Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
46


__ADS_3

Senin pagi telah tiba, hari yang membuat Meysa gundah sejak Kai memberi tahu jika ia sudah harus kembali hari ini benar-benar menjadi hari yang berat baginya.


Seandainya bisa, Meysa ingin menghentikan waktu agar memiliki waktu lebih banyak lagi dengan Kai. Tapi, kenyataan membuatnya sadar. Apa yang Kai lakukan juga untuk membuktikan cintanya. Ia harus kembali, tempat Kai bukan disini. Meysa harus menerima kenyataan bahwa kehidupan Kai memang di Pekanbaru. Kai harus kembali bekerja untuk menikahinya. Dalam hati Meysa berdo'a agar Tuhan mempersatukan mereka secepatnya.


”Kai berangkat jam berapa?"


Gadis yang baru bangun dan duduk di tepi tempat tidur itu menoleh pada Rena. Sahabatnya tengah bersiap untuk pergi ke sekolah.


“Jam 10,” sahut Meysa dengan wajah lesu. Suaranya serak, khas bangun tidur. Semalam tidur terlambat karena menemani Kai mengobrol dengan Faza. Saling bercerita tentang pekerjaan dan banyak hal.


Rena mengangguk, lalu kembali bertanya. "Kukira dia langsung mau ajak kau nikah!" tangan Rena tergerak memasang peniti hijab di lehernya.


Meysa menghela napas mendengar ucapan Rena. “Masa baru pertama kali ketemu langsung ajak nikah, lagi pula Kitakan baru baikan."


“Yakan bisa saja, Mey!" sahut Rena.


Namun, Meysa yang tadinya merasa lesu langsung bersemangat saat melihat cincin yang tersemat di jari manisnya. Bukti cinta Kai yang digunakan untuk mengikatnya. Tentu itu membuat hati Meysa kembali bersemangat dan berbunga-bunga.


“Tapi Kai sudah melamar secara tidak langsung." Muka bantal Meysa langsung menampakkan senyum, membuat matanya menyipit. Ia memamerkan tangan yang di jari manisnya tersemat cincin pemberian Kai.


Rena yang melihat itu langsung mendekat pada Meysa. Di raihnya jari yang digerakkan penuh bahagia oleh si empunya tangan.


“Ini emas?" Rena mengkerutkan kening, dengan wajah heran menatap Meysa yang masih menampakkan senyum bangga.


Meysa lalu menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Rena.


“Kai yang kasih?" tanya Rena masih tak yakin.


“Iya, Ren. Katanya sebagai pengikat sampai nanti dia datang melamar." Meysa tersenyum bahagia, seperti anak ABG yang baru merasakan cinta. Ia bahagia dan bangga sekali.


“Kai segentel itu kan, Ren?" Meysa bertanya, meminta pendapat dari Rena.


Membuat sahabatnya itu mengangguk dengan rasa bersalah, kemarin ia telah berlaku jahat dengan menyuruh Erza jadi tukang tikung diantara hubungan dua orang yang saling mencintai. Dua orang yang akan kembali berjuang di tengah beratnya menjalin hubungan jarak jauh.


“Ternyata Bintangmu itu seserius itu, Mey." Rena menghela napas dan duduk di samping Meysa.


Rena menoleh menatap Meysa, wajah yang pernah bersedih karena Kai itu sekarang terlihat lebih ceria karena orang yang sama. Rena paham, Kai memanglah rasa sakit sekaligus obat untuk Meysa. Rasa bersalah karena sempat kecewa melihat Meysa lebih memilih Kai seketika menyeruak, Ia tak seharusnya begitu.


“Maaf Mey, Saya salah kalau tidak mendukungmu dengan Kai, sementara Kai bahagianya sama kau." Seketika Rena jadi mellow. Ia memeluk Meysa yang belum mandi, wajahnya kusut masih mengenakan piyama celana pendek. Tapi Rena tetap memeluk sahabatnya itu.


“Ndak apa, Ren!” Meysa menepuk-nepuk bahu Rena. Ia paham betul bagaimana sikap dan sifat sahabatnya itu, Meysa tak pernah mengambil hati apa yang Rena ucapkan.


“Saya mengerti, Rena. Kau begitu karena perduli sama saya, kau ndak rela kalau saya harus sedih karena Kai lagi, kan? Kau takut Kalau Kai mengulang hal yang sama lagi, kan?"


Rena mengangguk, ia terharu ternyata Meysa bisa memahami kekhawatirannya.


