Akara Rindu Dalam Penantian

Akara Rindu Dalam Penantian
63. Alasannya Karena Kai


__ADS_3

Beberapa saat kemudian akhirnya Faza tiba di Bandara. Ia masuk dengan langkah yang dipenuhi dengan tatapan penuh smosi.


Marah dan kecewa dengan sikap sang adik bercampur aduk jadi satu.


“Pulang!" perintah Faza ketika berhasil bertemu Meysa yang tengah duduk di ruang keberangkatan.


Untung ia sampai tepat waktu, disaat adiknya belum berangkat. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi jika kebohongan Meysa tidak ada yang ketahui.


Melihat kilatan amarah di wajah Faza, Meysa hanya bisa menunduk. Ia benar-benar ketakutan.


Meski begitu Meysa sama sekali tak memungkiri jika disini dirinya memanglah bersalah. Terlepas darimana Faza tahu, tetapi membohongi bapak dan tak memintaa izin pada Faza memang bukan hal yang bisa dibenarkan. Meysa benar-benar tak memiliki pilihan selain ini, Ia begitu menghawatirkan Kai.


“Kak!" seru Meysa, ia mencoba menatap wajah sang Kakak yang terlihat menahan emosi, karena masih di tempat umum.


Pria yang mengenakan celana cinos selutut dan dipadukan dengan kaos oblong itu berdiri dengan tatapan yang benar-benar sulit diartikan.


“Ayo pulang!" sentaknya sekali lagi, tak ingin di bantah. Sorot matanya mengisyaratkan tak menerima penolakan.


“Nanti bicara lagi!" sambungya kemudian berlalu lebih dulu.


Sedangkan Meysa yang melihat itu langsung menyusul dari belakang. Dadanya terasa dipenuhi penyesalan dan ketakutan sekaligus.


Setibanya di parkiran, Faza langsung membuka bagasi mobil agya berwarna merah itu. Membiarkan Meysa memasukkan kopernya sendiri. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam mobil tanpa bicara sepatah katapun. Ia masih berpikir jernih dan punya perasaan untuk tidak memarahi Meysa di depan umum, meski amarahnya sudah sangat tidak terbendung.


Meysa yang sudah ketakutan lebih memilih duduk di belakang. Ia terkihat meremas tali sling bagnya dengan kecang.


Faza mulai melajukan mobil keluar dari area parkir. Saat sudah di jalan, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, Faza melampiaskan amarahnya dengan cara seperti itu. Membuat Meysa takut, gadis itu memejamkan mata. Air matanya menetes menyadari keputusan salah yang ia ambil.


“Pelan-pelan kak!" pekik Meysa saat Faza banting stir dengan kencang untuk menghindari mobil yang ada di depannya. Ia belum siap mati.


“Bohongi orang tua kau tidak takut!" ketus Faza, sorot matanya melirik Meysa lewat spion dalam.


Meysa yang menyadari itu hanya bisa menunduk.


“Kalau Arif tidak kasih tahu, mungkin ndak tahu sudah kabur kemana kau!"


Meysa memejaamkan mata kuat-kuat. Bisa-bisanya ia sangat ceroboh. Ucapan Faza membuat ia bisa menangkap darimana kakak laki-lakinya itu tahu soal ini. Meysa benar-benar tak berpikir sampai kesana. Arif adalah orang yang kenal dekat dengan Faza, bukan tak mungkin jika ia memberi tahu soal rencananya. Apalagi pria itu yang mengantarnya hingga ke bandara. Dalam hati Meysa mengutuki kecerobohannya.


“Kenapa sifatmu makin seperti anak kecil?"

__ADS_1


“Umurmu itu sudah 25 tahun, hampir 26!" sergah Faza tak suka. Ia benar-benar kecewa.


“Mau kemana sebenarnya kau sampai bapak kamu bohongi begitu!" Faza meluapkan emosinya dengan memukul setir secara kencang. Jika Meysa duduk di sampingnya, mungkin tangannya sudah melayang ke pipi sang adik.


“Kayak orang yang tidak punya aturan!"


“Seenaknya pergi tanpa minta izin."


“Kau ndak mau diatur?" sentak Faza lagi sambil meliukkan stir ke kiri dan kanan. Membuat Mobil itu melaju zig zag.


“Ya Allah, kak!" Meysa yang ketakutan hanya menutup mata, beruntung ia mengunakan sabuk pengaman sejak melihat gelagat tak baik Faza dalam mengendarai mobil.


Dalam hati Meysa berpikir seharusnya Faza tak perlu melampiaskan amarah dengan cara seperti ini, berbahaya!


“Kurang ajar sekali!" Faza kembali memukul stir dengan penuh emosi.


"Mau kemana kau sebenarnya?" tanya Faza ingin tahu, ia menoleh sekilas pada Meysa. Faza juga tak lagi melaju ugal-ugalan. Ia sudah mengurangi kecepatan dan melaju dengan normal.


