


“Dimaafkan Ren, tergantung kesalahan apa yang diperbuat!"


Glekk...

__ADS_1


Ucapan Meysa membuat Rena menelan ludah kasar. Semakin takut mengungkapkan tapi Ia bahkan tak bisa lagi untuk menyembunyikannya dari Rena.


“Mey, sebenarnya ....”


__ADS_2