“Maaf Mey, kemarin saya juga sempat suruh Erza jadi tukang tikung."


Plak...


Pengakuan Rena membuat Mesya melayangkan tepukan di lengan sahabatnya itu. Ia lalu mendorong Rena dari pelukannya, membuat gadis itu mengaduh kesakitan.


"Aiihh, Meysaroh!” pekik Rena yang terjungkal ke arah bantal. Dia yang sudah rapi merasa terzolimi karena di dorong Meysa.


“Apa rentenir?" sahut Meysa tak kalah kesalnya. Pengakuan yang Rena ucapkan membuat darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun. Dasar Rena sahabat lucknut, baru saja dipuji. Ternyata dia sudah membuat ulah.


“Suruh-suruh Erza jadi tukang tikung, kau tau sendiri saya ndak pernah punya perasaan ke Erza. Tidak lebih dari teman!" omel Meysa tak terima.


“Ih, cuma saran, Mey! Erza juga ndak mau." Rena memutar mata malas, Ia beranjak membenarkan hijabnya yang agak berantakan karena ulah sialan Meysa. Lebih tepatnya mereka berdua sama-sama sialan.


“Erza jelas ndak mau, diakan baik hati, tidak kayak kau, otak kotor!" cibir Meysa dengan wajah kesal.


Rena yang menyadari kesalahannya hanya terkekeh. Ia pun tidak mengerti kenapa kemarin sampai bisa memberikan saran tidak baik pada Erza.


“Tau sendiri mamanya Erza cerewetnya seperti apa, kalau kau mau Ren, kau saja yang sama Erza. Dia kan baik!"


“Ish," Ren bergidik ngeri mendengar nama Mama Erza disebut. Bisa-bisanya dia begitu mendukung Erza dengan Meysa sedangkan ia tahu sendiri bagaimana kelakuan Bu Asmi yang nauzubillah. Rena dibutakan oleh kekagumannya pada Erza sehingga membuatnya lupa bagaimana sikap Bua Asmi.


“Kau saja ndak mau, baru saya kaj dukung sekali dengan Erza." Meysa memutar mata malas.

__ADS_1


“Tapikan Erza baik, Ren." Canda Rena sambil mengulum senyum.


“Ya sudah saya do'akan supaya kau yang berjodoh dengan Erza, biar bisa jadi menantunya Bu Asmi." Meysa beranjak dari tempat tidur.


Meysa melangkah ke dapur meninggalkan Rena yang tidak setuju dengan ucapan Meysa.


“Tidak aamiin, ya Allah!" teriak Rena dari dalam kamar.


“Orang ndak suka Erza dipaksa suka, giliran dia yang dido'akan biar berjodoh malah teriak-teriak ndak mau. Dasar rentenir!" Sepanjang langkah menuju dapur Meysa terus menggerutu melihat kelakuan Rena yang bikin elus dada.


Selepas dari dapur Meysa langsung keluar menuju teras. Terlihat Faza yang hendak berangkat ke kantor tengah berpamitan dengan Kai. Disana juga ada Rena, mereka semua tengah menyaksikan drama pamitan antara kakak ipar dan calon adik ipar.


Membuat Meysa bertanya-tanya kenapa kakaknya bisa jadi sebaik itu pada orang baru.


“Maaf ya Kai, kami tidak bisa mengantar ke bandara." Faza yang tak bisa ikut mengantar kepergian tamunya merasa tak enak hati.


Sedangkan Kai, pemuda itu hanya menganggukkan kepala, sebagai tanda mengerti, Ia sama sekali tak keberatan.


Diterima dengan baik oleh calon kakak ipar saja ia sudah merasa sangat beruntung. Faza orang yang ramah, membuat ia tak merasa sungkan selama menjadi tamu disana.


“Nggak apa, bang. Kan ada Meysa!" Kai menunjuk sopan ke arah Meysa yang tengah berdiri di bibir pintu.


“Hmmmnt, seandainya hari libur pasti diantar, Kai. Tapi ini hari kerja."


“Gak apa, bang, beneran! Saya ngerti kok."


“Diterima dengan baik saja saya sudah merasa bersyukur. Bang Faza sekeluarga sudah sangat baik."


Faza merasa terharu mendengar pujian dari Kai. Ia menepuk pundak calon adik iparnya itu. “Kapan-kapan datanglah lagi Kai,"


“Nanti kita jalan-jalan ke kampungku di Sulawesi barat!"