“Ma---mau ke Pekanbaru!"


“Apa??"


Seketika mata Faza menoleh nyalang, ia langsung menepikan mobil ke pinggir jalan. Emosinya kembali memuncak saat mendengar jawaban Meysa.


“Dimana otakmu?"


“Dimana harga dirimu?"


Kata-kata Kai bagai batu yang menghujam. Menohok dan terdengar merendahkan, seolah ia adalah gadis yang tak punya pikiran.


“Kenapa kau yang mau datangi laki-laki? Kalau memang dia suka, kalau memang dia serius, suruh dia yang kesini melamar. Bukan malah kau yang mau cari laki-laki, seperti sekarang!" Emosi Faza benar-benar meluap. Ia mengeluarkan semua kekesalannya sambil menoleh ke belakang. Menatap Meysa yang hanya menunduk diam, menyadari kesalahannya.


“Jadi perempuan itu harusnya punya prinsip, tidak perlu mencari kalau tidak dicari."


“Jangan seperti orang yang tidak punya harga diri!"


“Keluarga kita tidak ada yang seperti kamu!"


Air mata Meysa jatuh berlinang mendengar kata-kata Faza yang menohok. Ia memang tak dipukul, tapi ucapan Faza lebih menyakitkan dari apapun. Meski begitu ia tak memungkiri jika dirinya memang bersalah, tak seharusnya berbohong dan berniat pergi dengan cara seperti ini.

__ADS_1


“Kai sakit, makanya saya mau jenguk."


“Dia kecelakaan!" Akhirnya Meysa memaparkan alasannya. Jika bukan karena Kai yang sakit, ia pun tak ingin nekat seperti ini. Ia bahkan mampu menahan rindu selama bertahun-tahun asal Kai tetap baik-baik saja, tapi kondisi ini benar-benar membuatnya dilema. Inilah salah satu suka duka menjalin LDR.


Mendengar itu Faza mulai paham, ia yang baru saja meluapkan emosinya langsung menghela napas kasar. Ternyata itu alasannya! Kai kecelakaa dan Meysa yang menghawatirkannya nekat membuat keputusan demikian.


“Huh!"


“Kita pulang!" ucap Faza yang tak lagi mampu berkata-kata. Baginya hubungan LDR yang Meysa jalin terlalu rumit.


Bahkan selama ini Faza yang mengerti betul bagaimana perjuangan laki-laki untuk menghalalkan berusaha menempatkan diri di posisi Kai dan tak banyak tanya kenapa Kai belum juga datang melamar sang adik. Sebab Faza mengerti, banyak yang harus dipersiapkan oleh pihak laki-laki untuk menjadikan anak orang sebagai istri.


“Kak, jangan pulang ke rumahmu!" rengek Meysa yang terdengar memohon dengan sangat.


Faza yang sudah melajukan mobil pun hanya menoleh sekilas. Ia tahu Meysa pasti tak ingin masalah ini diketahui istrinya. Dengan itu Faza akhirnya membuat keputusan lain.


“Kalau begitu kita pulang ke Mataallo!" Keputusan Faza jatuh pada membawa sang adik pulang ke rumah mereka di kampung.


Mendengar itu Meysa langsung melotot tak percaya, Faza memang tak pernah main-main kalau sudah mengambil keputusan. Ia pun tak bisa menolak, tapi seketika ia dibuat panik ketika memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada Bapak. Pasti Ayahnya itu akan bertanya kenapa ia pulang secepat ini, bahkan dengan Faza.


“Tapi sudah malam, kak!"


“Kenapa kalau sudah malam!" sergah Faza dengan cepat.


Meysa yang berniat mencoba mengulur waktu, dengan berharap Faza mau membawanya menginap dimanapun itu asal jangan di rumahnya. Meski hanya malam ini saja. Entah mau pulang besokpun ia tak masalah, setidaknya ia bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi bapak.


“Takut dimarahi bapak? tebak Faza saat melirik Meysa dari kaca spion dalam.


Meysa hanya menghembuskan napas berat.


"Siapa suruh bohong, jadi tanggung sendiri resikonya!" lanjut Faza lagi. Membuat Meysa semakin tak berdaya.


“Kak, tolong jangan kasih tahu bapak soal ini!" pinta Meysa.


“Kenapa?"


“Kalau berani berbuat salah, harus berani bertanggung jawab!"


“Tapi kasian dengan bapak, Faza!" Meysa masih saja merengek, berharap Faza mau mengasihaninya dan menuruti keinginannya.

__ADS_1


“Kalau kasihan seharusnya kau tidak tega bohongi orang tua seperti itu!"


Ucapan Faza yang menohok membuat ia tak bisa berkata apa-apa lagi selain menuruti keputusan kakaknya itu.Ia oasrah kalau harus dimarahi bapak.


__ADS_2