Kai manggut-manggut mendengar ajakan calon kakak ipar. Tak usah dikasih tahu sekalipun ia pasti akan datang lagi, tentunya dengan menjadikan Meysa sebagai istri. Tapi Kai tak seberani itu untuk mengatakan langsung pada Faza. Sebab ia belum tahu pasti kapan bisa datang menghalalkan. Entah secepatnya atau harus menunggu beberapa waktu lagi.


“Kalau begitu pamit dulu, Kai. Selamat sampai tujuan ya!"


Melihat calon kakak ipar yang hendak pergi, Kai langsung mengulurkan tangan. Menjabat tangan Faza sebagai bentuk hormat sebelum pamit.


“Santai saja Kai, kamu sudah saya anggap adek sendiri." Sekali lagi Faza menepuk pelan bahu Kai. Ia kembali dibuat salut dengan tatakrama pemuda asing ini.


Setelah bersalaman dengan Faza, Kai beralih mengulurkan tangan pada Eka. Berpamitan sebelum semua berangkat bekerja.


“Hati-hati ya, Kai. Selamat sampai tujuan! Kalau ada waktu main kesini lagi." Eka tersenyum hangat. Entah mengapa kini ia pun benar-benar bisa menilai Kai sosok yang sopan kepada orang yang jauh lebih tua darinya. Membuat penilaian Faza tentang pemuda itu tidak salah.


“Makasih kak!" ujar Kai, lalu tangannya teralih mencubit gemas pipi gembul Baby Giara yang sedari tadi mengoceh.


Meihat interaksi Kai dengan keluarganya entah mengapa membuat Meysa terharu, Ia bisa merasakan kehangatan. Membayangkan jika Kai benar-benar sudah menjadi bagian dari keluarganya membuat ia bahagia.


“Om Kai sudah mau pulang, padahal kita belum pernah main sama-sama." Celetuk Ciara saat Kai beralih menyodorkan tangan pada bocah SD tersebut. Selama ada Kai ia memang jarang bertemu kecuali saat makan bersama.


“Mainnya lain kali ya kalau om Kai datang lagi." Kai mengusap kepala Ciara. Masih tak menyangka bisa sedekat ini dengan keluarga Meysa.


“Janji ya, kalau datang kita main sama-sama." Bocah itu menyodorkan jari kelingking pada Kai.


Setelah itu Faza dan keluarganya pun berangkat kerja. Menyisakan Rena, Meysa dan Kai yang masih berdiri disana.


“Kenapa kau masih tinggal, Ren?" sewot Meysa saat melihat Rena masih berdiri di sampingnya.


Membuat sahabatnya itu menoleh dengan wajah mencebik. Kesal mendengar pertanyaan Meysa yang seakan ingin melihatnya segera pergi.


“Saya juga mau pamitan dengan, Kai. Kenapa? Ndak boleh?" Rena memutar mata malas. Menyahut tak kalah ketusnya.


“Kai, menantunya Bu Asmi mau pamitan." teriak Meysa sambil terkekeh.


“Ishh!" Rena yang kesal diejek Meysa langsung melayangkan cubitan pada Meysa, tapi tidak kena sebab gadis itu lebih dulu menghindari.


Sedangkan Kai yang tidak mengerti maksud omongan dua orang wanita itu hanya tersenyum sambil melangkah ke teras.


“Menantu siapa tadi?" tanya Kai penasaran.

__ADS_1


“Ini, menantunya Bu Asmi! Calon istrinya ...”


Rena yang kesal langsung membungkam mulut Meysa, membuat Kai hanya geleng-geleng melihat tingkah mereka. Ia tidak mendengar jelas apa yang Meysa ucapkan sebab Rena lebih dulu membungkam mulut Meysa.


“Calon istrinya Erza!" Ucap Meysa dengan mulut terbungkam, ucapannya masih tidak jelas.


“Mey, ihh!. Kau ini mengejek terus!" Rena yang kesal menghempaskan tangannya dari mulut Meysa. Entah mengapa ia kesal dijuluki calon menantu Bu Asmi.


“Katanya Erza baik!" Sarkas Meysa, mengingat Rena selalu mendukung agar ia menjalin hubungan dengan Erza.


“Baik jadi teman!" seru Rena. Membuat Meysa memutar mata malas.


Sementara Kai, ia masih diam memerhatikan interaksi dua orang itu. Ia tak tahu apa yang dibahasnya.


“Diam kau, Mey! Saya mau pamitan dengan Kai."


Kai lalau menoleh pada Rena. Menunggu apa yang ingin sahabat Meysa itu katakan.


“Hati-hati ya, Kai. Selamat sampai tujuan!"


“Aamiin, makasih ya, Kak!" Kai membalas uluran tangan Rena.


Sedangkan Meysa yang melihat itu terlihat mengernyitkan kening, perasaannya menjadi tidak enak melihat si Rentenir. Ia takut mulut ceplas ceplos itu akan berulah lagi, mengatakan kata-kata mutiara yang unfaedah.


“Ingat ... Jangan seperti jelangkung lagi, datang dan pergi sesuka hati tanpa undangan, tanpa pamit! Jangan sakiti Meysa lagi!"


“Perasaannya jangan digantung, kalau Ndak suka bilang jangan langsung hilang!"


Dan benar saja, Meysa yang mewanti-wanti malah mendengar wejangan lucknut keluar dari mulut Rena. Ia tepuk jidat dengan keberanian Rena yang ceplas-ceplos tanpa rem. Sahabatnya itu memang selalu jadi pembela nomor wahid untuknya. Sejak masih sekolah mereka memang selalu jadi tameng untuk satu sama lain.


“Rena!" tegur Meysa. Tapi Rena sama sekali tak perduli. Hanya menoleh sekilas dan kembali menatap Kai.


Meysa kasihan pada Kai, dia sudah seperti orang yang dihaikim oleh jejeran jaksa.


“Kamu ndak tahukan bagaimana tersiksanya temanku karena sikapmu yang seenak jidat itu!" Rena memberi peringatan agar Kai tak mengulang hal yang sama pada Meysa.


Membuat Meysa makin menggelengkan kepala, ucapan Rena benar-benar tak bisa disaring. Sungguh keberanian Rena sangat luar biasa.


Netra Meysa beralih menatap Kai, Ia takut Bintangnya merasa tersinggung dan sakit hati. Tapi tak disangka Kai malah memberi jawaban yang baik.


“Tenang ya, kak, insyaallah saya gak akan seperti itu lagi!" Kai menanggapi ucapan Rena dengan begitu tenang. Membuat Meysa bernapas lega, tadinya Ia pikir Kai akan tersinggung. Nyatanya tidak. Kai justru berusaha memberikan jawaban yang meyakinkan.


“Saya gak akan sepertu itu lagi karena saya sudah bisa kasih Meysa kepastiaan. Do'akan semoga secepatnya saya bisa datang untuk melamar Meysa."


Penyampaian Kai yang tenang membuat Rena menggut-manggut. Ia dibuat membisu dengan jawaban berkelas dari Kai.


“Aamiin, semoga niatnya dipermudah."


“Semoga juga ucapannya bisa dipegang!"


Kai mengangguk mengiyakan.


“Kalau begitu saya pergi dulu, sekali lagi selamat sampai tujuan ya, Kai!"


“Iya Kak, Makasih!" Kai benar-benar tak mengambil hati ucapan Rena. Baginya wajar-wajar saja sebab Rena tahu betul bagaimana sakit yang Meysa rasakan, Itu artinya dia merupakan sahabat yang baik karena perduli dengan Meysa


“Jangan panggil kakak, kita semuran!" seru Rena sebelum benar-benar melajukan motornya.


Sementara Meysa yang melihat itu, hanya menggelengkan kepala. “Huu, ibu guru galak!" Ia berteriak mengejek Rena. Tapi sama sekali tak dihiraukan. Tak bisa dibayangkan bagaimana siswanya di sekolah, menurut Meysa, Rena sangat galak.


Selepas kepergian Rena, Meysa menoleh pada Kai, ia merasa tidak enak hati mengingat Rena baru saja melayangkan ultimatum pada Kai.


“Maafin Rena ya, bee. Dia itu emang ceplas-ceplos orangnya!"


“Gak apa bee, santai!"


Meysa menghela napas melihat respon Kai, ia bersyukur Kai bukan orang yang mudah tersinggung. Sehingga ia tak perlu khawatir orang yang dicintai akan berselisih dengan Rena si ceplas-ceplos.


“Udah hampir jam 8 nih bee." Kai yang sudah mandi sejak jam 6 pagi sudah siap dengan pakaian casualnya. Ia melirik jam di pergelangan tangan.

__ADS_1


“Kamu siap-siap gih, ke bandaranya lebih awal biar bisa agak santai disana nantinya!"


Meysa mengangguk, Ia lalu masuk dengan langkah berat. Waktu untuk kembali LDRan semakin dekat. Dadanya terasa sesak memikirkan hal itu.


__ADS_2